
☕️☕️☕️
Mutia, guru seni yang hobi menulis puisi itu tak pernah berniat merusak hubungan antara Yana dan anak-anak sambungnya. Hanya saja di mata Muti, Yana akhir-akhir ini terlalu sering mengeluh dengan kondisinya yang sering pusing dan selalu kelelahan membuat Muti menyarankan Yana mengecek kehamilan.
Selama bertahun tahun bersahabat dengan Yana, wanita itu jarang sekali mengeluh akan suatu hal. Bahkan saat pernikahanya gagal dengan Doni Yana lebih tenang menghadapinya.
Saat Muti bertanya apakah Yana kelelahan karena harus mengurus anak-anak sambungnya maka jawaban Yana malah membuat Muti merasa Yana beruntung dengan kehidupannya yang sekarang.
Bagaimana tidak, Yana menceritakan bahwa ia tak pernah sekalipun memegang sapu sejak menjadi istri Raja, untuk masak saja ia lakukan karena Yana ingin makanan yang dimakan oleh suami dan anak-anaknya hasil olahan tanganya sendiri.
Itu juga Yana lakukan dengan di bantu oleh wak Mar asisten rumah tangga mereka. Sedangkan untuk anak-anak Raja semuanya sangat mandiri karena memang sudah terbiasa dari sebelumnya.
Lalu apa yang membuat Yana lelah, sekarang ini bahkan ia hanya mengajar jam sekolah tanpa mengajar les dan pulang pergi diantar oleh Raja.
Sebagai ibu yang sudah memiliki empat anak dikarenakan suami Muti tak ingin mengikuti program keluarga berencana, maka Muti sudah paham betul tanda-tanda wanita hamil seperti apa.
“Nggak mbak umurku sebentar lagi empat puluh mana mungkin hamil lagi.” Ucap Yana waktu Muti mengatakan kecurigaannya.
Saat ditanya kapan wanita itu terakhir datang bulan Yana malah menjawab lupa. Muti tak mau tinggal diam maka Lulu lah sasarannya. Jika saja komnas perlindungan anak tau hal ini maka Muti bisa di hukum pidana.
Jika jam mengajar Muti dan Yana bentrok maka Lulu akan ikut ke kelas tempat Yana mengajar, anak baik itu tak mengganggu sama sekali sampai jam pelajaran selesai asal diberikan sebuah crayon dan kertas.
“Lulu mau punya adik ga.” Tanya Muti pada gadis kecil itu saat Yana menitipkannya pada sahabatnya itu di jam pelajaran yang Muti free mengajar.
“Nya adik enak ga.” Tanya Lulu sambil mewarnai buah buahan yang sudah Yana gambarkan sebelumnya pada kertas HVS yang disediakan Yana.
“Enak dong, kak Lala udah pisah kamar, bentar lagi kak Lili juga ninggalin kamu.”
“Kalau Lulu ga punya adik nanti Lulu jadi tinggal sendiri deh, Emangnya Lulu mau.” Ucap Muti seenaknya mengotori pikiran Lulu.
Mata Lulu melotot dan meletakkan crayon yang ia pengan di atas meja begitu saja, lalu berbalik menghadap Muti.
“Bou uga bilang Uma mu beli adik.” Ucap Lulu pada Muti.
“Nah itu, bilang sama umma beli adik sekarang sebelum kak Lili pindah kamar dan ninggalin kamu sendiri.” Mulut berbahaya Muti kembali beraksi.
“Nti adik bayi kayak punya onty.” Tanya gadis kecil itu.
“Iya bayi seperti punya onty, kamu suka kan.” Mata Lulu berbinar membayangkan punya adik bayi namun Lulu teringat satu hal.
“Pi ta Uma uangnya belum cukup adik bayi halga na mahal.” Ucap Lulu jujur menceritakan saat ia sudah sering bilang ke umma minta beli adik yang seperti Aboy anak dari Putra.
“Uang ayah kamu kan banyak, uang nenek opung juga banyak lu, nanti sampai kerumah Lulu nangis ya kalau Uma ga mau beliin adik bayi.”
“Kalau Uma sayang sama kamu pasti Uma mau beliin adik bayi.”
Dan mulut berbahaya Muti menjadi bencana besar di keluarga Raja yang justru juga membahayakan karir Titah, apa salah Titah pada mbak Muti sampai mbak Muti juga tega mengancam karir gadis cantik itu.
☕️☕️☕️
“Tapih pakh, kelash soreh inih tuh kelash karyawan nantih merekah komplen kalau bapakh ga masukh.” Ucap Tita mencegah Raja yang sudah siap pulang kerumah karena panggilan dari yang ibu ratu Duma Hasian tercinta.
__ADS_1
“Telpon saja Iwan, dia kan dulu sering jadi asdos saya, minta tolong hari ini saja.” Ucap Raja gampang.
“Tapih Iwanh...” Tita tak melanjutkan Ucapannya.
“kenapa? Kamu putus sama dia?” Tanya Raja yang membuat Tita megeleng.
“Diah bukan pacarh sayah pakh.”
“Ya sudah, profesional dong atau besok saya cari sekertaris lain untuk gantiin kamu.” Raja bergegas meninggalkan ruang dosen itu dan meninggalkan beban dari ulahnya begitu saja pada Titah.
