
☕️☕️
Sudah beberapa hari Mia mengganggu pikiran Raja, selama hidupnya ini adalah kali pertama ia sangat merindukan Mia.
Meski pernikahannya dengan Mia tak berlandaskan cinta namun rasa sayangnya pada Mia sudah ada sejak mamak membawa gadis itu ke rumah mereka dan memperkenalkan sebagai adik.
Sejak saat itu juga ia mengangap Mia dan Rani adalah dua gadis tersayangnya yang harus ia jaga.
Raja sudah berencana pulang ke Medan membawa tiga putrinya berziarah setelah melamar Ayana dan sebelum acara akad.
Namun saat mamak menjelaskan permintaan pak Ahmad ia langsung mencari tiket penerbangan dan sore itu juga memutuskan pulang ke Medan seorang diri.
Pagi itu Raja mendatangi makan Mia dengan satu pot kecil bunga kaktus.
“Mi, insyaAllah nanti abang bawa Yana kesini ketemu Mia ya.” Monolog Raja seolah sedang berbicara dengan Mia.
“Ini kaktus kesukaan kamu, abang izin besok menikah lagi Mi, abang akan berusaha adil antara anak-anak dan Yana.”
Meski tak ada keharusan meminta izin begini, namun hatinya tak tenang jika tak mendatangi makam Mia secara langsung.
Mamak bahkan sempat menangis tersedu saat ia mengatakan hatinya tak tenang jika menikah sebelum meminta izin pada Mia.
Setelah dari pemakaman Raja tak Kembali ke rumah ia langsung menuju bandara kualanamu. Raja sempat mengirim Yana pesan bahwa ia sudah di bandara.
Raja juga sempat mengabari Rani kalau pesawat Perkutut airline yang ia tumpangi mengalami delay satu jam.
Untuk urusan delay Raja tak mengabari Yana, ia tak ingin membuat Yana cemas tentunya.
Namun cobaan datang justru saat ia akan mengirim pesan pada Rani bahwa pesawatnya sudah akan segera berangkat, tanganya tersenggol orang dan ponselnya jatuh.
Dari arah berlawanan seorang laki-laki dewasa berlari terburu buru dan tak sengaja menginjak ponselnya sampai mati total.
Hampir saja Raja marah besar, namun saat bersamaan panggilan dari pengeras suara untuk penumpang segera masuk ke pesawat membuatnya memilih melepaskan laki-laki yang menginjak ponselnya itu.
Setibanya di Jakarta taksi bandara adalah pilihannya untuk menuju rumah Yana, sepanjang perjalanan ia hanya berharap semua akan lancar berjalan sebagaimana mestinya.
Taka cukup samapi disitu perjuangannya ternyata bukan hanya sebatas ponsel yang pecah dan mati total tapi juga taxi yang ditumpangi mengalami pecah ban sekitar 400 meter dari rumah Yana.
Menunggu ojek pun tak kunjung lewat, sabarnya sudah habis saat melirik arloji sudah pukul 16.45 WIB. Mau tak mau akhirnya Raja memilih berlari untuk menuju rumah.
☕️☕️☕️☕️☕️
Ali baru saja mengabari bahwa anggotanya mengatakan tak ada masalah di penerbangan yang Raja tumpangi dan tak lama setelah itu berdiri sosok laki-laki yang mereka semua tunggu-tunggu di depan pintu.
“Assalamualaikum” Ucap Raja dengan nafas pendek-pendek oxygen terasa tak cukup ke parunya.
“Kau ya, mau kau buat mamak mu ini mati hah.” Mak Duma orang pertama yang menghampiri dan memukuli anaknya itu, tanpa perduli kondisi Raja yang wajahnya sudah seperti kepiting rebus.
“Mak, malu.” Rani datang melerai, jika biasa Ranai tak akan peduli saat mamaknya berekreasi namun kali ini nama baik keluarganya di pertaruhkan.
Tangis Yana pecah wanita itu terdengar mengucapkan kalimat hamdalah berkali kali.
“La, ambil baju ayah di mobil.” Ucap Rani pada ponakanya.
Setelah acara berpelukan dengan Lili dan Lulu lalu menjelaskan apa yang terjadi akhirnya Raja menumpang di kamar Putra untuk berganti pakaian dengan yang sudah dipersiapkan oleh Rani sebelumnya.
__ADS_1
“Hampir aja bang, abang buat semua orang sakit jantung.” Ucap Putra yang menemani Raja saat itu.
“Maaf Ta, abang gak sempat mikir untuk meminjam ponsel supir taxi tadi.” Jawab Raja jujur.
“Cinta emang gitu bang, suka buat orang waras jadi...” putra tak berani menyambung Ucapannya karena ia tak tau banyak tentang Raja.
“Hahaha yang penting sekarang aku disini, gila dikit gapapa lah.” Jawab Raja santai. dan membuat Putra ikut tertawa.
Elita dan Putri juga membawa Yana kekamar untuk memperbaiki make up nya yang sudah seperti hantu di film komedi, sebelum acara dimulai.
Setelah semua berkumpul pak Azis mempersilahkan anaknya yang bicara sendiri perihal keinginan si anak sulungnya itu.
Raja berdiri merapikan sedikit pakaian menghilangkan gugupnya, untuk pertama kali di sejarah laki-laki melamar anak gadis orang tanpa mandi. Bahkan menumpang ganti pakaian di rumah calon mertua.
