Dia Yang Kembali Datang

Dia Yang Kembali Datang
Diculik Mantan


__ADS_3

☕️☕️


Hati ibu mana yang tidak sakit ketika seorang anak kesayangan dan satu-satunya pergi dari rumah tanpa pamit dan entah kemana hanya karena seorang wanita.


Jelita, ibu yang hanya memiliki seorang anak dan sedari kecil sang anak begitu patuh mengira akan begitu juga adanya hingga selamanya.


Namun faktanya berbeda, anak yang ia bangga-banggakan, cerdas, tampan dan patuh pada orang tua itu malah melawan hanya karena seseorang yang tak ada ikatan darah apapun dengan anak itu.


Sudah berkali-kaki jelita menanyakan pada Anggara suaminya, tentang keberadaan Doni anak mereka satu-satunya namun tak pernah ada jawaban dari suaminya itu.


Hal buruk lainnya yang jelita alami adalah, janji Anggara yang akan lebih banyak menemaninya menghabiskan waktu bersama dan menyerahkan perusahaan pada Doni saat anak mereka itu sudah menikah juga terpaksa gagal.


Bahkan kali ini lebih parah, Jika dulu Anggara selalu pulang saat malam meskipun sering terlambat sekarang justru Anggara lebih sering tak pulang. Jelita jelas marah dan kecewa namun entah pada siapa ia harus marah, bukankah ini salahanya.


Egonya yang dulu setinggi langit kali ini hilang, karena rasa sedih mengalahkan egonya itu. Siang ini ia berencana menemui Yana. Wanita yang pernah hampir menjadi menantunya, di sekolah tempat gadis itu mengajar.


Setelah satu bulan jelita hanya diam dirumah saja menunggu kepulangan anaknya, hari ini adalah hari pertamanya keluar dari rumah, tak ada pakaian yang cocok ia kenakan badanya terlihat jauh lebih kurus dari biasa. Namun ia tetap berusaha tampil semaksimal mungkin.


Baru saja mobil mewahnya akan memasuki pintu gerbang sekolah SMA Binaan satu itu ia melihat Yana berjalan kearah luar sekolah sambil memainkan ponselnya.


Jelita langsung saja menyuruh mang Didi supirnya, menghentikan mobil yang ditumpangi itu. Jelita turun dan langsung menghampiri Yana yang terlihat begitu terkejut saat melihat Jelita ada di depan matanya.


☕️☕️☕️☕️


Siang yang berbahagia, Yana mendapatkan pesan dari grup pesan keluarga, Putri, adik iparnya mengirim foto meja makan sederhana rumah keluarga Ahmad itu yang menampakkan ikan kakap goreng, sambal terasi dan sayur asem.


Air liur Yana sudah menetes rasanya membayangkan bagaimana enaknya saat kuah sayur asem itu dituangkan ke atas nasi hangat, lalu ditambah dengan ikan kakap goreng yang dicocol ke sambal terasi dan dimakan dengan nasi yang sudah di siram kuah sayur asem tadi.


Ali yang lebih dulu membalas dan mengatakan akan segera meluncur ke villa mertua indah demi menyelamatkan cacing di perutnya.


Sedang Elita hanya bisa marah-marah dan mengatakan bahwa sang suami tak setia hanya karena Elita tak bisa ikut kerumah ibunya itu.


Putra tak ada jawaban apa-apa, toko babe Zuki memang sangat ramai pengunjung saat siang mungkin itu yang menyebabkan Putra tak sempat berbalas pesan.


Yana hanya membalas pesan itu dengan stiker boneka yang sedang memukul bokong boneka yang lain dengan gagang sapu seolah ia sedang memukul bokong Putri.


Tak lama kemudian, Elita juga membalas pesan Putri dengan stiker boneka yang memasukkan boneka lain dalam ember.


