Dia Yang Kembali Datang

Dia Yang Kembali Datang
PUPUS


__ADS_3

đź’šđź’š


Semua orang tua tentu saja mengharapkan hal terbaik untuk anaknya, begitu juga pak Ahmad dan Bu Nur dalam setiap lantunan doanya tak pernah berhenti mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya.


Perihal luka yang seorang anak rasakan juga sama, meski tak merasakan lukanya namun sakitnya pasti terasa.


Pak Ahmad masuk ke ruang perawatan tempat Yana dirawat dengan wajah yang tak tergambarkan. Anak sulung harapannya kali ini sedang sakit dan menantunya sedang berjuang melahirkan cucunya.


“Ayo pulang, istirahat dirumah saja.” Ucap pak Ahmad saat memasuki kamar rawatan itu.


“Uthi gimana yah.” Tanya Yana serius, kini selang infus sudah dilepas dari tangan mungil gadis yang terlihat lebih kurus dari sebelumnya.


“Ada orang tuanya, kita pulang saja.” Jawab pak Ahmad.


“Iya, lagian palingan besok lahirnya kak kita pulang saja.” Tambah bu Nur lagi.


Ada hal yang aneh, biasa keluarga mereka akan berkumpul dalam hal-hal begini, pada saat Elita melahirkan bahkan ibu dan mertua Elita tak pulang-pulang, sama-sama menunggu.


Kenapa sekarang malah ibu yang ingin pulang dan seolah lebih mementingkan Yana yang sudah sehat dibandingkan Putri sedang berjuang nyawa.


“Ayo nanti kita bicara di rumah lagi, nanti keburu malam.” Ucap pak Ahmad yang sudah menjinjing tas.


Yana menolak saat seorang perawat laki-laki menawarkan diri untuk mengantarnya ke parkiran dengan menggunakan kursi roda. Ia memilih berjalan sendiri saja sambil menggandeng Idris.


Idris adalah anak yang super aktif dan pemberani jika tidak dipantau dengan ketat bisa saja ia hilang.


Anak itu juga sudah pernah hilang di bandara beberapa bulan lalu saat kepulangannya dari Makassar bersama papa dan mamanya, saat itu bu Nur sampai menangis histeris namun nyatanya anak itu hanya sembunyi di balik koper ayahnya.


“Dis aga unda biar gan ilang ya.” Ucapa anak itu saat tangan Yana menggenggam tangan anak itu lebih erat.


“Bunda yang jaga kamu biar jangan hilang lagi.” Jawab Yana.


“Oh ok.” Jawab anak yang hampir berusia empat tahun itu santai.


➰➰➰➰♥️♥️♥️


Banyak ayah di dunia ini mendidik anak laki-lakinya agar menjadi orang yang pemberani dan bertanggung jawab serta bisa mengambil keputusan saat menghadapi hal sulit.


Dan itu juga yang Doni rasakan selama ini pak Anggara selalu mendidik Doni untuk menjadi laki-laki yang berani dan bertanggung jawab. Terlebih untuk seorang pengusaha sukses seperti pak Anggara hal itu sangatlah penting.

__ADS_1


Hal itu juga yang membuat pak Anggara kali ini sangat yakin Doni akan terus maju dan tak akan mundur begitu saja.


Doni menghubungi pak Ahmad dan mengatakan ingin datang ke rumah calon mertuanya itu, namun ternyata pak Ahmad menolak menerima Doni di rumahnya dengan alasan Putra tak bisa meninggalkan rumah sakit karena istrinya akan melahirkan.


Doni dan pak anggara menemui pak Ahmad yang saat itu ditemani oleh Putra di Musholla rumah sakit itu.


Bukan tanpa alasan Pak Ahmad memilih Musholla sebagai tempat pertemuan itu, untuk pak Ahmad hal ini sangat penting terlepas dari mama Jelita pak Ahmad juga sangat menghargai Doni dan papanya, hanya saja keadaan tak memungkinkan untuk pak Ahmad menerima tamunya itu dirumah.


“Saya selaku kepala keluarga meminta maaf sebesar besarnya atas kelakuan istri saya kepada nak Yana.” Pak Anggara mengawali pembicaraan itu dengan permohonan maaf atas nama istrinya.


Tak ada jawaban apapun dari Putra, pak Ahmad juga hanya menanggapi dengan menganggukkan sedikit kepalanya saja.


“Saya harap hal ini tidak membuat niat baik kita rusak pak Ahmad,”


“Saya masih sangat berharap nak Ayana menjadi menantu saya untuk mendampingi Doni, begitu kan mas?” Ucap pak Anggara lagi.


Doni hanya diam, matanya saling menatap dengan Putra yang duduk tepat di depannya.


Putra terlihat tenang, meski wajahnya sangat jelas menunjukkan bahwa ia tak suka pada Doni namun ia tahan sekuat tenaga karena memang sekarang mereka berada ditempat yang sangat baik dan harus dijaga.


“Mas,” Ucap pak Anggra lagi sambil memegang bahu anaknya.


Doni terlihat menarik nafas panjang, dan membenarkan posisi duduknya. Laki-laki yang mengenakan baju kemeja berwarna hitam legam dengan celana jeans itu tak terlihat seperti biasa. Kali ini meski ia memakai baju dan juga celana mahal tetap saja penampilannya tak sebaik biasa.


