Dia Yang Kembali Datang

Dia Yang Kembali Datang
Dek Nur Otewe


__ADS_3

☕️☕️☕️


Waktu terus berjalan sebagaimana tugasnya membuat manusia Melewati hari hari untuk melanjutkan kehidupannya. Begitu juga yang dilewati oleh keluarga kecil Raja dan Yana.


Seperti hari ini keluarga kecil itu memulai hari dengan pagi yang sangat bahagia meski ada keributan-keributan kecil dari ketiga anak gadis kecil mereka. mulai dari Lulu yang banyak bertanya tentang segala hal dan membuat para orang dewasa harus memutar otak untuk menjawabnya.


Dan kemudian ada Lili putri kedua mereka yang lincah geraknya dan bicaranya sama aktif nya. Jauh berbeda dengan sang kakak Lala, gadis kecil yang beranjak dewasa itu lebih banyak diam dan berbicara selalu tepat sasaran serta tidak suka berbasa-basi.


Pagi ini sudah lebih dua minggu dari hari yang dijanjikan oleh dokter obgyn langganan Ayana tetapi keras kepalanya Ayana tidak membuatnya berhenti untuk pergi ke sekolah.


“Ay, apa nggak sebaiknya udah libur aja.” Tanya Raja pada istrinya yang masih saja aktif di usia kehamilannya yang sudah cukup besar saat mereka sedang sarapan bersama di ruang makan.


“Hari ini terakhir Yah, besok udah nggak masuk.” Jawab Yana.


“Pas-pas kali kau ambil cuti kalau lahir di rumah sekolah nanti macam mana.?” ucap mak Duma ibu mertua Ayana yang tak pernah memilah kata katanya baik kepada anak maupun menantu ya.


“Insya Allah nggak mak, belum ada tanda tanda yang dibilang dokter.” Jawab Yana menenangkan hati ibu mertuanya.


Pagi itu akhirnya semua beraktivitas seperti biasa tidak ada kecurigaan apapun antara mereka, Raja melakukan aktivitasnya seperti biasa dengan jadwal mengajar dan segala kegiatan lainnya kali ini sudah tidak pernah lagi di atas jam tiga sore.


Hal itu disebabkan karena Tita tidak ingin merepotkan diri untuk mengganti jadwal Raja yang suka memintanya merubah jadwal semena-mena.


“Pakh adah teleponh.” Ucap Tita dengan nafas terseng-sengal di depan pintu ruangan pada saat Raja sedang mengajar.


“Dari siapa?.” Tanya Raja heran .


“Dari ibu, ponsel bapak tidak bisa dihubungi.” Jawab Tita


Raja bergegas mengambil ponsel dari tangan Tita dan menempelkannya di telinga dengan sapaan paling manis.


“Halo, sayang.”

__ADS_1


“Dimana kau ga bisa di telponin, pulang kau sekarang bini mu mau melahirkan.” Suara mak Duma menggelegar dari seberang sana membuat Raja menjauhkan ponsel Tita dari telinganya.


“Eh, iya mak iya. Dimana Aya sekarang mak.?” Tanya Raja memastikan kemana ia harus pergi.


“Rumah sakit.!”


“Iya mak, kerumah sakit aku sekarang.”


Niat hati Raja memberi pernyataan namun apa daya mak Duma berpikir itu petanyaan.


“Jadi pikirmu kemana lagi kalau bukan kerumah sakit, sekarang.!” Mak Duma di seberang sana masih dengan mode suara nada paling tinggi.


“Iya mak, iya. Kondisi Yana gimana mak?.” Tanya Raja dengan harapan pikiranya bisa sedikit lebih tenang jika mengetahui kondisi istrinya itu.


“Banyak kali tanya mu, cepat kau kesini,bang?”


“Iya mak, iyaa” Raja mematikan sambungan telepon lalu merogoh kantongnya dan benar saja ponselnya dalam mode pesawat. tak ingin menyalahkan diri sendiri jadi ia berfikir mungkin itu kerjaan Lulu yang suka memainkan ponselnya.


“Kenapa kau ga bilang yang nelpon itu mamak saya.” Tanya Raja kesal pada Tita.


Raja menyudahi kelasnya dan meminta Tita membereskan semua bahan mengajarnya dan mengantar semua barang-barangnya yang tertinggal di kantor ke rumah saat nanti Tita pulang.


