Dia Yang Kembali Datang

Dia Yang Kembali Datang
Pusing Abang Dek part 2


__ADS_3

☕️☕️☕️


Semua ada resikonya, mungkin saja setelah ini gadis pujaan hatinya tak akan pernah lagi mau menemuinya karena Raja sudah lancang mengatakan ingin melamar pada ayah gadis itu tanpa persetujuan dari gadis itu.


Tak ada satu telpon pun darinya yang Yana angkat pesan juga hanya dibaca saja entah dimana gadis itu sekarang.


Yana benar-benar membingungkan Raja. Kadang ia begitu manis dan kadang juga ia begitu dingin, Sangat susah di tebak.


“Yana baru saja gagal menikah, dia masih trauma jangan terlalu memaksa.” Ucapan bu Nur saat Raja akan meninggalkan rumah Yana tadi mengiang di telinganya. Apakah mungkin bu Nur tau tentang dirinya dan Yana.


“Bapak sih, orang kemarin baru putus hari ini di ajak jadian. Emang bapak kira hati wanita kos-kosan, pas kosong isi lagi.” Ucapan Tita kemarin juga ada benarnya.


Raja menyadari diri betapa bodohnya ia yang tak paham kondisi Yana, sejauh ini Ayana sudah bisa diajak bicara berdua saja seharusnya ia sudah sangat bersyukur.


“Maksud mamak kenal aja dulu kau sama Yana itu, jan dulu yang lain-lain tunggu dia sembuh dulu dari lukanya sedih lho bang ditingal nikah.” Ucapan mamak juga melintas di kepalanya, apa hanya dia yang tak peka dengan keadaan Yana.


Dengan kepala yang pusing delapan keliling Raja melajukan kendaraannya menuju sekolah anak-anaknya, menjemput mereka satu persatu dan berencana untuk segera pulang.


Mamak sudah tak bicara banyak padanya sejak kemarin sore, bapak bahkan tak mau ikut campur dengan keadaan yang ada.


Raja masih saja tak berani untuk jujur pada mamak bahwa Yana yang mamak maksud adalah wanita yang Tita bicarakan, jika kabar dari Tita saja bisa membuat mamak yang biasa bisa mengeluarkan dua ribu kata perhari sekarang menjadi lebih diam.


Bagaimana Jika mamak tau kebenaranya bisa saja namanya dicoret dari daftar warisan kebun sawit mamak yang tak terhingga luasnya. Atau yang lebih mengerikan lagi di coret dari daftar calon penghuni surga dari mak Duma.


“Yah kita langsung pulang kan, kata opung mau masak enak untuk di antar kerumah tante Yana.” Ucap Lala sambil menaik turunkan alisnya.


Entah apa maksud gadis kecil itu minta duduk di depan bersamanya kali ini, bahkan Lala memberi Lulu sogokan susu dan permen untuk membuat Lulu pindah ke belakang.


“Em..” jawab Raja malas.


“Usaha ayah udah sejauh mana.” Tanya Lala lagi.


Raja tak berniat menjawab pertanyaan Lala Raja hanya diam dan kemudian melirik kursi belakang, Lulu sudah hampir tidur dengan susu di tangannya, begitu juga dengan Lili yang terlihat mengantuk.


“Lili ngantuk,” Tanya Raja pada anak keduanya itu heran. Si banyak bicara bisa diam itu adalah hal langka.


“Iya, lemes bestie semalam Lili ga tidur setelah minum kopi atok setengah gelas.” Jawab Lili lemas.


“Besok-besok jangan diulangi ya.” Jawab Raja lembut.


“Sok tua kau, minum kopi.” Jawab Lala mengejek.


“Ompong aja bisa minum kopi kakeknya.” Jawab Lili masih lemas.


“Terus mau kau ikuti, bucin.” Ucap Lala.


“Bucin apa kak.” Tanya Lili serius.

__ADS_1


“Budak cinta, mikir mu jadi mau sama-sama kek dia semuanya.” Ucap Lala sambil melirik ayahnya.


Raja yang sadar sedang di beri lirikan maut oleh Lala langsung memotong pembicaraan anak-anaknya.


“Tidur aja nanti ayah bangunkan kalau sudah sampai dirumah.” Ucap Raja sambil melirik Lili dari kaca spion depan. Dan Lili benar-benar tidur setelahnya.


“Jadi usaha ayah udah sejauh mana.” Tanya Lala lagi, Raja pikir Lala sudah lupa tapi kenyataannya malah lebih parah, anak itu bahkan sudah merubah posisi duduknya menghadap Raja.


“Usaha apa,?” Tanya Raja seolah tak paham maksud Lala.


“Besok hari terakhir ya yah, atau aku yang bilang sama opung.” Ungkap Lala gamblang membuat mulut Raja ternganga.


Raja tak berniat menjawab ocehan Lala ia turus saja melajukan kendaraan untuk segera pulang.


Raja ingin cepat sampai kerumah dan menemui bapak, karena hanya bapak harapan satu-satunya untuk mencari solusi masalah ini. Dan semoga bapak mau membantu.


☕️☕️☕️


“Menurut El ga salah yah, kalau udah jodohnya mau gimana.” Ucap Elita pada pak Ahmad setelah pak Ahmad menceritakan semua yang baru saja terjadi.


Setelah kepulangan Raja pak Ahmad bergegas menelpon anak dan menantunya untuk segera berkumpul di rumah sebelum Yana pulang.


