Dia Yang Kembali Datang

Dia Yang Kembali Datang
Ulah Mak Duma


__ADS_3

☕️☕️


Duma Hasian, wanita separuh baya itu melepas kepergian anaknya dengan hati bahagia yang tertahan tak dapat diungkapkan.


Pagi itu Raja dengan wajah kesal menggendong Lulu dan meletakkan gadis kecilnya di jok penumpang depan mobilnya, serta berpamitan pada pak Azis mak Duma mengatakan ia akan singgah ke rumah Yana sebelum kesekolah Lulu.


Wajah kesal Raja menandakan anak sulungnya itu sedang marah, tapi Raja adalah anak yang patut di banggakan pak Azis dan mak Duma, karena ia tak pernah meluapkan amarahnya pada kedua orang tuanya itu.


“Cukup ya Duma. Cukup sudah jan kau ulangi lagi.” Cicit pak Azis setelah mobil Raja tak terlihat lagi.


“Tapi berhasil kan, pak.” Jawab mak Duma bangga.


“Aku ga suka caramu.” Jawab laki-laki yang sangat mencintai mak Duma itu sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


“Jangan lah marah-marah nanti cepat tua ga takut abang? Awak muda terus masih cantik pulak.” Ucap mak Duma sambil memeluk erat lengan pak suami dengan manja.


“Astagfirullah, maaf mak.” Ucap wak Mar yang hendak membuang sampah ke tong sampah depan rumah.


Biasanya wak Mar akan berjalan melalui pintu samping, tapi kali ini karena ia menurunkan sampah dari kamar anak-anak yang hanya berisi kertas-kertas wak Mar memilih keluar melalui pintu depan agar lebih cepat.


Pak Azis yang tertangkap mata oleh wak Mar masih saja bermesraan di usia sudah lanjut bertambah kesal pada istrinya, ia menepis tangan mak Duma dan berlalu begitu saja ke arah belakang rumah menuju kolam ikan.


“Maaf mak,” wak Mar merasa tak enak.


“Ga apa, ga usah minta maaf banyak-banyak kali kau. Buang terus sampah itu.” Jawab mak Duma santai.


“Ii iy ya mak.” Wak Mar dengan cepat melaksanakan tugasnya.


☕️☕️☕️☕️


“Mar menurutmu cemana caranya biar Yana itu mau jadi istri si Raja.” Tanya mamak saat wak Mar sudah kembali ke dapur.


“Lamar aja terus mak.” Jawab wak Mar yakin.


“Apa iya ya, atau ga usah lamar - lamar nanti lama lagi nikahin aja terus cemana menurutmu.?”


“Sedap kali cakap mu Duma nikah-nikah seenaknya, dulu kau setelah nikah menangis sebulan apa lupa kau itu.”


“Pastikan dulu anak gadis orang mau sama anak mu,?”


“Ingat juga, anakmu itu duda anak tiga.” Celetuk pak Azis yang masuk dari pintu belakang mengambil pakan ikan yang tersimpan di lemari penyimpanan.


“Betul, mamak nangsi sebulan,?Tanya wak Mar reflek.


“Betul lah, aku terpaksa kawin sama dia.” Jawab mak Duma jujur.


“Tapi ga keliatan terpaksa, mak.”


“Aku bilang kan dulu Mar, dulu itu. Sekarang apa mau di kata anak ku udah dua cucuku dah lima.”


“Sekarang ga bisa hidup dia tanpa aku Mar,” Ucap pak Azis gamblang dan berlalu begitu saja kembali ke kolam ikan.


Wak Mar hampir saja tertawa meledak melihat interaksi manis sepasang suami istri yang sudah kakek nenek itu, namun ia tahan sekuat tenaga saat melihat mata mak Duma melotot begitu mengerikan.


Pada tangan mak Duma juga ada sebuah pisau, karena wanita itu sedang mengupas pepaya untuk suaminya tercinta.


“Saya ambil baju kotor anak-anak dulu, mak.” Ucap wak Mar dan wanita itu melesat secepat angin menuju kamar anak-anak menyelamatkan jiwa raganya.