Sampai ke rumah sakit Yana nyatanya masih segar bugar bisa berjalan-jalan, bahkan dokter Zakia belum ada di tempat. Bidan yang menangani Yana menyarankan Yana berjalan-jalan agar mempercepat pembukaan jalan lahir, begitu teory medisnya menurut bu bidan tersebut.


Sungguh sangat berbanding terbalik dengan ucapan mak Duma melalui sambungan telepon padanya beberapa waktu lalu.


☕️☕️☕️


Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, kamar super vvip rumah sakit itu sudah seperti tempat wisata. ada pak Ahmad bu Nur lengkap dengan anak cucunya. Bahkan Ali yang biasa sibuk dengan urusan negara kali ini juga ikut serta sebagai tim penunggu kelahiran bayi Yana.


Dari tim mak Duma hanya ada pak Azis dan mak Duma sendiri, Rani baru kan datang minggu depan katanya.

__ADS_1


Di sudut yang lainya anak-anak berkumpul seperti taman kanak-kanak yang ribut dengan celotehan mereka, terkecuali Lala yang tak pernah sedetik pun lepas dari jangkauan Yana.


Anak itu selalu sigap dan terlihat lebih panik saat Yana mengeluh sakit, ia berkali kali bertanya apakan ummanya itu baik-baik saja. Yana yang memahami kondisi Lala berusaha bersikap setenang mungkin agar tak membuat anak sulungnya itu cemas.


Melewati pukul sebelas malam anak-anak di bawa pulang oleh Elita dan Ali kerumah pak Ahmad mereka semua akan menginap disana terkecuali Lala yang memang tak mau jauh sedikitpun dari ummanya.


Dengan mempertimbangkan banyak hal akhirnya para orang tua juga ikut pulang, tinggal Raja dan Lala menunggui Yana disana.


Malam sudah semakin larut Lala baru saja tertidur saat Raja membangunkannya dan mengatakan bahwa mereka harus mengantar Yana ke kamar bersalin. Saat melewati koridor rumah sakit tanganya menggenggam erat Yana yang berada di kursi roda yang sedang di didorong oleh Raja.


“Umma, aku sayang banget sama umma. Kalau nanti umma lebih sayang sama adik bayi ini aku gapapa juga asal umma tetap sehat.” Ucap Lala saat Yana sudah di depan pintu kamar bersalin.


Yana memeluknya erat sambil membisikkan sesuatu di telinganya, dan membuat Lala mengangguk berkali kali tanda paham.


“Adik duduk disini ya sama kakak-kakak perawat ini, anak-anak ga boleh masuk.” Ucap seorang bidan cantik pada Lala menyuruhnya menunggu di nurse station depan kamar bersalin.


“Wah kakaknya siap siaga ini doakan mamanya ya, nak.” Ucap dokter Zakia yang baru datang lalu melewatinya masuk ke ruangan yang di depan pintunya bertuliskan kamar bersalin.


Lala tak henti-henti bershalawat, membaca surah pendek dan doa-doa seperti apa yang dibisikkan umma padanya. Raja keluar sesekali dan menghampiri melihat kondisi Lala, Yana mengatakan tak tenang meninggalkan Lala sendiri di luar.


Entah sudah berapa lama Lala duduk disana lalu anak itu mengeluarkan Alquran kecil dari tasnya dan mulai membaca lembar demi lembar sesuai pesan yang selalu umma ingatkan padanya jika hati sedang gelisah maka membaca Alquran adalah obatnya.


☕️☕️☕️


Untuk Raja ini tentu saja bukan kali pertamanya menunggu kelahiran seorang anak, namun menemani secara langsung untuk Raja ini kali pertama.


Saat Lala lahir ia sedang di luar kota ia memang segera pulang namun sampai ke Rumah sakit Lala sudah lahir, saat Lili lahir dia sedang berada di Rusia mengambil sekolah masternya. Dan saat Lulu lahir bahkan itu kali terakhirnya bertemu dengan Mia, gugup cemas tentu saja namun sekuat tenaga Raja tepis itu semua.


Tak ada keluh kesah dan teriakan dari Yana seperti kebanyakan Ibu melahirkan, wanita itu hanya meminta maaf berkali kali jika ada salah. Sebelum orang tua mereka pulang juga Yana mengucap maaf berkali kali pada ayah dan ibunya juga pada pak Azis dan mak Duma


☕️☕️To be continue☕️☕️

__ADS_1


👱🏻‍♀️Gantung woy


👧🏻upsss ok ok sore upa lagi 🙏🙏


__ADS_2