
💚💚
Malam setelah melewatkan hari yang sangat melelahkan hati dan pikiran untuk Raja, laki-laki itu duduk di teras rumahnya sambil menyulut nikotin yang mengepulkan asap.
Raja menghembuskan asap-asap sisa nikotin itu ke udara, hari ini hidupnya hanya dengan kopi dan rokok saja.
Begitulah ternyata patah hati bekerja yang berdampak sangat hebat hingga dapat menghemat serta diet ketat bagi yang mengalaminya.
Langit dengan bulan sabit yang begitu terang serta bintang-bintang yang menemaninya membuat pikiran Raja menerawang ke masa lalu yang begitu indah.
Di Masa lalu iya sering mengirim pesan teks pada Yana mengajak Yana melihat bulan yang sama dari tempat yang berbeda.
Pada saat itu belum ada aplikasi pesan yang canggih untuk bisa mengirim gambar atau foto, hanya kata-kata yang dapat ia kirimkan.
Keesokan harinya mereka berdua akan menceritakan tentang bulan yang mereka lihat di langit yang sama dari tempat yang berbeda.
Sesederhana itu bahagia mereka di masa lalu melihat bulan yang sama dari tempat yang berbeda namun terasa bersama.
Senyumnya mengembang saat melihat ke arah bulan sabit malam ini sambil kembali menghembuskan asap sisa nikotinnya.
“Ayah.” Lala mengejutkan lamunan manisnya bersama yana.
“Ya, kenapa nak.”
“Kenapa belum tidur? adek-adek mana?” Jawab laki-laki itu senetral mungkin menutupi remuk hatinya sambil mematikan bara api rokoknya pada asbak yang tersedia.
Tak pernah sekalipun Raja membagi asap racun itu pada putri-putrinya, dan juga iya hanya menyulut rokoknya saat pikiran sedang butuh ditenangkan saja.
“Udah tidur orang itu, ayah kenapa.” Lala mendudukan dirinya pada kursi teras di samping Raja.
“Ayah gapapa, kenapa emang kak?” Tanya Raja pada putri sulungnya itu.
Dari ketiga anaknya hanya Lala yang mirip sangat sempurna dengan Raja malai dari paras wajah sikap dan sifat serta warna kulit yang sedikit hitam manis.
“Ayah suka ya sama bunda Adam, kawan si Lili,” Tanya Lala tanpa basa basi dan langsung membuat Raja salah tingkah.
“Ah anak kecil tau kali pun suka-suka dengar dimana itu.” Raja mencoba menjawab selogis mungkin pertanyaan Lala sambil mengacak rambut lurus Lala yang tergerai indah untuk mengilangkan gugupnya.
“Tau Lala yah, opung banyak cerita sama Lala, tadi juga Lala sore telepon opung.”
“Opung bilang apa memangnya kak?” Tanya ayah tiga anak itu penasaran.
“Lala ceritakan aja semua, kata opung ‘Mungkin ayahmu suka sama bunda kawan si Lili’ gitu kata opung.” Ucap Lala menatap mata Raja tajam.
“Terus,” Tanya Raja lagi.
__ADS_1
“Terus kalau Ayah suka kenapa ayah gak bilang aja sama bunda si Adam itu.”
Perkataan Lala membuat Raja memejamkan mata, andai saja Lala tau tidak segampang itu menyatakan suka pada seseorang dan orang yang menerima pernyataan juga tak langsung saja menjawab iya.
“Kamu mau Ayah nikah lagi.” Tanya Raja sambil balik menatap mata Lala.
“Aku ga tau, tapi kata opung ga bolehnya ku larang kalau ayah mau nikah lagi tapi sama orang baik.”
Raja diam tak menjawab apapun dari pernyataan Lala, sedewasa itukah anaknya berpikir di umur yang masih dua belas tahun.
“Tapi yah,” Lala menjeda kalimatnya sebentar. “Ayah gak akan lupain mama kan? ayah nanti tetap sayang sama kami kan? gak ayah pulangkan kami ke medan kan? kami ga mau lagi jauh dari ayah.” Ucap Lala yang sudah menangis tersedu.
Raja Langsung meraih putri sulungnya itu dengan cepat membawa gadis itu kepelukanya , sebelah tangannya menepuk pundak Lala dan sebelah lagi mengelus kepala gadis kecil itu penuh sayang menenangkan.
“Mama kalian akan tetap ada di cerita kehidupan ayah La. Ayah hanya akan menikah lagi kalau dia mau menerima ayah dan menerima kalian, ayah janji.” Ucap Raja sambill terus memeluk erat gadis kecilnya itu.
“Aku janji Mia aku janji akan membesarkan anak-anak kita dengan penuh sayang.” Gumam Raja.
Setelah tanggisnya berhenti Lala tidur di pangkuan Raja sambil mendengar beberapa cerita tentang mamanya dari mulut Raja.
Setelah gadis kecil itu benar-benar tertidur Raja menggendongnya memindahkan Lala ke kamar tidur gadis kecil itu, sebelum keluar dari kamar itu Raja juga sempat mencium kening ketiga anaknya penuh sayang.
