Dia Yang Kembali Datang

Dia Yang Kembali Datang
Aku ditembak kau kutembak


__ADS_3

☕️☕️


Tiga hari berlalu setelah malam mencekam mengerikan yang diciptakan Lala, Raja memutuskan akan berbicara tentang perasaan dan keinginannya pada Yana. Lala hanya memberinya waktu satu minggu tidak lebih.


“Aku pikir ayahku pemberani ternyata untuk itu aja takut.” Itu adalah jawaban Lala saat Raja berdalih bahwa mak Duma dan pak Azis belum ia beritahu karena ia belum mengungkapkan perasaannya pada Yaya.


Tentang masa lalu dirinya dan Yana sudah pasti tak akan Raja ceritakan pada putrinya itu.


“Aku kasih ayah waktu seminggu untuk beresin semua, atau aku yang bilang semua sama opung dan atok.” Dan itu juga kata-kata Lala sebelum anak gadisnya itu meninggalkan kamar Raja malam itu.


Jika biasa ia yang memberi waktu seminggu pada mahasiswa untuk mengumpulkan tugas atau menyelesaikan tugas akhir mereka, kali ini ia yang di beri waktu seminggu oleh anak perempuan berusia dua belas tahun.


Bukannya Raja takut pada Lala, anak itu memang tak sama seperti Lili yang banyak bicara dan tak bisa menyimpan rahasia, Lala lebih banyak diam namun hidup Lala hampir sama persis dengannya. Semua hal yang sudah ia rencanakan akan ia lakukan apapun resikonya.


Maka tak menutup kemungkinan dalam waktu seminggu ia tak mampu membereskan semua maka Lala yang akan bertindak.


“Maaf bang anak-anak harus ngumpulin tugas dulu.” Suara lembut sang pujaan hatinya masuk dari telinga menuju otak dan menetap di hati si duda galau itu, sehingga memecah lamunanya tentang Lala.


Sudah dua hari ini juga ia menghindar saat mamak meminta diantarkan ke rumah Yana, maka hari ini semua akan ia selesaikan untuk mengambil langkah ke depannya.


“Eh iya Ay gapapa.” Jawab Raja yang sudah menunggu gadis itu hampir dua jam, Raja datang tepat saat Yana hendak mengajar.


Yana sudah menjelaskan tapi Raja mengatakan tak apa menunggu Yana mengajar dua jam pelajaran, itu artinya sembilan puluh menit. Jika diibaratkan pertandingan bola maka Raja menunggu sampai selesai babak kedua. Namun kali ini tak seseru nonton bola karena ia hanya menunggu Yana dengan duduk di kursi tunggu guru piket seorang diri selama sembilan puluh menit itu.


“Jadi ada perlu apa bang, Aya ada jam mengajar lagi jam setengah dua nanti.” Ucap Yana jujur pada Raja.


“Kalau bicara diluar bisa.” Tanya Raja berniat mengajak Yana untuk bicara di luar area sekolah.


Lama Yana terdiam entah apa isi pikiran kepalanya, dan akhirnya gadis itu menjawab.


“Boleh tapi aku hanya punya waktu dua jam.”


Raja mengangguk bergegas mengajak Yana menuju mobilnya, mobil sport SUV yang Raja miliki memang tak semewah yang Doni punya tapi setidaknya cukup nyaman untuk dikendarai.


Raja mulai berpacu membelah jalan ibu kota dalam diam, entah apa yang ia pikirkan sehingga lebih banyak diam dari biasa.


Raja melajukan mobilnya memasuki tempat drive thru salah satu restoran cepat saji yang sangat terkenal sehingga ia tak perlu turun dari kendaraan.


Ia memesan dua paket makan siang dan melajukan sedikit kendaraanya ke depan untuk mengambil pesanan dan membayar menggunakan uang elektronik.


“Kenapa harus pesan bawa pulang.” Tanya Yana bingung setelah Raja meletakkan dua kotak makan siang itu di atas pangkuan Raja dan laki-laki itu kembali melajukan kendaraannya membelah panas teriknya kota metropolitan itu.


“Kita ga mungkin makan yah belum pulag, dan abang juga harus makan tepat waktu.” Jawab Raja, dan kemudian fokus menyetir lagi.


Yana hanya menarik nafasnya dalam, jalanan yang mereka lalui seolah bisa menebak kemana arah perjalan mereka.


“Taman dekat sekolah lagi.” Tanya Yana menarik nafas panjang.

__ADS_1


“Aya ga suka? Gapapa disitu aj...?” Tanya Raja sambil melambatkan kendaraannya.


“Jangan kesitu.” Jawab Taja memutus ucapan Raja.


”Kenapa? kita bicara disana sambil makan seperti biasa dulu kita lakukan.” Jawab Raja pada gadis itu.


“Aku bilang jangan kesitu ya jangan kesitu atau turunin aku disini.” Ucap Yana dengan meninggikan suaranya serta wajah merah padam.


Dada Yana sudah naik turun, nafasnya lebih cepat dari biasa, ia tak bisa membayangkan datang lagi ke tempat itu.


Tempat dimana ia lari dari mama jelita dan menangis sejadi jadinya sebelum Elita dan mbak Muti datang waktu itu. Tempat di mana ia jadi pusat perhatian orang-orang karena tangisnya pecah oleh kecewa yang ia alami.


