
☕️☕️
Sudah hampir jam sembilan malam saat Raja dan mak Duma sampai ke rumah, Lala Lili dan Lulu sudah menunggu di teras bersama Pak Azis yang sedang menceritakan tentang cerita-cerita masa lalu saat Raja masih kecil.
Pak Azis duduk diatas kursi di pangkuannya ada Lulu sedangkan Lala dan Lili duduk di lantai sambil memijat kaki pak Azis. Lala di kiri dan Lili di kanan, entah apa sebabnya ketiga anak gadis kecil itu sangat senang jika mendengar cerita tentang masa kecil ayah mereka dari atok.
“Mantap kali ayah kita langsung beli mobil baru,” Ucap Lulu saat melihat ayah dan opungnya sudah mendekat ke arah mereka.
Raja memang sudah memberitahukan tentang kecelakaan yang mereka alami kepada bapak melalui sambungan telepon beberapa waktu lalu.
“Yeyyy yeyy bil baru.” Lulu tak kalah bahagia.
Raja langsung duduk di lantai dekat bapak membuat Lulu langsung turun dari pangkuan pak Azis dan duduk di pangkuan Raja.
“Betol nya pung itu mobil baru.” Tanya Lala pada mak Duma yang juga sudah duduk di kursi sebelah bapak, teras mereka hanya punya dua kursi dan satu meja bundar kecil.
“Betol lah.” Jawab mak Duma Mengusili cucu-cucunya.
“Sor kali nengok nya kan kak.” Kata Lili pada lala dengan mata berbinar.
“Lulu suka lulu suka,” Lulu terlihat bangun dari pangkuan ayahnya dan melompat-lompat.
“Percaya nya kelen sama opung kelen itu? susah nanti hidup kelen kalau percaya sama opung itu.” Pak Azis tanpa sadar memantik api keributan.
“Eh hebat kali mulut atok mu La,” Lala yang sudah lebih paham dari adik-adiknya langsung tertawa mendengar ucapan opung nya begitu juga dengan Raja.
“Susah memeng nya hidup bapak selama ini.” Tanya mak Duma pada suaminya.
Pak Azis hanya diam saja tak menjawab apapun seolah tak terjadi apa-apa, sedangkan Lala dan Raja sudah tertawa terbahak bahak sampai membuat Lili dan Lulu yang tak paham dengan apa yang terjadi juga ikut tertawa.
“Udah-udah merajuk nanti opung kelen ga masak dia, makan apa kita besok pagi.” Pak Azis mendamaikan suasana dengan metode yang menurutnya paling benar.
“Jawablah tok yang opung tanya.” Lala malah menanyakan lagi.
“Bahagia Atok, bahagia kali pun ga sanggup lah atok hidup kalau ga ada opung, ya Duma ya.?” Ucap pak Azis sambil bertanya pada istrinya.
“Entah ga tau aku.” Jawab mak Duma masih dengan nada kesal.
“Gimana jadi bang? Parah nya rusak mobil mu?” Pak Azis mulai berbicara serius pada Raja.
“Lumayan pak, abis bumper belakangnya.” Jawab Raja dengan nada lemas.
“Nanti jual ajalah bang mobil itu siap di perbaiki. Ganti aja yang baru nanti kami bantu tambah-tambahnya sikit ya pak.”
Jawab mak Duma sambil bertanya pada bapak, begitulah mak Duma pada pak Azis cepat marahnya dan cepat juga baiknya, marahnya bisa hilang seketika tanpa bekas. Hal itulah yang membuat pak Azis sangat senang menggoda istrinya itu.
“Jadi itu bukan mobil baru kita.” Tanya Lala memastikan.
“Mobil orang bengkel itu di pinjam ayahmu besok dah di ambil orangnya kan bang.” Jawab mak Duma.
__ADS_1
“Yahhhhh ga jadi mobil baru.” Ucap Lala dan Lili dengan kecewa.
