
💚💚
seburuk apapun keadaan yang manusia rasakan tetap saja harus di lewati meski pagi cerah terasa seperti mendung hitam bukankan tetap ada secercah cahaya yang bisa menerangi.
begitu juga pagi Raja hari ini semua terasa sulit kepalanya yang terasa sakit karena kurang tidur tidak mengurungkan niatnya untuk tetap lari pagi setelah subuh setidaknya untuk meringankan sedikit beban pikiran.
Lala yang tidak menanyakan sepatah katapun perihal berita dari Lili yang membuatnya tersedak justru membuatnya merasa bersalah pada anaknya yang sudah mulai tumbuh remaja itu.
Selesai lari pagi seperti biasa Raja membuat sarapan untuk ketiga putrinya, dan naik ke lantai atas untuk melihat ketiga putrinya itu.
Lulu yang sedang dibujuk oleh Lala untuk memakai seragam olahraga, sedangkan Lulu maunya memakai seragam warna ungu.
Lili yang mendekat dengan membawa sisir dan dan dua buah karet pita rambut warna merah minta rambutnya diikat.
Tiga gadis itu memang memiliki rambut panjang walaupun susah mengurusnya Raja tetap mempertahankan anak-anaknya berambut panjang.
Sejak Mia masih hidup Raja sudah sering membantu membereskan anak-anaknya di pagi hari dan menemani anan-anak saat hendak tidur. Hal itu juga yang membuat Raja tidak terlalu kerepotan mengurus tiga buah hatinya itu sendiri.
“Lulu seragamnya memang olahraga hari ini.” Raja mengingatkan.
“Tapu Yuyu mau yang ungu.” Jawab Lulu dengan mulut mengerucut.
“Lulu di pakein baju biasa aja La biar dia ikut Ayah lagi hari ini.” Perintah Raja pada Lala yang hanya di tanggapi dengan anggukan oleh anak itu.
“Ini kenapa dua ikat rambutnya.” Ucap Raja pada Lili yang memberikan dua buah karet pita rambut padanya.
“Aku mau ikat dua yah biar gak dipanggil kuncir kuda sama si ompong.” Jawab gadis itu.
Raja mulai menyisir rambut Lili yang sudah hampir sepinggang itu dan mulai membelah rambut gadis kecil itu terbagi menjadi dua bagian serta sudah mengikat satu bagian, Lili berubah pikiran.
“Yah satu ajalah gak jadi dua,” Ungkap gadis itu.
“Kenapa,”
“Kan hari ini ompong ga sekolah bundanya di lamar orang, gak nampaknya juga nanti kalo aku ikat rambut dua, besok-besok ajalah ikat duanya.”
Tanpa Lili sadari kata-kata tanpa dosa yang keluar dari mulutnya membuat hati Raja yang pagi ini sudah sedikit lebih baik kembali terasa nyeri.
Perubahan wajah Raja jelas terlihat di mata Lala yang sudah menebak-nebak apa yang terjadi pada ayahnya.
“Kau gak di undangnya Li.” Tanya Lala pada adiknya itu.
“Ga, katanya acara orang tua,” Jawab Lili pada Lala. “Lamaran itu apa yah.” Tanyanya lagi pada Raja.
__ADS_1
“Apa juga kelen bestie masa ga diundang.” Ucap Lala mencibir.
“Lamaran itu berarti bunda kawan mu itu mau nikah,” Sambung Lala.
“Iya yah.?” Tanya Lili kembali.
Raja hanya mengangguk membenarkan pernyataan anak sulungnya.
“Oh bererti bunda si ompong mau punya suami ya.” Ucap Lili kembali tanpa dosa yang membuat ayahnya kekurangan oksigen seketika.
“Tau-Tau kali pun anak kecil suami dengar dimana tu, udah turun sarapan biar sekolah.” Ucap Raja yang kepalanya sudah hampir pecah sambil meraih Lulu dalam gendongannya dan mencium pipi gadis kecil itu berkali-kali.
Lulu yang memakai celana jeans dan baju kaos warna pink serta rambut yang sudah diikat oleh Lala itu terlihat menggemaskan.
Saat mengantar dua putrinya sekolah tak banyak yang Lala bicarakan gadis itu lebih banyak diam dan hanya mengangguk atau menggeleng jika Raja bertanya, Sedangkan jika dengan LIli dan Lulu gadis itu tetap saja banyak bicara seperti biasa.
“Dek jan mau kau pangil mami tante yang kawan Ayah tu ya.” Kata Lili pada Lulu.
“Ya dek ga tukak tama dia pipinya ada clayon kan.” Jawab Lulu sambil mengingat wajah masyitah yang selalu menggunakan blush on berwarna merah pada pipinya dan menurut Lulu itu adalah crayon yang biasa ia pakai untuk mewarnai namun di pakai di pipi oleh sekretaris ayahnya itu.