Sebelum Tidur Raja sempat membuka tabletnya melihat jadwal yang sekretarisnya kirim siang tadi, Raja teringat pada nomor ponsel yang sudah ia simpan dengan nama My Ayyana.
Ada Rasa sesak di dada Raja seketika ia merasa terhempas jauh ke dasar bumi yang menyakitkan dan dihimpit oleh batu besar yang tak terkira beratnya.
Semua harapannya telah habis, harus kemana Raja membawa luka hatinya. Harapan untuk hidup bersama Ayyana-nya tak akan pernah kesampaian.
Salahkah dia jika mengganggu Yana lagi salahkan jika dia mengirim ucapan selamat saja, Raja menimbang-nimbang membolak-balikkan ponselnya berfikir.
Haruskah ia mengucapkan selamat di komentar foto yang Yana unggah atau sebaiknya melalui aplikasi pesan saja pada nomor yang sudah sekretarisnya dapatkan tadi atau bahkan tidak usah sama sekali.
➰➰➰♥️♥️♥️
Malam setelah melewati hari bahagianya Yana duduk di balkon kamarnya yang dari balkon itu bisa melihat dengan jelas langit malam.
Langit malam dengan bulan sabit yang terang ditemani bintang-bintang yang begitu indah, khayalanya kembali pada kata-kata Doni laki-laki yang kini sudah menjadi tunangannya. Siang tadi menghampirinya setelah acara inti pertunangan mereka selesai.
“Kamu suka cincinya.” Tanya Doni pada Yana yang sedang memutar mutar cincin pada jari manisnya itu.
Yana mengangguk dan tersenyum begitu manis. “Kamu bahagia,” Tanya Doni lagi.
“Bahagia mas sangat bahagia.” Jawab Yana meyakinkan. Doni terlihat menangguk tanda percaya pada ucapan Yana.
“Mas harap kamu tidak terpaksa dan benar-benar ikhlas dengan pertunangan ini,”
__ADS_1
“Aku juga tau mama jadi masalah besar untuk kamu, ikuti saja dulu mau mama kalau itu masih dalam batas wajar aku mohon Yana.”
Ucapan Doni di angguki dan senyum manis oleh Yana tanda wanita itu setuju, sebelum Doni melanjutkan bicaranya.
“Mas juga tau kamu akhir-akhir ini ketemu sama mantan pacar kamu,”
“Mahraja, Kaprodi akuntansi universitas anak harapan bangsa,”
“Duda anak tiga, salah satu anaknya teman sekelas Adam anak Elita.”
“Rumahnya di villa biji semangka blok dua nomor dua puluh.”
“Bahkan mungkin yang aku tau lebih banyak dari yang kamu tau Yana, mungkin.”
Kata-Kata Doni Membuat Yana begitu terkejut dengan fakta yang didapatkan.
“Ma..maaf.” Ucap Yana gugup namun senyum manis Doni membuatnya sedikit heran.
“Yana aku tau semua, semuanya. kamu ketemu di acara seminar yang kamu ditunjuk perwakilan dari sekolah, aku tau kamu makan siang bersama dia setelah perkelahian Adam dan putrinya, aku juga tau kamu bohong bilangnya pergi sama Elita tapi nyatanya makan nasi padang sama dia, Iya kan.” Ucap Doni detail.
Yana hanya diam saja sampai Doni kembali bersuara.
“Gapapa sayang kamu kan udah buktiin sekarang kamu pilih aku, bentar lagi sah jadi nyonya Andoni Raman Anggara.”
“Aku diam selam ini cuman untuk mastiin hati kamu condong kemana, tapi dengan kamu terima lamaran aku apa yang harus aku ragu lagi. Ga ada kan.?"
“Aku juga tau kamu nolak dia di taman dekat sekolah kalian dulu, Iya kan?” Ucap doni sambil tertawa.
Hati Yana merasa lega seketika, dan bertambah yakin laki-laki yang ia pilih tidak salah, dan berharap bisa bahagia bersama selamanya.
Ya Yana yakin Donilah yang terbaik, hanya Doni.
Lamunan Yana terhenti ketika notifikasi ponselnya berdering, Yana bergegas mengambil ponsel itu dan membuka kuncinya serta aplikasi pesan.
Sebuah nomor tidak ada nama mengucapkan selamat bertunangan dan semoga bahagia, Yana memang sudah mengganti nomor ponselnya, tapi Yana hafal nomor siapa yang mengirimnya pesan ini, dan juga pada akhir pesan ada nama Raja tertulis disana.
“Abang,” Gumamnya pelan.
Gumaman Yana di Iringi dengan ponselnya yang berdering kembali dan kali ini panggilan telepon.
➰➰To Be Continue➰➰
♥️Semua harapanku telah habis hati ku kecewa, harus kemana aku membawa luka hati harapan untuk hidup bersamamu yang tak akan pernah kesampaian.
〰️Tetap semangat rakan jangan lupa bahagia jangan lupa syenyummmm☺️ dan jangan lupa kasih like sama komen hihihi 🙏🏻
__ADS_1