
💚💚
Waktu terus berlalu tanpa bisa dicegah bergeraknya oleh siapapun, hari ini sudah hari kelima mamak Raja di Jakarta menemani anak dan cucunya.
Raja sudah keluar dari rumah sakit sejak dua hari lalu sesuai prediksi dokter kondisinya membaik di hari ketiga dan dibolehkan pulang oleh dokter Guntur spesialis penyakit dalam yang sangat terkenal di rumah sakit tempat Raja rawat itu.
Bu Duma sudah sangat ingin pulang, mengingat ayam-ayamnya tak ada yang memberi pakan katanya, dan juga murid-murid kelas menjahitnya yang kasihan jika libur terlalu lama.
Bu Duma memang menerima murid anak-anak remaja untuk belajar menjahit di rumahnya yang ia ajarkan sendiri, dulu semasa anak-anaknya masih sekolah bu Duma menerima tempahan jahitan.
Setelah usianya senja bu Duma berhenti menerima tempatan jahitan, dan hanya menerima kelas menjahit untuk anak-anak remaja itupun jumlahnya tidak banyak.
Jika bu Duma mengingat ayam-ayam dan murid menjahitnya, sama halnya dengan pak Azis yang selalu menelpon menantunya yaitu suami dari Mahrani untuk mengingatkan menantunya itu agar memberi umpan-umpan ikan pada kolam di samping rumah.
Sajak pensiun dari pekerjaannya di kantor pemerintahan memang pak Azis membuat kolam-kolam ikan pada lahan kosong di samping bangunan rumahnya dan berternak ikan yang hasilnya lebih dari cukup untuk biaya hidup pasangan sejoli bu Duma dan pak Azis itu.
Pak Azis memang memiliki sepuluh orang pekerja pada kolamnya itu namun ia selalu tak lepas tangan dan selalu terjun langsung melihat ikan-ikan itu, begitu juga saat sore ia akan turun tangan memberi umpan pada ikan-ikanya.
Itu juga sebabnya pak Azis setiap sore menelpon menantunya meminta tolong untuk menantunya itu memberi pakan ikan itu langsung.
“Kau pun udah sembuh biarlah kami pulang nak.” Ucap pak Azis pada Raja pagi itu saat mereka berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi.
“Tahan lah dulu pak belum abis lagi rindu anak-anak ini sama bapak sama mamak.” Jawab Raja menahan mamak dan bapaknya untuk pulang kampung.
“Ayamku, anak-anak menjahit itu belum lagi ikan-ikan bapak ya pak, teringat aja mamak Ja udah lama kali kurasa disini.” Kali ini bu Duma yang menjawab.
“Opung-opung tayang adek ga,” Tanya Lulu yang baru saja menghabiskan susunya satu gelas.
“Sayang lah, cucuku kelen cemana pulak opung tak sayang iya kan tok.” Ucap bu Duma mencari pembelaan pada suaminya.
“Betol itu atok pun sayang sama kelen semua.” Pak Azis terdengar membela sang cinta sejatinya.
“Kalo sayang jan lah dulu atok pulang.” Ucap Lala.
“Iya kalo ada opung enak sarapan ya kan kak, ga nasi goreng sama telur aja tiap hari.” Lili menambahkan.
“Oh jadi nasi goreng ayah gak enaknya?” Tanya Raja mengganggu anak-anaknya sambil memperlihatkan wajah pura-pura sedih yang sengaja ditampakkan pada anak-anaknya itu.
“Enak yah tapi kami bosan.” Ucap Lala.
“Nasi gorengnya sama rasanya tiap hari kan kak.” Kata Lili.
“Telurnya jugak tama tiap ari.” Ucap Lulu sambil membayangkan nasi goreng ala ayahnya yang selalu ditemani dengan telur mata sapi alias telur ceplok setiap hari selama seminggu terkecuali jika sedang sarapan di luar rumah.
Gadis kecil yang tak bisa menyebut huruf S itu terlihat lucu saat mengungkap isi hatinya dengan gamblang tanpa memikirkan hati sang ayah.
__ADS_1
“Betul dek telurnya juga sama tiap hari,” Ucap Lili menambah cerita adik bungsunya.
Pak Azis dan bu Duma tertawa mendengar keluh kesah tiga cucunya itu yang menyudutkan Raja anaknya, sepengetahuannya Raja bisa memasak lebih dari sekedar nasi goreng dan telur ceplok
Namun mungkin karena dikejar oleh waktu di pagi hari sehingga Raja tak sempat membuat makanan lain selain nasi goreng yang selalu dengan resep yang sama dan telur ceplok itu.
“Ya udah sampai minggu ya opung disini.” Ucap bu Duma yang kasihan pada cucu-cucunya. Dan disambut sorak gembira dari tiga anak gadis kecil itu.
“Makan cepat nanti telat.” Ucap Raja memberi perintah. Tiga gadis kecil itu langsung patuh fokus pada sarapannya.
“Itu lah bapak bilang Ja cak kau buka hati cari perempuan yang mau terima anak-anak ini orang ini perlu sosok ibu.” Ucap pak Azis menasehati Raja saat melihat tiga cucunya sudah meninggalkan meja makan.
“Iyalah bang jan kau ingat lagi bunda kawan si Lili itu, sampe sakit pulak kau entah kalau cantek kali dia macam bidadari atau entah kalua baik kali hatinya macam malaikat entah juga.” Ucap Bu Duma menggebu terus saja meluapkan kekesalan hatinya soal hal yang menyebabkan Raja sakit
dokter Guntur sudah menjelaskan Raja sakit karena banyak pikiran dan bu Duma sudah sangat yakin anak sulungnya itu sakit karena perempuan yang Lala ceritakan itu.
