
☕️☕️
Sudah jatuh tertimpa tangga pula, itu kata-kata yang tepat untuk yang sedang Mahraja sang dosen ilmu ekonomi yang terkenal Killer serta merangkap sebagai kaprodi Fakultas ekonomi itu.
Entah bagaimana nasibnya dalam kamar penyiksaan yang diciptakan oleh mak Duma ibu kandungnya sendiri, saat ini.
Sedang Yana saat ini sedang bermain kata dengan Lulu.
“Assalamualaikum” pintu depan rumah Raja yang tak tertutup membuat akses tamu masuk tanpa menunggu si empu rumah mempersilahkan masuk.
Seorang gadis cantik mengenakan rok plisket dengan panjang dibawah lutut berwarna kuning mustard dipadukan dengan kemeja lengan panjang berwarna krem.
Rambut gadis itu terurai dengan indah, wajahnya yang full make up seperti calon pengantin selesai resepsi.
Bibir gadis itu dipoles dengan lipstik merah menyala seperti warna paprika yang sudah matang sempurna, serta dilengkapi dengan sepatu cats yang juga berwacana kuning putih senada dengan baju dan rok yang gadis itu kenakan.
“Waalaikumsalam, bu Tita masuk bu.” Terdengar suara wak Mar menyambut tamu itu dengan ramah.
Yana dapat melihat gadis itu masuk sampai di ruang keluarga rumah itu. Hati Yana memanas sudah hampir meledak, ia terjebak di rumah yang salah dan membuatnya resah.
Wanita itu Yana kenal, Masyitah calon istri laki-laki yang kemarin baru saja merayunya habis-habiskan bahkan mengatakan ingin menjadikannya ibu dari anak-anak si laki-laki bermulut manis itu.
“Bapak di dalam bu sebentar saya panggilkan.” Ucapan wak Mar pada wanita itu suara wak Mar terdengar sampai ke ruang makan.
“Ibu, bapak cocok lah.” Monolog Yana.
“Ibu tapa tan.” Tanya Lulu yang sedang menemaninya di meja makan sedangkan dua anak Raja yang lainya sedang mengganti seragam sekolah mereka dengan baji rumah.
Yana duduk di kursi dan Lulu ia dudukan di atas meja makan tepat di hadapannya.
“Oh itu ada suara tamu ibu-ibu.” Jawab Yana mengalihkan.
“Itu onty Titah teman ayah di kampul.” Jawab Lulu jujur.
“Oh yaa.?”
“Iya, kata onty titah yuyu antik jadi anak onty titah, tapi yuyu ga tukak.”
“Anak.!” Tanya Yana dengan suara sedikit keras.
“Tejut yuyu.” Jawab gadis kecil itu yang terkejut mendengar suara Yana yang sedikit lebih tinggi.
“Eh em anu maksud tante kenapa Lulu ga suka.” Rasa penasarannya bertambah berkali kali lipat, ia mudah memahami bahasa yang Lulu gunakan meski banyak huruf yang tertinggal karena pada dasarnya Yana memang menyukai anak-anak.
Selain itu, yana juga mempunyai keponakan bernama Idris yang usianya hampir sama dengan lulu.
“Dia jahatin Lulu.” Tanya Yana hati-hati.
“Bukan, yuyu ga tukak pipi na ada kayon.”
“Kayon?”
“Iyaa, nih nihh.” Ucap Lulu sambil membuka tas sekolahnya dan mengambil crayon warna merah dari sana.
Anak itu langsung mengaplikasikan krayon marah itu pada pipinya secara melingkar memberi contoh.
“Eh jangan,” Ucap Yana panik sambil mengeluarkan tisu basah dari tasnya, dan mengusap pipi gadis kecil itu.
“Yuyu ga mu onty titah jadi mama yuyu, yuyu mau ate aja.” Jawab gadis itu polos.
Yana hanya tersenyum samar, merasa iba pada anak itu. Andai anak ini tahu tingkah ayahnya yang suka menggoda banyak wanita batin Yana kesal.
Yana tak mendengar lagi suara gadis itu sampai wak Mar kembali ke ruang makan dan membawa tumpukan berkas yang lumayan banyak, Wak mar meletakkan kertas itu di atas meja makan.
