
☕️☕️
Sudah satu minggu ini Lala merasa gundah gulana, ayahnya setiap hari berpenampilan seperti anak muda. Sebelumnya ayahnya tak pernah seperti itu.
Lala juga sudah menelpon Oppung kemarin sore menceritakan semua dan oppung bilang tak perlu khawatir oppung akan tinggal di Jakarta sementara waktu sampai semua menjadi jelas.
Hanya saja banyak yang harus oppung lakukan sebelum menetap lama di Jakarta, masih ada tugas mengajar murid menjahit yang baru akan selesai sampai satu bulan kedepan.
Oppung juga mengatakan masih harus menjual ayam-ayam agar tak terlantar karena namboru (adik perempuan ayah) yang biasa Lala panggil Bou juga harus bekerja tak mungkin mengurusi ayam-ayam oppung.
Selain itu kolam ikan atok juga harus jelas yang mengurusnya, atok sendang mencari orang yang dapat dipercaya untuk mengelola kolam ikan itu agar pekerja di kolam itu tak hilang mata pencaharian.
Memang tak banyak pekerja kolam atok hanya sekitar sepuluh orang karyawan, tapi sepuluh orang itu menggantungkan hidup dari usaha kolam ikan air tawar yang atok punya.
Atok merasa tak tega jika harus menutup kolam itu dan membiarkan pekerja kolam itu harus mencari pekerjaan lain. Itu artinya Lala harus bersabar minimal sampai satu bulan kedepan.
Sebagai anak yang paling tua, Lala juga harus menampung semua keluh kesah dan suka duka adiknya.
Sudah seminggu ini pula Lulu selalu membicarakan apa saja harapan dan angan-angan adik kecilnya itu jika nanti punya mama baru.
Lulu mengatakan ia sudah tak sabar diantar kesekolah oleh mama baru yang ayah janjikan, Lulu juga mengatakan sesekali ingin disuapi makan oleh mama seperti yang sering diceritakan teman temanya.
Bahkan Lulu berangan-angan nanti akan minta dipeluk mama barunya sebelum tidur, itu juga karena teman-temanya sering bercerita di peluk oleh mama mereka sebelum tertidur.
Lala tak pernah membantah tapi tak juga membenarkan Lala hanya mengigatkan, agar Lulu tak terlalu sering membicarakan mama baru yang ayah mereka janjikan itu.
Berbeda dengan Lulu yang tak sabar Lili justru merasa cemas dengan hal itu.
Pernah suatu malam Lili membangunkan Lala saat ayah mereka sudah keluar dari kamar dan mengira semua anaknya sudah tidur.
“Kak, bangun dulu kau penting kali ini.” Itu yang Lili ucapkan malam itu dan saat Lala melirik jam dinding sudah menunjukkan jam dua belas malam.
“Apa, udah malam ini.” Jawab Lala.
“Ish bangun lah dulu, penting kali ini soal kita yang nanti di kurung ibu tiri di menara.” Ucapan Lili sontak membuat mata Lala membulat sempurna dan bangun dari tidurnya.
“Siapa yang bilang gitu?” Tanya Lala serius.
“Si ompong yang bilang kak, ga tau kakak kan. Untung ku ceritakan sama si ompong jadi tau kita.” Ucap Lili bangga merasa ia punya informasi terbaru yang paling benar akurat dan terpercaya.
“Kau ya, udah kubilang jan cerita macam-macam sama dia.” Cicit Lala kepada pada adik keduanya itu.
“Kakak dengar dulu, kata dia kalau nanti kita punya mama baru itu namanya ibu tiri.”
“Belum tau kakak kan! baik aku kan ku kasih tau sama kakak.” Ucap Lili lagi masih dengan mode sok taunya.
“Tau aku.” Jawab Lala singkat.
“Tau dari mana kakak, siapa yang bilang?”
__ADS_1
“Pas lah kalau kakak udah tau ga payah lagi ku jelaskan, jadi sekarang kek mana cara kita biar nanti gak dikurung di menara kayak Rapunzel itu.” Ucap Lili menjelaskan keresahan yang gadis kecil itu rasakan.
“Dengar ya Li, ga ada yang dikurung di menara, dan satu lagi jan lagi kau cerita apa-apa sama si Adam itu.
Wajah Lili langsung berubah kesal, selama ini hanya Adam teman baiknya di sekolah. Lili juga merasa kakaknya tidak memahami keresahan yang gadis kecil itu rasakan.
kalau kakaknya sudah tau ibu tiri kenapa kakaknya tak pernah cerita padanya, tapi ada lagi yang harus ia perjelas sebelum kembali tidur.
“Tau dari mana kakak nanti kita ga dikurung di menara.” Tanya Lili lagi.
“Tau lah, karena nama mu Lili bukan rapunzel, dan rumah kita ga ada menaranya.”
“Tidur, jan pernah bilang apa-apa sama Lulu, ada dengar?” Ucap Lala dengan nada mengancam.
Akhirnya Lili merebahkan badan pada tempat tidurnya sambil memeluk guling.
“Kak.” Panggil Lili lagi dari balik selimutnya.
