
☕️☕️☕️
Pagi yang semestinya cerah menjadi redup setelah Tita menerima telepon dari Raja, lagi lagi bosnya yang sedang dilanda asmar puber kedua itu membuatnya kerepotan dalam mengatur jadwal sang bos tersebut.
“Pakh mulai besokh jadwal bapakh darih pagih sampai jham tigah ajah gimanah,?”
Tanya Titah yang sudah mulai bosan karena hampir setiap hari menggeser jadwal Raja di sore hari dan kerepotan menyusun ulang.
“Oke boleh,” kadang-kadang kamu memang pintar.” Jawab Raja asal dan berlalu ke ruang kerjanya.
“Kadang-kandang, biar aja kadang-kadang pinter dari pada tiap hari gila.” monolog Tita sambil mengetik sesuatu di layar komputernya tanpa memperhatikan sekelilingnya.
“Saya gila,” Tanya Raja di depan pintu ruanganya menatap Tita tajam.
“Gila cintah pakh gilah cintah samah bu Yana.” Jawab Tita pasrah kemudian kembali melanjutkan pekerjaanya.
“Kata Aya,kamu nanti sore ke rumah ambil kain untuk di jahit untuk acara lamaran kamu nanti.” Ucap Raja memberitahu pesan Yana padanya pagi tadi.
“Bu Yana memangh baikh dehh, beruntung bapakh dapatin bu Yana,” Jawab Tita jujur.
“Jadi maksud kamu, Yana punya suami kayak saya gak beruntung,?” Tanya Raja sinis.
“Beruntung pak, beruntung saya aja yang gak beruntung.” Jawab Tita pasrah.
Sebentar lagi Tita akan dilamar oleh laki-laki pujaan hatinya, Yana dan mak duma adalah orang yang paling mendukungnya dalam segala hal. Kebaikan Yana tak membuat Tita merasa memiliki keluarga lain selain ibu dan adiknya yang masih nyata terlihat.
Titah tau segala bantuan dari Yana juga atas sepengetahuan Raja, hanya saja mulut pedas Raja memang sudah tak ada obatnya lagi, titah juga dibuat bingung kenapa masih saja ada mahasiswa yang menebar pesona pada Raja.
☕️☕️☕️
Waktu berlalu menyisakan luka, bagi laki-laki yang bernama Andoni Raman Negara seorang pengusaha kaya yang sukses dalam bidang pendidikan dan juga karir yang cemerlang, namun tidak untuk urusan percintaan.
__ADS_1
Hingga detik ini ia masih sering melihat sosial media Yana mantan tunangannya yang telah menikah dengan duda anak tiga enam bulan lalu, tak ada kenangan tentang mereka yang tersisa di unggahan sosial media Yana wanita itu seolah sudah melenyapkan semua tanpa sisa.
Sore itu Doni baru saja pulang dari kantor dan sudah diajak menemani mama Jelita ke salah satu rumah sakit swasta paling terkenal di ibu kota, yang sakit adalah ibunda dari Mimin wanita yang sedang gencar di jodohkan oleh mama Jelita dengan Doni.
Tak ingin membuat masalah lagi dengan Jelita, Doni akhirnya menyetujui mengunjungi teman dari mama Jelita Yang sedang sakit itu, tak ingin berlama lama dengan alasan sudah lelah seharian di kantor akhirnya Doni berpamitan pulang.
Jelita yang tak mau ada keributan di rumah sakit itu akhirnya mengikuti Doni untuk segera pulang, Saat akan memasuki lift untuk turun ke lantai bawah mata Doni terbelalak melihat wanita yang masih sangat ia sayangi ada di depan matanya.
☕️☕️☕️
Usia kehamilan Yana sudah lima bulan, namun aktivitas wanita itu tidak pernah berkurang ia tetap aktif dan selalu bersemangat serta energik, siang itu Yana yang tak melihat bahwa lantai baru saja selesai dipel oleh petuga kebersihan terpeleset di ruang guru.
Rekan sesama guru langsung membawa Yana ke salah satu rumah sakit terbaik yang ada di kota itu setelah mendapat arahan dari Raja yang memberi instruksi melalui sambungan telepon dengan bu Muti.
