Dia Yang Kembali Datang

Dia Yang Kembali Datang
Iya atau nggak sih Ay


__ADS_3

☕️☕️


”Aku pusing deh bang sama kak Yana, dia baik sama Lili dan anak bang Raja yang lain tapi dia nolak bang Raja.”


Ungkap Elita pada pak suaminya malam itu yang baru pulang dan sedang membuka seragamnya hingga menyisakan baju kaos berwarna senada dengan celana bahan yang laki-laki itu gunakan.


“Kata siapa, yang. Kak Yana nolak?” Tanya laki-laki itu dan duduk di tepian tempat tidur memandang istrinya yang sedang mengolesi cream malam ke wajahnya di depan cermin pada meja rias.


“Kata ibu lah, tadi ibu telpon aku. Baru aja sebelum abang pulang.” Jawab ibu anak dua itu.


“Wanita oh wanita gerak cepat banget kalau gosip.”


“Oh, tentu saja. Makassar aja udah tau.” Jawab Elita itu jujur.


Ali diam sejenak, ia tahu ibu dan dan istrinya setiap hari bertukar kabar, tapi ia tak mengira istrinya akan secepat itu mengabari hal itu pada ibunya.


“Kamu telpon oma khusus untuk itu yang.?” Tanya Ali setengah tak percaya, jika mertua lain berperang dengan menantu istrinya justru lebih sering bersekongkol dengan ibunya untuk memerangi dirinya.


Sejak memiliki Adam dan Idris mereka memang memanggil ibu Ali dengan sebutan oma untuk membiasakan anak-anak mereka.


“Ga gitu juga, ayang bebh. Negatif aja pikiran untuk istrinya.” Jawab Elita lagi sambil menepuk nepuk wajahnya lembut, entah apa fungsinya.


“Terus kenapa ibuku juga sampai ikut tau.” Tanya Ali penasaran.


“Tadi tu ibu nelpon,ceritain kakak yang ga mau terima bang Raja, terus ga lama oma nelpon nanya kabar kakak juga, ya udah aku ceritain.” Jawab Elita santai.


“Lemes banget mulut istri ku.”


Mata Elita melotot ke arah Ali, “Tapi istriku paling cantik.” Ralat Ali cepat demi mencari aman tempat tidurnya malam ini.


“Ga mau nerima apa belum mau, yang?” Tanya Ali lagi.


“Kata ibu sih ga mau.”


“Bentar lagi juga mau,” Jawab Ali santai sambil berjalan menuju kamar mandi ya berada di kamar itu untuk membersihkan diri.


“Abang tau dari mana?” Tanya El penasaran.


“Kalau kak Yana ga mau ngapain dia pake derama ngambek-ngambek sama bang Raja di taman kampus.” Ungkap Ali pada istrinya.


Ibarat sepandai pandai tupai melompat sesekali jatuh juga, begitu kata pepatah.


Yang kali ini bukan tupai dan tidak melompat tetapi malah tertangkap basah, hanya saja si penangkap tak berniat menangkap.


“Hah, ayang bebh tau dari mana.” Tanya Elita yang menarik lengan suaminya yang hampir saja masuk ke kamar mandi.


“Tau aja, awas ih aku mau mandi.” Ali melepas tangan istrinya.


“Tunggu yang, abang beneran mata-matiin kak Yana.” Elita kembali menarik tangan Ali.


“Nggak lah, negara sedang tidak baik-baik saja kerjaanku banyak ngapain aku buang-buang waktu ngikutin lansia jatuh cinta.” Jawab perwira seragam hijau abdi negara itu jujur.


“Terus tau dari mana,” kali ini Elita menarik handuk yang sudah tergantung di leher sang suami.


“Tau, karena kemarin sore aku lewat kampus sama komandan terus liat kakak sama bg Raja, kamu nanya lagi aku mandiin ni.” Jawab Ali mengancam.


Elita sontak melepas genggaman tangannya pada handuk Ali.

__ADS_1


“Ih ga mau, aku mau telpon ibu.” Ucap wanita itu dan lari ke arah nakas dimana ponselnya terletak.


Namun saat melihat jam di dinding menunjukan pukul 22.48 WIB, Elita terpaksa mengurungkan niatnya. karena tak ingin mengganggu sang ibu yang pasti sudah tidur.


“Duh, lama banget lagi paginya.” Monolog wanita itu tak sabar.


☕️☕️☕️


Hari ini sudah hari ketiga setelah terungkapnya fakta bahwa mak Duma adalah mamak Raja.


Selama dua hari ini tak ada yang berubah, Raja setiap pagi membawakan sarapan dan kopi untuk Yana.


Namun tidak untuk pagi ini, mobil milik Raja berhenti tepat di depan rumah Yana, seorang laki-laki turun dan mengetuk pintu rumah itu gugup.


“Nak Raja, masuk.” Ucap bu Nur ramah saat membuka pintu pada Raja yang berdiri mematung dan tak tau harus berkata apa.


“Kenapa, ayo masuk. Sudah sarapan.?” Tanya bu Nur lagi.


Raja hanya mengangguk sedikit, “Maaf bu boleh saya bertemu Yana.”


“Oh, iya boleh. Sebentar ibu panggilkan duduk saja dulu disitu kalau tidak mau masuk.” Ucap bu Nur sambil menunjuk kursi di teras rumah itu.


