
☕️☕️☕️
Sore itu Doni dengan berat hati Doni menarik paksa mamanya pulang karena telah menuduh Yana hamil sebelum menikah hanya karena Yana terlihat lebih berisi dibanding ibu hamil lima bulan menurut Jelita.
Doni bahkan meminta maaf berkali kali pada Yana dan Raja sore ibu, ia juga sempat mengirimkan bingkisan permintaan maaf atas nama mamanya pada Yana. Dan hari itu juga Raja tahu alasan Yana dulunya gagal menikah dengan Raja dari mulut bu Nur yang tidak dapat di amankan lagi.
Sebelumnya Raja memang tak pernah bertanya perihal detail masalah apa yang membuat Yana gagal menikah dengan Doni dulunya, yang ia tahu hanya Doni pergi tepat dua minggu sebelum hari H Yana dan Doni menikah.
Untuk Raja tak terlalu penting bagaimana kisah Yana dengan laki-laki itu, yang terpenting adalah saat ini Yana sudah menjadi istrinya, ibu dari anak-anaknya yang bisa menerima tiga anak Raja dari pernikahan sebelumnya dengan sangat tulus.
“Abang pengen punya anak laki-laki atau perempuan.?” Tanya Yana tiba-tiba saat mereka sedang tinggal berdua di ruang perawatan Yana di hari ketiga Yana dirawat.
Lulu sudah pulang ke rumah pak Ahmad hanya karena dijanjikan boleh tidur bersama Aboy, awalnya Raja tak mengijinkan karena merasa tak enak namun lagi-lagi bu Nur meminta agar tak ada sekat antara anak-anak Raja dan keluarga Yana. Sampai akhirnya Raja mengalah dan membolehkan Lulu ikut ke rumah pak Ahmad.
“Sama aja Ay, tapi kalau boleh milih mau si Ucok lah.” Jawab Raja sambil mengelus perut Yana lembut.
“Karena orang yang punya marga seperti abang perlu menurunkan marganya.” Tanya Yana serius.
“Siapa yang bilang begitu.?”
“Kata mbak Muti, bang,” jawab Yana jujur takut-takut tentang cerita bu Muti guru seni yang menceritakan padanya tentang garis keturunan marga yang diturunkan dari ayah.
“Bukan karena itu Ay, abang pingin aja ada yang dukung kalau di rumah biar jangan merasa hidup sendiri.” Jawab Raja jujur.
“Terus soal menurunkan marga, kalau nanti Aya ga bisa punya anak laki-laki gimana bang?.”
“Ya, kalau Ucok ya alhamdulillah, kalau ga ya gapapa.” Jawab Raja santai.
“Tapi mamak pernah bilang, semoga dia ini laki-laki.” Jawab Yana sambil ikut mengelus perutnya penuh sayang.
“Semoga Ay, tapi yang paling penting kalian berdua sehat, itu aja.” Jawab Raja menenangkan.
Obrolan manis mereka terganggu oleh deringan telpon dari mak Duma, Raja menarik nafas dalam sebelum mengagkat telpon dari mamaknya itu.
Pasalnya kondisi Yana sedang sakit ia sembunyikan dari mamaknya namun mulut lemas Lili khilaf memberi tahu mamak, jadilah mak Duma merepotkan semua orang hanya karena tak mendapatkan tiket pesawat detik itu juga.
☕️☕️☕️
Memasuki usia tujuh bulan kehamilan Yana mak Duma sudah mempersiapkan beberapa nama bayi laki-laki, begitu juga dengan pak Azis dan Raja meski mereka belum bertanya perihal jenis kelamin bayi itu pada dokter yang memeriksa kehamilan Yana.
Kondisi Yana juga makin sensitif dan cemburuan namun sikapnya itu hanya terhadap Raja sedangkan pada tiga anak perempuanya itu tak terjadi. Raja yang di kampus bak raja singa namun di rumah di depan hadapan Yana, Raja tak ubahnya seekor anak kucing tanpa kuku.
Raja lebih memilih banyak mengalah dan diam dengan perubahan sikap Yana, menurut mak Duma anak dalam kandungan Yana yang membuat Yana begitu berubah dan sifatnya sudah jelas sama dengan Raja.
__ADS_1
“Kau anggap aja kau sedang menghadapi dirimu sendiri.” Begitu ucapan mak Duma saat Raja kesal dengan sifat sensitif Ayana.
Yana sendiri sebenarnya merasa risih dengan keadaannya namun kadang emosinya tak bisa ia kontrol sehingga sering meledak-ledak.
Pak Ahmad dan bu Nur juga melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana sikap keras Ayana bercampur dengan manjanya diladeni dengan sabar oleh Raja tanpa mengeluh sedikitpun. Saat itu juga pak Ahmad menyadari ia tak salah memilih Raja sebagai menantu.
☕️☕️☕️
Ozan Cs tak bisa menerima keputusan Yana untuk berhenti jadi wali kelas, anak-anak itu berjanji tak akan merepotkan dan tak akan buat salah asalkan Yana tetap setuju menjadi wali kelas mereka.
“Padahal cuman mau berhenti jadi wali kelas aja. Bukan berhenti mengajar.” Ucap Yana di depan murid kelas tiga IPS Satu itu.
