
💚💚
Yana pamit meninggalkan mama Jelita benar-benar secara baik baik, seperih apapun hatinya tentu saja ia harus bersikap baik pada wanita yang dua minggu lagi itu akan jadi ibu mertuanya.
“Kemana mbak?” Tanya pengemudi ojek yang Yana naiki saat ini.
“Taman dekat sekolah....” Yana menyebutkan nama sekolah saat ia SMA dulu.
Duduk di taman itu sendiri membuatnya mengingat hal buruk yang baru saja ia dengar beberapa waktu lalu.
Saat itu ia baru memasuki koridor menuju ruang kepala rumah sakit. Yana melihat mama Jelita sedang jalan bersisian dengan ibu kepala rumah sakit itu, entah dari mana kedua sahabat lama itu datangnya.
Yana mencoba mendekat hendak pamit dan minta tasnya yang tertinggal di ruang kepala rumah sakit.
"Ini berlebihan Jelita." Ucap dokter kepala rumah sakit itu dan bisa terdengar jelas oleh Yana dengan jarak sedekat itu tanpa mama jelita menyadari kehadiranya.
"Ga lah jeng berlebihan gimana, aku harus segera cari calon istri kedua untuk Doni kalau memang Yana ga bisa hamil kamu kan tau sendiri dia itu sudah terlalu tua. kalau perlu Yana ga perlu tau lah Doni menikah lagi nantinya." Suara mama jelita Jelas terdengar di telinga Yana.
“Memangnya Doni mau jeng?”
“Harus mau dong jeng, aku sudah berkorban menerima Yana, mereka juga harus berkorban dong mengikuti kemauan ku.” Ucap mama Jelita pada teman lamanya itu dengan percaya diri dan hanya ditanggapi dengan gelengan kepala oleh dokter kepala rumah sakit itu.
Mata Yana sudah memerah saat itu andai anak didiknya yang melakukan hal seburuk itu padanya mungkin sudah ia beri hukuman seberat beratnya, namun yang sekarang di hadapannya adalah calon mertuanya.
Mama jelita mengalihkan pembicaraan saat mendengar suara Yana memanggilnya, Yana meremas kuat-kuat ujung jilbabnya dan berkata dengan suara bergetar bahwa ia takut di periksa dan ingin pulang saja, mama jelita sempat memaksa namun ibu kepala rumah sakit itu memberinya pembelaan.
Yana juga menolak saat mama jelita mengatakan mang Didi akan mengantarnya pulang sedangkan mama jelita masih ada urusan yang harus diselesaikan dengan dokter kepala rumah sakit itu.
Dan dengan menumpang ojek yang ia naiki didepan rumah sakit itu, saat ini disinilah Yana berada di taman dekat sekolah SMA nya dulu dan sedang menunggu dua orang yang menurutnya bisa diandalkan untuk mengelap air matanya yang sudah seperti banjir di musim hujan.
Tak menunggu terlalu lama mbak Muti sahabatnya sesama guru sudah menghampirinya dengan wajah panik saat melihat kondisi Yana seburuk itu.
“Ono opo, cerita sama mbak Yana jangan nangis terus kamu di apain sama jelimet iku.?”
Tanya Muti yang datang di temani oleh ziadi suaminya, namun Ziadi memilih duduk di tempat yang berjarak lumayan jauh sambil menggendong bayi mereka.
Bukan menjawab pertanyaan Muti malah tangis Yana semakin pecah, yang membuat Muti bertambah panik, beruntung tak lama Elita adik Yana datang.
“Kakak kenapa!!!” Tanya El tak kalah panik.
Saat tadi mengirim pesan pada kedua orang itu Yana hanya mengatakan sedang berada di taman dekat sekolah SMA nya dulu dan sakit tak sanggup pulang, Elita tak pernah tau mbak Muti juga mendapatkan pesan yang sama dari Yana begitu juga sebaliknya.
Yana menangis cukup lama sampai benar-benar tenang dan bisa berbicara, Yana mulai merangkai kata-demi kata sambil terus menceritakan pelik kisahnya dengan Doni selama ini.
