
☕️☕️
Pagi kembali datang, hari ini Raja terlihat lebih segar daripada biasanya dan tentunya tidak terlambat bangun pagi.
Hal yang pertama ia lakukan pagi ini tentu saja melaksanakan kewajibannya sebagai muslim, sholat subuh berjamaah bersama Lala dan Lili seperti biasa tanpa Lulu, anak bungsunya itu hanya sesekali saja ikut serta.
Jika dulu saat masih ada Mia atau masih tinggal sendiri di Jakarta ia selalu sholat subuh di masjid komplek. Sejak tiga dara Lala, Lili dan Lulu ikut tinggal di Jakarta hanya sesekali di hari libur saja ia sholat subuh di masjid komplek.
Hal kedua yang ia lakukan setelah melaksanakan kewajibannya adalah turun ke dapur menjadi bapak rumah tangga menyiapkan sarapan pagi dan bekal untuk anak-anak kesekolah.
Notifikasi pesan di ponselnya membuat Raja Meninggalkan kompornya yang sedang menyala sejenak dan meraih benda pipih yang tergeletak di atas meja makan.
Masyitah
[Pak mengingatkan semua kaprodi pagi ini jam delapan ada janji dengan pak rektor di aula mini]
“Y” hanya satu huruf itu yang ia kirimkan sebagai balasan untuk Tita si sekertaris, setidaknya pesan Tita kali ini tak di abaikan begitu saja.
Ia kembali melanjutkan aktifitas masak memasaknya layaknya koki kelas dunia, menu pagi ini nasi goreng telur ceplok, nugget goreng dan sosis.
Sedangkan untuknya dan Yana ia memilih memasak ayam lada hitam. Pesan dari Tita lagi-lagi menggagalkan rencananya untuk sarapan bersama gadis pujaan hati padahal kali ini sang gadis sudah bersedia di ajak sarapan bersama. Untuk permintaan maaf ia memilih menyiapkan bekal sarapan saja untuk Yana dari hasil masakanya dan akan ia antarkan untuk Yana seperti biasa.
Jika pada kasus lain wanita yang menberikan hasil masakanya pada laki-laki, namun tidak pada Raja ia justru sering memasak nasi goreng andalannya untuk Yana sejak dulu. Ya karena hanya menu itu yang ia mampu dan layak di makan menurutnya.
Saat semua sudah tertata di meja makan, ia beranjak untuk melihat anak-anak sejenak di kamar mereka. seperti biasa Lili yang selalu saja di sibukkan dengan menyusun buku untuk dibawa kesekolah. Sudah berkali kali ia mengingatkan untuk melakukan hal itu di malam hari tapi Lili tetap saja mengulang kesalahan yang sama.
Sedangkan Lala sedang menyisir rambut Lulu yang sudah panjang hampir sepinggang. Raja dan Lala memang selalu menjadi orang yang selesai paling akhir.
Pesan kembali masuk ke ponselnya, dan kali ini cukup membuatnya terkejut.
My Ayyana
[boleh]
Satu kata balasan pesan dari Yana membuatnya ingin membelah diri seperti amoeba sekarang juga, bagaimana bisa ia lupa ada rapat dengan pak Rektor hingga membuatnya mengajak Yana sarapan pagi ini.
Jika sudah begini ia harus apa, tidak mengikuti rapat adalah perbuatan sangat-sangat tak terpuji sedangkan mengatakan pada Yana bahwa janji sarapan pagi harus batal juga sangat tak ingin ia katakan.
Setelah sebulan lamanya ia mendekati Yana lagi dan baru kali ini Yana merespon kenapa masyitah merusak semuanya, daripada ia menyalahkan pak rektor lebih baik salahkan saja si masyitah.
__ADS_1
Ia bergegas menelpon masyitah sesegera mungkin, namun gadis cerdas yang jika bicara seperti orang kepedasan itu mengatakan rapat pagi ini tidak bisa diwakilkan, jika memang alasan sakit, rapat bisa diikuti secara virtual.
“Ayah cepat.” Teriakan Lili dari balik pintu kamar membuatnya bersiap lebih cepat. Dan melupakan masalahnya beberapa menit.
Lili memang selalu yang siap paling awal meski banyak hal yang seharusnya disiapkan malam hari ia siapkan di pagi hari. kelincahan dan kecepatan tangan Lili yang diwariskan dari mak Duma sang opung, membuatanya selalu lebih dulu menyelesaikan semua urusanya.
Setelah sarapan dan mengantar ketiga anaknya dengan sepeda motor andalannya ia bergegas menuju SMA Binaan satu tempat dimana Yana mengajar.
Gadis itu terlihat baru saja turun dari ojek motor saat ia memasuki area parkir SMA swasta yang sangat terkenal itu.
“Ay, abang.” Raja menghentikan bicaranya sebentar mencari kata-kata yang tepat untuk dikatakan pada Yana.
“Emm .Ini, abang bawa sarapan, maaf abang ada rapat mendadak jadi ki...”
“Ga apa, makasih ya. Aku masuk.” Jawab Yana memotong kata-kata yang ingin Raja sampaikan dan gadis itu berlalu begitu saja.
