
💚💚
Berangkat menggunakan pesawat pagi dengan membawa tiga anak tentu saja bukan hal yang mudah untuk Raja, laki-laki itu bersyukur memiliki anak yang sangat mandiri entah bagaimana ibu anak-anaknya mendidik tiga anak ini sampai ketiga putrinya bisa menjadi anak yang begitu penurut.
Laindra Mahraja yang sering dipanggil kak Lala benar-benar bisa Raja andalkan mulai dari membereskan pakaian Luwinka Mahraja adik bungsunya yang sering dipanggil lulu, Lala juga yang selalu memandikan Lulu setiap hari setelah itu tugas dialihkan pada Lili, Liyana Mahraja putri keduanya untuk memakaikan pakaian pada Lulu.
Tugas Raja hanya memastikan semua sudah benar, mengecek kembali kelengkapan kebutuhan anak-anak selama di perjalanan, mengecek Isi koper kecil warna pink yang diisi pakaian tiga putrinya. memastikan tidak ada yang tertinggal.
sebenarnya tidak perlu membawa terlalu banyak pakaian karena pakaian ketiga anaknya jelas masih banyak yang tersisa di rumah mamak tapi permintaan Lulu malam tadi saat membeli hijab untuk mamak patut di pertimbangkan.
“Beli koper lah kita yah biar betul-betul kayak pulang kampung, kawan ku pulang kampung bawa koper.”
“wihhhhh mantap kali idemu dek setuju kali aku,” Lala malah ikut-ikutan
Akhirnya dengan kesepakatan bersama Raja hanya membeli satu koper yang akan diperuntukan untuk ketiga anaknya.
Perjalanan sekitar dua jam dua puluh menit itu terasa lama untuk Raja, Lamunanya berputar pada Yana, iya Yana sang mantan pujaan hati.
Sore kemarin saat membeli hijab mamak dia melihat Yana yang baru saja keluar dari toko yang hendak dituju, Raja Yakin itu Yana meski jaraknya tidak terlalu dekat bahkan laki-laki itu masih ingat betul baju yang Yana pakai masih sama dengan saat seminar tadi pagi.
Baru saja Raja ingin menghampiri namun Yana sudah terlihat menjauh berjalan bersama dengan seorang laki-laki yang mengambil belanjaan dari tangan Yana dan membawanya.
Suara pengumuman pemberitahuan bahwa mereka akan mendarat di bandar udara Kualanamu menyadarkan lamun Raja tentang Yana yang sudah jauh entah kemana.
“Ihh cepat kali sampenya." ucap Lala
“Iya belum pun terbang kan kak.” kali ini Lili yang berkomentar.
‘Istri orang’ gumam Raja sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Ayah kenapa.” Tanya Lala dan Lili bersamaan.
“Hah… Ayah? kenapa?” Raja malah balik bertanya.
“Tu kenapa?” Lala bertanya sambil menunjuk sebelah tangan Raja yang masih memegang kepalanya.
“Oh… pusing ayah pusing,” Jawabnya.
“Iya pusing kan Yah aku juga belum pun terbang pesawatnya udah nyampe aja hufhh…” kata Lili sambil merengut tanda tak suka.
Raja tertawa sambil menutup mulut agar tidak mengganggu penumpang lain, Namun tatapan Lala padanya membuatnya berhenti tertawa.
__ADS_1
"Tenang aja nanti setelah ini sering-sering lah kita naik pesawat." Ucap raja pada putri putrinya.
Keluar dari bandara mamak dan bapak ternyata sudah menunggu untuk menjemput mereka, di usianya yang sudah senja bapak masih saja mengendarai mobil sendiri. mengingat jarak yang lumayan jauh dari bandara ke rumah mereka awalnya Raja berencana naik kereta api saja atau taxi.
Namun bapak bersikeras menjemput cucu-cucunya yang yang sudah dua bulan ini meninggalkanya.
“Atok, Opung.” teriak kedua putrinya saat melihat atok dan opung mereka, bapak Raja bersuku Asli melayu jadi lebih memilih di panggil Atok, sedang mamak Asli batak dan meminta dipanggil opung saja.
Lulu yang tertidur dalam gendongan baru terbangun saat mereka sudah sampai ke rumah.
Tiga anak itu seperti tidak punya rasa lelah mereka langsung saja mengikuti bapak menangkap ikan di kolam samping rumah untuk di bakar. sedangkan Raja menuju kamarnya yang dulu ia gunakan.
Raja masuk dan menatap keliling kamar itu nanar, kemudian duduk di tempat tidur membuka laci nakas yang berada di samping tempat tidur itu dan mengambil satu bingkai foto.
Pada bingkai foto itu terlihat dia yang tersenyum lebar menggendong Lala dan seorang wanita berwajah manis menggendong Lulu.