“Apa lagi.” Jawab Lala kesal.
“Sebenarnya kan, ku rasa enak juga punya mama lagi kan. Tapi kata ompo...”
“Tidur, ku adukan sama ayah kau ya.” Jawab Lala memotong ucapan Lili dan berhasil membuat adiknya itu diam dan tidur.
Sebenarnya Lala juga cemas, meski tak berfikir sampai dikurung di menara, tetapi tetap saja ia merasa harus memastikan dengan benar siapa wanita yang ayahnya maksud.
☕️☕️☕️☕️
Setelah satu minggu ini hanya Ali suami Elita yang mengantar jemput anak-anak, sampai akhirnya Elita sempat datang kerumah pak Ahmad siang itu.
“Bener kak, kakak sih lama banget ga kesini.” Jawab Putri yang duduk di samping Elita setelah meletakkan Aboy di pangkuan Ali sesuai permintaan abang iparnya itu.
“Maaf deh klinik rame banget dek akhir-akhir ini.”
“Baguslah, memang harus begitu.” Jawab Ali datar sambil terus menciumi pipi Aboy yang menggemaskan.
“Terus-terus?” Tanya Elita lagi.
“Terus ya gitu, bude mu sampai pulang mukanya cemberut terus.” Jawab bu Nur sambil sedikit tertawa.
“Aneh ga sih bu. bude sama aku dan Putra baik banget tapi sama kakak ada aja salahnya.” Tanya Elita pada ibunya.
“Ah sama aja udah jangan ngomongin bude mu lagi.” Jawab bu Nur datar.
“Tapi bener juga sih.” Jawab Putri menimpali kata-kata kakak iparnya.
“Udah ga usah di bahas.” Jawab bu Nur lagi dan pergi meninggalkan anak-anaknya yang sedang berkumpul di ruang keluarga rumah itu.
☕️☕️☕️☕️
__ADS_1
Siang yang sama di ruangan prodi fakultas ekonomi Universitas Anak Harapan Bangsa, seorang laki-laki sedang mondar-mandir di ruangan itu karena pesan nya pada gadis pujaan tak dibalas gadis itu.
Satu jam lalu Raja dengan percaya diri mengirim pesan mengatakan akan menjemput Yana dan mengajak gadis itu makan siang di luar.
Memang tak terlalu lama setelah pesan itu terkirim langsung saja dibaca oleh si penerima.
Tetapi sampai hampir satu jam, pesan itu tak ada balasan dari si penerima.
“Apa ku jemput aja terus ya.” Monolog Raja Saat ia lirik arloji di tangan kirinya hampir mendekati jam satu siang.
“Tapi kalau dia nolak gimana.”
“Kalau ga nyoba ga tau juga hasilnya gimana.”
“Apa ku telpon dulu aja.” Lagi-lagi Raja bermonolog dengan tanpa ia sadari ada seorang gadis yang berdiri didepan pintu ruangannya yang terbuka.
“Jatuh cintah sih pakh tapi janganh sampai gilakh juga dong.” Cicit gadis itu mengejutkan Raja.
“Kamu, masuk ketuk pintu.” Ucap Raja kesal.
“Pintunyah ga tertutuph.” Jawab Titah lagi.
“Ucap salam, muslim kan kamu?” Jawab Raja masih kesal.
“Assalamualaikum pakh bos yhang sedang jatuh cintah.”
“Titah jugah pernah jatuh cintah, tapih ga sampai ngomong sendirih deh,”
“Jadwalnya udah kosong semuah ya, Titah juga pamit pulangh kalau bapakh pulangh.” Ucap gadis itu.
Raja terdiam sejenak, dan akhirnya mengungkapkan masalahnya pada sang sekretaris.
“Tapi dia ga balas pesan saya.” Ucap Raja rancu tak jelas kemana arah pembicaraan dan tujuannya.
Namun Tita tetap paham siapa yang sedang bosnya bicarakan.
“Datanginh dong pakh!, masa gituh ajah harus di ajarin sih. Bapakh telat bangeth pubernyah jadih ga paham khan yang begituh.” Jawab Tita yang ikut kesal dengan kelakuan bosnya yang ia anggap terlalu kaku dan tak paham cara mengejar wanita.
“Oke.” Jawab Raja dan bergegas keluar dari ruangan itu meninggalkan Tita yang sedang memegang map berwarna merah di tangannya.
“Pakh, tanda tangan dulu ini berkash pengajuan mahasiswa magang ke perusahaan NarArt.” Tita mengejar Raja sampai kedepan pintu gedung prodi itu.
“Besok, nanti saya telpon pak Faruq atau pak Caraka, jangan lupa kunci pintu ruangan saya.” Jawab Raja dan berlalu begitu saja.
Tita terduduk di tanga depan gedung itu dengan kesal dan juga capek karena harus mengejar Raja dan malah tak menghasilkan apa-apa.
“Pak, semogah bapakh ga gilah ya kalau kak Ayana itu nolak bapakh.” Gumam Tita sambil masuk ke dalam gedung itu kembali.
☕️To be continue
__ADS_1
☕️jan lupa bahagia Rakan jan lupa syemyummm 😊