
☕️☕️
Terkadang ada manusia yang tak paham maksud dan tujuan orang lain jika tidak dijelaskan secara jelas dan terperinci.
Tapi tentu saja itu tak berlaku pada Yana, meskipun Raja tak mengatakan secara jelas bahwa Raja ingin menjadikannya istri tetapi Yana sudah cukup paham.
Pertanyaan lain yang menari di kepala Yana adalah bagaimana cara membuka hati untuk bisa menerima orang lain kembali dalam kehidupanya.
Meski tak pernah ia ungkapkan namun rasa kecewa terluka yang ia alamin beberapa bulan lalu sangatlah mengerikan untuknya.
Jika Doni punya satu ibu yang harus dihadapi maka dengan Raja ia harus menghadapi empat wanita. Ibunya dan tiga anak Raja yang semuanya perempuan.
Yana menggelengkan kepala merasa ngeri dengan apa yang akan dihadapi jika harus menerima Raja.
“Nggak, nggak deh lebih baik sendiri aja terus.” Monolog gadis yang sedang duduk di kursi kerjanya.
Ketika Raja mengantarnya kembali ke sekolah lima belas menit lalu laki-laki itu berjanji akan menjemputnya lagi saat pulang sekolah nanti dan laki-laki itu juga mengatakan akan membawa serta Lala anak pertamanya.
Lala, gadis kecil itu pernah ia temui Lala yang hanya menjawab iya dan tidak saat di tanya. Gadis kecil itu hanya mau di sentuh saat memasuki IGD saja selebihnya tidak.
“Nggak, nanti pas bang Raja jemput aku harus bilang kalau aku ga mau dan ga akan pernah mau.” Monolognya kembali.
Bayangan Doni kembali melayang-layang di kepalanya, kemana laki-laki itu.
Lalu pikiranya beralih pada Raja bagaimana ibu Raja, bagaimana sikapnya apakah semua calon mertua seperti mama Doni.
Tetapi Raja sudah memiliki anak, maka tidak mungkin mamanya menuntut anak lagi begitu pikir Yana lagi.
“Nggak, apapun alasanya aku udah ga mau. Aku mau sendiri aja.” Monolognya lagi saat memikirkan tentang ucapan Raja sebelumnya.
“Bu Yana, ada yang nyariin ibu.” Ucap seorang guru magang di ambang pintu kantor guru itu.
“Siapa dek.” Tanya Yana memastikan.
“Namanya ibu jelita bu, saya suruh tunggu di ruang menerima tamu kantor.” Jawab guru magang itu.
“Kenapa kamu ga bilang aja saya nggak ada,” kesal Yana pada guru magang itu. Sungguh ia tak ingin bertemu dengan wanita itu lagi.
“Ma..maaf bu.”
“Yaudah gapapa.” Ucap Yana berlalu di depan guru magang itu ke arah tempat Jelita menunggu.
Yana menyapa wanita itu dan menyalami serta mencium tangan Jelita layaknya anak kepada ibunya.
“Maaf tante ada apa.” Tanya Yana langsung pada inti sasaran, ia sedang tak ingin berbasa-basi hidupnya sudah terlalu basi akhir-akhir ini.
“Mama mau minta tolong kamu sampaikan maaf mama kepada ayah kamu, mama harap kita bisa memperbaiki semuanya.” Ucap Jelita menjelaskan kedatangannya menemui Yana.
“Kami sudah memaafkan semua tante.” Jawab gadis itu dengan itu penuh sabar.
“Kalau begitu kita bisa lanjutan rencana pernikahan kamu dengan Doni kan sayang.” Mata Jelita berbinar sara mengucapkan itu.
__ADS_1
“Semua sudah dibatalkan tante tidak ada yang bisa dilanjutkan lagi.” Ucap Yana kembali
Apa tujuan wanita itu sengaja datang menyakitinya atau memang jelita merasa masalah yang pernah ada adalah hal sepele.
“Itu hal mudah sayang, WO langganan mama bisa membereskan itu semua hari ini juga.”
“Yang terpenting kamu telpon Doni sekarang, katakan padanya untuk segera pulang agar kalian bisa menikah secepatnya.”
“Maaf tan saya dan anak tante sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi.”
“Tidak akan pernah ada pernikahan antara kami.” Tutur Yana masih dengan sabar.
“Kamu kan bisa mengalah sayang, ini demi kamu juga. Ingat usia kamu sudah berapa.” Jelita sudah mulai terpancing dengan keadaan yang ada, tujuannya hanya satu anaknya kembali apapun caranya.
“Maaf tan, saya harap ini terakhir kali tante menemui saya. Urusan Doni pulang atau tidak itu bukan jadi urusan saya.” Jawab Yana sambil mengatur nafasnya yang terasa sesak.
“Saya permisi.” Ucap gadis itu lagi dan berlalu begitu saja meninggalkan Jelita dengan wajah tak bisa diartikan.
☕️☕️☕️☕️
Yana berjalan ke arah kelas tempatnya mengajar, setelah masuk Yana langsung memerintahkan anak murid kelas itu mengerjakan tugas yang akan dikumpulkan tiga puluh menit kemudian.
