
☕️☕️
Akhir minggu adalah hari yang paling di tunggu-tunggu oleh anak-anak, di tambah dengan hujung minggu kali ini ada atok dan opung mereka yang baru datang dari kota medan.
Hal yang membuat Lili dan Lulu dan takjub adalah opungnya benar-bener pindah tinggal bersama mereka di Jakarta, hal tak terduga yang membuat mereka terperangah.
Itu juga menjadi bukti bahwasanya berita yang Lala sang kakak sampaikan selama ini bukan hanya isapan jempol semata yang bertujuan membuat mereka bahagia sementara.
Pagi itu setelah pulang dari subuh berjamaah bersama bapak di masjid, Raja mengganti pakaiannya dengan hanya menggunakan baju kaos putih polos dengan celana selutut dan juga sepatu olahraga untuk menemani bapak jalan santai keliling komplek perumahan vila biji semangka tempat ia tinggal.
Raja yang memang terkenal ramah menegur siapa saja yang ia temui sepanjang jalan mereka mengelilingi komplek itu, untuk Raja sebagai pendatang atau perantau sangat penting memiliki hubungan baik dengan tetangga sekitar, karena pada saat terjadi musibah atau ada hal mendesak maka tetangga lah orang pertama yang datang ke rumah kita dibandingkan dengan saudara yang tinggal berjauhan.
“Wah ada bang Raja, sejak ada anak-anak jarang keliatan bang?” Sapa pak RT dan Istri yang juga sedang joging.
“Iya nih pak, biasa repot kalau pagi.” Jawab Raja jujur apa adanya.
“Bapak apa kabar, kapan sampai Jakarta?” Tanya pak RT juga pada Pak Azis
Sejak menetap di komplek vila biji semangka memang Raja dikenal dengan sebutan bang Raja karena dia berasal dari sumatra, menurut warga komplek tak enak jika menggunakan sapaan mas.
“Kemarin, pak. mungkin kali ini saya dan mamak si Raja ini akan tinggal agak lama pak RT,” jawab pak Azis memberitahukan keberadaanya dan mak Duma.
Pak RT hanya mengangguk, ia sudah kenal pak Azis, laki-laki paruh baya itu tak pernah absen sholat subuh dan magrib berjamaah di masjid jika sedang berada di rumah Raja, bahkan sesekali pak Azis pernah menjadi imam.
“Makanya menikah lagi atuh bang Raja biar ada yang ngurusin.” Ucap bu RT tiba-tiba sambil mengelus perutnya yang sedang hamil sembilan bulan.
“Ehh maaf bang Raja istri saya suka asal.” Jawab pak RT tak enak.
“Doakan ya bu insyaAllah masih ada yang mau.”
“Gapapa pak, saya sih santai aja.” Jawab Raja pada sepasang suami istri itu lagi.
“Kalau gantengnya kayak bang Raja ini pasti teh masih ada yang mau.”
“Ibu-ibu kalau ngumpul belanja sayur pagi-pagi pembahasanya pasti bang raja.” Ucap bu RT menjelaskan.
“Jadi mama sering ngomongin bang Raja kalau belanja sayur?” Tanya pak RT pada istrinya.
__ADS_1
“Bukan saya atuh pak, itu janda kembang yang tinggal di ujung komplek itu yang sering nanyain bang Raja.” Jawab Bu RT membela diri.
“Yang sudah janda lima kali itu,” tanya pak RT lagi.
“Jangan pulak sama yang udah lima kali bu anak saya masih polos.” Jawab pak Azis santai menimpali kata-kata pak RT dan bu RT.
Jawaban pak Azis sontak membuat pak RT tertawa terbahak-bahak merasa lucu dengan jawaban pak Azis.
“Masih di bawah bimbingan orang tua ya pak.” Ucap Pak RT menambahi.
“Sama yang itu aja bang Raja, yang kemarin itu bang Raja bawa jemput Lulu sekolah.” Cicit bu RT.
“Oh iya, yang kita lihat itu ya ma,” pak RT menambahi.
Ucapan pasangan itu berhasil membuat pak Azis menatap Raja penuh tanya. Dan Raja juga baru sadar bahwa anak Pak RT yang nomor dua juga sekolah di tempat yang sama dengan Lulu hanya saja anak pak RT sudah TK B.
Wajah Raja memerah, ia tak menyangka momen itu dilihat oleh pak RT dan bu RT. Raja mencoba menjawab setenang mungkin bahwa yang bapak dan bu RT itu lihat hanya sebatas teman yang menumpang pulang bersama.
