
đź’šđź’š
Dalam kehidupan manusia membutuhkan orang lain untuk berbagi keluh kesah yang sedang dihadapi, selain keluarga kehadiran sahabat juga membuat hidup menjadi penuh warna. maka beruntunglah ketika kita memiliki sahabat yang yang selalu setia.
Meski tak bisa membantu menyelesaikan masalah setidaknya sahabat bisa sebagai pendengar yang baik dan tak akan menghilang saat kita membutuhkan tempat berbagi keluh kesah.
Yana tak punya kakak namun kehadiran sahabat terbaiknya mbak Muti selalu membuatnya merasakan peluk hangat dari seorang sahabat yang sudah terasa seperti kakak di saat ia terluka.
Untuk Yana sahabat yang ia miliki tak hanya mbak Muti tetapi ada juga Elita adik tercinta yang selalu menempatkan diri sesuai dengan kebutuh yang Yana tubuhkan bisa menjadi seorang adik bisa juga menjadi sahabat meski kadang juga sering menjadi tenan ribut.
Sore itu akhirnya Elita mengantar Yana pulang setelah ia dan mba Muti sahabat kakaknya memberi wejangan panjang pada Yana tentang rencana kedepannya.
Saat memasuki mobil Elita, Yana hanya diam saja tanpa sepatah katapun ia harus memikirkan saran dari sahabatnya dan adiknya tentang pembatalan pernikahan.
“Kak, kita cerita ke ibu ya,” Elita masih membujuk agar Yana mau cerita pada ibu mereka tentang hal yang baru saja Yana hadapi tadi, namun gadis itu hanya menggeleng.
“Kak, Ibu sama ayah pasti dukung kakak apapun keputusan kakak sekalipun kakak menggagalkan pernikahan ini, dan memang seharusnya begitu.” Lagi-Lagi ucapan Elita tak digubris oleh Yana.
“Menikah itu bukan sehari dua hari kak, jangan pikirin malunya ibu sama ayah seandainya kakak ga jadi nikah, malu sedikit demi kebahgiana kakak itu ga masalah kak.”
“Ini masalah hati El.” Jawab gadis itu.
“Aku tau kakak sayang cinta atau apalah namanya itu, tapi ini demi masa depan kakak.” Elita berbicara sambil mengendarai mobilnya.
“Hidup seperti aku kak, pas-pasan tapi aku bahagia banget sama bang Ali kak, mertuaku sayang sama aku seperti anak sendiri kak.”
Yana menarik napas dalam dan menyeka kembali air matanya.
“Keputusan kakak kali ini penting untuk kebahagian kakak kedepannya.” Elita belum mau kalah.
“Tak pernah terpikirkan sedikitpun di otakku bakalan ninggalin dia El.” Suara Yana lirih.
“Gimana hancurnya dia kalau kami pisah El aku yakin banget dia cinta sama aku.”
“Aku pernah ngerasain ditinggalkan El dan itu sakit.”
“Aku juga tidak mau pernikahanku batal El aku ga sanggup dengar omongan orang.”
Tangisnya pecah sekali lagi sampai harus membuat Elita menghentikan mobilnya sebentar.
“Ok ok apa aja boleh,” Elita akhirnya mengalah dengan keputusan kakaknya.
Elita juga paham Yana butuh waktu untuk berfikir lebih baik dan lebih jernih untuk masa depan.
Yana dan Elita sempat singgah ke masjid terlebih dahulu untuk melaksanakan sholat ashar sebelum pulang kerumah.
Setelah itu mereka juga sempat berjalan-jalan dulu memutari kota jakarta menunggu sampai bengkak pada mata Yana sedikit menghilang.
setelah kondisi Yanna benar-benar baik barulah mereka pulang kerumah.
Elita bahkan sudah mengatakan pada suaminya mungkin akan tidur dirumah pak Ahmad untuk menemani Yana.
Saat sampai ke rumah suasana rumah sudah sepi, pak Ahmad sudah pergi ke masjid untuk sholat magrib bu Nur juga sedang beristirahat.
Hanya terlihat Putri dan Putra yang keluar dari arah dapur membawa sepiring nasi lengkap dengan lauknya.
__ADS_1
“Muka kamu kenapa dek,?” Tanya Elita panik melihat wajah adiknya.
Yana yang tak kalah terkejut langsung mendekat pada adiknya itu.
“Kata bang Utha kerampokan kak.”
“Hahh dimana? Kamu udah telpon bang Ali biar dia yang urus semua, apa yang hilang.” Tanya Elita
“Ga ada kak, udah ya kak aku lagi pengen makan berdua bang Utha.” Ucap Putri cepat dan langsung menarik suaminya itu menuju kamar mereka.
Elita dan Yana membiarkan Putra dan istrinya pergi begitu saja mereka pun lansung menuju kamar Yana, dulu sebelum Elita menikah kamar ini mereka pakai bersama. Elita terus menemani Yana di kamarnya sampai setelah magrib.
“Kakak Yakin ga mau cerita ke yang lain.” Tanya Elita kali ini lebih hati-hati.
“Nanti.” Jawab gadis itu lalu mengambil Al Quran dan mulai membacanya.
Ketukan pintu membuat mereka berdua saling berpandangan, tapi tak lama Yana langsung saja bisa memperbaiki sikapnya membuka kunci pintu dengan riang seolah tak terjadi apa-apa.
“Kak ada Doni didepan,” Kata bu Nur pada putrinya itu dengan lembut tak seperti biasa.