“Bagos jan dekat-dekat kau sama dia.” Ucap Lili.
“Napa kak jaat dia ya.” Tanya Lulu semangat.
Setelah mengantar dua putrinya, Raja sempat berhenti di depan SMA Binaan satu beberapa menit, nyeri dan sesak terasa di dadanya namun bukankah kebahagiaan orang yang kita cintai jauh lebih penting dari keegoisan kita sendiri.
“Selamat Ay… semoga bahagia.” Gumam Raja sebelum melajukan kemderaannya menuju kampus Anak Harapan Bangasa tempatnya mengajar.
Harapan untuk mendapatkan Yana kembali sudah tidak ada dan harus sudah berakhir seperti ini bahkan di pertemuan kedua pun dia tak memiliki kesempatan untuk hidup bersama Yana.
Saat memasuki ruangan dosen sudah terlihat ada masyitah sekretarisnya yang memakai rok jeans ¾ dengan kemeja warna pink dan rambut yang juga diikat.
“Eh chalon anak mamih datang lagi,” Sapa masyitah sekertaris Raja sambil mencolek pipi gembul Lulu yang terlihat menjaga jarak, mungkin efek nasehat kakak-kakaknya tadi.
“Jan,” Jawab Lulu sambil menepis tangan sekretaris ayahnya itu.
“Ihu anak mamihh kok galak sih, kitah samaan lho bajunya udah cocok banget kamu jadi anak mamih.” Jawab gadis muda itu.
“Sita kalau kamu suka sama orang terus orang yang kamu suka dilamar orang bagaimana?” pertanyaan absurd keluar dari mulut Raja yang membuat sekretarisnya tersipu malu.
“Tittah belum ada yang lamar kok pakhh.” Jawab titah malu-malu.
“Bukan kamu, saya tanya pendapat kamu.” Jawab Raja dingin.
__ADS_1
“Ih bapak buat hati Tittah dag dig dug serrr ajah dehh.”
“Ucaphin shelamat dhong pakh semogah bahagia gituh,”
“Biar ga keliatan ngeness,” Ucap Tita sambil mengedipkan kedua matanya.
“Masih bisa dikhejar sih pak kan jhanur khuning belum melambhai tendha biru jugah belum berkibhar.”
“Taphi buat apah dikejhar lagih khan adah Tittah pak disinih.” Tita memberi pendapatnya.
“Iyakan chalon anak mamih.” Ucap Masyitah sambil melirik pada Lulu yang disambut dengan pelototan mata bulat Lulu yang justru menggemaskan.
Raja mengutuk diri menyesal bertanya pada orang yang salah seharusnya tak perlu Ia tanyakan hal sebodoh itu pada sekertris anehnya itu.
“Dimana kelas saya,” Tanya Raja mengakhiri argumen-argumen Sita yang membuat harinya tambah berantakan.
“Ghedung C rauang tigah pak.”
“Jaga Putri saya dengan baik, jangan ajari hal yang tidak-tidak dan jangan ajari dia memanggil kamu mami kalau kamu tidak mau saya pecat.”
Sita hanya menganggukan kepala.
“Tinggal sama kak Tita sebentar ya sayang jangan nakal ayah ngajar sebentar aja.” Ucap Raja pada Lulu sambil mengelus lembut kepala putrinya dan di angguki oleh Lulu tanda setuju.
Saat sudah keluar dari ruangan itu Raja kembali masuk menemui sekretarisnya.
“Sita.” Raja menjeda sebentar kalimatnya.
Suara Raja mengejutkan Sita yang baru saja memberikan dua lembar HVS dan pulpen pada Lulu dan mendudukan gadis kecil itu tepat di sampingnya.
“Ih ayahnya calon anak buat kaget aja.” Dan ternyata saat terkejut Sita bisa bicara normal tanpa ada embel-embel tambahan huruf H.
“Cari nomor kontak peserta yang mengikuti seminar ekonomi yang diadakan untuk para guru beberapa bulan lalu.” Ucap Raja.
“Semua peserta pak,” Tanya gadis itu.
“Tidak usah cukup yang berasal dari SMA Binaan satu saja.”
“Selesai saya mengajar kamu sudah harus dapat nama mereka lengkap dengan nomor hpnya, Paham.” Ucap Raja dan keluar begitu saja tanpa menunggu jawaban Tita.
➰➰To Be Continue➰➰
♥️Ada yang punya nomer hp guru ekonomi SMA Binaan satu ga? ayo bantu Tittah.
__ADS_1
〰️Tetap semangat rakan jangan lupa bahagia jangan lupa syenyummmm😊 dan jangan lupa sahur untuk yang menjalankan ibadah puasa karena patah hati juga butuh tenaga〰️