Raja duduk di teras dengan mata menatap lurus ke mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.


“Ada apa bang kesini sepagi ini kesini.?”


“Aku kan sudah pernah bilang nggak mau di antar jemput.”


Yana keluar mengunakan daster rumahan dan hijab kurung berwarna mustard, sambil menggendong seorang bayi.


Melihat pemandangan di depannya Raja malah bertambah gugup pikiranya sudah melayang kemana-mana.


“Eh, em anu. Apa itu anu.” Ucapan Raja membuat kening Yana berkerut tak paham.


“Apa?”


“Itu, kamu masih pake daster begini kamu ga sekolah.?” Tanya Raja.


“Sekolah.” Jawab gadis itu jujur.


“Boleh tolong abang ga Ay.”


“Tolong apa?” Yana semakin heran.


Raja menatap mobilnya yang terparkir di pinggir jalan nanar, dan kembali melihat ke arah Yana.


“Kenapa bang,?” Tanya gadis itu heran, apakah Raja menjemputnya tapi ia sudah pernah mengatakan sebelumnya untuk jangan pernah mengantar dan menjemputnya.


Dan pada saat itu Raja mengiyakan, itu sebabnya hanya sesekali Raja mengantar Yana pulang.


“Di mobil ada Lulu,” Raja menarik napas panjang, dan kembali menatap mobilnya.


“Pagi ini dia tantrum dan sudah menangis hampir satu jam sebelum kami kesini.”


Belum sempat Raja melanjutkan kata-katanya gadis itu sudah masuk dan kembali keluar tanpa bayi yang sebelumnya ada dalam gendongannya.


Yana berlalu begitu saja melewatinya Raja menuju ke arah dimana mobil itu terparkir.

__ADS_1


Saat membuka pintu mobil sisi penumpang terlihat Lulu dengan bibir manyun dan mata sembab.


“Lulu kenapa, sayang.” Yana langsung memeluk gadis kecil itu.


Tak ada lagi suara tangis yang Raja ceritakan, tapi wajah dan mata gadis itu menandakan bahwa ia sudah menunggu cukup lama.


“Yuyu mau kolah ante yang antal.”


“Yah bilang, Lau halul ante antal ga utah kolah.”


“Yuyu nangil ayah malah.”


“Atok malah ayah, opung malah atok.”


Gadis kecil itu menceritakan tragedi yang terjadi di rumahnya pagi ini, bahwa dia menangis minta diantar sekolah oleh Yana, sedang sang ayah menyuruhnya libur saja kita harus Yana yang mengantar sekolah.


Gadis kecil itu juga mengatakan ayahnya di marahi oleh atok dan atok nya dimarahi opung, tanpa gadis kecil itu tau yang sedang ia ceritakan adalah aib keluarga.


Yana tertawa,”Ya udah tante antar sekolah. Tapi tante mau ganti baju dulu. Lulu mau ikut ke kamar tante atau tunggu di sini.” Ucap Yana sambil mengelus kepala anak itu penuh sayang.


Mata Lulu berbinar, ia menyetujui mengikuti Yana ke kamar gadis itu, Yana menggandeng tangan Lulu masuk ke rumahnya melewati Raja begitu saja.


Baru saja Raja ingin memanggil dua wanita kesayangannya yang berbeda usia itu, pak Ahmad datang dari samping rumah sambil memeluk seekor burung.


“Srigunting pak,” ucap Raja basa-basi.


“Iya, kamu suka juga.” Tanya pak Ahmad datar.


“Lumayan pak, tapi tidak pelihara takut tidak sempat di urus.” Jawab Raja jujur.


“Kalau tidak sempat di urus bawa saja kesini.” Jawab pak Ahmad pada Raja.


Seperti mendapat angin segar, Raja langsung saja menawarkan seekor burung yang memang ia juga suka.


“Kalau boleh, nanti saya bawakan burung srigunting abu-abu.” Raja memberi penawaran.


“Wah boleh itu,” Pak Ahmad menjadi lebih ramah dari sebelumya.


“InsyaAllah pak,” Jawab Raja.


“Mungkin nanti saya ant...”


“Bang cepat, Lulu udah terlambat.” Kata-kata Raja terputus oleh suara nyaring Yana yang berjalan menggandeng Lulu.


“Yah, Yana pergi ya, Assalamualaikum.” Gadis itu menyalami pak Ahmad dan berlalu begitu saja.


“Saya permisi pak.” Pamit Raja pada ayah dari gadis pujaan hatinya sambil menyodorkan tangan hendak bersalaman.


“Em.” Hanya itu yang keluar dari mulut pak Ahmad dengan tatapan tak suka.


Raja berlari kecil ke arah mobilnya, kepalanya terasa berat. Hidupnya akhir-akhir ini memang sedang di uji oleh keadaan.


“Nak Raja sama Yana mana yah,?” Tanya bu Nur yang keluar dari dalam rumah membawa segelas kopi untuk tamunya.


“Tuh, Itu yang kamu bilang Yana nolak si duda anak tiga itu.” Jawab Pak Ahmad sambil menunjuk ke arah mobil Raja yang pintunya baru saja ditutup oleh si empunya.


☕️☕️to be continue☕️☕️

__ADS_1


Jan lupa bagia Rakan jan lupa senyummmmmmmmm 😊


__ADS_2