“Dan Saya minta maaf untuk kekhilafan yang mama saya perbuat dan sudah menyakiti hati Yana dan juga bapak sekeluarga.”


“Untuk lo Tra gue minta maaf banget, dan gue harap lo mau balik kerja di kantor. perusahaan gue butuh orang seperti lo.”


Putra dan pak Ahmad tak menjawab sepatah katapun, dua laki-laki yang paling Yana sayangi itu hanya diam dengan pikiran masing-masing.


“Untuk pertanyaan bapak tempo hari tentang jaminan kebahagian Yana,” Doni diam sebentar sebelum melanjutkan kata-katanya, laki-laki itu kembali terlihat menarik nafas.


“Dan untuk permintaan lo sebagai sahabat terbaik gue Tra.” Lagi-lagi Doni diam dan menjeda kata-katanya.


“Saya…Saya akan melepaskan Ayyana mengembalikanya kepada bapak, sampaikan maaf saya pada Yana, saya belum mampu menemuinya.” Ucap Doni yakin dan membuat pak Angga sangat terkejut.


“Mas, jangan bercanda, tadi kamu bilang sama papa kamu akan mengambil keputusan terbaik kenapa jadi begini.”


“Ini yang terbaik untuk Yana dan mama pa,” Jawab Doni kembali.

__ADS_1


“Papa kecewa sama kamu, mas.” Kata pak Anggra sambil menggelengkan kepala tanda bahwa ia masih tak percaya dengan keputusan Doni.


“Temui kakak gue dan katakan langsung padanya,” Ucap Putra dengan mata tajam menatap Doni.


“Gue ga bisa Tra maaf, cukup lo aja yang disampaikan” Jawab Doni dengan suara mulai serak, hatinya juga teramat sangat sakit saat mengucap hal itu.


Ia tentu saja sangat berharap bisa menemui gadis itu lagi tetapi ia takut jika harus bertemu lagi dengan gadis itu mungkin ia tak akan bisa kembali baik seperti saat ini.


“Saya permisi pak.” Tambahnya sambil mencoba bangun dari duduknya.


“Ba jing an, pengecut.” Ucap Putra sambil menarik kerah baju Doni.


“Lepaskan nak, dia tidak pantas untuk kakak mu dan dia juga tidak layak bertemu lagi dengan kakak mu.” Ucap pak Ahmad memegang lengan Putra.


“Lepaskan, dan pergilah berwudhu,” Ucap pak Ahmad lagi saat Putra masih saja belum melepas kerah baju Doni. Mendengar ucapan pak Ahmad Putra akhirnya melepas kerah baju Doni dan melesat ke arah luar mushola dimana tempat wudhu berada.


Doni mengatakan akan menunggu papanya di mobil lalu pergi begitu saja, pak Anggara yang masih tak percaya dengan hasil pertemuan kali ini meminta maaf berkali-kali pada pak Ahmad untuk kesalahan istri dan anaknya.


ia juga mengatakan risau dengan kondisi Yana yang sampai harus dirawat karena hal ini serta mengatakan akan menanggung semua biaya perawatan Yana selama dirumah sakit.


“Tidak apa pak Anggara kita memang tidak ditakdirkan menjadi keluarga.” Kata pak Ahmad dengan tenang.


“saya akan mengembalikan cincin pemberian ibu Jelita nanti setelah saya berbicara tentang hal ini pada Yana,”


“Saya juga menolak untuk tawaran bapak yang akan menanggung biaya perawatan Yana, saya masih mampu.”


“Satu hal lagi pak, Yana anak saya baik-baik saja.” Ucap pak Ahmad dan keluar meninggalkan pak Anggara menemui Putra yang sudah menunggu di depan mushola itu.


Putra menyambut ayahnya, menggenggam erat tangan laki-laki yang sudah membesarkannya itu dengan erat, sambil mengangguk dan menggandeng ayahnya dengan erat berjalan menelusuri koridor rumah sakit itu menuju kamar tempat Ayyana di rawa.


âž°âž°To be Continueâž°âž°


♥️Menghabiskan waktu bertahun tahun bersama dengan penuh tawa, membuat ku sedikit jumawa merasa bahwa semua akan selamanya, aku terbuai dan lupa bahwasanya takdir bisa membuat kita lupa rasa tawa yang pernah kita lewati bersama.


Sekuat apapun aku meyakinkan hati ini pada nyatanya aku tetap harus mundur menjauh. Sungai pemisah antara kita tidak terlalu dalam dan tidak berjembatan namun kabar buruknya kita sama sama tidak bisa berenang.


Jangan bertanya hal konyol tentang rasaku jawabnya masih tetap sama namun tak tau sampai kapan begitu adanya. (Banda aceh 2010-Coretan kata by Nda_malamsyah)


Intermezzo

__ADS_1


Mak Duma Say : Nak ku, jan lupa kelen baca novel baru kawan mamak ya nak e, Lantunan Tasbih Annaya judulnya, Ehh Apa kelen tanya? penulisnya? Syaesha penulisnya nak ku, itu lho kawan mamak yang orang bogor itu. jan lupa kelen baca ya, marah mamak ini kalo sampe kelen ga baca. Mamak tarok lah gambarnya sini ya biar jan nyasar kelen macam hati anak mamak si Raja itu suka nyasar hatinya.



__ADS_2