“Si jelimet kan memang gitu dari dulu Yan,” Kata Muti, karena memang ia sudah pernah mendengar semua cerita tentang sikap Jelita.
“Ia kan memang gitu si lampir, udah sering juga kita ngingetin ya mbak Muti.” Tambah Elita.
__ADS_1
Namun cerita selanjutnya membuat mata dua wanita itu melotot dengan mulut mengumpat tak berhenti, segala sumpah serapah keluar dari mulut mereka saat mengetahui apa yang Jelita lakukan pada Yana tentang pemeriksaan rutin itu.
“Kakak ga pernah cerita ke aku kalau kakak cek up rutin.” Ucap Elita dengan wajah kesal.
“Itu udah ga penting El, sekarang yang penting selamatkan Yana dari pernikahan itu.” Ucap Muti dengan berapi api seperti ingin perang saja.
Yana mengangkat kepala dan menggeleng pada dua wanita itu dengan air mata kembali mengalir lagi.
“Jangan bilang kakak masih mau nikah sama Doni,” Elita memperjelas gelengan Yana
“Gendeng kamu Yana kalau masih mau nikah sama dia.”
“Ujung rabi ae jelimet kyok ngono ndahneo lek wes rabi, koyok apo nasip mu yana.” Ucap Muti geram dengan bahasa Jawanya, Saat marah guru kesenian itu memang sering lepas kontrol menggeluarkan bahasa Jawa.
“Harus di batalkan.” Ucap kedua wanita itu bersamaan sambil mengguncang bahu Yana.
(Ujung rabi ae jelimet kyok ngono ndahneo lek wes rabi, koyok apo nasip mu yana diartikan Belum nikah aja Jelimet udah kayak gitu Apalagi kalau udah nikah Kayak apa nasib mu Yana)
➰➰➰➰♥️♥️
Baru saja Raja mendaratkan bokongnya pada kursi empuk di ruang kerjanya setelah menjadi penguji ujian sidang skripsi mahasiswa, ponselnya berdering memanggil meminta diperhatikan.
Dirogoh ya saku bagian dalam jas berwarna hitam pekat yang ia pakai itu mengabil benda pipih yang terus bersuara itu.
Tertera nama ‘Mamak sayang’ pada ponsel itu, tak ingin membuat ibu negara Duma Hasian itu menunggu lama Raja langsung saja mengusap tombol hijau pada layar ponselnya itu.
“Assalamualaikum dulu kau bilang baru kau rayu mamak mu ini.” Kata bu Duma yang tak pernah paham prinsip basa-basi dalam kehidupan, entah bagaimana dulu pak Azis merayunya masih jadi satu tanda tanya besar hingga detik ini.
“Ia mak assalamualaikum, sehat mamak?”
“Waalaikumsalam, gitu kan enak sikit kurasa mendengarnya, sehat aku.”
“Ada apa mak telpon aku siang-siang gini.”
“Bah, udah ga bolehnya mamak telpon anak mamak siang-siang rupanya, rindu kurasa cemana lah kau ini.”
“Boleh mak, boleh kali pun cuman biasa kan sore-sore mamak nelpon.” Raja menjawab pertanyaan mamaknya dengan lembut.
“Teringat mamak bang, udahnya kau bilang sama Yana itu minta kenal-kenalkan sama kawan-kawanya.” Suara mak Duma terdengar mulai lembut ala mamak-mamak kalau ada maunya.
“Apalah mamak ini.”
“Mana tau ada kawanya yang cantik, baik kayak dia. kau bilang kau udah kenalan samanya, mintalah kenalkan sama kawan-kawanya yang masih gadis atau janda pun bolehnya juga.
“Udahlah itu mak, bapak sehat,?” Tanya raja mengalihkan pembicaraan mak Duma.
Sambungan telepon itu terus berlangsung sampai hampir satu jam, segala macam cerita bu Duma didengarkan oleh Raja.
__ADS_1
Kalau mamak sudah bicara panjang lebar sampai menceritakan berapa telur ayam atau hal hal tak penting lainya itu artinya mak Duma rindu dengan kepulangan anaknya.