“Napa ga jadi yah.” Lulu bertanya dengan muka serius.
“Bukan ga jadi tapi memang itu bukan mobil baru ditokohi opung aja tadi.” Jawab Raja menjelaskan dengan sabar.
“Opung nanti masuk neraka bohong-bohong.” Ucap Lulu, sesuai pengetahuan yang ia dapat dari sekolah PAUD selama ini.
“Kau lawan lah cucu ku itu Duma.” Malah pak Azis yang bersuara membuat mak Duma kembali kesal.
“Nanti beli mobil baru, opung tambahi uangnya nanti tunggu panen dulu sawit opung ya.” Jawab mak Duma berjanji pada tiga gadis kecil itu.
“Mak,” Raja hendak menolak tawaran mamaknya, meski itu diucapkan pada anak-anaknya Raja tau mamaknya serius.
“Udah jan kau bantah lagi,”
“Sekarang Lala, Lili sama Lulu masuk naik tidur.” Perintah mak Duma pada tiga cucunya itu, dan langsung dikerjakan oleh tiga anak cantik itu tanpa membantah.
“Mandi lah dulu akupun mak,pak.” Ucap Raja Sepeninggalan anak-anaknya.
“Tunggu dulu bang, belum lagi kau jawab pertanyaan mamak tadi mau kau mamak kenalkan sama si Yana itu siapa tau cocok sama mu?” Tanya mak Duma pada Raja.
“Ya tuhan Duma, udah gila nya kau?, bini orang mau kau jodohkan sama anak kita ga setuju aku Duma.” Pak Azis langsung berkomentar tanpa tau cerita awalnya.
“Ha kau tengok Raja bapak mu ini, ini lah makanya cinta kali aku sama bapak mu ini, nyambung aja ga tau-tau pun nyambung aja.”
“Nggak jadi dia nikah pak, dua minggu lagi mau akad diputusin sama calon suaminya.” Mak Duma menjelaskan.
“Mana ku tau, gak mungkin lah ku tanya itu sama mamaknya si Yana itu. Itu aja untung Yana cerita sama mamaknya aku ngasih baju ke dia makanya mamaknya tau aku jadi cerita lah mamak si Yana itu sikit sama ku.”
“Oh.” Lagi-lagi bapak dan anak itu mengucapkan kata secara bersamaan.
“Kekmana Ja mau kau biar dikenalin mamak mu ini.” Kali ini pak Azis yang bertanya.
“Mandi dulu aku ya mak, pak gerah kali kurasa.” Ucap Raja dan pergi begitu saja meninggalkan kedua orang tuanya, ada orang lain yang harus segera Raja tanyai tentang Yana dan ia yakin orang itu tau banyak tentang gadis itu.
“Tengok lah anakmu pak,” Ucap mak Duma kesal.
“Yang gitu-gitu anakku yang baik-baik anakmu.” Jawab pak Azis datar.
➰➰➰☕️☕️☕️
Keesokan paginya di rumah pak Ahmad keluarga itu sedang sarapan bersama di ruang makan rumah mereka. Putri masih tetap saja membantu menata piring walaupun bu Nur mertuanya sudah melarang.
Ibu muda itu tidak mau melihat mertuanya mengurus semua sendiri, selama Yana tak ada ia sudah bertekad akan membantu sebisanya walau hanya membereskan bekas makan saja.
Beruntung Putri melahirkan secara normal dan tidak ada kendala jadi ia sembuh lebih cepat. Pagi itu Aboy anaknya masih tidur sehingga ia bisa membantu bu Nur sedikit-sedikit.
“Enak ni sambelnya kalau pake kacang lebih enak lagi, bilang nyak besok-besok tambah kacang, Yang.” Ucap Putra yang baru mengambil sambal teri tempe dari dalam toples pada Putri istrinya. Putra mengira mertuanya lah yang memberikan sambal teri tempe itu.
