Dia Yang Kembali Datang

Dia Yang Kembali Datang
Warisan Mak Duma


__ADS_3

☕️☕️☕️


“Abang ihh, masih ngambek aja. Itu kan dulu bang waktu abang masih suka gangguin Aya.” Yana terus saja merengek meminta maaf atas kesalahannya membuat nama hantu blau di kontak ponselnya untuk Raja.


“Nomor ponsel Lala kapan Aya simpan.?” Tanya Raja menatap Yana tajam.


“Sebelum kita nikah juga, waktu dia ke sekolah yang Aya pernah cerita itu.” Tanpa diduga ternyata jawaban Yana menjadi senjata makan tuan.


“Waktu itu Aya belum terima abang juga, kan?”


Yana menggeleng membenarkan bahwa saat itu memang belum ada kesepakatan mereka akan menikah bahkan lamaran saja belum.


“Waktu itu abang masih sering ganggu Aya juga, kan.?” Yana mengangguk lagi-lagi membenarkan.


“Kalau ayahnya hantu blau kenapa anaknya bukan anak hantu blau kenapa kamu buat nama Lala little angel” Tanya Raja sambil menaik turunkan alisnya menggoda Yana.


“Ya karena emang gitu, terserah aja deh.” Jawab Yana ketus sambil berpindah duduk didepan meja rias dan mulai membersihkan wajahnya dengan kapas dari sisa make up


“Kenapa Aya yang ngambek, seharusnya kan abang.” Ucap Raja berdiri di belakang Yana sambil menggulung-gulung memainkan rambut panjang Yana.


“Jangan, nanti rambutnya kusut.” Ucap Yana dengan mata melotot.


“Aihhh ngeri kali bini ku bah.” Ucap Raja dengan logat khas medan. membuat Yana tersenyum merasa lucu dengan expresi wajah sang suami.


“Gitu dong senyum kan istri abang jadi cantik.” Raja merapatkan dirinya pada Yana menghirup pucuk kepala Yana dalam-dalam menikmati aroma wangi dari rambut indah terurai itu.


“Emang biasa ga cantik.?” Tanya Yana sambil membalikan badan menghadap Raja.


“Cantik, istri abang selalu cantik pagi sore siang malam selalu cantik.”


“Gombal ih, udah ga cocok bang.” Jawab Yana ketus.


“Cocoknya gimana, sayang.” Raja menarik Yana berdiri dan mendekatkan wajahnya pada Yana.


“Bang, bang... kau dipanggil bapak sama mamak.” Suara Mahrani mengetuk pintu memanggil manggil namanya.


“Iya sebentar ya Rani.” Jawab Yana dari dalam kamar.


Namun Raja tetaplah Raja laki-laki itu tak melepas pelukannya pada Yana.


“Abang lepasin ih, nanti dikira kita lagi ngapa-ngapain di kamar.” Yana mencoba melepas pelukan Raja dari pinggang rampingnya.


“Biarin aja biar mertua kamu ngomel, tunggu aja bentar lagi.” Jawab Raja dengan senyum mengembang.


“Bang, Ay....”


“Bang, o bang kau ya. capek ku tunggu masih sore ini ngapain kau.” Suara mak Duma yang mengetuk pintu memotong ucapan Yana yang tak sempat ia lanjutkan karena sudah merasa malu tak terkira pada sang mertua.

__ADS_1


“Abang, kunci pintu ga?” Ucap Yana kesal pada suaminya.


“Pengen banget gitu abang kunci pintu, kamu mau apa kalau abang kunci pintu.” Raja malah menjahili istrinya sambil kembali mendekatkan wajahnya pada Yana.


“Masuk aja mak, pintunya ga dikunci.” Ucap Yana sambil mendorong dada Raja menjauh.