Seorang laki-laki lajang saja melamar dengan persiapan matang termasuk mandi dan berdandan, Raja yang berstatus duda anak tiga malah melakukan sebaliknya.
“Ga usah pake mandi aja kak Yana terpesona, yang. jadi pengen nyanyi abang, terpesona aku ter…” Bisik Ali di telinga istrinya.
“Hus jangan ribut ayang bebh.” Ucap Elita kesal.
“Abang dulu pas lamar kamu mandi sampai dua kali, yang.” Ucap Ali tak mau diam.
“Diam ga sih, tidur diluar ya nanti malam.” Bisik Elita mengerikan di telinga Ali.
Kalimat ajaib yang akhirnya membuat Ali, perwira muda itu diam tanpa kata.
Raja menatap ketiga anaknya dan Yana sang pujaan hatinya secara bergantian sebelum memulai kata-katanya.
“Bismillah, Ay. Abang ga bisa memilih waktu yang Allah kasih untuk abang lalui termasuk jodoh.”
“Abang menyebutkan kata kami karena yang akan kamu lalui kedepan bukan hanya perihal bersama abang melainkan kami berempat.”
“Sejauh abang melangkah dan pada akhirnya bermuara di kamu, dan itu membuat Abang Yakin kamu masa depan yang Allah janjikan untuk abang dan anak-anak.” Raja melambaikan tangan memanggil anak-anaknya mendekat pada Raja.
“Pak Ahmad, saya Mahraja ingin melamar anak bapak untuk menjadi istri saya,” Ucap Raja tegas pada pak Ahmad yang duduk di samping Yana.
“Bismillah, saya terima jika Yana menerima,” Jawab pak Ahmad.
Raja kembali menatap Yana, “Ayyana Ahmad maukah kamu menjadi istriku menyempurnakan agama dan hidup bersama kami?”
Mata Yana sudah berkaca kaca, air matanya sudah berjatuhan tak terbendung, wanita memang begitu adanya
Jika satu jam lalu ia menangis karena tak ada kabar dari Raja saat ini justru ia menangis hanya karena ucapan Raja.
“Em, aku mau.” Ucap Yana malu sambil menunduk.
“Alhamdulillah.” Seru semu keluarga yang hadir,
Mak Duma opung tua ajaib si super rusuh bahkan sempat meneteskan air mata, sedang bu Nur sudah menangis tersedu.
Lala dan Lulu berlari memeluk Yana, gadis itu sampai harus duduk bertumpu pada lutut untuk menyamakan tinggi dengan Lulu.
“Sini,” panggil Yana dua kali pada Lili barulah gadis kecil itu mendekat ke arah Yana.
Mak Duma memasangkan cincin di jari manis Yana, emas putih polos yang sangat indah.
__ADS_1
“Yuya da ugak.” Ucap Lulu saat Yana menunjukkan jari manisnya untuk diabadikan dalam sebuah foto bersama Raja oleh Putra.
“Oh ya? Ayo kita foto bersama.” Jawab Yana manis pada anak itu.
“Temua?” Tanya Lulu penuh semangat.
“Semua? Maksudnya?” Tanya Yana bingung.
“Temua temua kita, pung da, bou da, kak la kak li da ugak.” Ucap gadis itu jujur.
“Ayo panggil semua kita foto bersama.” Ucap Yana semangat.
“Maaf Ay, abang belikan juga untuk mereka, abang janji untuk besok abang hanya beli satu untuk kamu saja.” Raja menjelaskan jujur pada Yana, bukan berarti Yana tak spesial untuknya hanya saja Raja merasa semua wanita yang mendapatkan cucin darinya hari ini adalah wanita-wanita tersayangnya.
“Gapapa aku bahagia, makasih abang.” Jawab gadis itu manis.
Hanya ada satu lembar foto mereka berdua sisanya adalah foto Yana dengan tiga anaknya yang memamerkan cincin yang sama dengan berbagai macam model.
Acara akad nikah juga sudah disepakati yaitu esok hari bertepatan dengan hari jumat setelah ashar di kediaman pak Ahmad juga.
Untuk acara pesta pak Ahmad sudah membicarakan dengan Yana namun wanita itu menolak diadakan acara pesta.
“Kenapa ga mau adain pesta?” Tanya Raja pada Yana saat semua orang sibuk menyantap makanan yang tersaji.
“Ga usah lah, ga penting.”
”Abang tanya alasanya Ay.”
“Ga usah aja repot harus ini itu.” Jawab Yana memberi penjelasan.
“Repot atau Aya malu nikah sama abang yang udah punya anak tiga.” Jawab Raja dingin.
“Abang!” Yana menatap ke arah Raja tak kalah kesal dengan ucapan Raja.
“Abang tau apa yang kamu mau Ay, abang tau apa angan-angan kamu tentang pernikahan. Tolong beri abang kesempatan untuk mewujudkan semua kalau memang kamu tidak malu menikah dengan abang.”
Yana terdiam sejenak, “kalau aku yang pilih WO nya boleh?” Tanya Yana ragu-ragu.
“Semau yang kamu mau.” Jawab Raja sambil mengangguk-anggukan kepala.
☕️☕️☕️to be continue☕️☕️☕️
Rakan pembaca : tumben Rajin Up
Aku : lagi Rajin
RP : takut di bombardir ya
aku : emmmmm
Rp : tumben ga gantung?
Aku : 🤒🤒🤒🤒
Jangan lupa bahagia Rakan jan Lupa senyum jan lupa siap-siap seragam bridesmaid RajaYana
__ADS_1