Raja paham dengan maksud mak Duma meski wanita yang melahirkan itu tak meminta langsung saja mengatakan akan pulang jika Lala sudah libur, karena Lala saat ini kelas enam dan sebentar lagi lulus sehingga Raja tak ingin mengganggu sekolah Lala.
Dan benar saja mak Duma langsung mengakhiri sambungan telepon itu sambil mengatakan akan mengirimkan sambal goreng teri medan dua toples yang satunya untuk Raja dan satunya lagi mamak meminta raja mengatakannya lagi pada Yana.
Faktanya mak Duma hanya bertemu sekali dengan gadis itu, namun kenapa mamaknya itu samai berbuat sebaik itu pada Yana, semenarik itukah Yana didepan mak Duma.
Dan pesan terakhir sebelum sambungan telepon itu benar-benar mati masih sama dengan sebelum-sebelumnya, meminta Raja melupakan bunda dari teman Lili yang sempat membuatnya sakit beberapa waktu lalu.
➰➰➰♥️♥️
Putra memasuki ruangan Doni dengan membawa sebuah amplop putih dan menyerahkannya langsung pada Doni.
“Ini surat pengunduran diri gue Don, gue tau butuh waktu satu bulan setelah surat ini lo terima baru gue bisa benar-benar berhenti kerja dari sini.” Putra yang sudah tak memanggil Doni dengan embel-embel mas pada menjeda sebentar kalimatnya.
“Kerjaan akan tetap gue kerjain sampai tiga puluh hari kedepan dari rumah, lu cukup emailkan aja ke gue apa yang harus gue kerjain.”
Kepala Doni sedang panas dan hampir pecah, Ia hanya berharap Yana tak pernah tau tentang niat buruk mamanya dan ia tetap bisa menikah dengan Yana, setelah itu ia akan ,membawa Yana pergi jauh dari mamanya.
Namun masalah lain datang sebelum ia sempat berpikir jernih, Putra memegang kunci keburukan rencana mamanya, bagaimana jika nanti putra mengatakan itu pada keluarga Yana.
“Ga perlu sampai kayak gini Tra, kita bisa bicara baik-baik.” Ucap Doni tenang.
“Dan kakak gue ga akan baik-baik, jika sebelum menikah saja mertuanya sudah menyiapkan madu untuknya.” Ucap Putra tak kalah dingin.
“Ingat Tra istri lo mau melahirkan hanya tinggal menunggu hari, lo butuh kerjaan ini.” Kali ini Doni sudah habis cara dan otaknya sedang tak berfungsi dengan benar untuk berpikir agar mulutnya mengeluarkan kata-kata yang lebih baik.
Putra terdiam sejenak, Doni pikir adik laki-laki dari calon istrinya itu setuju dengan apa yang ia katakan namun nyatanya lain.
Pukulan dari tangan terkepal Putra melayang di pipi Doni, tak cukup sampai disitu Putra menarik kerah baju Doni yang terduduk di lantai dan kembali menghujami laki-laki itu dengan satu pukulan lagi.
Akhirnya perkelahian dua laki-laki itu tak dapat dihindari lagi sampai keduanya sudah tak bertenaga lagi, satpam yang melihat perkelahian itu bahkan tak berani mendekat.
Putra bangun mendekat kepada Doni. “Kalau lu punya otak tinggalin kakak gue baik-baik.”
“Satu lagi, gue ga akan jual kebahagiaan kakak gue cuman untuk bekerja di kantor lo yang mewah ini, catat itu di hidup lo.”
Putra mengucapkan itu tepat di depan Doni sambil menunjuk kepala Doni dengan jari telunjuknya lalu pergi begitu saja.
Satpam sempat menahan Putra, namun Doni mengintruksi pada pihak keamanan kantornya itu untuk melepaskan Putra.
➰➰to be continue➰➰
♥️jangan menjual kesenangan saudara mu untuk mendapatkan kesenangan mu
〰️Sedikit lebih panjang dari biasa semoga ga bosan ya Rakan, jangan lupa bahagia jangan lupa syenyummmm ☺️〰️
__ADS_1