
💚💚
Dari jauh Doni sudah melihat Yana yang berdiri di pinggir jalan depan SMA binaan satu menunggunya, saat Mobil Doni sudah mendekati sekolah itu.
Baru saja Doni menghentikan kendaraan Yana langsung masuk ke mobilnya dan langsung saja menghujani Doni dengan pertanyaan-pertanyaan pada laki-laki itu dengan wajah cemas.
"Lama banget sih,"
"Kenapa mama telpon mas ga angkat."
"Udah berapa hari mas ga ketemu mama,"
"Kenapa mama sampai pingsan."
"Aku jawab yang mana dulu," Jawab Doni sambil membuka satu botol air mineral.
"Minum dulu, mama gapapa cuma kecapean aja." Ucap doni lagi sambil menyerahkan botol air mineral yang sudah dia buka tadi pada wanita yang sangat ia cintai itu.
"Cepetan mas jalan dulu aku bisa minum sambil jalan." Jawab gadis itu dengan muka cemas sambil menerima satu botol minuman yang di berikan Doni.
Kali ini Doni benar-benar sedang diuji kesabaranya ingin rasanya ia jujur pada Yana dengan drama-drama mamanya selama ini.
Ingin juga rasanya jujur pada Yana tentang bagaimana mamanya memandang Yana selama ini.
Namun jika itu ia ungkapkan pada gadis itu maka dapat dipastikan Yana akan marah besar padanya. Dan juga dapat dipastikan akan berdampak buruk pada hubunganya dengan gadis itu.
Lalu lintas tampak lebih lenggang dan tidak terlalu padat sehingga perjalanan yang mereka lalui juga tak terlalu lama untuk sampai ke rumah sakit tempat mam Jelita dirawat.
Memasuki ruang rawat super VVIP tempat mam Jelita dirawat sudah ada pak Anggara yang duduk di sofa menghadap pada laptop yang ada di depannya dengan sebuah kacamata bertengger di atas hidungnya.
Yana langsung menyalami calon papa mertuanya itu dan mendekat ke arah mama Jelita yang terlihat masih tertidur.
Yana tak tega bila harus membangunkan calon mama mertuanya itu sehingga Yana hanya membenarkan posisi kain selimut yang digunakan mama jelita, namun mama Jelita malah membuka mata.
“Sayang, kamu sama Doni kan,” Ucap mama Jelita padanya dengan suara lemas.
“Ia Ma, mas sini.” Yana memanggil Doni yang malah duduk di sebelah papanya yang kini terlihat mengerutkan kening sambil tanganya terus menari di atas keypad laptopnya.
Doni bangun dan berjalan ke arah mamanya, ia tak mungkin memperlihatkan pada Yana apa yang sedang terjadi antaranya dan sang mama.
“Mas mama mau makan,” Ucap mama Jelita sambil berusaha bangun dari tidurnya, Yana dengan sigap memegang lengan mama jelita membantu wanita yang melahirkan kekasihnya itu untuk duduk.
“Aku suapin ya ma.” Jawab Yana sambil mengambil makanan yang disediakan rumah sakit yang tertata rapi di atas nakas samping tempat tidur bed pasien.
“Mama maunya Doni,” Ucap mama Jelita sambil menatap anak laki-lakinya itu yang sejak tadi hanya berdiri di belakang Yana, dengan penuh harap.
__ADS_1
“Mas duduk sini suapin mama.” Ucap Yana menunjuk kursi di samping tempat tidur mama Jelita.
lagi-lagi Doni mengikuti arahan Yana hanya untuk menutupi kondisi yang sebenarnya sedang terjadi antara dia dan mamanya.
Selesai membersihkan tempat tidur mama Jelita dan memastikan calon mertuanya itu dalam kondisi nyaman Yana berpamitan karena harus kembali ke sekolah.
Doni yang sudah siap dengan kontak mobilnya terpaksa merelakan Yana diantar oleh supir sang papa karena mama Jelita mengeluh sakit, kepala berkunang-kunang serta wanita itu juga menggenggam tangan Doni tanpa mau ia lepaskan.
Awalnya Doni tak mau peduli karena sudah tidak percaya pada mamanya namun permintaan Yana yang memaksa ia tetap di rumah sakit menemani mama terpaksa ia iyakan saja.
Hal itu juga membuat mama jelita bertambah marah dan kesal pada Yana karena merasa Doni lebih mendengarkan dan memperdulikan apa yang Yana katakan dari pada dirinya yang seorang ibu kandung dan sudah melahirkan Doni.
➰➰➰➰♥️♥️
Raja meminta masyitah sekretarisnya untuk membungkus baju gamis berwarna biru itu serapi mungkin.
Tita memang dapat diandalkan dalam segala hal, gadis itu sebenarnya baik dan sopan selain cerdas gadis itu juga taat beribadah, Tita juga tak pernah mengenakan pakaian yang terlalu pendek selalu memakai baju yang sopan dan tertutup dada.
Untuk bawahan Tita juga lebih sering menggunakan celana yang tak terlalu sempit juga, pun jika memakai rok maka rok yang Tita gunakan selalu sebatas betis atau di bawah lutut.
Hanya saja memang cara bicara Tita harus diwaspadai dengan ketat agar tak merusak generasi penerus bangsa.