“Abang!, cepat jangan kau buat mamak naek darah” Ucap Mak duma dibalik pintu yang hanya menampakkan kepalanya saja dengan suara sedikit tinggi lalu kembali menutup pintu kamar. Yana tertawa terbahak-bahak melihat wajah Raja yang sudah sayu.


“Di ponselnya sudah abang ganti nama awas aja kalau kamu ubah-ubah lagi.” Ucap Raja sambil mengambil satu kain sarung dari lemari dan memakainya menutup celana pendek selutut yang ia kenakan.


“Ayo cepat nanti mertua cerewet kamu itu ngomel lagi.” Ajak Raja keluar kamar saat Yana sedang memeriksa ponselnya.


Suami tercinta, nama yang tertera untuk nomor ponsel Raja membuat Yana merasa geli membacanya. Bagaimana jika saat sedang berada di sekolah Raja menelponnya dan mbak Muti membaca nama kontaknya, memalukan itu sangat memalukan pikirnya.


Dengan sigap ia mengganti nama kontak itu kembali dengan nama yang baru yang menurutnya lebih pantas dan cocok.


☕️☕️☕️


Di ruang keluarga sudah berkumpul keluarga mereka lengkap dengan anak-anak. Lulu langsung minta digendong saat melihat Yana mendekat ke ruang tamu bersama Raja.


Awalnya Raja langsung merentangkan tangan saat melihat Lulu berlari ke arah mereka, namun ternyata bukan Raja yang Lulu tuju melainkan Yana.


“Umma, malam ini yuyu bobo tama capa?.” Tanya Lulu pada Yana saat mereka sudah duduk bersama.


“Anak umma maunya sama siapa?” Tanya Yana sambil membuka kepang rambut Lulu yang sudah seharian membuat rambut ikal itu menjadi lebih keriting.


“Emm tama bou boleh.”


“Kata bou yuyu ga boleh bobo tama umma bial umma beli adik bayi kayak punya bou, iya kan bou.” Ucap Lulu lagi dengan mulut lemas tanpa saringan warisan dari opung tercintanya.


“Mahrani, jaga cakap mu anak-anak jangan kau ajari yang tidak-tidak.” Tegur pas Azis pada putri satu-satunya itu.


“Ecek-ecek ku aja itu pak,” Jawab Rani membela diri.


“Anak kecil lho dia dek mana taunya ecek-ecek.” Jawab suami Rani mengingatkan.


“Mulut ya Rani, kau tengok mamak kalau bicara harus di pikir dulu.” Ucap mak Duma mengajari.


“Iyaa lah maaf lah maaf.” Ucap Rani bersalah


Bu Nur hanya diam tersenyum tak ada satu orang pun keluarga Raja yang berbicara dengan lembut, mengajak makan saja seperti orang mengajak ribut namun bu Nur dan Pak Ahmad merasa sangat nyaman selama berada di rumah itu dan spesial di perlakukan.


“Jadi kau lusa ke Siantar bang.” Tanya mak Duma pada Raja.


“Jadi mak, nanti setelah mengantar ayah sama ibu ke bandara kita langsung jalan, jangan kemalaman nanti orang ini dari Asahan ku tunggu Yana sama anak-anak di Siantar.” Ucap Raja mengomando rute perjalanan mereka.


Mereka sudah berencana akan berlibur ke Parapat menikmati udara segar danau toba, namun Raja harus ke Siantar terlebih dahulu sedangkan Yana harus ke Asahan memenuhi permintaan ibu mertua.

__ADS_1


Untuk memangkas waktu di hari yang dijanjikan, mereka mengantar ayah dan ibu Yana ke bandara. Kedua orang tua tersebut menggunakan penerbangan pertama untuk kembali ke ibu kota.


Mereka menggunakan dua buah mobil untuk perjalan kali ini dari Medan. Mereka berpisah di tugu Beo Tebing tinggi karena berbeda arah Yana dan anak-anak pindah ke mobil yang dikendarai pak Azis dan mak Duma untuk menuju Asahan guna melihat lahan sawit milik keluarga mereka.