Raja juga segera menelpon buNur dan pak Ahmad agar segera mendatangi rumah sakit tersebut, sedangkan Raja juga segera mengakhiri kelasnya dan bergegas menuju rumah sakit tempat.
Sampai ke rumah sakit itu hati Raja sedikit senang melihat Yana sedang disuapin teh hangat oleh bu Nur, sedang lulu berada di pangkuan pak Ahmad yang terlihat mengantuk.
“Dia nangis terus liat yana ga bisa bangun.” Jawab pak Ahmad menjelaskan kondisi lulu.
“Maaf yah, bu. saya jadi merepotkan.” Ucap raja tak enak melihat pak Ahmad yang duduk dengan lulu di pangkuan ayah mertuanya itu.
“Tak apa, Lulu juga cucu ayah.” Jawab pak Ahmad sambil tersenyum.
Raja mengangguk sambil mengucapkan terimakasih berkali kali pada pak Ahmad dan bu Nur mertuanya itu. Sedangkan pak Azis dan mak Duma yang baru saja dua hari pulang ke medan tak ia kabari berita tentang Yana karena khawatir mamaknya itu akan nekat mencari penerbangan malam-malam untuk kembali ke ibu kota.
Setelah mengurus administrasi dan membayar jaminan awal, Yana dipersilahkan untuk masuk ruang rawat inap, awalnya mereka berpikir untuk pulang saja. Namun penjelasan dari dokter obgyn yang mengatakan ada pendarahan sedikit paska terjatuh membuat Raja setuju Yana dirawat beberapa hari.
Yana yang tak mau menaiki kursi roda terpaksa digendong oleh Raja untuk menuju lantai lima rumah sakit itu. tak tanggung tanggung untuk kenyamanan istrinya Raja memilih kamar super vvip.
Yana memang sedikit manja dan sensitif sejak hamil, selain itu ia juga selalu berucap sesuai isi hatinya saat cemburu ia akan bilang cemburu saat tak suka juga Yana akan mengatakannya langsung.
__ADS_1
Tubuh mungil Yana tak menjadi masalah untuk Raja, di usia kehamilan Yana lima bulan hanya perut Yana yang membuncit sedangkan yang lainya tak terlalu berubah.
Saat di dalam lift Yana meminta diturunkan saja dari dalam dekapan laki-laki tersayangnya itu, sebelum pintu lift terbuka perawat yang mengantar memberi aba-aba bahwa mereka akan tiba ke lantai yang dituju.
Raja bersiap mengangkat Yana kembali dalam dekapanya. Namun gadis itu menolak.
“Abang, Aya mau jalan aja.” Minta Yana pada Raja. Laki-laki itu melihat kearah perawat yang mendampingi mereka.
“Boleh pak, dari pintu lift hanya berselang satu ruangan menuju kamar rawatan ibu.” Jawab perawat yang mendampingi mereka.
Raja memeluk posesif pinggang istrinya itu dengan erat sambil memapah wanita itu keluar dari lift.
“Yana,” sapaan dari suara yang sangat Ayana kenal membuat Yana mengangkat kepala dan juga diikuti oleh Raja.
Raja jelas kenal dengan laki-laki itu, mereka pernah berbicara panjang lebar saat Raja mengantar Yana ke rumah pak Ahmad beberapa hari sebelum resepsi pernikahan mereka.
“Mas, tante. Apa kabar,” tanya Yana ramah pada laki-laki yang pernah hampir menjadi suaminya itu dan ibu dari laki-laki itu.
“Kamu sakit.” Tanya Doni melihat kondisi Yana yang tak terlalu baik.
“Ga, Istri saya sedang hamil jadi hanya butuh istirahat.”Jawab Raja yang jelas tak suka cara Doni bertanya pada istrinya,
“Hamil.” Tanya Jelita dengan suara sedikit tinggi sambil menatap ke arah perut Ayana yang memang sudah membuncit.
“Berapa bulan.” Tanya wanita itu sinis.
☕️☕️To be continue☕️☕️
☕️yang rindu mas don sama mama Jelita mana suaranya.
☕️jann lupa senyummm rakan jan lupa bahagia
__ADS_1