“Tapi jan juga kau sama ulat keket itu ga setuju mamak.”
“Ulat keket mana mak.” Tanya pak Azis yang tak paham dengan perkataan mamak.
“Sekertasisnya yang tiap hari datang pura-pura antar kerajaan itu pak, agak-agak laen awak tengok pak ga suka lah aku,”
“Oh yang seksi itu.” Ucap pak Azis keceplosan dan langsung ditanggapi dengan lirikan mata maut siap menguliti oleh bu Duma.
Raja tertawa melihat interaksi dua orang tersayangnya itu, yang masih sangat terlihat saling mencintai di usia yang sudah tidak muda lagi.
“Teringat mamak pak perempan yang ngawani mamak makan di rumah sakit semalam itu, kalau masih sendiri udah ku bujuk jadi menantuku. cocok kurasa dia sayang sama anak-anak juga.”
(semalam di Medan dingunakan untuk menyebut kata kemarin, misal tahun semalam : tahun kemarin)
“Apalah mak baru mamak kenal cemana mamak tau dia baik namanyapun kadang mamak ga tau.” Jawab Raja sambil mengangkat gelas dan meminum kopinya setelah mengatakan hal itu pada mamaknya.
“Tau aku, Ayyana namanya panggilannya Yana ngajar di SMA Binaan guru ekonomi katanya, lupa pulak mak minta no Hp nya lah pak.” Ucap bu Duma menjelaskan apa yang ia ketahui tentang Yana.
Tekad bulat melupakan kekasih hati tercemar sudah, kopi pahit dalam mulut yang belum sempat Raja telan terbang sempurna mendarat tepat di wajah sang mamak tercinta.
“Jorok kali abang ini lah.” Teriak mamak dengan mata melotot dan bangun dari dududknya.
“Pait mak kopinya pait kali.” Ucap Raja panik sambil mengambil tisu mencoba membersihkan wajah sang mamak tercinta.
“Kau kan memang minum kopi pahit biasa,” Kata pak Azis. Raja hanya diam saja sambil terus membersihkan wajah mamaknya.
“Awas kau sana, ga ku buka kunci pintu surga untuk mu ya.” Ucap bu duma sambil berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
➰➰➰➰♥️♥️♥️
__ADS_1
Sepanjang perjalan mengantarkan anak-anaknya Raja terus saja memikirkan kata-kata mamaknya tentang gadis yang menemani mamaknya itu makan saat di rumah sakit.
Seandainya dulu ia berani jujur tentang Yana, namun bukankah tidak ada yang namanya seandainya, karena semua yang terjadi memang sudah kehendak yang kuasa dan terbaik untuk manusia.
Dua gadis kecilnya ia turunkan di depan SD Binaan satu, Lala yang terlihat langsung berjalan bersama teman-temanya meninggalkan Lili di belakang membuat Raja melihat kearah mana Lili berjalan.
Raja menggelengkan kepala saat melihat seorang bocah laki-laki menunggu anaknya di samping pagar sekolah, Adam ia tahu bocah laki-laki itu Adam. Keponakan dari wanita yang ia cintai.
Raja meninggalkan area sekolah itu tanpa berhenti di depan SMA Binaan lagi seperti biasa, kali ini tekadnya sudah bulat ia harus bisa dan mampu bangkit demi anak-anak.
Sepeninggalan ayahnya yang sedang patah hati Lili berjalan bersisian bersama Adam menuju kelas mereka.
“Ayah kamu udah sembuh,” Tanya Adam pada Lili.
“Udah, gak nampak mu tadi ayah ku yang antar aku.”
“Iya aku liat makanya aku nanya kuncir dua.” Jawab adam yang akhir akhir ini memanggil Lili kuncir dua karena sekarang Lili lebih suka rambutnya diikat dua dari pada ikat satu.
“Tau apa kau, kak Lala ku nangis waktu ayahku sakit.” Ucap Lili.
“Aku menangis juga sih kalau papa sakit, kan sedih.” Jawab Adam.
“Eh apa bunda ku pas acara itu sedih ya nangisnya kencang banget dari pagi.”
“Acara yang kau bilang untuk orang mau kawin itu.” Tanya Lili.
“Iya lama banget nangisnya dalam kamar.”
“Tau dari mana kau.” Tanya Lili
“Aku lihat sendiri tapi mama gak bolehin aku masuk kamar bunda waktu itu.”
“Aku udah tanya mama sih tapi kata mama anak kecil ga boleh tau, gitu."
“Nanti ku tanya ayahku ya kenapa orang mau nikah itu harus nangis, ayah ku kan dosen yang ngajar orang-orang besar pinter ayah ku itu pasti ayahku tau.” Ucap Lili memberi solusi.
“Tapi ayahmu bisa simpan rahasia kan.”
“Tenang kau ayah ku itu, percaya kau sama ku.” Lili meyakinkan.
Dua bocah itu masuk ke kelas dan harus berpisah sejenak karan bangku untuk siswa perempuan ada di sisi kanan sedangkan untuk laki-laki di sisi kiri, mereka juga berjanji akan ke kantin bersama ketika jam istirahat nanti.
➰➰To Be Cootinue➰➰
Maaf Rakan rakan bab ini sedikit lebih panjang semoga rakan-rakan ga bosan bacanya.
__ADS_1
♥️Ada ungkapan mengatakan jangan menjemur padi didepan ayam, mungkin pepatah ini cocok dikatakan pada Adam sebagai pengingat. hihihihihi
〰️jangan lupa bahagia rakan jan lupa senyummmmmmmmmm 😚〰️