Dia Yang Kembali Datang

Dia Yang Kembali Datang
Typing pesan dari Ayana


__ADS_3

Sesui ketetapan waktu, jika saatnya sudah bertemu maka akan bertemu sekuat apapun cara manusia mengelak.


Tatapan laki-laki itu tertuju pada seorang gadis yang pernah menjadi bagian hidupnya bahkan sudah ia rancang sebagai masa depanya.


Wanita itu duduk di kursi tunggu UGD bersama dengan seoarang laki-laki yang juga ia tau siapa laki-laki itu meski tak saling tau siapa mereka untuk wanita itu.


Sepasang laki-laki dan perempuan itu duduk di antara tiga anak kecil, dua anak perempuan dan satu anak laki-laki yang juga ia tau siapa anak-anak itu.


Ada rasa kecewa yang bertambah berat dengan luka yang kembali terbuka seolah di siram air mendidih, panas dan menyakitkan.


Andoni Raman Anggara, hari ini adalah hari pertamanya kembali ke Jakarta secara terpaska setelah beberapa bulan meninggalkan kota itu.


Keharusan hadirnya di perusahaan membuat Doni mau tak mau harus kembali ke Jakarta.


Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak itulah yang pengusaha muda itu rasakan ketika mobil Mercedes Benz SLC-Class 200 miliknya menyerempet sepeda motor seorang ibu-ibu.


Awalnya pak Anggara mengirimkan sebuah mobil lengkap dengan supir, namun Doni malah menyuruh supir itu pulang.


Doni memilih mengendarai mobil itu sendri dan berencana menuju sebuah apatrment yang juga sudah pak anggara siapkan untuknya.


Laki-laki paruh baya itu juga sudah berjanji bahwa kedatangan Doni ke kota ini tak akan di ketahui oleh jelita, istrinya.


Tak ingin lepas dari tanggung jawab Doni menelpon papanya dan meminta orang suruhan pak Anggara untuk menganti sepeda motor milik ibu yang ia tabrak itu dengan yang baru.


Sedangkan dirinya memilih mengantar ibu itu ke rumah sakit terdekat, namun apa daya niat baiknya malah menjadi bumerang diri saat ia melihat Pemandangan tak terduga di depan matanya, definisi keluarga bahagia yang sesungguhnya.


Doni melihat dengan mata kepalanya Yana berbicara dengan rona wajah bahagia mengimbangi dua anak kecil, seorang anak laki-laki dan perumpuan yang usianya tampak sebaya.


Sesekali Yana tersenyum ke arah anak perempuan yang usianya lebih besar, bener-benar pemandangan keluarga bahagia selayaknya yang pernah ia angan-angankan bersama Yana.


“Begitu cepatkah aku tergantikan Yana, atau mungkin kamu memang sudah punya rencana akan kembali pada laki-laki itu sejak sebelumnya.” Monolog Doni dengan dugaan-dugaanny untuk Yana yang belum pasti benar adanya.


“Maaf, mas yang bertangung jawab atas pasien yang kecelakaan tadi.” Tanya seorang perawat memecah lamunya yang menatap tajam ke arah kursi tunggu depan UGD itu.


“Eh, ia sus.” Jawab Doni pada suster yang bertanya itu.


“Sus maaf apakah angota keluarga dari pak Mahraja yang duduk disana ada yang sakit.” Tanya Doni sambil menunjuk ke arah di mana Yana dan Raja duduk.

__ADS_1


“Maaf, itu privasi pasien mas.” Jawab perawat wanita itu pasti.


“Mahraja teman saya sus, jika memang ada keluarganya yang sakit saya berencana menjenguk.” Jawab Doni meyakinkan perawat wanita itu.


“Oh... Tadinya yang menjadi pasien kami pak Mahraja dan beliau sudah boleh pulang sehingga di jemput oleh anak dan istrinya, selebihnya mas boleh tanyakan langsung pada yang bersangkutan.” Jawab perawat wanita itu menjelaskan.


Bak petir di siang bolong, istri. Jadi dugaanya bener bahwa Yana sudah menikah dengan laki-laki itu, dan begitu cepat Yana melupakan kisahnya dengan Doni.


Sejak membelokir nomor ponsel dan semua akses sosial media dengan wanita itu Doni memeng tak pernah lagi ingin tahu kabar Yana, ia juga sudah iklas dengan keputusan yang ia ambil secara sepihak. Karena Doni yakin Yana tak akan menperjuangkanya.


Namun ia tak pernah menyangka Yana bisa secapat itu menerima laki-laki lain di kehidupanya.


Munkin juga sejak dulu kamu sudah ga sabar Yana pisah dari aku. Batin Doni bergejolak.