Yana hanya bisa tertawa melihat tingkah keluarganya itu, penuh sayang dan selalu kompak, bu Nur tak pernah membedakan anak dan menantu, begitu juga Elita dan Putra yang menurutnya sangat beruntung bisa mendapatkan mertua rasa orang tua kandung.


Untuk saat ini Yana sudah ikhlas, jika Allah mengatakan bahwa jodohnya tidak ada di dunia juga tak masalah bagi gadis itu, ia sudah sangat bersyukur sang pencipta memberikannya keluarga yang sayang tanpa batas pada dirinya.


Berhenti berharap bukan berarti lemah, menunggu tanpa berusaha seperti yang orang tuduhkan juga tak selamanya benar. Hanya gadis itu dan Tuhan-nya yang tau berapa banyak doa yang telah ia, sebagai sang pemuja panjatkan pada yang Kuasa.


Jam mengajar sudah habis Yana memutuskan untuk pulang saja, sejak Aboy sang ponakan gembulnya lahir pulang ke rumah adalah hal yang paling Yana tunggu-tunggu.

__ADS_1


Yana keluar dari kantor guru menuju pintu gerbang sekolah sambil terus berbalas pesan grup keluarga yang pembicaranya sudah ngalor ngidul kemana mana.


Dan betapa terkejutnya Yana saat melihat seorang wanita yang pernah hampir menjadi mertuanya berdiri tepat di depannya bahkan mendekat dan memegang tangannya.


“Yana mama mau bicara, Yana mama minta maaf.” Ucap Jelita pada Yana saya baru saja bertemu gadis itu.


Yana reflek menghindar dan mundur tapi jelita terus memaksa memegang lengan Yana.


Yana melihat ke kanan-kiri mang Dadang dan seorang temannya yang juga satpam sekolah sudah mulai mendekat kearah jelita dan Yana berdiri.


Yana berusaha menguasai diri, dan mengangguk pada kedua satpam sekolah sambil mengatakan bahwa tak apa-apa dan dia baik-baik saja.


“Tante jangan begini aku ga enak di lihat orang.” Ucap Yana lirih dan berhasil membuat jelita melepas cengkraman tangannya pada Yana.


“Yana bisa ikut mama, kita bicara di tempat yang lebih dingin atau di mobil.” Ucap jelita yang merasa gerah di bawah terik matahari kota metropolitan itu.


“Maaf tan ada perlu apa, di sini aja.” Jawab Yana sopan, tangan Yana sudah berselancar pada gawainya membuka aplikasi ojek online seraya berharap cepat mendapatkan driver yang bisa mengantarnya pulang dengan segera.


“Mama mau kamu kembalikan Doni, mama ga bisa tanpa dia Yana.”


Yana sedikit terkejut dengan ucapan jelita, namun saat ia ingat-ingat lagi selama ia bersama Doni, jika ada masalah dengan mamanya Doni memang tak akan mau pulang kerumah mamanya itu untuk menyelesaikan masalah.


“Aku ga tau mas Doni dimana tan,” jawab gadis itu jujur.


“Mama akan menerima kamu apapun keadaanya asalkan Doni kembali.” Ucapan Jelita, yang malah menguak luka hati Yana yang sudah kering dan hampir sembuh.


“Mama bisa kasih berapa pun dan apapun yang kamu minta asal Doni pulang Yana.”


“Mama mohon Yana, mama mohon katakan pada Doni untuk pulang.”


Bukan iba atau kasihan yang Yana rasakan tetapi rasa sakit yang bertambah parah, baru saja mama Jelita mengatakan akan memberikan apapun dan berapapun yang ia minta.


Makna berapapun yang mama jelita maksud sudah pasti uang atau harta, andai mama jelita paham bawah uang atau harta memang hal yang berharga tetapi tak semua bisa dibeli dengan uang, tak semua bisa bahagia dengan uang.


Yana sudah mulai jenuh dengan ucapan-ucapan jelita, aplikasi ojek online pada ponselnya juga tak ada hasil apa-apa, tak ada satupun driver yang menyambut pesanannya.


