
💚💚
Ada ungkapan yang mengatakan kasih ibu sepanjang masa, begitu juga pada mak Duma meski kata-katanya selalu tanpa saringan dan memikirkan perasaan anak-anaknya mak Duma tetaplah jadi wanita tersayang untuk Mahara Mahrani Dan pak Azis suaminya.
Sejak kemarin Mak Duma sudah mempersiapkan bekal untuk anak dan cucunya beberapa hari kedepan, seperti bumbu nasi goreng siap pakai, dan rendang daging yang bisa Raja panaskan saat akan di makan.
Ada juga beberapa jenis cemilan untuk anak dan cucunya itu, beberapa box jelly dan puding coklat serta ada juga lapis legit dan bika ambon, yang sudah tersusun rapi dalam lemari pendingin.
Setidaknya beberapa hari kedepan perut anak dan cucunya itu terjamin bahwa usus mereka akan bekerja dengan sangat bahagia.
Senin pagi ini sesuai rencana dan juga tiket pesawat yang sudah Raja beli untuk kedua orang tuanya yang akan pulang ke kampung mereka pagi ini.
Sepasang sejoli yang selalu terlihat saling mencintai meski yang satunya banyak diam dan yang satunya tak berhenti berbicara pagi itu sudah siap dengan kopernya, yang saat datang hanya satu dan saat pulang begini menjadi dua dengan satu tas jinjing.
Tidak mutlak bertambah seluruhnya milik kedua sejoli itu karena untuk pak Azis hanya ada satu baju kaos polo lengan pendek berkerah yang bertambah dan sebuah buku tentang beternak ikan yang Raja beli saat mereka ke toko buku beberapa hari lalu.
Dan tanpa dijelaskan semua orang juga sudah tau barang-barang milik siapa yang bertambah sampai membuat koper mereka beranak-pinak begitu.
“Makasih ya opung isi kulkasnya jadi rame.” Ungkap Lala bahagia sambil memeluk wanita yang memakai jilbab syar’i berwarna merah hati itu dengan penuh sayang.
“Sama-sama sayang jaga adik-adikmu ya ayahmu juga kau jagakan jan sampe kambuh lagi penyakit ga gunanya itu.” Ucap mak Duma sambil melirik Raja.
“Teros aja mak teros.” Jawab Raja sambil menyeret satu koper dengan tangan dan sebelah tangannya lagi mengangkat tas jinjing yang juga isinya penuh.
Pak Azis yang mengikuti dari di belakang hanya bisa geleng-geleng untuk pak Azis suara yang keluar dari mulut mak Duma adalah semangatnya untuk tetap hidup dan kebahagiaannya.
“Atok talnya jadi banyak malen tatu kan?” Tanya Lulu yang melihat atoknya juga menyeret sebuah koper.
“Iya kemarin satu kenapa sekarang jadi tiga.” Lili menimpali.
“kemarin belum lahir anaknya sekarang uda ada anaknya, sebulan opung mu disini Tanah abang dibawanya pulang ke medan sana atok rasa.” Jawab pak Azis sambil lalu.
“Jan kelen dengar atok kelen tu, bakal baju nya itu yang banyak, untuk jahitan opung.” Ungkap mak Duma meluruskan dan memang benar begitu adanya walaupun tak benar semuanya.
“Bakal baju tu pa?” Tanya Lulu penasaran.
“Kain untuk jahit baju dek.” Jawab Lala pada adiknya.
“Yuyu mau pung jait gamil ya.”
“Gamis dek Gamis Pake S bukan L, Abaya ya opung Lili mau juga kayak yang punya artis ya pung.” Jawab Lili membenarkan pengunaan hurup pada adiknya dan juga minta dijahitkan untuknya.
__ADS_1
“Ya gamil.”
“issssss dibilang pake S bukan L.”
“Recok kali pun ah masih bocah kelen udah tau abaya segala.”
“Makanya kakak nonton Tv lah.” Ucap Lili sengit.
“Ga sempat aku banyak kerjaanku.” Jawab Lala tak kalah sengit.
“Udah Yok lah nanti telat sekolahnya, Nanti opung jahitkan empat ya satu seorang kelen.” Jawab mak Duma sambil menyuruh cucu-cucunya masuk ke mobil.
“Satu lagi untuk siapa.” Tanya Lala yang sudah duduk di sampingnya.
“Untuk yang ngawani nenek makan waktu di rumah sakit kak, nanti biar ayah kelen yang antar ke tempat dia kerja, Ya Ja tolong kau antarkan nanti."
“Kau bilang aja dari bu Duma kenal dia itu, sekalian untuk kado pernikahan.” Ucap mak Duma panjang lebar.
“Ga usah lah mak, tah apa pun ga kenal pun tah apa-apalah mamak ni.” Jawab Raja setenang mungkin walau hatinya sudah mulai kacau balau ingin pecah lagi.
“Kau ga kenal, mamak kenal. Pokoknya nati mak kirim sama baju anak-anak ni tolong kamu kasihkan samanya.”
Raja menarik nafas dalam sambil melajukan kendaraannya menuju sekolah putri-putrinya dengan pak Azis duduk di sampingnya.