Setelah mak Duma selesai memotong pepaya dan menyusun buah itu di piring melamin ia mengantarkan ke gazebo yang berada dekat kolam di belakang rumah.


“Pak, jangan lah marah lagi. Minta maaf aku.” Ucap mak Duma yang sudah duduk di gazebo menunggu suaminya dengan sepiring pepaya.


“Aku ga marah, aku hanya tak suka dengan caramu.” Ucap pak Azis yang sedang mengambil ranting-ranting dan daun-daun yang jatuh dalam kolam ikannya menggunakan jaring ikan.

__ADS_1


Raja membuatkan kolam ikan berukuran satu setengah kali delapan meter yang dibagi menjadi empat bagian. Satu bagian berisi ikan lele satu bagian ikan mas dan dua bagian ikan nila.


“Salahnya dimana? demi Raja itu pak.” Jawab mak Duma dengan suara sedikit berteriak karena suaminya sudah semakin menjauh ke ujung kolam.


Pak Azis menarik nafas panjang, ia letakkan jaring yang sudah disambung dengan besi panjang itu di pinggir kolam. Kemudian laki-laki itu berjalan ke arah gazebo tempat istrinya berada.


“Salahnya kau umpankan anak-anak untuk si Yana itu.” Ucap pak Azis dengan wajah masih kesal.


“Bapak kira calon menantu kita itu ikan mas di kasih umpan.” Ucap mak Duma sambil tertawa.


“Aku serius Duma!”


“Tapi berhasil kan pak?” Jawab mak Duma tak mau kalah.


pikiran pak Azis menerawang pada kejadian malam tadi.


“Besok harus ku buat dia jemput Yana.” Itu adalah ucapan awal mak Duma malam tadi yang membuat pak Azis kesal sampai pagi ini.


“Caranya.?” Tanya pak Azis lugu saat itu.


“Lulu, tunggu sini. Ku bawa dia tidur dengan kita malam ini.”


“Ah ga setuju aku Duma.”


“Kalau bapak gak setuju bapak tidur sama Raja saja atau kamar atas ada kosong satu.” Jawab mak Duma asal saja. Padahal jika sampai pak Azis benar-benar pindah kamar mak Duma juga yang tak bisa tidur sampai pagi.


Tak lama mak Duma kembali dengan benar-benar membawa Lulu. Dan soal apa yang terjadi malam itu sehingga membuat Lulu tantrum sejak pagi hanya Tuhan, mak Duma pak Azis dan Lulu yang tau.


☕️☕️☕️☕️


Pikiran Raja terpecah belah, andai bisa ia ingin ia memindahkan sebelah matanya ke kiri dan satunya tetap di depan.


Pemandangan indah di sebelah kiri sangatlah sayang jika dilewatkan, Yana yang dengan telaten menyuapi lulu sarapan yang sudah mak Duma sediakan sebelumnya.


“Lulu duduk di belakang aja ya, kasian tante Ayana, kamu udah berat, nak.” Ucap Raja membujuk Lulu untuk kesekian kalinya.


Namun kali ini justru Yana yang menjawab, “Berisik banget sih bang, nyetir aja yang bener Lulu sudah terlambat setengah jam ini.”


Setelah itu Raja benar-benar diam tanpa kata sampai Lulu turun di sekolahnya.


Saat ini mereka tinggal berdua di mobil, Raja melajukan kendaraannya menuju sekolah tempat Yana mengajar.


“Kelas jam berapa Ay,” Tanya Raja basa basi.


“Bukanya abang tau jadwalku? Buktinya abang tau kapan harus antar sarapan dan kapan tidak.” Jawab Yana ketus.


Raja menarik napas panjang, berat sungguh berat hidupnya. “ langitnya kadang mendung kadang hujan kadang malah petir tiba-tiba ya, tadi cerah sekarang udah gelap aja ya Ay.”


Yana reflek melihat ke atas, “cerah kok, sejak subuh juga cerah hari ini.” Jawab Yana yakin.


“Cerah, dua menit lalu masih cerah sama anaknya aja, sama bapak anaknya nggak.”


“Malah sekarang uda ada petirnya.” Tambah Raja lagi.


