
💚💚
Setiap ibu pasti merasa cemas dengan kondisi anaknya, apalagi jika mengetahui kabar tentang sang anak yang sedang kurang baik dan jauh di perantauan.
Sama halnya dengan yang di alami seorang wanita yang sudah berusia senja bernama Duma ini, wanita yang dipanggil opung oleh cucu-cucunya itu terus saja merasa cemas sejak malam tadi setelah Lala cucu sulungnya mengabari bahwa ayahnya yaitu putra sulung bu Duma itu sakit.
Bu Duma dengan dibantu oleh putri keduanya sudah memesan tiket pesawat terbang untuk keberangkatan besok pagi ke Jakarta bersama pak Azis suaminya.
Namun kontak batin ibu anak tetaplah tak dapat dicegah malam itu tak semenitpun bu Duma bisa menutup mata karena mengkhawatirkan Raja putra sulungnya. Dan seolah serasa pagi begitu lama datangnya.
Pak Azis yang terbangun untuk sholat tahajud sudah mengingatkan agar istrinya tidur namun bukan bu Duma tak ingin tetapi mata dan pikiran bu Duma tak bisa diajak kerjasama untuk beristirahat.
Saat subuh baru saja bu Duma dan pak Azis akan melaksanakan sholat subuh berjamaah, ponsel milik bu Duma berdering membuat bu Duma memilih mengangkat telepon terlebih dahulu.
Dan benar saja Lala yang menelpon dan mengabarkan tentang kondisi Raja semakin parah, beruntung cucunya itu anak cerdas dan dapat diandalkan walau dengan hati yang sudah terasa mengabang ia tetap memberi arahan pada Lala apa yang harus gadis kecil itu lakukan.
Bu Duma menuju bandara pagi itu di antar oleh anak bungsunya Mahrani dan menantunya yang masih tinggal di satu kota yang sama denganya.
Wanita yang tak suka berbasa basi itu tak mengeluarkan sepatah katapun selama penerbangan menuju ibu kota itu pak Azis yang sudah sangat paham sifat istrinya pun hanya bisa diam saja.
Saat tiba di ibu kota pasangan yang sudah lebih dari seperempat abad bersama itu langsung menuju rumah sakit setelah menelpon Lala cucunya.
Saat sampai ke rumah sakit ternyata Raja sudah masuk ke ruang rawat inap dan sedang diperiksa oleh dua dokter, satu dokter sudah terlihat sangat tua dan yang satunya lagi masih sangat muda.
Dokter dengan rambut putih merata dan tersemat gelar prof di depan namanya itu mengatakan bahwa ia memercayakan Raja di tangani oleh dokter muda yang ikut bersamanya dan ia tetap mengawasi.
Awalnya bu Duma ragu jika raja harus ditangani oleh dokter muda itu, namun saat dokter muda itu memperkenalkan diri sebagai dr Akhza mahasiswa pendidikan dokter spesialis bedah semester akhir, bu Duma mulai tertarik.
Dokter yang lebih tua bergelar prof itu juga mengatakan bahwa dr Akhza adalah muridnya paling cerdas selama lima tahun ini.
Hati bu Duma menjadi lebih baik ketika dr Akhza menjelaskan bahwa, jika seandainya hasil USG pada perut Raja nantinya tidak didapatkan masalah yang harus dilakukan pembedahan maka Raja akan sepenuhnya di rawat oleh dokter penyakit dalam bernama Guntur dokter senior di rumah sakit tersebut.
Namun jika nanti hasil USG menyatakan adanya masalah yang perlu dilakukan pembedahan maka dokter muda tersebut hanya akan menjadi asisten gurunya untuk tindakan pembedahan Raja.
Raja mengucapkan terimakasih pada dokter Akhza dan mengatakan berharap ini hanya asam lambung biasa.
Bu Duma terbuai dengan cara bicara dokter muda yang sangat sopan dan sabar menjelaskan kondisi Raja itu.
Sepeninggalan dua dokter berbeda usia yang terlihat keduanya sangat cerdas itu bu Duma langsung bersuara.
“Lembut kali cakapnya dokter itu.” Ucap bu Duma saat dua dokter tersebut sudah menghilang di balik pintu kamar rawat.
“Kalau ada anakku lain perempuan satu lagi ku jodohkan samanya.”
“Apalah mamak ini yang bukan-bukan.” Ucap pak Azis membantah.
__ADS_1
“Kan ku bilang kalau pak, kalau. Awaslah bapak situ ku tengok dulu anak ku itu.” Ucap bu Duma yang menyuruh pak Azis yang baru saja duduk pada kursi yang berada di samping Raja untuk pindah.
“Iya iya.” Ucap ucap pak Azis sambil bangun dan pindah ke sofa dan kejadian itu ditertawakan oleh Lala sang cucu.
“Atok kenapa takut sama opung hihihihi.” Tanya Lala.
“Mana pulak takot atok sama opung mu.” Pak Azis membantah dan disambut oleh ketawa Lala lebih kencang dan duduk di samping atoknya itu.