Yana hanya melirik kertas itu dengan penuh tanya.
“Bu Masyitah cuman mau antar tugas mahsiswa bu.” Ucap wak Mar padanya, seolah wanita itu tau apa yang sedang Yana pikirkan.
“Em.” Yana mengangguk sambil tersenyum.
“Nanti biasa bapak bawa ke kamar di kerjain di sana.”
__ADS_1
“Bu Tita sering kesini ya wak,” Akhirnya Yana bertanya karena tak tahan dengan rasa penasarannya.
“Lumayan sering bu, kadang sekalian antar anak-anak kalau bapak ga sempat jemput.” Ucap wak Mar jujur dengan apa yang sering ia lihat.
“Oh....”
“Wak bilang sama bapak dan mak Duma saya pamit ya.” Ucap Yana pada wak Mar.
“Ate mana?” Tanya Lulu dengan raut wajah sedih.
“Tante pulang dulu ya, salam untuk kak Lala dan kak Lili.”
“Ngan te, main belby dulu yuk.” Ajak gadis kecil itu memelas.
“Besok-besok ya sayang.” ucap Yana sambil memeluk anak itu dan menurunkannya dari atas meja.
Yana bergegas melangkah ke pintu keluar dari rumah laki-laki yang dulu pernah sangat ia cintai itu.
☕️☕️☕️
“Duduk kau.”
“Jujur kau ya bang,”
“Betul! Yana itu perempuan yang masyitah ceritakan sama mamak kemarin?”
Raja diam tak berkutik, definisi perkataan berani berbuat maka harus berani bertanggung jawab harus ia lakoni sekarang ini.
“Ada telingamu.” Tanya mak Duma lagi.
“Duma,” Pak Azis mengingatkan agar istrinya itu tak lepas kontrol.
“Diam dulu, bapak tengok lah anak bapak ini.”
“Emm yang gini anak ku.” Hanya itu yang keluar dari mulut pak Azis.
“Bang.!” Mak Duma meninggikan sedikit suaranya.
“Em i iyya.” Akhirnya anak sulung mak Duma itu mengangkat kepalanya dan menatap mak Duma.
“Duma, istighfar.” Tegur pak Azis dengan wajah tak suka.
“Astagfirullah, khilaf awak pak.”
“Cemana lah cara kau berfikir bang?” Kali ini suara mak duma kembali melemah.
“Jauh-jauh kau ku sekolahkan masih juga kau pelihara paok mu itu, ih geram kali aku ah.”
“Jadi, dia mantanmu.” Tanya pak Azis yang sekarang sudah duduk di sebelahnya.
“Ga pacaran juga pak, dekat aja. Cuman...”
“Cuma apa.?” Tanya mak Duma cepat.
“Cuma,”
“Apa! Ah lama kali cakap mu ga sabar mamak.”
“Duma, sabar dulu.” Jawab pak Azis menenangkan.
“Iya, iya.”
“Cuma apa bang,? Tanya pak Azis sambil menepuk pundak putra sulungnya itu.
Untuk seorang ayah anak sulung laki-laki adalah tumpuan keluarga yang seharusnya bisa membanggakan keluarga.
Dan selama ini Raja selalu membuat pak Azis merasa sukses menjadi ayah yang mendidik anak laki-lakinya. Tak pernah sekalipun anaknya itu mengecewakan.
“Cuma, memang aku pernah datang jumpai ayahnya untuk ngelamar dia.”
“Hah, udah pernah kau lamar.” Mak Duma yang tadinya sudah duduk di sebuah kursi meja rias kini kembali berdiri mendekat.
__ADS_1
“Duma, Duma duduk tahan dulu.” Pak Azis, laki-laki yang sudah hidup bersama mak Duma hampir setengah abad itu kembali menenangkan istri ajaibnya.
“Kapan itu bang,?” Tanya pak Azis sabar.
“Dulu pak, sebelum aku pulang kampung.”
“Terus kau pulang kampung, kau kawin sama si Mia.?” Mak Duma yang tak sabar langsung menyambar bak BBM terkena api.