“Tittah pikir tadih bapakh mau ngasih untuk tittah, pas kayaknyah untuk tittah pakh,” Ucap gadis itu sambil mebuka lipatan baju gamis itu dan meletakan baju gamis itu di atas badanya.
“Saya ga bilang kamu boleh pegang-pegang gitu, saya suruh kamu bungkus baju itu yang rapi,” Ucap Raja dingin.
“Disini aja di depan mata saya, cepat.” Ucap Raja dengan pandangan menyeramkan pada sekretarisnya, Raja ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri baju itu di bungus sampai dimasukkan kotak dan tak terlihat lagi oleh matanya.
“Padahal untukh Tittah jugah cocok banget nihh siapah tauh bapak mauh liat Tittah tes duluh gituh,"
Raja tak menjawab ocehan Tita, laki-laki itu hanya memberi tatapan tajam pada sekertarisnya.
“Okehh okehhh Tittak kotakin sekarang nih.”
“Buath siapah sih pakkkh Tittah kan jadih cemburuh.” Ucap gadis itu sambil membungkus gamis biru itu dengan kertas kado dan memasukkan dalam box cantik yang sudah ia beli sebelumnya dan di ikat dengan pita di atasnya.
“Kamu mau diam atau saya print surat pemecatan kamu yang sudah tersedia di komputer saya.” Ucap Raja menakut-nakuti gadis itu.
“Ih bapakh sukah deh buat hati Tittah berdetak lebih kenchang sepertih genderang mauh perang.”
“Nih udah siap cantik khan,” Ucap gadis itu sambil meletakkan bingkisan kotak yang berisi gamis itu di atas meja Raja.
“Em makasih,” Jawab Raja.
Tita berjalan menuju pintu keluar, saat gadis itu sudah memegang gagang pintu Raja memanggilnya lagi.
__ADS_1
“Ya pakh ada lagih yang harus Tittah kerjain.” Tanya gadis itu kembali mendekat ke meja kerja Raja.
Raja terlihat diam sejenak dan akhirnya bertanya juga pada manusia ajaib yang ada di depannya itu, Raja tak punya pilihan lain.
“Kalau kamu mau ngasih sesuatu untuk orang, tapi ga mau orang itu tau, kalau itu dari kamu caranya gimana.” Tanya Raja dengan wajah serius
“Asssssssssekkkkkkkkkkkkkkkkk ahh, pak bos jatuh cintah nih,” Ucap Titah sambil menunjuk Raja dengan pulpen yang ia pegang.
“KELUAR KAMU.” Ucap Raja menyesal dengan pertanyaanya pada Tita.
➰➰➰➰♥️♥️
Sepanjang perjalanan dari rumah sakit menuju sekolah tempatnya mengajar pikiran Yana melayang kemana-mana.
Ia memang tak terlalu suka pada mama jelita namun nasehat sang ibu yang selalu mengingatkan bahwa iya harus menyayangi dan menghormati Mama Jelita karena mama Jelita adalah ibu Doni.
‘Untuk laki-laki, seumur hidup surganya ada pada ibunya kak, dan untuk seorang wanita surganya ada pada suaminya’
Ucapan ibu tersayangnya itu mengiang di telinga bergantian dengan kata-kata yang baru saja mama jelita ucapkan saat tadi Doni permisi ke toilet dan meninggalkanya dengan mama Jelita.
‘Mama gasangup kalau harus tinggal pisah rumah sama Doni, kamu paham kan maksud mama Yana’
Yana pernah membahas hal ini dengan Doni bahwa ia tak akan mau tinggal di satu rumah yang sama dengan mama Jelita dan saat itu Doni berjanji menyetujuinya ia juga percaya pada calon suaminya itu.
Namun bagaimana dengan permintaan Mama Jelita padanya tadi.
Saat nanti ia menjadi istri Doni ia tak ingin laki-laki itu berdosa hanya karena harus membantah ibunya demi Yana, namun jika harus tinggal di satu atap yang sama dengan mama Jelita juga ia tak sanggup rasanya.
“Dek Yana ada yang nungguin dek Yana di meja guru piket.” Ucap mang Dadang saat Yana turun dari mobil yang mengantarnya di depan SMA Binaan satu.
“Siapa mang,” Tanya Yana.
“Laki-laki, kasep. Tapi masih lebih kasep saya atuh dek.” Jawab mang Dadang tanpa dosa.
Yana hanya geleng-geleng kepala dengan sikap mang Dadang yang sudah terlihat kembali ramah lagi dengannya tak seperti beberapa waktu lalu saat dia baru lamaran dengan Doni.
“Dek Yana, hati mamang masih ready ya kalau-kalau dek Yana lupa.” Tambah satpam sekolah beristri tiga itu lagi.
Yana berjalan berlalu menuju meja guru piket untuk menemui seseorang yang mang Dadang katakan sedang menunggunya disana
Yana juga penasaran karena selama ini tak pernah ada yang mencarinya apalagi laki-laki.
➰➰To be continue➰➰
🙏🏻Gantung lagi……. maaf ya rakan, mohon aku jangan ikut digantung hihihihi kalau mau kesal ke tante Jelita aja ya hihihi, Selamat men de sah untuk yang menunggu kehadiran Tittah.
__ADS_1
〰️Jhangan lupah bahagiah ya rakan dan jhangan lupah jugah sennnnyummmmmmh😊〰️