Disudut lain kamar rawatan itu terlihat ibu dan anak yang sedang berbincang hangat.
Sejak melihat mamak dan bapak datang entah kenapa rasa sakit yang Raja rasakan seperti menguap setengahnya.
“Kenapa kau nak ku,” Ucap bu Duma sambil mengelus pelan kepala Raja seolah laki-laki itu anak balita yang sedang sakit demam setelah imunisasi.
“Banyak pikiran aja mak.” Ucap Raja sambil tersenyum.
“Apa kau pikir cak kau bilang sama mamak.” Ucap bu Duma lagi.
“Kerjaanku sedang banyak mak.”
“Yang betul kau, bukannya karena perempuan yang di cerita si Lala.”
“Bukan mak,”
Raja hanya bisa diam dan menunduk tanpa membantah.
“Kalau jadi perutmu di belah dokter ganteng itu cak kau pikir cemana anak-anakmu.”
“Dah macam perawan baru pubertas aja kau.” Ucap mamak menasehati.
Raja hanya terdiam tanpa kata meresapi kata-kata mamak yg memang benar adanya, seharusnya ia lebih bisa menyikapi keadaan yang sedang ia alami dengan lebih dewasa dan berfikir jernih.
➰➰➰➰♥️♥️♥️♥️
Kata-kata guru adalah pengganti orang tua sedang berlaku pada Yana hari ini.
Yana mendapati siswanya Fauzan terbaring IGD dengan kondisi kaki patah.
Fakta lainya yang didapatkan adalah Cia yang memeluknya dengan tangis pecah saat melihatnya masuk ke IGD.
Pagi tadi Cia merajuk minta di jemput oleh Fauzan, Ozan yang mengejar waktu tidak memperhitungkan kecepatan dan menabrak penjual bubur ayam.
Syukurnya penjual bubur ayam itu baik-baik saja hanya gerobaknya saja yang hancur dan harus di ganti rugi oleh keluarga Fauzan.
kenyataan berikutnya membuat Yana lebih sakit kepala adalah orang tua dan keluarga besar Fauzan yang sedang menjalankan ibadah umroh membuat Yana harus bertanggung jawab sebagai wali dari muridnya itu.
__ADS_1
Sudah hampir pukul empat sore ketika Yana harus menandatangani surat persetujuan untuk kaki Fauza dilakukan tindakan operasi pemasangan pen. Yana berani menandatangani surat tersebut setelah melakukan sambungan telepon dengan Ayah Fauzan yang sedang berada di tanah suci.
Mutia temannya sudah pulang sejak siang tadi karena harus menyusui bayi kecilnya.
Sore itu Yana duduk bersama Cia dan orang tua gadis itu di depan kamar operasi sedang pada pikiran masing-masing.
Seorang ibu-ibu menghampiri dan bertanya pada Yana. “Nak mamak tanyak sikit ya tau kau dimana katin.” Tanya ibu itu pada Yana.
“Di Sebelah sana bu.” Tunjuk Yana ke arah papan petunjuk yang menunjukkan arah kantin.
“Oalah dah tua lah mata ni gak nampak mamak tadi ada tulisan itu.” Ucap ibu-ibu yang masih terlihat cantik itu.
“Ibu mau ke kantin.” Tanya Yana.
“Iya lapar kali kurasa dari pagi belum ada isi perutku.”
“Saya juga mau ke kantin, kita bisa sama-sama.” ucap Yana lembut dan disetujui oleh ibu-ibu itu.
Setelah berpamitan pada Cia dan kedua orang tua gadis itu Yana berjalan menuju kantin dengan ibu-ibu yang menanyakan arah kantin padanya tadi.
“siapa yang sakit bu.” Tanya Yana membuka percakapan sambil jalan menuju kantin rumah sakit itu.
“Anak ku nak, patah hati sampai naik asam lambungnya.” Ucap wanita itu secara gamblang.
Yana tertawa mendengar ibu itu berbicara begitu terbuka.
“Biasa lah bu ya, anak muda.” Ucap Yana sambil masih tertawa.
"Ibu sepertinya bukan orang jakarta,"
"Bukan, baru sampe aku dari medan pagi tadi nak." Ucap ibu-ibu yang berbicara dengan logat khas medan itu ramah.
➰➰To be Continue➰➰
♥️Lebih baik sakit gigi atau sakit hati? 😂
IGD : instalasi gawat darurat (apa bedanya sama UGD nda) sama aja hanya beda ruang lingkupnya biasa IGD di pakai di RUmah sakit lebih besar.
USG : ultrasonografi alat untuk membatu tim medis mendiagnosis kondisi tertentu, serta membantu dokter untuk menentukan prosedur medis yang tepat.
〰️Jangan Lupa bahagia Rakan jangan lupa syenyummmmmmmmm〰️
Makasih untuk author syaesha emaknya dr Akhza dan perawat Tala atas izin menghadirkan dua sejoli ini di tulisan ku yang seadanya ini. Sukses terus 😘
__ADS_1