“Duma. diam dulu kau bisa.!” Pak Azis menatap istrinya dengan tatapan tajam.
“Pak,” Raja mengingatkan bapaknya, karena bagaimanapun juga untuk Raja mamaknya adalah wanita terbaik dan paling dicintai di dunia ini.
Wanita paruh baya yang memakai gamis batik dengan rambut tebal di sanggul di kepala itu menarik nafas panjang dan mak Duma yang sempat berdiri itu kembali duduk di kursi meja rias.
“Recok kali, biar diam dulu mamak mu itu.”
Raja tersenyum melihat mamaknya yang sedang memanyunkan bibir dengan wajah kesal.
“Terus kenapa kau mau kami jodohkan sama Mia?”
“Dan apa bapaknya menerima lamaranmu.?” Tanya bapak lagi.
“Karena, mamak minta aku pulang kampung dan menetap disana pak.”
“Kenapa pulak aku,” jawab mak Duma membela diri
“Dumaaaaaaa.” Suara pak Azis terdengar lembut.
“Ayah Yana ga setuju anaknya kubawa ke Medan apalagi sebelum dia selesai kuliah, Ayahnya juga ga mau kalau kami menikah kemudian tinggal terpisah.”
“waktu itu masih lebih setahun lagi target dia selesai kuliahnya,” Raja menarik nafas panjang dan kembali melanjutkan ceritanya.
“Sedangkan mamak waktu itu berharap kali aku pulang, karena pun aku sudah dapat kerja di sana.”
“Ku janjikan sama dia balik setahun kemudian, waktu dia udah selesai kuliah.”
“Tapi mamak sama bapak hampir tiap hari jodohkan aku dengan Mia, ga sanggup ku tolak permintaan mamak, sayang kali aku sama mamak,”
“Mamak yang melahirkan aku, mamak sama bapak yang membesarkan aku sampai jadi orang. Cemana cara, ku bilang nggak untuk yang mamak sama bapak minta.”
“Aku laki-laki mak, surga ku sama mamak.
“Mia, dia perempuan baik, ga ada yang bisa dijadikan alasan untuk aku menolak permintaan mamak sama bapak.
Mata mak Duma mulai berkaca-kaca mendengar ucapan anaknya, hatinya terasa sakit.
“Ga pun kau bilang sama mamak ada perempuan yang kau suka disini bang.” Ucap mak Duma lirih.
“Mamak mau menantu yang tinggal sama mamak, sedangkan Ayah Yana ga mau jauh dari anaknya.”
“Ku akui aku bodoh waktu itu mak, pak. Tapi apalagi yang harus ku sesali takdir hidupku memang udah gitu kan.” Ucap Raja dengan suara mulai serak.
“Waktu itu, baik-baik aku telpon Yana. Ku bilang aku mau nikah.”
“Setelah itu aku ga pernah tau kabarnya lagi, sampai aku ketemu dia di acara seminar kampus hampir setahun lalu.”
“Foto yang Mia dapat di laci mu foto Yana?” Tanya pak Azis memastikan dugaanya dua belas tahun silam.
Raja mengangguk, “Tau bapak sama mamak rupanya? Mia yang cerita?” Tanya Raja
“Ga ada sepatah kata pun dia cerita atau mengeluh sama kami bang, tapi bapak tau.” Jawab pak Azis sambil menatap anak sulungnya.
“Itu dosa terbesarku untuk Mia pak,” Jawab Raja merasa bersalah.
Pak Azis tampak terdiam, mak Duma yang awalnya begitu menggebu tak berkutik sedikitpun.
“Ayah, tante Yana mau pulang.” Suara Lala yang membuka pintu kamar tanpa mengetuk lebih dahulu menggema ke seluruh kamar itu.
☕️☕️To be continue☕️☕️
☕️☕️Paok Bagi orang Medan, kata Paok sendiri mengacu pada kata yang kurang baik, yaitu 'bodoh'.
__ADS_1
☕️☕️Amangoi: aduh / astaga / ucapan spontan atas suatu kejadian / walah.
☕️Jan lupa bahagia jan lupa senyum Rakan, biar bang Raja aja yang banyak pikiran, Kita jangan ya.