Yana berencana mengirim pesan pada Ozan meminta tolong pada anak itu untuk segera mengantarnya pulang.


Ucapan permohonan mama jelita terus saja masuk ke telinganya, namun tangannya juga terus berusaha mencari nama Ozan pada ponselnya.


Yana menarik nafas panjang saat menemukan nama Ozan ia mengangkat kepala sejenak menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk bisa berpikir lebih tenang sebelum mengirim pesan pada Ozan. Namun matanya tertuju pada seorang laki-laki yang memakai kemeja merah bata dengan jaket hitam baru saja menghentikan sepeda motor di depanya.


Yana memutuskan mengambil resiko dengan menumpangi sepeda motor laki-laki itu demi pergi menjauh dari mama jelita.


Dan disinilah Yana sekarang duduk di belakang boncengan sang mantan membelah jalan ibu kota dengan sepeda motor metic milik sang mantan.

__ADS_1


“Hah, turunin, apa pulak.! gak bisa lah.”


“Jangan jauh-jauh nanti jatoh.” Ucapan laki-laki itu membuat Yana sedikit ngeri karena kecepatan sepeda motor itu bertambah.


“Jangan kencang-kencang aku takut.” Ucap Yana sedikit berteriak.


“Makanya Aya pegang abang yang kuat.” Jawab Raja dengan santai.


“Enak aja.” Cicit Yana kesal.


“Iya sekarang kita cari makanan yang enak-enak.” Jawab Raja asal.


“Siapa yang mau makan sama kamu, aku mau pulang.”


“Oh Aya minta diantar pulang, bilang dong dari tadi.” Raja masih tak perduli dan menjawab asal saja serta terus melajukan kendaraannya.


“Siapa yang mau dianterin pulang sama kamu.” Jawab Yana dengan suara lebih tinggi dari sebelumnya.


“Jangan teriak-teriak nanti orang pikir kita ribut rumah tangga di jalanan.” Jawab Raja sambil melambatkan sepeda motornya karena lampu lalu lintas di depannya sudah menunjukan lampu merah.


“Nyebelin.”


“Gapapa nyebelin asal kita bisa makan siang bareng.”


“Aku ga mau.”


“Abang mau Ay.”


“Tapi aku bilang nggak.”


“Tapi abang bilang iya Ay.”


“Maaf bu istri saya sedang ngidam nasi padang.” Ucap Raja pada ibu-ibu anak lima pengendara motor yang ada di sebelahnya.


Satu anak ibu itu berdiri di depan, dan empat lagi di belakang berjejer sesuai besar si anak, dari yang paling kecil sampai yang paling besar.


Yana melihat sekeliling dan baru sadar mereka sedang berhenti di lampu merah. Banyak mata yang tertuju pada mereka sambil tersenyum.


“Sabar banget neng suaminya, semoga sehat-sehat ya neng dan juga bayinya.” Ucap ibu anak lima itu tanpa merasa berdosa.


Dengan bodohnya Yana reflek memegang perutnya dengan tangan kiri dan tersenyum pada sang ibu dengan wajah yang sudah merah padam lalu menunduk.


Hatinya sudah membengkak kepalanya sudah panas, irama detak jantung sudah seperti atlet bulutangkis yang sedang bertanding, dan ia juga sudah siap mencekik bapak anak tiga itu serta mencabut nyawanya.


☕️☕️to be continue☕️☕️

__ADS_1


☕️Berhenti berharap bukan berarti lemah, menunggu tanpa berusaha seperti yang orang tuduhkan juga tak selamanya benar. Hanya gadis itu dan Tuhan-nya yang tau berapa banyak doa yang telah ia, sebagai sang pemuja panjatkan pada yang Kuasa.


☕️Jan lupa bahagia Rakan jan lupa syenyummmmmmm☺️


__ADS_2