Sejak kejadian itu jangankan untuk menginjak taman itu untuk lewat di taman itu saja ia tak mau, tempat yang paling nyaman dikunjungi sejak ia masih duduk di bangku SMA sekarang malah menjadi tempat yang tak ingin ia datangi.


Raja menginjak rek secara mendadak karena terkejut dengan teriakan Yana.


Ay” Raja bingung sebegitu bencikah Yana untuk tempat itu tempat di mana mereka dulu menghabiskan waktu, Raja pikir itulah tempat satu-satunya yang bisa membuat Yana-nya kembali.


Yana tak menjawab wanita itu hanya menatap Raja dengan tatapan kosong.


“Ok maaf ok ok,” abang minta maaf. Jawab Raja merasa bersalah dan menganggap Yana tak mau ke tempat itu karena kesalahannya di masa lalu.


Yana tersadar dengan apa yang terjadi, wajah bingung Raja membuatnya merasa tak enak.


“Maaf bang, bukan gitu maksudnya. Aku cuman ga mau kesana dan itu bukan karena bang.” Ungkap Yana yang salah paham dengan apa yang Raja pikirkan.


Yana berbalik melihat ke arah Raja, tak berubah laki-laki itu selalu jadi orang yang ingin tau dan penasaran. Yana melihat lurus ke dalam mata Raja laki-laki dengan kulit sawo matang dan alis tebali tersenyum ke arah Yana.


“Kamu boleh cerita atau bilang alasannya kalau itu bisa buat kamu nyaman Ay.” Ucap Raja pada Yana.


Yana terdiam sejenak, “Aku ingat mas Doni mantan tunangan ku kalau ke tempat itu.” Jawab Ayana pada Raja.


Jantung Raja seolah terkena penyakit serangan jantung, pompa jantung rasanya melemah dadanya sesak dan sakit, tidak ada yang terluka, saja kakinya lebih dari luka yang terlihat bekasnya.


Laki-laki itu menenangkan diri, memarkirkan kendaraannya di pinggir jalan dan membuka kaca jendela di sisinya dan sisi Yana setengah.


Raja mencoba menarik nafas dalam, memberanikan diri mengungkapkan semua.


“Makan dulu,” Raja membuka kotak nasi yang ia beli di resto cepat saji tandi dan mencegahnya pada Yana. Gadis itu hanya diam saja.


“Makan dulu, galau butuh energi abang juga butuh makan untuk hal-hal yang mungkin nanti terjadi tak tak sesuai harapan.” Tambah Raja lagi.


Tak butuh waktu lama, mereka sudah menghabiskan makanan masing-masing entah karena memang mereka berdua butuh energi untuk patah hati atau emang mereka sedang lapar.


Yana sudah mulai membaik, ia sudah tak setegang tadi lagi saat menolak makan siang di taman sekat sekolah itu.


“Ay boleh abang bertanya.”

__ADS_1


“Apa?” Jawab gadis itu datar.


“Aya masih cinta sama Doni calon tunangan Aya itu?” Tanya Raja dengan hati cemas.


Yana hanya diam tak menjawab.


”karena Aya diam, abang anggap jawaban nggak, ya.” Cicit Raja lagi.


“Kalau perasaan Aya untuk abang gimana.?”


Lagi-lagi Yana hanya diam.


“Ok, karena Aya diam lagi abang anggap Jawanya abang boleh berjuang dan berharap banyak ya Ay.” Lagi-lagi Raja berspekulasi sendiri.


“Buka hati untuk abang Ay sedikit saja.”


“Maaf bang Aku ga bisa.” Tanpa diduga kali ini Yana menjawab.


“Ay, abang janji kali ini abang ga akan kecewain kamu Ay.” Raja mememohon, awalnya ia ingin menceritakan siapa mak Duma tapi ia tak Yakin.


“Aku ga bisa bang,”


“Aya kenal saja dulu sama Lala, Lili dan Lulu, kalau nanti setelah kenal Aya bebas memutuskan apa yang Aya mau.”


“Aku ga bisa bang, aku ga berniat menikah dulu biar sendiri saja.”


Ucapan Yana reflek membuat Raja menggenggang tangan Yana erat dengan tangan kirinya dan meletakkan jari telunjuk kanan tepat di depan bibir Yana.


Gadis itu mengelak genggaman tangan Raja dan menjauhkan wajahnya dari Laki-laki itu.


“Maaf Ay maaf, abang khilaf.” Ucap Raja meminta maaf pada wanita berkerudung itu.


“Abang ga mau lagi dengar Aya bilang ingin sendiri, Aya berhak bahagia.”


“Namun untuk saat ini jangan larang abang berjuang untuk itu”


“Hanya karena abang pernah mengisi ruang hati Yana buka berarti abang terus menetap disana.” Jawab Yana dingin.


“Entah itu sama abang ataupun tidak Ay, Jika Pun akhirnya bahagia Atau tidak dengan abang maka abang ikhlas.”


“Jangan menghindar Ay, abang akan berusaha dan meminta pada sang kuasa untuk bisa bersama Aya.”


“Aya juga boleh minta pada yang kuasa di jauhkan dari abang jika memang bukan abang yang terbaik untuk Aya.” Ucap Raja sambil tersenyum begitu tenang menghadapi yang terjadi.


Yana hanya diam tanpa jawaban,


“pakai seatbelt nya, sudah adzan kita cari masjid terdekat dan abang akan antar Aya balik ke sekolah.”

__ADS_1


☕️☕️to be continue☕️☕️


__ADS_2