
💚💚
Dering ponselnya membuat Yana bergegas menggeser gambar telepon berwarna hijau pada ponselnya ke kanan saat melihat nama siapa yang tertera di layar ponselnya.
“Kok belum tidur,” Suara Doni di seberang sana terlihat masih sangat segar.
“Ini udah mau tidur mas,” Jawab Yana lembut, “Mas dimana, suaranya masih rame banget terus berisik.”
“Aku di pabrik, singgah sebentar liat produksi kain yang mau dikirim ke Thailand.”
“Ohh..” hanya itu yang Yana jawab karena memang ia tak begitu paham tentang pekerjaan Doni.
"Sekarang kamu tidur jangan main hape terus, istirahat ya matiin ponselnya biar ga ada yang ganggu lagi." Ucapan Doni membuat kening Yana berkerut.
"Mas tau dari mana aku masih main hape." Tanya Yana yang bingung dan sedikit curiga.
"Nebak aja sayang kita kan sehati," Ucap Doni sambil sedikit tertawa tanpa sedikitpun terdengar ada keraguan atau gugup dari suaranya.
Yana mematikan sambungan telepon setelah mendengar Doni mengatakan bahwa laki-laki itu menyayanginya.
Sebelum mematikan ponselnya Yana sempat membalas pesan dari nomor yang tadi mengirimnya pesan.
〰️〰️〰️
Keesokan harinya Yana dijemput pagi sekali dan diantar kesekolah seperti biasa, petugas piket gerbang sekolah hari ini pak Udin dan mang Dadang.
Hanya pak Udin yang menyapa Yana pagi ini, sedangkan mang Dadang hanya diam saja tidak ramah seperti biasa.
"Pagi mang, tembem diam saja." Akhirnya Yana Yang menegurnya tak enak saja rasanya mang Dadang tak seperti biasa.
Yana khawatir mang Dadang sakit atau mungkin sedang ada masalah keuangan mengingat mang Dadang punya keluarga besar yaitu tiga istri dan sembilan anak.
"Sakit dia bu Yana." Ucap pak Udin asal saja.
"Sakit apa pak?," Tanya Yana sambil menyerahkan dua bungkus sarapan pagi yang sengaja dia bawa dari rumah untuk dibagi-bagikan sisa acara pertunangannya kemarin.
"Sakit hati bu cintanya ditolak ibu," Jawab pak Udin sambil tertawa lepas, Yang di ikuti tawa juga dari Yana.
"Ada-ada saja, sudah ya pak." Ucap Yana lalu masuk ke area sekolah.
Banyak dari guru-guru yang berpapasan mengucap selamat yang Yana tanggapi dengan anggukan kepala dan ucapan terima kasih.
Perusahaan tekstil milik keluarga Doni memang sangat terkenal bukan hanya di indonesia tapi juga sudah merambat ke Asia Tenggara.
__ADS_1
Banyak yang menggunjing namun tak kalah banyak juga yang kagum dan dan memuji Yana yang sebentar lagi jadi menantu satu-satunya dari keluarga Anggara Negara itu.
Namun tidak sedikitpun Yana memanfaatkan nama besar Doni, akun media sosialnya yang tiba-tiba di banjiri pengikut sejak malam tadi setelah Doni memposting foto Yana dengan keterangan 'Soon nyonya Andoni😘' .
Meninggalkan mang Dadang yang mengaku patah hati Yana menelusuri koridor kelas-kelas pada SMA Binaan satu langsung menuju kelas Xll IPS 1 tanpa singgah dulu ke kantor guru.
Kelas tampak sunyi memang bel masuk sudah berbunyi saat Yana berjalan menuju kelas itu tadi.
Tetapi kelas sepi begitu membuat Yana merasa aneh sejak kapan kelas yang terkenal dengan juara IPS satu sekolah jdah juga biang ribut itu sepi.
Yana memasuki kelas dengan hati-hati takut jika saja anak-anak didiknya itu jahil mengerjainya.
“Pagi bu,” ucap anak-anka kompak dengan suara sendu.
“Pa..pa giii.” Jawab Yana ragu-ragu sambil melihat sekelilingnya.
Semua anak-anak diam dan langsung membuka buku catatan mereka dan berhasil membuat Yana merasa lebih waspada.
Lambat laun Yana mulai berfikir Fauzan Cs yang suka membuat keributan itu mungkin sedang mengusili nya seperti mang Dadang yang seolah sedang sakit parah.
Sampai hampir selesai kelas pagi itu anak-anak muridnya masih diam duduk rapi dan patuh. Fauzan Cs yang biasa biang ribut juga diam saja.
Yana permisi setelah jam mengajarnya selesai. “Selamat Ibu pemersatu bangsa tercinta atas pertunangannya." Seru anak-anak itu kompak saat Yana hendak keluar.
Mata Yana sudah berkaca kaca berbalik menatap anak-anak itu penuh haru, tak pernah menyangka sebegitu disayanginya ia di kelas itu.