__ADS_1
“Memang nyak yang ngasih bu.” Tanya Putri pada mertuanya.
“Bukan,” Jawab bu Nur sambil mengaduk kopi untuk Ayah.
“Terus siapa.” Tanya pak Ahmad.
“Itu ibu-ibu yang kemarin ngaku kenal Yana, yang ngasih baju biru yang. Yana heboh banget itu yah, bisa pas banget gitu di badanya.” Jawab bu Nur menjelaskan.
“Ohh yang ngasih baju cantik itu,” Putri tak kalah antusias.
“Ia, bu Duma namaya. Dia malah mau ngirim kado sprei jahitan dia sendiri katanya, ya ibu tolak bilang Yana ga jadi nikah.” Ucap bu Nur dan suasana berubah menjadi hening seolah luka kembali terbuka.
“Belum jodohnya.” Jawab ayah menenangkan bu Nur dan membuat bu Nur menganggukan kepala.
“Lucu orangnya yah, ceplas-ceplos gitu ngomongnya enak asik dijadiin temen.” Jawab bu Nur yang hatinya sudah kembali lebih baik.
“Punya anak cowo ga dia bu, kakak perlu tuh mertua yang modelan begitu.” Jawab Putra asal.
“Ada, tapi duda anak tiga katanya kalau boleh mau di kenalin ke kakak, ibu sih setuju aja kalau kakak mau dan memang anak bu Duma itu baik apa salahnya.”
“Katanya dari awal ketemu Yana dia udah suka ke kakak, malah kemarin pas tau kakak ga jadi nikah dia nangsi.” Bu Nur bercerita dengan penuh semangat.
“Jangan mudah percaya pada orang bu.” Jawab pak Ahmad.
“Ayah juga dulu gampang banget percaya sama si jelimet, Putra juga padahal dari awal udah keliatan ga benernya.” Jawab itu kesal.
“Itu kan ka...” Belum sempat pak Ahmad membela diri suara Elita mengucap salam sudah menggema. Membuat Aboy yang tidur di kamar dengan pintu yang terbuka terbangun dan menangis, Putri terpaksa menghentikan sarapannya dan bergegas menuju kamarnya.
“Anak gadis mana bu ga keliatan.” Tanya Elita setelah mencium pipi ibu kuat-kuat dan mendapatkan ketokan sendok oleh itu di kepalanya.
“Healing dia mpok healing.” jawab Putra.
“Kemana,” Tanya Elita sambil mengambil sepotong lapis legit dan memasukkan ke mulutnya dan sepotong lagi ia berikan pada suaminya.
“Kediri, sama mbak Muti temen kakak yang lemah lembut hatinya bak salju itu tau kan.” Tanya Putra.
“Tau, kenal aku.” Jawab Elita. “Ini kue beli dimana enak ni.” Tanyanya lagi.
“Itu dari ibu-ibu yang naksir kakak hahahah.” Jawab Putra santai sambil tertawa.
“Tapi anak ibu itu dudesss.” Bisik Putra sambil lewat menuju dapur membawa piring bekas makannya sendiri.
Elita hanya diam tak berkomentar apa-apa, pikiranya justru tertuju pada Raja mantan kekasih sang kakak yang juga duda dan masih mengharapkan kakaknya.
☕️to be continue☕️
☕️Tokoh \= bohong (Istilah bahasa yang digunakan di medan, contoh : ditokohi opung\=dibohongin opung)
Maaf Rakan semua kemarin aku ga sempat Up soalnya sibuk di kejar-kejar sama bang Raja hihihi halu, terimakasih untuk yang udah sabar menunggu dan terimakasih juga untuk yang udah nanya-nanyain hikzz 😭😭 terharu akuh tuh ternyatah adah yang nungguin dan nyariin.
__ADS_1
Peluk hangat untuk Rakan semua jan lupa bahagia jan lupa senyummmmmmmm☺️