“Kirain serius rupanya perumpamaan,” jawab Yana sambil tersenyum malu.


“Yang serius itu, abang sayang kamu. Itu beneran serius.” Ucap Raja datar tanpa expresi dan senyum manis layaknya laki-laki yang sedang merayu wanita.


Wajah Yana bersemu merah mendengar ucapan Raja, memang tak ada senyum manis di wajah Raja tapi Yana merasa ada manis yang sampai ke aliran darah Yana. Jika saat ini kadar gula dalam darah Yana diperiksa maka hasilnya akan tak terhingga.


“Ya sudah abang antar ke sekolah sekarang ya.”


“Terimakasih untuk hari ini, dan kamu...” Raja menghentikan sebentar kata-katanya.

__ADS_1


“Kamu cantik banget dasteran kayak tadi, semoga suatu saat abang bisa lihat pemandangan begitu setiap harinya.”


“Ah gombal, basi banget.” Jawab Yana


“Biar ga dianggap gombal kamu cepetan terima abang, bukan malah marah pas tau abang ketemu ayah kamu.”


“Lagian ngapain ketemu ayah sih, males ah aku bahas itu.” Yana mulai kesal lagi.


“Abang serius Ay, apa kamu ga bisa terima abang karena anak-anak?” Tanya Raja, laki-laki itu ingin memastikan tentang pikiranya.


Raja sudah bertekad jika anak-anak alasan Yana maka kali ini ia akan menyerah, karena untuknya anak segalanya namun jika alasan Yana bukan itu maka ia akan berusaha sampai titik darah penghabisan apapun caranya.


“Boleh antar aku ke pasar tradisional ga bang,” bukan menjawab pertanyaannya yang Raja berikan wanita itu malah minta di antar ke pasar tradisional.


“Abang ada rapat dan makan siang bersama pak rektor jam dua belas.” Jawab Raja datar ingin ia menyerah rasanya.


“Masih ada waktu dua jam setengah lagi, aku udah janji mau buat es krim untuk Lulu.” Jawab Yana seenaknya.


Raja menginjak rem mobilnya mendadak dan menepi.


“Ay, cukup abang yang Aya buat hampir gila karena mengharapkan kamu.”


“Abang mohon jangan anak-anak.”


“Kejadian pagi tadi saja membuat abang hampir habis kesabaran Ay, bagaimana jika Lulu tantrum lagi menagih janjinya sama kamu.”


“Abang harus apa Ay?”


“Cape abang Ay!” Ucap Raja sambil menjatuhkan kepalanya pada setir mobilnya.


“Aya mau turun, aya ga mau ribut di sini aya mau turun.” Suara Yana di sampingnya bergetar.


Raja mengangkat kepala dan melihat Yana di sampingnya dengan tatapan heran.


“Ay,” secepat kilat Raja turun dan membuka pintu penumpang sebelah Yana, ia memberanikan diri menggenggam tangan gadis itu dan menariknya turun.


“Kamu kenapa.”


“Aku ga suka ribut-ribut di mobil.” Ucap gadis itu lirih.


Raja memutuskan mengajak Yana duduk di sebuah kedai kopi kekinian yang kebetulan berada di dekat mobilnya berhenti.


“Anak-anak alasanya?” Tanya Raja lagi.


Yana menggelengkan kepala, “Lalu apa?” Tanya Raja.


“Mantan kamu itu.” Tanya Raja dan Lagi-lagi Yana diam dan menggelengkan kepala pelan.


“Lusa abang kerumah kamu, bawa mamak sama bapak.” Jawab Raja Yakin.


“Abang belum lupa mahar apa yang sangat kamu inginkan, abang akan beri mahar itu jika kamu masih mau.”


”Hidup sama abang Ay, abang janji akan berusaha buat kamu bahagia.”


“Aya takut.” Jawab gadis itu lirih


“Takut apa?” Tanya Raja heran.


☕️☕️to be continue☕️☕️


Gantung gantung gantung 🤭🤭 maafkan mampunya cuman segantung ehh upsss segitu 🙏


Jan lupa bahagia jan lupa syemyummmm

__ADS_1


__ADS_2