Murit wanita juga tak luput dari hukuman Ayyan, ia pernah menghukum murid wanita mengenakan kain sarung selam seharian keliling sekolah hanya karena tidak mematuhi perintahnya untuk memakai rok di bawah lutut.
Silih berganti siswi kelas itu menyalami dan memeluknya seraya mengucap doa, sedangkan siswa laki-laki hanya menyalami saja, dan juga mereka mempersembahkan cake dengan tulisan ‘selamat sold out ibu kami’ di atas cake itu.
Yana menangis dan tertawa dalam waktu yang bersamaan tangis yana pecah, begitu manis kehidupan Yana dengan anak-anak itu bagaimana bisa Yana meninggalkan mereka begitu saja.
➰➰➰♥️♥️♥️
Satu bulan berlalu setelah acara pertunangan itu kesibukan kerjanya membuat Doni kembali harus meninggalkan ibu kota dan juya Ayyana entahlah bagaimana kehidupanmu setelah menikah nanti.
Senasib dengan Ayyana Elita yang istri dari seorang abdi negara juga harus siap sedia ditinggal kapan saja.
Elita memutuskan pindah menginap kerumah pak Ahmad dengan dua putranya Adam dan Idris.
Adam dan Idris yang mengganggu pengantin lama Utha dan Uthi membuat akhirnya Uhti dengan senang hati terusir dari kamarnya dan menumpang tidur bersama Ayyana bersama Elita sesuai harapannya.
Dalam kehidupan manusia membutuhkan kebebasan bergerak kemana saja ia mau, tanpa tekanan dari orang lain sekalipun itu adalah orang yang paling di cintai.
__ADS_1
Hanya saja tak semua orang mau mengakui hal itu, alasan cinta kadang sering kali membuat sebelah pihak terkekang dalam diam sedangkan pihak yang lainnya bebas terbang kemana saja ia mau hidup seperti apa yang ia inginkan.
parahnya lagi kadang sebelah pihak menuntut pihak yang lainya untuk menjadi seperti apa yang ia mau, namun tak berlaku pada sebaliknya.
Definisi ‘jangan cintai aku apa adanya’ dari sebuah lirik lagu hitz negara ini bukan berarti pihak yang satunya boleh menuntut semaunya pada pihak yang lainya.
Namun faktanya itu yang sedang Yana alami saat ini semakin hari Yana semakin merasa dikekang kebebasannya.
Malam itu saat bersama dengan Elita dan Putri Yana pikir dia perlu melepaskan sedikit beban pada dua adik kesayangannya itu.
“El bang Ali pernah periksa ponsel kamu.” Tanya Yana pada adiknya itu.
Elita yang sedang asik berbalas pesan dengan sang suami yang sedang tugas di pulau seberang itu hanya menggeleng sebagai jawaban tidak pada kakaknya.
“Kamu ti.” Tanya Yana pada Putri
“Ga sih kak malah aku yang sering periksa ponsel bang Utha, itu juga sejak hamil ini sih kak.” jawab Putri polos sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit.
“Emang kenapa kak,” Tanya Elita tanpa melihat Yana dan masih asik berbalas pesan dengan suaminya.
“Semua pesan yang masuk ke ponselku juga masuk ke ponsel mas Doni, dan aku baru tau itu, ternyata sudah lama sih.” Jawab Yana lega seperti setengah bebannya terlepass
“Oh,,” Jawab Elita dan Putri kompak.
“Eh gimana-gimana, gimana tadi coba ulang.” sentak Elita dengan nada tinggi.
“Kakak adik bayinya terkejut ini,” Ucap Putri sambil mengelus lembut perutnya.
“Eh maaf utun, Uwak kamu ini harus diberi bimbingan pra nikah.” Ucap Elita sambil ikut mengelus perut adik iparnya itu dan bangun dari tidurnya serta menarik Yana untuk duduk berhadapan dengannya.
“Coba jelasin kak, maksudnya gimana.” Putri yang juga ikut pemasaran ikut bertanya.
“Ya gitu mas Doni tau semua apapun kegiatan ku dan juga tau semua pesan yang masuk ke aplikasi pesan di ponselku, dan juga tau tentang aku yang ketemu bang Raja beberapa kali sebelum kami tunangan."
"Aku ga masalah sih aku juga ga buat salah kan, kalau di larang nanti jadinya Ribut. Aku malas ribut." Ungkap Yana tanpa beban.
“Kak ga bisa gitu dong enak aja dia semena mena sama hidup lo kak.” Elita sudah mulai memanas.
Uthi yang bangun dari duduknya dengan muka yang sudah merah seolah siap menelan siapa saja membuat Yana bertanya ibu hamil itu hendak kemana.
“Mangil bang Utha, Mas Doni itu kan temenya, Aku yang manggil ntar biar kak El yang menguliti dia.” Jawab Putri dingin dan diacungi jempol serta di angguki kepala oleh Elita.
➰➰To be Continue➰➰
__ADS_1
♥️meskipun si burung bersangkar emas tetap saja ia ingin terbang bebas.
〰️Tetap semangat rakan jangan lupa bahagia jangan lupa syenyummmm ☺️〰️