Raja melangkah ingin mengejar Yana namun saat melirik arloji di tangan kirinya, waktu menunjukkan jam tujuh lewat dua puluh menit, itu artinya ia harus sampai di kampus dalam waktu empat puluh menit. Dengan sangat terpaksa Raja mengurungkan niatnya mengejar Yana.
Beruntung mobilnya masih di bengkel jadi ia bisa lebih cepat sampai jika menggunakan sepeda motor, tapi bagaimana dengan Ayyana-nya apakah gadis itu kecewa atau mungkin marah.
Berpacu dengan waktu ia berfikir akan kembali saat jam makan siang saja, meminta maaf pada Yana dan menjelaskan keadaan yang ada.
☕️☕️☕️☕️
Pagi tadi memang benar ia mengirim pesan pada Raja mengatakan boleh untuk ajakan Raja sarapan bersama, tapi itu semua ia lakukan atas saran Elita yang malam tadi menginap di rumahnya, dan juga saran Putri adik iparnya.
Namun saat melihat Raja entah kenapa rasa tak inginnya datang begitu saja, bayangan sarapan pagi bersama Doni yang dulu sering ia lakukan muncul di kepalanya.
“Enak e, dapat nasi goreng ala mantan lagi.” Ucap Muti memecah lamunan Yana.
“Eh mbak.”
“Gimana udah mikir baik-baik, mau beli satu dapat tiga. Cashbacknya banyak hahahaha.” Kata Muti menjahili Yana.
“Aku belum kepikiran mba, trauma rasanya.” Jawab Yana jujur.
“Trauma ditinggal si Raja itu?”
“Ga juga sih, waktu bang Raja dulu pergi keadaanya beda mbak, kali ini lebih berasa sakitnya di tinggal pas udah dekat hari H undangan ada yang udah aku sebar malah mbak.”
__ADS_1
“Persiapan sudah sembilan puluh persen, malah dianya pergi tanpa ada penjelasan.” Yana menarik napasnya dalam.
“Sakit banget mbak. Kalau kejadian lagi kayaknya aku udah ga sanggup.” Ucap Yana lagi dengan wajah sedih sambil menggelengkan kepalanya.
“Terus.”
“Ya gitu mbak, aku takut punya hubungan lagi. Mau sendiri aja selamanya.”
Ucapan Yana membuat Muti reflek memukul lengan gadis itu dengan keras.
“Mulut mu itu lho Yana, pamali ga boleh ngomong gitu.” Ucap Muti kesal mengingatkan Yana.
“Makan itu sarapan dari Raja biar hati mu kebuka untuk si duda itu, walaupun aku ga ikhlas kamu sama dia.”
“Masa iya siap nikah langsung ngemong anak tiga, duh ga kebayang aku Yana.” Ucap Muti terang-terangan dan pergi begitu saja setelah pamit untuk mengajar pada Yana.
Sampai jam pulang kerja tak ada kabar apa-apa lagi dari Raja, laki-laki itu hanya mengirim pesan berupa foto ruang rapat dengan keterangan [maaf Ay ini benar-benar ga bisa di cancel]
Hari itu Yana lewati dengan memikirkan ucapan Muti, harus membuka hati. Haruskah ia mencoba lagi.
☕️☕️☕️
Waktu berlalu, sore itu mau tak mau suka tak suka Raja harus menjemput mamak dan bapaknya yang datang dari Medan di bandara.
Dengan mobil yang baru ia beli setelah menjual mobil lamanya Raja menjemput mamak dan bapak sendirian karena ingin membuat kejutan untuk anak-anak.
Yang Raja cemaskan hanya satu bagaimana nanti kalau mamak memintanya mengantarkan mamak ke rumah Yana lagi, alasan apalagi yang harus Raja berikan untuk membuat mamak ajaibnya tak bertindak sebelum berfikir dengan matang.
Hal itu juga yang patut Raja dan Rani syukuri, mereka berdua tak diwarisi sifat itu oleh mamak. Raja dan Rani lebih bersikap tenang dan bertindak setelah matang berpikir seperti bapak mereka.
Raja melambai-lambaikan tangan saat melihat bapak dan mamak keluar dari pintu kedatangan domestik.
“Bawa apa lagi mamak, barangnya kan udah dikirim semua.” Tanya Raja setelah menyalami kedua orang tersayangnya itu saat melihat mamak menenteng satu tas barang berbahan plastik tebal yang lumayan besar.
“Kue-kue aja ini bang, untuk Yana. Nanti kau antarkan lagi mamak ke rumahnya ya.”
Ucapan mak Duma begitu lancar keluar dari mulut manis wanita paruh baya itu tetapi untuk Raja ucapan mamaknya bagai mati lampu di malam hari saat hujan dan petir menggelegar. Gelap dan menyeramkan.
☕️☕️To be continue☕️☕️
__ADS_1
☕️ada yang punya senter tolong terangin hudup bang Raja😂
☕️jann lupa bahagia jan lupa syenyummmmmmmmmm