Namun Doni masih sama, ia tak berani mendekat menampakkan diri didepan Yana, ucapan selamat yang ingin ia sampaikan pun tak berani ia utarakan.


“Mas, tagihan administrasinya di kasir setelah membayar pasien boleh pulang.” Jawab perawat tadi kembali menyadarkan Doni dari pikiran-pikiran yang belum tentu benar adanya.


☕️☕️☕️☕️


Malam itu malam yang sangat menyenangkan untuk Mahraja saat ia mengingat kembali kejadian sore tadi.


Meski sepanjang pertemua itu Yana hanya menjawab pertanyaan Raja dengan jawaban iya dan tidak, hati raja tetap saja bahagia dan berbungga-bungga bak taman bungga yang sedang bermekaran.


Raja membuka dompetnya ada subuah foto yang sudah sejak lama ia simpan rapi disana.


“Mia, nanti abang bawa dia ketemu Mia ya.” Monolog laki-laki itu saat memandang foto almarhumah istrinya yang sedang menggendong Lala saat masih bayi.


Tok tok tok


“Yah boleh Lala masuk.” Ketukan pintu kamarnya di susul suara lembut Lala membuat Raja bergegas menyimpan kembali dompetnya ke atas nakas yang terletak di samping tempat tidur berukuran king size miliknya.


“Boleh, masuk aja kak.” Ucap Raja.


“Kenapa,” Tanya Raja pada putri sulungnya itu sambil menepuk-nepuk tempat tidur di sampingya duduk mengisyaratkan Lala untuk duduk disana.


Lala mendekat dan langsung duduk di atas tempat tidur ayahnya itu.

__ADS_1


“Ayah suka sama tante Yana kan.?” Tanya Lala langsung pda inti permasalahan yang ada.


Raja menatap lekat anaknya. “Kita udah pernah basah ini kan.?” Tanya Raja balik pada gadis kecil itu.


Lala menganggukan sedikit kepalanya, ayahnya benar beberapa bulan lalu ia pernah bertanya soal itu pada ayahnya. Namun tak ada jawaban pasti dari ayahnya saat itu.


“Iya, aku cuman mau pastiin bahwa benar tante Ayana orangnya.” Jawab Lala secara dewasa. Membuta Raja tertawa terbahak-bahak dan mengelus kepala gadis itu.


“Kamu kayak wanita dewasa sedang cemburu aja kak,” jawab Raja merasa lucu dengan Ucapan Lala.


“Ya, kek gitu lah. Nanti kami kan memang harus berbagi ayah dengan tante itu.” Jawab Lala spontan tanpa berfikir terlebih dahulu.


“Ga akan gitu ceritanya. Percaya sama ayah.” Jawab Raja meyakinkan.


“Emm, tapi dia ga keliatan suka sama ayah.” Tanya Lala lagi.


“Doa yang baik-baik aja.” Ucap Raja menjawab pertanyaan Lala yang besar kemungkinan itu benar adanya.


“Lala mau ga kalau tante Yana jadi ibu Lala?” Tanya Raja pada anak itu. Lala kembali diam dan tak menjawab apa-apa.


“Hemmm, mau ga.” Raja memastikan jawabab Lala.


“Suka hati ayah aja lah, aku mau tidur sama ayah disini boleh.?”


Raja masih belum mendapatkan jawaban pasti meski dia sudah terang-terangan jujur pada Lala. Dan Raja tanpak berfikir sejenak, sebelum menjawab.


“Sesekali yah, mungkin nanti kalau tante Yana sudah jadi ibu kami, aku ga akan pernah bisa tidur sama ayah lagi.” Jawab gadis itu lagi.


Raja kembali memeluknya Lala. “Ga la ga akan pernah, ayah ga akan ninggalin kalian.” Ucap Raja menangkan.


“Ayah, bilangin ke tante Yana makasih udah nemenin aku di rumah sakit.” Ucap Lala singkat sambil merebahkan badanya di sisi kiri tempat tidur milik ayahnya.


Raja mengambil ponselnya dan mulai mengerimkan pesan pada Yana yang berisi ucapan terimakasih, tak ada balasan dri wanita itu.


Namun saat ia mengatakan bahwa Lala juga mengucapkan terima kasih, keterangan pada nama Ayana di aplikasi pesan itu . ‘typing’ itu artinya Yana sedang mengetik balasan pesan untuknya dan hal itu membuat Raja tak sabar menunggu pesan apa yang akan Ayana kirimkan padanya.


☕️☕️To be continue☕️☕️

__ADS_1


“Maaf kalau banyak typo ya Rakan, kali ini baca berulang-ulang typonya ga abis-abis 😂


__ADS_2