“Tapi cocok pak, gendong Lulu keliatan sayang gitu ke Lulunya.” Ucap bu RT menjelaskan apa yang ia lihat.
“Bapak rasa ada yang aku ga tau ini.” Jawab pak Azis menanggapi.
Raja memang sudah berencana membuat kolam ikan sederhana untuk bapak di lahan kosong belakang rumahnya yang lumayan luas, ia juga sudah membuat gazebo dan tempat meletakkan mesin jahit yang juga langsung berhadapan ke arah kolam ikan itu nantinya.
Raja sudah merencanakan sematang mungkin, untuk membuat bapak dan mamaknya betah tinggal bersamanya.
☕️☕️☕️
Saat sampai di rumah, mamak sudah menyiapkan sarapan pagi, Raja langsung menuju kamarnya bergegas untuk membersihkan diri dan berganti baju bersih.
Saat kembali turun ke ruang makan ternyata semua sudah berkumpul disana, dari tangga paling akhir akhir yang ia turuni Raja mendengar dengan jelas pertanyaan bapak pada Lulu.
“Batul ayah mu pernah bawa perempuan menjemput kau sekolah lu.?”
“Ia tante tantik tu kan.” Tanya Lulu memastikan.
“Siapa namanya.” Tanya bapak ingin tau.
__ADS_1
“Emm tapa kak yu lupa.” Jawab Lulu polos.
“Yang...”
“Makan dulu, bicaranya nanti.” Jawab Raja memotong ucapan Lili si mulut lemas titisan mamak ajaibnya.
“Biasa juga kita makan sambil ngomong-ngomong gapapa kan kak.” Lili membela diri dengan mengajak sekutunya. Namun sang sekutu tak terlihat tertarik dengan pancingan Lili.
“Ja sore nanti mamak mau belanja alat menjahit, jadi basok aja lah kau antar mamak kerumah si...”
“Mak, meja untuk potong kain mamak perlu? biar ku suruh luaskan nanti gazebo itu.” Tanya Raja memotong ucapan mak Duma cepat.
Mamak dengan wajah penasaran menatap Raja penuh tanya, sedang bapak tersenyum yang entah apa artinya, berbeda lagi dengan Lala yang melihat ayahnya dengan ekor mata seolah siap menyerang musuh sampai hanya tertinggal nama.
Setelah sarapan pagi mereka semua menuju gazebo belakang rumah dengan wajah gembira.
“Aku keatas sebentar ngambil laptop biar sambil kerja.” Ucap Raja pada bapak dan mamak.
“Lala juga ke atas sebentar opung ada perlu ucap Lala dan langsung meninggalkan yang lain di gazebo yang sudah bisa di pergunakan untuk bersantai itu.
Dengan ragu Raja melangkah masuk kedalam rumahnya dan langsung menuju kamarnya, saat melewati kamar Lala ia berencana masuk sebentar berbicara pada anak sulungnya itu, namain ia batalkan niatnya karena tak ingin membuat yang lain menunggu terlalu lama.
Raja membuka pintu kamarnya dengan cepat dan betapa terkejutnya laki-laki itu ada Lala yang duduk di kursi meja kerjanya.
“Eh... kak. Ada apa.?” Tanya Raja sedikit bingung meski sudah bisa memprediksi apa yang akan Lala tanyakan. Raja sudah yakin seratus persen bahwa Lala akan menanyakan perihal wanita yang ia bawa menjemput Lulu.
“Aku mau ngomong secara dewasa sama ayah, aku harap ayah jujur sama aku kali ini.” Jawaban Lala membuatnya bertambah yakin akan pertanyaan yang akan Lala tanyakan.
“Apa itu.” Tanya Raja yang duduk di salah satu sudut tempat tidur yang menghadap ke meja kerjanya dimana Lala duduk.
“Yana yang opung cerita, dan Yana yang Lulu cerita serta Yana bunda Adam orang yang sama kan?” Ucap Lala langsung bak menembakkan peluru yang ditembakkan ke jantung dan kepala sasaran secara bersamaan.
“Kalau yang aku tanya benar, apa alasan ayah nutupin itu dari opung.” Tambah gadis kecil itu lagi.
☕️to be continue☕️
☕️halo rakan follow IG ku ya, coretan_nda disana aku post tentang tulisan ku dan beberapa hasil karya sahabat-sahabat ku juga. Makasih
__ADS_1
☕️jan lupa bahagia Rakan jan lupa syenyummmmmmm