Ali bahkan datang masih dengan menggunakan seragam latihannya, karena berpikir masalah yang sedang terjadi sangatlah besar.


“Adam juga cerita kak Yana mengantarkan anak bang Raja itu kerumah sakit saat ayah mereka sakit, kalau kakak gak punya rasa pasti kakak gak akan melakukan itu yah.” Ali dengan ragu-ragu mengeluarkan pendapatnya.


Putri terlihat ragu untuk menjawab, tapi anggukan kepala bu Nur kepadanya membuatnya buka suara.


“Kakak suka nyeritain bang Raja sama anak-anaknya.” Jawab Putri takut.


“Wah banyak hal yang terlewatkan ni sejak aku kerja di bawah tekanan mertua.” Ucap Putra asal, dan di hadiahi pelototan mata dari Uthi.


“Putra, ayah serius.” Pak Ahmad menatap anaknya dingin.


“Aku rasa ga masalah yah,” Ucap Ali lagi, meskipun posisinya menantu pak Ahmad biasa banyak bertukar pikiran dengannya. Sehingga Ali cukup berani mengatakan pendapatnya.


“Tapi dia duda anak tiga Li.” Jawab pak Ahmad masih tak terima.


“Lebih baik duda anak tiga, daripada orang kaya yang tak punya hati.” Jawab bu Nur sinis.


“Ayah tidak mau dia jadi pembantu tukang, mengurus anak di rumah laki-laki itu nanti Nur.” Ujar pak Ahmad sunggung-sungguh.


“Ga mungkin yah, kakak kan kerja. Bang Raja juga bukan orang susah yang ga bisa bayar orang untuk asisten rumah tangga.” Putra memberi pendapat.


“Bang Ali sudah menyelidiki semua yah, bang Raja orang baik dia dosen dan sudah mapan.” Ucap Elita menjelaskan apa yang ia ketahui.


“Keren banget abang ipar gue, enak ya bang punya kekuasaan.” Putra kembali khilaf.

__ADS_1


“Putra.” Ucap pak Ahmad dan bu Nur bersamaan.


“Ehh iyaa maaf-maaf.” Ucap anak bungsu pak Ahmad itu.


“Aku setuju juga yah, tinggal tanya kakak kalau dia mau ya lanjut, iya kan bu.” Tambah putra lagi.


“Ibu setuju, gapapa duda yang penting otaknya waras dan mamanya baik, tapi ibu harus ketemu mamanya terlebih dahulu.” Ucap bu Nur.


“Aku pikir semuanya akan baik-baik aja, tak ada yang perlu dikhawatirkan.”


“Aku pamit duluan ya.” Ucap Ali dengan senyum yang sulit di artikan, dan ia pergi begitu saja setelah menyalami ayah dan ibu mertuanya.


“Ayolah yah buka hati ayah demi Yana,” ucap bu Nur saat semua anak-anaknya sudah bubar.


“Aku takut Yana kecewa lagi Nur.” Ucap pak Ahmad sambil memegang kepalanya yang terasa berat.


☕️☕️☕️


Yana akhirnya setuju mengikuti mak Duma dengan perjanjian ia akan ikut membantu mak Duma masak untuk makan bersama.


Gadis itu memasuki rumah yang tampak sepi, hanya ada bapak yang entah sedang apa di kolam belakang rumah dan wak Mar wanita berusia sekitar empat puluh lima tahun yang mak Duma kenalkan sebagai orang yang membantu anak dan cucunya di rumah.


“Ginilah nak ku rumah duda ya kan, alakadarnya.” Ucap mak Duma merendah.


Rumah itu luas dan terlihat mewah di bagian bawah yana melihat ada dua kamar, Yana juga sempat melirik ke atas yang juga tampak luas.


Hanya saja rumah itu memang terlihat tak ada sentuhan wanita, hanya ada dapur sederhana meski juga berukuran sangat luas.


Ruang tamu kosong tanpa sofa, di ruang keluarga ada ambal tebal terhampar begitu saja dengan televisi yang juga sangat besar menggantung di dinding.


Sedangkan yang lain tak ada, jangankan untuk lukisan dinding atau guci guci indah layaknya rumah mewah lainya foto keluarga saja tak ada tergantung di rumah itu.


Yana sedikit was-was bagaimanapun juga ia belum kenal betul siapa mak Duma, ia tak melepas tas ranselnya.


matanya melirik ke pintu depan yang terbuka lebar, jika ada hal yang mencurigakan ia siap berlari keluar. Begitu pikirnya.


Yana langsung diajak ke dapur dan di persilahkan duduk di kursi meja makan, mak Duma mengambil satu minuman kaleng dari kulkas dan memberikan pada gadis itu.


“Ada niat hati mamak mau ngisi barang-barang rumah ini, tapi nanti aja lah kalau Raja udah punya istri biar istrinya yang mengisi sesuai seleranya kan.”


Ucapan mak Duma membuat mata Yana terbelalak. Raja, nama itu membuatnya gemetar. Apakah Raja yang mak Duma maksud adalah Raja yang ia pikirkan.


“Assalamualaikum” Suara nyaring tiga anak kecil memasuki rumah itu dan membuat udara yang masuk ke paru Yana terasa tak cukup.


☕️☕️To be continue☕️☕️


☕️halo rakan selamat berhari senin selamat beraktifitas jan lupa bahagia jan lupa syemyummmmmm 😊😊

__ADS_1


__ADS_2