“Jangan tega dong bu, masa depan Ozan di tangan ibu, nih.” jawab Ozan mengganggu gurunya itu.
“Kenapa, saya?.” Tanya Yana heran.
“Ibu nikah semangat hidup Ozan tingal 50 % bu, terus sekarang ibu begini semangat hidup Ozan hilang 20 % lagi.”
“Sisa tiga puluh persen, itu juga karena ibu masih disini.” Jawab Ozan dan dibenarkan oleh murid yang lainya baik laki-laki maupun siswa perempuan.
Yana tertawa bahagia, hidupnya bertambah bahagia dan sempurna setelah menikah, mendapatkan ibu mertua yang rasanya seperti ibu kandung, suami yang perhatian meski jauh dari kata peka. Anak-anak yang cantik-cantik yang menyayanginya dengan setulus hati dan juga sebaliknya.
Ditambah lagi dengan murid-muridnya yang sangat sayang padanya dan yang paling penting adalah izin bekerja mengajar dari Raja, bahkan jika Yana mau melanjutkan sekolah Raja membolehkan asal masih di kota yang sama dan anak-anak tak terabaikan.
Saat ini Yana sedang menerima jawaban dari doa yang pernah ia panjatkan bertahun-tahun yang lalu atau bahkan puluhan tahun lalu dengan sangat membahagiakan dan manis saat ini.
☕️☕️☕️
Lala menjadi lebih sensitif sudah tak membolehkan Yana naik ke lantai atas, Yana memang sudah berpindah ke kamar ke bawah bersebelahan dengan kamar mak Duma sejak keluar dari rumah sakit dua bulan lalu.
Lala juga tak segan segan memarahi Lulu dan Lili jika dua adiknya itu terlalu merepotkan umma mereka.
Pagi di ujung minggu tugas sekolahnya sekolah Lala sedang banyak banyaknya, anak itu sudah meminta Yana menolongnya untuk mengerjakan tugas itu.
Malam itu Raja dan Yana duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton salah satu comica terkenal asal Medan open mic.
“Aya ga suka kopi hitam bang.” Ucap Ayana pada Raja sambil mengelus elus perutnya yang semakin membesar sedang suaminya terus saja mencoba menyuapi Yana satu sendok kopi hitam tanpa gula.
“Coba dikit aja, biar romantis gitu Ay, di suapin suami.” Jawab Raja yang terus menyodorkan sendok berisi kopi hitam ke mulut Yana.
“Ga mau bang, pait.” Jawab Yana mengelak
“Ya udah gapapa ga suka kopi hitam yang penting suka buatin kopi untuk abang.” Jawab Raja lagi.
__ADS_1
“Itu terpaksa.” Jawab Yana santai.
“Aduhh,” Yana meringis dan mengelus perutnya lagi yang merasa ditendang dari dalam sana.
”Dede jangan lasak ya na.” Ucap Yana lagi.
“Tu kan, dia marah Ayahnya umma jutekin,” Raja menunjuk perut Yana. “ya udah gapapa asal cinta sama abang gak terpaksa.” Ucap Raja sambil menaik turunkan alisnya.
“Kata siapa, Aya cinta sama abang.?”
“Kata hati mu lah, yang ga pernah bisa bohong.” Jawab Raja sambil memandang wajah Yana lekat.
“Ga usah GR, sana ih sadar sama umur, bang.” Cicit Yana memalingkan pandangannya.
“Cinta dong, masa gak? tuh buktinya muka Aya merah gitu.”
“Bukti nyata juga ada nanti dua bulan lagi lahir, ya cok ya.” Jawab Raja sambil menempelkan telinga di perut Yana.
“Mulutnya bang, pantesan Lili gitu lost control ngikut abang.”
“Itu, ikut istrinya pak Azis dia, bukan ikut abang.” Jawab Raja tak mau kalah.
“Abang, ihh mulutnya.”
“Umma kenapa.” Tanya Lala anak sulung mereka yang datang membawa buku dengan pulpen kehadapan Yana untuk menanyakan tugas sekolahnya.
“Ayah keliatan tua ga La.” Tanya Raja antusias tiba-tiba karena teringat akan kata-kata Yana mengatakan ia harus sadar umur.
“Emm lumayan, kenapa emang?” Tanya Lala.
“Kalau umma, kelihatan tua ga kak.” Tanya Yana tak kalah antusias.
“Umma masih keliatan muda banget menurut ku.” Jawab Lala santai.
“Besok kamu minta jajan sama umma, pergi sekolah sama umma semua-semua sama umma.” Ucap Raja sambil berlalu meninggalkan dua wanita tersayangnya itu.
“Ayah kenapa um?” Tanya Lala heran. Dan hanya disambut dengan tawa terbahak bahak oleh Yana.
“Umm, Lala mau liat umma ketawa terus kayak gini. Lala takut um.” Ucap Lala tiba-tiba sambil memeluk Yana erat.
”kenapa, sayang.?” Tanya Yana heran dan langsung menghentikan tawanya.
“Umma jangan kemana mana ya.” Bisik Lala dengan masih memeluk erat Yana yang Yana tak paham apa maksudnya.
__ADS_1
☕️☕️to be continue☕️☕️
🙄Ucok atau butet ya kira-kira