
💚💚
Setelah keributan itu Doni memilih kembali ke kantor, setidaknya lebih baik bekerja daripada harus menghadapi mamanya yang akhir-akhir ini selalu saja membicarakan kekurangan Yana.
Untuk Doni, Yana sudah lebih dari sempurna meskipun usianya lebih tua tetapi sifat manjanya dan manisnya selalu membuat Yana terlihat lebih muda, ditambah lagi badan mungilnya yang menambah kesan muda.
Selama ini teman-teman Doni yang mereka temui saat berdua semua menganggap Yana seusianya atau bahkan lebih muda darinya.
Cerdas cantik smart mandiri dan sedikit manja paket sempurna yang tak ada pada gadis lain yang Doni temui selama ini.
Kantornya sudah mulai sepi saat Doni memasuki perusahaan yang sudah dirintis oleh keluarganya mereka bahkan jauh sebelum Doni lahir.
“Putra masih ada.” Tanya Doni pada satpam yang berdiri di depan pintu kantornya.
“Masih pak.” Jawab satpam itu cepat, wajah Doni sedang tidak baik-baik saja. Meskipun Doni tidak pernah marah di perusahaan ini tetapi sudah dapat dipastikan jika dia marah mungkin akan lebih mengerikan dari pak Anggara ayahnya.
“Kenapa lu belum pulang,” Tanya Doni saat membuka pintu ruangan staf kepercayaannya itu.
“Dikit lagi nanggung, iklan ini mau kita naikin besok untuk produk terbaru kita.” Ucap Putra yang masih serius di depan komputer tanpa menoleh kepada si penanya karena tanpa melihat pun Putra tau itu siapa.
“Tumben bos disini jam segini” Tanya Putra, stafnya yang juga calon adik ipar Doni itu sambil melirik jam di meja kerjanya yang menunjukkan pukul lima sore lebih lima belas menit, Putra tau benar ini hari apa dan ini jam pulang kakaknya mengajar.
Hampir setahun ini Putra tak pernah lagi melihat Doni ada di kantor saat jam pulang kakaknya mengajar terkecuali sedang rapat penting atau kakaknya libur mengajar.
Pada hari tertentu saat kakaknya pulang siang Doni hanya akan hilang dari kantor sebentar saja saat siang hari, setelah itu Doni akan kembali lagi ke kantor dan baru pulang tengah malam, benar-benar pekerja keras.
“Yana keluar sama Elita katanya mau me time.” Jawab Doni sambil melirik Putra menunggu reaksi Putra atas berita itu.
“Oh…” Jawab Putra setenang mungkin, laki-laki itu tau benar dimana keberadaan Elita siang tadi sampai sore ini, siang tadi Putri mengirimnya foto saat Elita sedang makan bersama ibu.
__ADS_1
Lima belas menit lalu sebelum Doni menemuinya Putra baru saja menerima kiriman foto di grup pesan keluarga dari Ali abang iparnya yang memperlihatkan Elita dan Putri yang sedang bakso langganan mereka di teras rumahnya, dengan keterangan ‘Istriku kabur ke rumah ibunya hanya demi bakso’.
Pada grup keluarga itu juga Yana membalas pesan Ali dengan mengatakan dia merindukan Idris yang rasanya sudah lama sekali tidak mencium pipi Yana di pagi hari. Lalu kemana kak Yananya sekarang ini.
“Biasalah mas wanita, sama istri gue juga kok biasanya. kak Yana gak suka dibatasi geraknya mas harus paham itu.” Putra mencoba membuka pikiran Doni untuk tidak terlalu over protektif pada kakaknya itu.
“Istri lu ikut juga,” Tanya Doni menyelidik.
Putra bingung harus menjawab apa, dia tidak tau apa isi pesan yang kakaknya kirim pada Doni dan tak ingin terjebak dalam tindakan kriminal kebohongan yang kakaknya buat ini, kali ini kakaknya sunguh sangat menyusahkan posisinya.
“Ga tau juga sih, pesanku nggak dibalas bisa saja iya.” jawab Putra diplomatis mencari titik aman sambil mematikan komputer di depannya, dan bangun bersiap untuk pulang karena sudah hampir jam enam sore, pikiranya melayang jauh kemana kakaknya pergi sampai sore begini dan dengan siapa.