Saat akan memasukkan kembali bingkai foto itu Raja melihat satu bingkai foto yang lain dan mengambilnya, foto sepasang pengantin baru mengenakan pakaian adat batak. Raja usap foto itu pelan. “Maaf” Gumamnya sambil memeluk foto itu dan merebahkan diri.
Hampir saja Raja tertidur saat ketiga anaknya masuk.
“Ayah, ayo ke tempat mama.” teriakan ketiga anaknya sontak membuatnya langsung terduduk.
“Ok tunggu diluar ayah cuci muka dulu." Ucap Raja
Dua minggu berlalu bu Nur menagih hutang penjelasan pada Yana yang akhir-akhir ini selalu tidak puas dengan pakaian yang dia pakai, dan itu terulang lagi pagi ini.
“Aku gak PD aja bu kelihatan tua.” Kata yana pada ibu, sejak acara arisan dengan tante Jelita Yana selalu merasa tidak pas dengan pakaian apapun yang ia kenakan.
jawaban Yana berujung pada ibu yang memberikan wejangan panjang lebar meyakinkan Yana kalau keadan tidak seburuk itu dan membuat Yana merasa kenyang meski belum sarapan pagi.
"Kamu itu kalau jalan sama Utha aja masih dikirain adik si utha".
“jangan memaksa diri berubah demi kesenangan orang lain kak, senyamanya kamu aja ingat itu.” ucap ibu sebelum pergi meninggalkannya yang sedang sarapan di meja makan.
Seperti hari-hari sebelumnya mas Doni dengan setia mengantarkanya kesekolah.
"Pagi dek Yana.” Mang Dadang yang bertugas menjaga pintu pagar sekolah pagi itu menyapa Yana saat gadis itu keluar dari mobil Doni, untung saja pintu mobil sudah di tutup kalau saja Doni mendengarnya bisa panjang urusan pagi Yana hari ini.
“Pagi mang.” Jawab Yana singkat.
“Dek Yana tawaran saya masih berlaku ya, barangkali dek Yana berubah pikiran.istri-istri saya juga sudah setuju.” Ucap Satpam sekolah itu.
__ADS_1
Yana hanya tersenyum dan pergi begitu saja, hampir setiap berpapasan mang Dadang mengatakan hal yang sama.
Saat jam istirahat siang Yana menghampiri Cindy Ayuni siswa kelasnya yang duduk di samping lapangan basket.
“Kenapa disini.” Tanya Yana
Gadis remaja yang dipanggil Cia itu malah senyum senyum sambil menatap para pemain basket.
“Nunggu ozan.” Tanya Yana lagi
Pipi Cia memerah seperti tomat yang sudah matang di pohon dan menganggukan kepalanya sedikit
“Kalian pacaran?”
“Gak bu nggak kami gak pacaran kok cuman temen aja beneran.” jawab Cia cepat sambil mengangkat tangan dengan jari-jari membentuk huruf V.
“Terus kamu kenapa memilih masuk kelas IPS? karena ada Fauzan kan?”
Gadis remaja itu mengangguk pelan.
“Belajar yang benar jangan mikirin cinta-cintaan dulu.” Yana memberi nasehat diikuti oleh Cia mengangguk tanda setuju.
Yana meninggalkan siswinya itu menuju kantor guru, Fauzan dan Cindy Ayuni bersaing ketat dalam pelajaran, mereka selalu bergantian memegang nilai tertinggi sejak kelas sepuluh dan Cia selalu terlihat mengikuti kemana pun Ozan pergi.
Ozan tak pernah melarang Cia mengikutinya bahkan Ozan selalu berlaku baik padanya namun entah alasan apa Ozan tak pernah menerima cinta Cia.
Lamunanya kembali pada Raja sejak acara seminar itu selesai tidak pernah sekalipun dia bertemu lagi dengan Raja, itu memang harapannya namun penggalan-penggalan kisah dengan Raja sering terlintas di kepalanya akhir akhir ini.
Yana jelas pernah merasakan yang Cia rasakan sekarang ini di masa lalunya, Hanya saja Yana tak pernah terang terangan mengatakan menyukai Raja seperti yang Cia lakukan pada Ozan sekarang.
Saat itu Yana memilih masuk fakultas ekonomi mengikuti Raja yang sudah masuk setahun lebih awal darinya memenuhi janjinya pada Raja. Yana juga mengikuti semua kegiatan kampus yang di ikuti Raja.
“Mas Doni Maaf.” Gumamnya lirih, Yana selalu merasa bersalah pada Doni saat mengingat Raja.
➰➰to be continue➰➰
♥️jangan memaksa diri berubah demi kesenangan orang lain〰️
🙄salah paham terus kapan taunya yana masih single?
😊nanti ya jika waktunya telah tiba hihihihi
__ADS_1
〰️tetap semangat jangan lupa bahagia jangan lupa syenyummmm😊〰️