Dia Yang Kembali Datang

Dia Yang Kembali Datang
2. Spesial Part (Mogok Bicara Gara-Gara Lala)


__ADS_3

🌴🌴🌴


Bagi semua orang tua anak sangatlah berharga, begitu juga yang terjadi pada keluarga Raja. Bagi mereka yang berasal dari tanah batak anak adalah harta yang paling berharga yang mereka punya.


Kasih sayang yang Yana berikan pada ketiga anak sambungnya tak pernah berubah sedikitpun meski Nua telah hadir di kehidupannya, ketiga anak itu juga menyayangi dan menghormati Yana layaknya seorang ibu kandung mereka.


Hanya saja keluarga ini sedang tidak baik-baik saja, kali ini untung saja bukan Raja yang bersalah melainkan Yana dan mak Duma yang mengambil keputusan sehingga membuat rumah sepi seperti mobil ambulan yang sedang rusak sirinenya.


Semua berawal dari Lala yang meminta pindah sekolah ke pesantren karena terobsesi oleh guru agamanya yang lulusan dari madinah, Raja jelas menolak ia bukan tak ingin Lala sekolah di sekolah agama hanya saja laki-laki itu tak sanggup membayangkan Lala harus tinggal di asrama dan jauh darinya.


Lagi pula Lala masih jenjang sekolah menengah pertama masih terlalu kecil untuk hidup terpisah menurut Raja.


Raja menyarankan agar Lala sekolah agama dan tinggal di asrama saat SMA saja, namun Lala adalah Raja versi wanita keinginan Lala susah untuk dipatahkan. Anak itu ingin sekolah di pesantren hingga MA dan melanjutkan kuliah di UIN atau ke Madinah.


Dulu sekali saat Raja memutuskan ingin melanjutkan sekolah SMA di Jakarta mamak adalah yang paling menentang karena tak sanggup jauh dari Raja, begitu juga dengan Yana saat Lala ikut acara sekolah dan harus menginap dua malam di puncak wanita itu justru tak bisa tidur terus menerus teringat Lala.


Dari kejadian itu Raja sangat yakin mamak dan Yana kali ini akan menjadi penolongnya namun nyatanya lain, mak Duma dan Yana dua wanita berbeda usia kesayangan Raja itu ternyata punya pendapat yang memihak pada Lala.


“Biar aja bang, carikan yang paling bagus, dia nanti yang bawa kita ke surga bahkan ibunya sedang menunggu di bawa ke surga.” Ucap Yana saat mereka para orang tua serta kakek nenek membahas hal tersebut di gazebo belakang rumah.


Raja sampai membuat rapat keluarga untuk hal yang menurut Lala sangat sepele urusanya.


“Mamak setuju kali itu, Zaman sekarang penting kali mak rasa ilmu agama itu, bang.” Jawab mak Duma membela menantunya.


“Pande kali memang menantu ku ini ah, ga macam kau anak mau ke jalan yang benar ga kau dukung.” Ucap mak Duma lagi sambil melirik ke arah Raja.


“Ya Allah mak,” jawab laki-laki itu kehabisan kata-kata.


“Kalau ayah cuma bisa bilang pengalaman ayah puluhan tahun jadi guru SD jarang-jarang ada anak yang teguh begitu inginya, Ja. Ayah pikir Lala bukan hanya obsesi sementara.” Ucap pak Ahmad yang merasa tak punya hak ikut campur hanya saja Raja memanggilnya datang untuk membicarakan hal itu jadi pak Ahmad juga memberi pendapat senetral mungkin.


“Ibu,?” Tanya Raja.


“Ibu sependapat dengan mamak kamu Ja, ibu malah terharu melihat tekad Lala yang begitu kuat.” Jawab bu Nur apa adanya.


“Udah lah bang, biar di cobanya dulu nanti kalau ga sanggup dia, kita pulangkan.” Jawab pak Azis memberi solusi.


Raja diam, lima lawan satu sudah dapat dipastikan bapak yang memiliki empat anak perempuan itu jelas kalah tanpa poin.


“Ya udah.” Jawab Raja pasrah.


“Jadi pesantren manalah dia kita sekolahkan?” Tanya pak Azis.

__ADS_1


“Nanti ku suru Tita surve dulu yang bagus dimana.” Jawab Raja gampang.


“Bang jangan Tita lagi, kasian bang dia sampai pindah rumah gara-gara masalahnya jangan abang tambah lagi bebannya.” Jawab Yana tak setuju.


“Iya, jangan lah bang. Yana cerita kuliahnya hampir aja berhenti gara-gara itu, kan.” Ucap mak Duma lagi.


“Iya mak, kasihan,” Jawab Yana lagi.


“Kita saja yang carikan, ayah bantu.” Jawab pak Ahmad dan di angguki oleh semua yang ada di situ.


“Yang di jawa timur itu bagus menurut bapak.” Ucap pak Azis lalu menyebut salah satu nama pondok pesantren sangat terkenal di negeri ini.


“Jangan di situlah, Pak.” Jawab Raja menolak halus.