“Sintingnya sembuh sebentar doang pas dekat ka Yana aja, sekarang kambuh lagi.” monolog Tita kesal.
———
Raja sampai kerumah dan mendapati Lulu sedang dibujuk oleh Yana karena mogok mandi dan mogok makan.
“Lulu kenapa sayang,” Tanya Raja lembut.
“Udah ku tanyakan juga tapi ga di jawabnya.” Ucap mak Duma kesal.
“Aku juga udah nanyain, dia diam aja.” Jawab Lala ikut berkomentar.
“Bocil cepetan bilang minta beli apa, buat kesal aja kau.” Ucap Lili tak kalah sengit.
“Yang lain diam dulu biar ayah yang tanya.” Ucap Raja.
Yana duduk dengan mata sudah berkaca-kaca di sudut ruang keluarga yang kini sudah ada sofa santai berwarna merah tua.
“Pi Uma biyang ga boyeh, Uma peyit.”
“Opung mau juga.”
“Kalau itu ayah setuju”
“Oh itu kak Li pun mau juga dek”
“Alah kau, kak La pikir apa.”
Ucap empat orang itu secara bersamaan.
“Okey segera kita beli sekarang jangan nangis lagi ya.”
“Sekarang minta maaf sama umma lalu makan sama opung setelah itu mandi lalu kita jalan-jalan sore, setuju.?” Tanya Raja sambil melirik Yana yang ada di sudut sofa.
”yeyyyy setuju.” kompak tiga anak itu berteriak dan Lulu berlari memeluk Yana sambil meminta maaf dengan penuh penyesalan dan menghapus air mata yang meleleh di pipi Yana.
Raja bergegas menarik Yana ke kamar mereka, Raja tak sempat menutup rapat pintu kamar itu dan langsung memeluk wanitanya itu erat.
Raja meminta maaf atas ulah Lulu yang membuat Yana sampai menangis, rasa bersalah kembali menghantui Raja. Serumit itukah Yana mengasuh anak-anaknya sampai wanita itu menangis tersedu dan semakin keras saat Raja memeluknya.
“Abang akan ingatkan anak-anak lagi untuk lebih baik bersikap pada Aya.” Ucap Raja sambil mengecup kening Yana penuh sayang.
__ADS_1
“Bukan itu.” Jawab Yana.
“Lalu.?” Tanya Raja heran.
“Abang ingin punya anak lagi.” Tanya Yana.
“Pasti sayang, biar usaha abang ada hasilnya.” Ucap Raja sambil menaik turunkan alisnya mengoda Yana.
“Aya ga bisa bang.” Ucap Yana lirih.
“Ga bisa? Aya ga mau kita punya anak.?”
Yana tak menjawab, wanita itu hanya diam dan malah menangis lebih keras lagi.
“Aya kenapa,? bilang.” Raja mencengkram kedua bahu Yana dan menatap wanita itu dalam.
“Aya udah tua bang, mana mungkin bisa hamil lagi.”
“Ay.” Raja kembali memeluk Yana erat.
“Ga boleh kau macam itu nak ku, kalau rejeki mu ada nya itu,” Ucap mak Duma yang ternyata sejak tadi sudah berada didepan pintu, membuat Yana mundur selangkah menjauh dari Raja.
“Maaf lah ya tadi mau ku tarik pintu ini ku tutup rapat, ga sengaja ku mendengar kalian.”
“Boleh mamak masuk,” tanya mak Duma. dan di angguki oleh pasangan suami-istri itu.
“Jan kau kecil hati Yana, opung si Raja umur empat puluh enam tahun dilahirkannya tulang Togar itu.”
“Sehat dia, togar pun sehat aja.”
“Dua belas adek mamak nak ku, si Togar itu satu laki-laki”
“Ga selamanya kita mesti ngejar yang kita mau untuk dapat apa yang kita cari, berdoa saja. Kalau Allah bilang iya apa yang tak mungkin.”
“Jangan kau susah soal itu, ada disyukuri tak ada pun tak berkurang sayang ku sama kau.” ucapan Mak Duma membuat Yana menoleh pada Raja.
“Untuk abang juga ga masalah Ay, bukan karena abang sudah punya Lala Lili dan Lulu Ay, bukan karena itu.”
“Bahkan Lala Lili Lulu lebih membutuhkan Aya sekarang dibandingkan dengan abang.”
“Aya harus yakin abang sayang sam....”
“Halah gombal mu bang, kalau ga karena mamak ga kawin juga kau sama menantu ku ini.” Ucap mak Duma berlalu meninggalkan pasangan pengantin baru itu begitu saja.
“Tapi apa salahnya diperiksa Ay, seingat abang Aya baru datang bulan sekali sejak kita menikah.” Bisik Raja di telinga Yana saat mereka sudah tinggal berdua dan berhasil membuat mata Yana membulat sempurna menatap Raja.
☕️☕️To be continue☕️☕️
☕️Lala Lili Lulu lalu jika dugaan mbak Muti dan bang Raja benar siapa harus ku buat namanya hahahaha
☕️Jan lupa bahagia jan lupa syemyummmm
__ADS_1