
Assalamualaikum Rakan, apa kabar aku mau promo novel baru nih, tapi Up nya di Apps F I Z Z O yukk mampir ya rakan.
🌴🌴🌴
Tua tua keladi semakin tua semakin menjadi-jadi, itulah julukan yang mak Duma berikan pada pak Azis malam tadi setelah mereka pulang dari rumah sakit.
Hal itu terjadi karena saat cek up di rumah sakit seorang dokter muda yang masih sangat cantik mengatakan pak Azis masih terlihat gagah di usianya yang sekarang.
Laki-laki berusia lebih dari enam puluh tahun itu jelas saja merasa bangga, terlebih saat seorang perawat wanita mengatakan tak menyangka usia pak Azis sudah lebih dari enam puluh tahun.
Perang hangat antara pak Azis dan mak Duma tak bisa dielakkan lagi sampai Raja dan Yana menyerah dan tak mau ikut campur.
Lili dan Lulu bahkan mengunci kamarnya rapat-rapat karena tak sudi menerima tamu menginap yang kadang suka datang tengah malam saat negara sedang tak baik-baik saja.
Namun baru saja sore kemari perang dahsyat itu dimulai pagi ini pak Azis dan mak Duma sudah kembali akur seolah tak terjadi apa-apa. Mak Duma bahkan terlihat merona saat pak Azis memuji masakannya tak ada tandingan.
Untuk Yana, ini bukan lagi hal baru, sudah terlalu sering ia melihat derama dua sejoli itu yang tak kalah manis dari drama korea.
__ADS_1
“Ay, nanti jam tiga sore jangan lupa kita ke arisan marga,” ucap Raja saat Ayyana meletakkan kopi hitam di atas meja makan di hadapan suaminya itu.
“Sejak kapan lah kelen ikut arisan itu?” tanya mak Duma pada anak dan menantunya. Sejak kelahiran Nua, pak Azis dan mak Duma sudah tak menetap di Jakarta, namun mereka sering datang dan menatap cukup lama.
“Setelah Nua lahir mak, kata abang biar Aya kenal adat dan budaya batak,” ucap Yana menjelaskan.
“Bagus itu,” Jawab pak Azis setuju dengan kegiatan yang Raja dan Yana ikuti.
“Ikutlah mamak bang.” Permintaan Mak Duma membuat Raja terkejut.
“Ga usahlah mak, dirumah aja mamak,” jawab Raja menolak permintaan mak Duma secara halus.
“Tapi, pak.”
“Boleh mak, ikut aja siapa tau ada anak-anak teman mamak disana yang bisa jadi teman ku,” jawab Yana senang.
“Tapi, Ay.”
“Udah gapapa mamak siap aja nanti setelah dzuhur kami jemput mamak.” Yana mengambil keputusan sepihak, pagi itu hari minggu ia dan anak-anak akan ke rumah ibu Nur sebentar dan berjanji menjumput mamak setelah dzuhur.
__ADS_1
Raja tentu saja senang melihat interaksi antara Yana dan mak Duma yang selalu harmonis. Namun kali ini sudah dapat di pastikan akan kacau jika mamak ikut ke arisan marga.
Saat Raja sedang menunggu anak dan istrinya di teras rumah, pak Azis menghampiri anak sulungnya itu.
“Kenapa lah berat kali hati mu bawa mamak mu ke arisan itu?” Tanya pak Azis penasaran.
“Demi bapak lah, apa lagi?” jawab Raja tenang.
“Apa pulak kau bawa-bawa aku?” tanya pak Azis heran.
Raja menarik napas panjang dan menatap bapaknya. “Pak, arisannya kali ini di rumah Inda.”
“Inda yang mamaknya_” mata pak Azis membelalak bibirnya tak mampu melanjutkan Ucapannya.
“Iya betul, pande kali bapak awak ini ah, Inda yang mamaknya janda yang tergila gila minta di kawin sama bapak.”
“Dan celakanya bu Hendon itu sekarang di Jakarta ini, Inda udah berkali-kali ngingetin aku biar aku ga bawa mamak atau bapak, cemana menurut bapak kalau mamak jumpa sama bu Hendon itu?” tanya Raja dengan senyum kemenangan pada pak Azis.
“Mampus lah bapak bang, harus kau cari cara biar mamak mu ga kesana.” Pak Azis mulai panik dan ngeri membayangkan apa yang akan terjadi.
__ADS_1