“Di kediri aja gimana ada pesantren milik keluarga mbak Muti, lebih enak kita pantau,” Yana memberi pendapat.


“Nggak,” Jawab Raja tanpa pikir panjang. “


“Atau gak di medan mamak bawa pulang kesana dia.”


“Nggak juga,” Jawab Raja.


“Ada teman ibu yang mengajar di pesantren di Tuban, Ja. Gimana kalau disana,” Ucap bu Nur


“Jadi mau kau dimana? Pening aja kepala mamak lama-lama sama kau,” kesabaran mak Duma mulai menipis.


“Terlalu jauh, yang dekat-dekat rumah aja.” Ucap Raja.


Setelah pembicaraan yang panjang dan alot antara pak Azis mak Duma Raja dan Yana akhirnya pak Ahmad yang sejak tadi hanya diam angkat bicara, jika dulu awal-awal Yana menikah dengan Raja pak Ahmad dan bu Nur merasa tak nyaman dengan cara bicara keluarga Raja sekarang hal itu sudah jadi hal biasa.


“Dulu waktu ayah dapat hadiah umroh dari dinas, ustadz pendampingnya ustadz Haikal berasal dari bandung, dia pernah cerita orang tuanya memiliki pondok pesantren di bogor, masih ada nomor hapenya bagaimana kal...”


“Setuju, itu aja.” Ucap empat manusia memotong ucapan pak Ahmad, mereka yang tadinya berdebat hanya karena menentukan sekolah yang akan dipilih untuk Lala kini semua menatap ke arah yang sama yaitu pak Ahmad.


Bu Nur sampai menunduk menahan tawa melihat wajah pak Ahmad yang bingung menghadapi keadaan yang baru terjadi.


🌴🌴🌴


Waktu berlalu Lala pun akhirnya diantarkan ke pesantren untuk melanjutkan kelas dua dia salah satu pesantren yang cukup terkenal di bogor, gadis tanggung itu diantar oleh keluarga besar bahkan ini lebih mirip mengantar pengantin dari pada mengantar anak sekolah.


Yana dan mak Duma yang awalnya antusias nyatanya tak seperti yang dibayangkan, saat harus meninggalkan Lala mak Duma bahkan menangis terisak sampai matanya membengkak.

__ADS_1


Sedangkan Yana menangis sampai hampir pingsan dan harus dipapah oleh Raja menuju mobil, Elita yang menggendong Nua juga ikut terharu melihat hal itu.


🌴🌴🌴


Satu minggu setelah Lala memasuki asrama Raja terpaksa menyiapkan semua keperluan pribadinya sendiri, Yana lebih banyak diam selama satu minggu ini dan hanya merespon saat Nua menangis minta ASI atau Lili dan Lulu yang meminta sesuatu.


“Sepi juga, gak ada kak La ya lu, pasti sarapan ya disana ga seenak kita, kan,” Celetuk Lili pada Lulu saat mereka sedang sarapan pagi bersama.


Yana dan mak Duma mendadak menghentikan sarapan dan saling menatap, peraturan pesantren itu siswa baru tak boleh dikunjungi selama satu bulan pertama. jika orang tua ingin berbicara dengan anaknya maka diperbolehkan menghubungi melalui ustadzah pendampingnya.


“Makan apa dia disana mak.” Gumam Yana yang masih jelas terdengar.


“Iya, cemana lah nasib cucu ku itu.”


“Telponkan lah ustadzahnya, bang.” Ucap mak Duma.


“Ga bisa mak, tahan aja dulu nanti lama-lama terbiasa kita.”


“Makanan disana kan kita sudah liat sendiri sangat baik dan bersih.” Jawab Raja.


Yana dan mak Duma hanya diam tanpa menjawab sepatah katapun, jika biasa satu kata Raja ucapkan Yana bisa memberi pendapat sepuluh kata dan mak Duma bisa seratus kata. Namun sejak seminggu yang lalu mereka pulang dari bogor rumah benar-benar terasa sepi tanpa ocehan dua wanita kesayangan Raja itu.


🌴🌴🌴


“Kau pergi merantau ga gitu kali mamak pak tengok, bang.” Ucap pak Azis sambil melipat koran di tangannya saat Raja sedang mengikat tali sepatu di kursi teras.


“Itulah pak, sepi kali rumah ini.” Jawab Raja menarik napas panjang.


“Mamak mu, apa bapak tanya Jawanya iya sama tidak saja.”


“Sama pak, Yana pun macam itu.” Jawab Raja lagi.


“Padahal kalau dipikir-pikir mamak mu yang paling mendukung awalnya.”


“Berani bapak salahkan mamak?” Tanya Raja memastikan.


“Bukan tak berani, malas bapak ribut sama mamak mu.”


“Jadi cemana, pak.”


“Ya udah, diam aja lah kita Ja.” Jawab pak Azis pasrah.”

__ADS_1


🌴🌴🌴


🌴🌴sampai bertemu di spesial part berikutnya rakan, tapi jangan ditanya kapan yaa 🤭Terima kasih untuk rakan-rakan yang masih stay disini, jan lupa bahagia jan lupa nyenyummmmm.😘😘😘😘


__ADS_2