Raja sendiri, hendak pergi ke kota Siantar. Pria itu mendapat undangan dari salah satu universitas di sana untuk mengisi kuliah umum tentang ekonomi bisnis. Raja berjanji pada anak dan istrinya akan menunggu mereka malam nanti di Siantar. Dari sana, barulah mereka melanjutkan perjalanan ke Prapat Danau Toba


☕️☕️☕️


Sebelumnya Yana sempat menolak untuk pergi ke lokasi kebun sawit namun mak Duma mengatakan jika Yana harus tau dimana letak kebun sawit yang Raja jadikan mahar untuknya tempo hari, mak Duma juga mengatakan ia sudah terlalu tua dan bisa meninggal kapan saja sehingga Yana adalah harapannya untuk menemani Raja meneruskan warisan keluarga itu.


Sampai ke area hamparan kebun sawit yang tak tampak ujungnya itu ada rumah sebuah rumah dengan fasilitas lengkap yang cukup nyaman disana, mamak juga sempat mengajak Yana melihat lihat sekeliling rumah.


Mamak mengenalkan Yana pada Tulang Togar adik bungsu mamak dan nantulang Jamilah istri tulang Togar, yang merawat rumah di kebun sawit itu serta menjaga kebun sawit.


“Dari ujung rumah ini kesana itu punyamu, udah siap mamak buatkan suratnya.” Ucap mak Duma menunjuk arah ke kanan dari rumah.


“Di ujung sana masih atas nama Raja nya itu semua.”


“Kalau sebelah kiri ini sampai ujung jalan kita masuk tadi itu punya Mia, tapi sudah mamak balik namakan ke anak-anak semua.”


“Rani mak.” Tanya Yana takut-takut.


“Punya Rani ga disini jauh lagi nanti kapan-kapan kau pulang lagi mamak bawa kesana.” Yana mengangguk tanda setuju, Yana tak ingin mak Duma berlebihan padanya ia hanya tak ingin akan menjadi masalah antara dirinya dan Rani kelak.


“Kalau pabrik, itu atas nama Raja tapi yang kelola suami si Rani, mamak harap bisa lah kau bujuk laki mu itu jangan terlalu keras sama suami si Rani sayang juga ku tengok menantu ku satu itu.


“Raja ini ya, kalau kerja bukan maen ah anakku betul-betul itu harus semua serba beres.”


Yana hanya tersenyum menanggapi ucapan mak Duma, ditambah dengan pemandangan anak-anak yang terlihat bahagia berlari kesana kesini sebebas mereka.


Waktu begitu cepat berlalu setelah ashar Yana sudah bersiap untuk diantarkan oleh tulang Togar dan nantulang Jamilah, menuju Siantar yang diperkirakan memakan waktu sekitar empat jam.


“Berat kali hati mamak, maunya mamak besok pagi aja kelen ke nyusul Raja.” Ucap mak Duma saat Yana akan berangkat.


“Apa yang kau takutkan, adikmu yang mengantarkan orang itu.” Jawab pak Azis santai


“Ntah lah pak, hati ku tak tenang.”


“Udah jalan lah kelen, hati-hati kau nyetir.” Ucap pak Azis pada adik iparnya.


“Rasa ku macam ada apa-apa pak, ga tenang aku ini.” Ucap mak Duma kembali pada pak Azis.


“Apa pulak pikiran mu itu, berdoa aja kau yang banyak.” ucap pak azis lalu berlalu meninggalkan istrinya begitu saja.


Mobil yang Yana tumpangi segera melaju mengantarkan Yana dan anak-anak menghilang dari pandangan mak Duma dan pak Azis.


☕️☕️To be continue☕️☕️

__ADS_1


Haloo Rakan masih ada yang nungguin trio L kah?? Hihihihi


jan lupa bahagia jan lupa senyum Rakann.


__ADS_2