Doni bukan orang biasa dan dia bisa melakukan apa saja yang dia mau, jangankan hanya mencari tahu keberadaan kakaknya yang hanya seorang wanita biasa. mencari tahu keberadaan penyelundup yang mencuri mesin di pabrik mereka saja Doni bisa tau.
Bukan hanya itu, jika gerak musuhnya selangkah saja Doni bisa tahu bagaimana mungkin keberadaan Yana tidak Doni ketahui. Lalu bagaimana kalau kakaknya itu sekarang ini sedang bersama laki-laki lain.
Acara pertunangan sudah dipersiapkan jika sampai gagal dan kakaknya yang menjadi penyebabnya makan sudah dapat dipastikan keluarga Doni tidak akan mau menerima malu.
Dan entah apa yang akan Doni lakukan pada mereka.
Doni keluar dari ruangan Pura menuju ke ruang kerjanya sendiri dan langsung merebahkan diri pada sofa bed. Putra yang mengikuti Doni ke ruang kerja bosnya itu langsung saja pamit saat melihat Doni mulai memejamkan mata.
Putra pulang dengan mengendarai mobilnya, tidak sabar rasanya ingin segera sampai kerumah, jalanan macet ibu kota membuatnya tambah khawatir berkali kali dia mencoba menelpon Yana Tapi tak ada jawaban dari kakak sulungnya itu.
Putra tiba di rumahnya bertepatan dengan adzan isya, Putra melihat Yana sudah berganti pakaian baju dengan baju daster kebangsaan dan jilbab kurung biasa. Dan saat ini sedang bermain dengan Adam entah apa yang mereka bicarakan hingga terlihat sangat asik.
Putra memilih membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya sebagai muslim terlebih dahulu sebelum berbicara serius dengan kakaknya itu.
➰➰➰➰➰♥️♥️♥️
__ADS_1
Disebuah Rumah yang asri di komplek villa biji semangka seorang anak kelas satu SD sedang diajari membuat tugas matematika oleh sang kakak yang emosinya sudah hampir meledak mengajari adiknya.
Sedang adik bungsu mereka sedang menyusun mainan barbie duduk di kursi kecil-kecil seukuran boneka barbie itu.
Sesekali si sulung melihat keluar jendela menunggu suara mobil ayahnya. ini memang masih terlalu sore untuk jam pulang ayahnya, waktu menunjukkan masih pukul lima sore.
Ayahnya pernah pulang malam bahkan Lala sering melihat ayahnya menerima tamu kakak-kakak dan abang-abang mahasiswa di rumanya.
Yang membuat Lala cemas bukan perihal ayahnya belum pulang, namu perihal kondisi ayahnya yang tadi siang saat menjemputnya terlihat tidak baik-baik saja, Ayah yang biasa sepanjang jalan akan menanyakan apa saja kegiatan putri-putrinya di sekolah lebih banyak diam siang tadi.
Bahkan setelah menurunkan mereka di depan rumah ayah langsung pergi lagi entah kemana.
“kak duanya simpan dimana,” Tanya adiknya Lili yang sedang belajar penjumlahan.
"Ya simpan lah dulu nanti kau ambil lagi kalau yang ini udah kau tambahkan.” Ucap Lala sambil menunjuk angka di buku lili dengan pulpen.
“Itu li dah tau lah, maksudku simpanya dimana.” Tanya lili.
“Ish itu aja pun kau simpan lah di bawah ni dulu.” Ucap Lala sambil menulis angka dua pada pojok kiri bawah lembar buku itu.
“Ohh bilanglah buat aku bingung aja ah.” Ucap Lili tak merasa bersalah.
Suara deru mobil yang memasuki pekarangan rumah membuat Lili sontak berdiri dan memanggil ayahnya sambil berlari kearah luar rumah, dan tanpa sengaja menendang barbie milik lulu yang sedang iya setting berjemur di pantai. Sontak saja balita itu menangis sekuat tenaga.
➰➰To be continue➰➰
♥️Bang Raja sama Aya-nya lagi makan nasi padang jangan kita ganggu dulu ya hihihihi.
〰️tetap semangat rakan jangan lupa bahagia jangan lupa syenyummmm☺️〰️
__ADS_1