Setelah itu Yana meninggalkan kelas itu kembali ke kantor guru. Ia berharap waktu tiga puluh menit cukup untuk memperbaiki hatinya yang sedang berantakan.
“Yana, ada yang nyariin kamu. Bapak suruh tunggu di meja kamu.” Ucap pak Joni yang berpapasan dengan Yana saat gadis itu menuruni tangga.
“Kenapa ga bapak usir suruh pulang aja sih, males banget aku ketemu nenek tua itu lagi.” Keluh Yana pada pak Joni.
“Yang nyari aku itu pak.”
“Dia sendirian tidak datang bersama neneknya,” jawab pak Joni yang tak paham.
“Neneknya ya sudah meninggal pak, dia aja udah tua.”
“Siapa yang tua, masih pakai seragam SD gitu.” Pak Joni menjelaskan siapa tamu Yana.
“SD?” Tanya Yana heran.
“Iya anak SD binaan satu, namanya Lila eh lula atau Lala ya tadi.” Pak Joni menjawab Ragu.
“Kasian dari SD sampai kesini jalan kaki katanya, lewat belakang sih tapi kan lumayan jauh juga mukanya sudah merah.” Ucap pak Joni menjelaskan, karena memang SD itu masih satu yayasan dengan SMA tempat Yana mengajar.
Gedung sekolah itu juga berdekatan hanya saja dari SD binaan satu menuju SMA itu harus melewati SMP, lapangan basket, lapangan futsal dan gedung guru SMA berada di sisi paling ujung.
“Tadi sempat ba...” Ucapan pak Joni terhenti ketika Yana mengangkat sedikit roknya dan berlari ke arah kantor guru.
“Tadi minta di usir sekarang dikejar, aneh.” Pak Joni berbicara sendiri sambil menggelengkan kepalanya.
☕️☕️
Yana berdiri di ambang pintu kantor guru dan melihat ada anak kecil memakai seragam SD Binaan satu duduk di kursinya.
__ADS_1
“Na, itu kasian dia tadi berdiri terus saya suruh duduk aja di kursi kamu.” Ucap bu Lia salah satu rekan sesama gurunya.
Yana mengangguk tanda setuju dan langsung mendekat kearah anak itu berada, Yana menarik kursi di sebelahnya milik Muti dan duduk di hadapan Lala.
“Lala kenapa kesini.” Tanya Yana hati-hati takut anak itu tersinggung.
Gadis kecil itu hanya diam tanpa kata, Yana mulai gusar hari ini hidupnya penuh cobaan batin mulai dari Raja, lalu Jelita sekarang ada Lala di depannya entah apa maksud anak ini menemuinya.
“Lala sakit?” Tanya Yana lagi sambil memegang pundak Lala, anak itu masih diam dan terlihat bingung.
“Ada yang tante bisa bantu.” Lagi-lagi Yana bertanya, hatinya semakin yakin untuk menolak Raja.
Sikap Lala sudah jelas menolak kehadiran Yana di hidupnya dan Yana tak mau ambil resiko lagi.
“Aa..a..aku,” Lala mulai bersuara.
“Ya, kenapa sayang,” Tanya Yana sambil mengusap pundak Lala memberi kenyamanan pada anak itu.
“Aku kesini mau bicara empat mata secara dewasa sama tante.” Ucap gadis kecil itu lancar.
Yana tersenyum, wanita itu merasa lucu dengan ucapan Lala yang baru saja ia dengar. Namun tatapan mata Lala membuat senyumnya sirna.
“Ayah kami suka sama tante, tante tau itu kan.? Lala diam dan melihat ke arah Yana seolah menunggu jawaban dari Yana.
“Aku mau ayah bahagia tan, dan aku juga mau Lili dan Lulu juga bahagia.” Tambah anak itu sebelum Yana sempat menjawab.
“Apa tante tidak suka sama ayah ku?”
“Kenapa?”
“Apa karena ada kami bertiga?” Tanya Lala lagi benar-benar seperti omongan orang dewasa.
“Biar nanti tante yang selaikan sama ayah kamu ya.” Ucap Yana lembut menanggapi ocehan Lala.
“Aku cuman mau ayah bahagia tante.” Ucap Lala dengan mata berkaca-kaca.
“Tapi...” gadis kecil itu menghentikan kalimatnya sejenak.
“Tapi jangan jauhkan ayah dari kami.” Ucap Lala dan anak itu langsung berdiri dari duduknya.
“Mau kemana,?” Tanya Yana panik.
“Mau balik ke sekolah sebentar lagi ayah jemput aku.” Ucap Lala yang baru saja melirik arloji di tangan kirinya.
“Jangan bilang ayah kalau aku kesini ya tante aku mohon,” ucap Lala sebelum melangkah.
“Tunggu dulu.” Ucap Yana menahan gadis kecil itu.
☕️☕️to be continue☕️☕️
☕️sabar ya Yana namanya juga MasSalah pasti buat pusing ya kan Rakan...? Kalau namanya MasBenar baru dehh ga buat pusing.
__ADS_1