“El temenin ibu ke kamar yuk bantuin ibu mau milih baju yang udah kecil-kecil. Kamu juga datang langsung kesini aja Idris tidur di Kamar ibu tu.” Ucapnya lagi pada Elita dan di angguki Elita.
Yana turun dan menemui Doni masih dengan menggunakan mukena lengkap.
Doni duduk di teras dengan kondisi berantakan dan wajah lebam.
“Mas kenapa,” Yana begitu terkejut melihat wajah Doni yang lebam sana-sini dan ada sisi berdarah di bibir kanan nya.
Tanpa diduga Doni langsung memeluk Yana dengan erat sambil menangis tersedu.
“Mama ga akan bersikap begitu sama kamu, Putra hanya salah tanggap dengan yang dia dengar.”
Yana hanya diam berdiri tanpa menjawab sepatah katapun dan tak juga berusaha melepas pelukan Doni padanya, dari suara tangis calon suaminya itu ada kepiluan yang teramat sangat disana.
“Kamu harus dengar dulu penjelasan aku, yang Putra ceritakan sama kamu tidak benar sayang, percaya sama aku.” Ucap Doni kembali sambil melepaskan pelukannya pada Yana dan memegang bahu gadis itu sembari menatap mata indah gadis pujaannya itu.
“Kamu nangis ya, kenapa? karena cerita Putra? Putra salah sangka sayang percaya sama aku.” Doni masih dengan penjelasanya.
Dan saat itu juga Yana paham, wajah babak belur adiknya yang tadi ia lihat adalah ulah Doni dan begitu juga sebaliknya wajah babak belur kekasih hatinya ini ulah dari adik tersayangnya.
Hal lain yang Yana tangkap dari ucapan-ucapan Doni adalah bahwa Putra sudah tau tentang rahasianya, bisa jadi Putri juga tau. Lalu bagaimana dengan yang lain? Apakah ibu dan ayahnya juga tau.
“Sayang jawab sayang jawab,” Doni mengguncang bahu Yana yang hanya diam membisu.
Rapuh saat ini rapuh adalah kata yang tepat untuk Doni dan juga Yana, kehidupan terasa begitu menyedihkan untuk dua insan itu.
Untuk Doni masihkah dia Yakin bisa mebahagiakan Yana, dan untuk Yana haruskah ia bertahan atau mundur saja.
➰➰➰♥️♥️
Selepas magrib dirumah Raja masih sama dengan waktu-waktu selepas magrib biasanya.
Setelah Raja menemani anak-anak mengaji Keluarga kecil ini menikmati berkumpul di ruang keluarga dengan kebiasaan seperti biasa.
Lala dengan tekun mengerjakan soal-soal persiapan ujian akhir, Lili yang lebih banyak bertanya ini itu daripada belajarnya dan Lulu dengan puzzle yang hampir semua sudah ia hafal cara menyusunya namun tetap saja heboh saat ia sukses menyusun puzzle itu.
__ADS_1
Raja sedang berguling guling di atas ambal tebal di ruang keluarga itu sambil memainkan ponselnya.
“Yah bunda si ompong kan mau pesta nanti aku pakai baju biru yang opung jahit ya,” Lili mulai berbicara mengganggu pikiran suci sang ayah.
“Alah apa pulak anak kecil, macam ada diundang aja pun.” Jawab Raja padahal hatinya remuk mendengar sang pujaan hari akan segera menikah hanya tersisa hitungan hari.
Rapuh, seperti Yana dan Doni rasakan saat ini, perasaan yang Raja rasakan juga tak jauh dari kata rapuh.
“Di undang lho yah, katanya sama ku semua satu kelas nanti diundang, tapi sama ku di bilangnya duluan. Sama yang lain belum.”
“Ga usah datang lah.” Raja jelas tak ingin datang ke acara itu.
“Gapapa tenang ayah, kata ompong aku boleh bawa ayah kaka lala sama lulu juga.” Jawab Lili menjelaskan.
“Bukan itu masalahnya, Ayah ga sempat.”
“Ya udah gak apa lah nanti Lili minta wak Mar sama wak Ipan aja yang antarkan boleh yah.” Tanya Lili lagi.
“Terserah lah Li.” Raja mulai pasrah.
“Lili pake baju biru yang opung jahit itu aja lah, cantik kurasa aku pake baju itu yah.” Ucap Lili sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke dagu.”
“Eh jangan lah, nanti ayah beli baju lain jangan pake baju biru itu.” Raja mulai panik, bagaimana kalau Yana melihat baju yang Lili pakai sama dengan yang Yana miliki.
“Tapi aku suka pake yang itu, masih baru lagi yah,” Anak gadis kecilnya si mulut lemas itu tak mau kalah.
“Dibilangin jangan.”
“kenapa memangnya?”
“Pokoknya jangan.”
“Iya, ayah jawab dulu kenapa. Kan kata ayah semua harus ada alasanya.”
“Lili....”
“Alasannya Yah, alasanya.”
âž°âž°to be continueâž°âž°
💔Rapuh kayak hati ku rakan, liat kelender kok tanggalnya hitam semua apa kelender ku fotocopyan yaa 🤔
👧🏻berhubung minggu ini banyak rakan rakan yang minta doble up insyaAllah hari ini nanti aku up lagi sebelum azan.
👱🏻‍♀️Azan subuh ya?
👧🏻ehh gak
👱🏻‍♀️terus azan dzuhur?
👧🏻ehh anuuu emm apa yaa ituu emmm 🚀🚀🚀🚀
👱🏻‍♀️APA
👧🏻jan lupa bahagia rakan jan lupa syemyummm đź¤
__ADS_1
Kaaaabbbbuuuurrrrrrrrrrrrrrrrrrr