Setelah menurunkan anak-anaknya di sekolah Raja melanjutkan kendaraan menuju bandar udara soekarno hatta untuk mengantarkan mamak dan bapaknya yang akan pulang menggunakan pesawat pukul 11.00 wib.
➰➰➰➰♥️♥️♥️♥️
Waktu berlalu, ini sudah bulan ketiga setelah hari pertunangan Yana dan Doni dan tersisa tiga bulan lagi untuk hari pernikahan mereka akan dilangsungkan.
Mama Jelita memasuki ruang kerja pak Anggara dengan wajah cemberut dan langsung menghempaskan disi pada sofa bed empuk yang berada di ruangan itu.
Doni dan pak Anggara hanya melihat dan kembali melanjutkan pembicaraan mereka tentang salah satu pabrik sarung yang meminta mereka mengirim benang kualitas tinggi.
Seorang pria mengetuk pintu lalu masuk membawa segelas jus jeruk dingin dan menyerahkan pada mama Jelita.
“Jeruknya udah di cuci kan sebelum di oleh.” Tanya mama Jelita pada pria paruh baya itu.
“Sudah bu dengan air panas seperti perintah ibu.” Jawab pria itu lalu permisi dan meninggalkan ruangan itu.
“kenapa sih ma masih pagi udah cemberut aja.” Tanya pak Anggara pada istrinya setelah menutup berkas berkas yang ia kerjakan tadi.
__ADS_1
“Tuh calon istri Doni belagu banget gak mau nemenin mama ke arisan berlian nanti sore.”
“Yana kan mengajar les sore ini ma.” Doni terdengar membela kekasih hatinya.
“Mama harus ngerti juga dia kan juga punya kegiatan ma.” Tambah pak Anggara membela calon menantunya itu.
“Biasa juga mama pergi sendiri kan.” Kata pak Anggara lagi dan berpindah duduk di sebelah istrinya itu.
“Mama tu ngajak dia biar dia terbiasa pa, biar nanti ga malu-maluin kalau udah jadi menantu kita, mama juga sekalian mau ngeliatin ke teman-teman arisan mama, cincin berlian yang mama beli untuk Yana.”Ucap mama Jelita tanpa sadar masih ada Doni duduk di kursi depan meja kerja pak Anggara.
“Mama, Cukup ya ma cukup aku udah cape banget ma ngebujuk Yana untuk ikutin semua kemauan mama, tadinya aku pikir mama bener-bener perlu teman untuk ke acara arisan itu.”
“Tapi ternyata, mama mau bawa Yana untuk dipamerkan,”
“Dia calon istri Doni ma bukan barang pajangan.” Ucap Doni dengan suara keras sambil berdiri dari duduknya dan membuat tante Jelita bertambah marah.
“Kamu bentak mama? Kamu bentak mama cuma gara-gara perempuan tua itu, yang baru jadi calon istri belum jadi istri Doni belum, tapi kamu udah belain dia dan bentak-bentak mama.”
“Kamu lupa siapa yang lahirkan kamu? kamu lupa siapa yang besarkan kamu hah..!” Ucap Mama jelita tak kalah menyeramkan sambil berdiri dari duduknya dan menunjuk-nunjuk wajah Doni.
Doni mengusap kepalanya dari kening hingga pundak dengan kedua tanganya dan kembali terduduk.
“Maaaa Doni Mohon jangan ganggu dia lagi.” Mohon laki-laki itu pada mama jelita yang juga sudah kembali duduk di sofa.
“Sudahlah ma, kenapa harus di bahas masalah umurnya Doni sudah suka apa salahnya. Ucap Pak Anggara menengahi istri dan anaknya.
“Salah dong Pa, salah. Nanti kalau dia tidak bisa punya anak bagaimana dia juga keras kepala tidak setuju berhenti bekerja setelah menikah nanti.”
“Kalau dia sibuk terus bagaimana mau punya anak, Kita perlu keturunan pa.” Ucap mama Jelita yang memang belum sepenuhnya menyukai Yana ditambah dengan Yana yang akhir-akhir ini banyak mengelak dari aturan-aturan yang ia buat
Seperti cek up rutin kesehatan yang hampir dua minggu sekali, dan juga perawatan diri kesalon yang setiap minggu.
Menurut Yana dua hal itu tidak penting dan hanya buang-buang uang saja, sejak kecil hingga setua itu ia hanya ke dokter saat sakit saja dan juga perawatan diri kesalon hanya akan ia lakukan saat badan sedang lelah dan butuh dimanjakan saja.
“MAMA CUKUP.” Ucap Doni tersulut emosi kembali.
“KAM….”
“Jelita diam, Dan kamu Doni keluar kembali ke ruangan kerja mu.” Ucap Pak Anggara memotong perkataan Jelita.
➰➰To be continue➰➰
__ADS_1
♥️Semua ibu di dunia menginginkan yang terbaik untuk anaknya.
〰️Jangan lupa bahagia rakan, jan lupa juga makan sahur yang banyak karena emosi buruh tenaga juga hihihi 🤭🤭 dan juga jangan lupa senyummmmmmmmm 😚〰️