
☕️☕️☕️
Ikhlas bukanlah perkara mudah, sekalipun bibir bisa lancar berucap belum tentu hati sejalan dengan suara yang dikeluarkan.
Andoni yang memilih pulang ke rumahnya karena alasan kesehatan mama Jenlita yang memburuk, tentu saja tak semudah itu ikhlas kembali ke dunianya yang sudah laki-laki muda itu tinggalkan selama beberapa bulan terakhir.
Doni memutuskna pulang bukan hanya karena alasan kesehatan mama Jelita, Doni bersedia kembali ke rumah itu karena mama Jelita berjanji akan menerima Yana tanpa syarat.
Doni pernah menduga Yana telah menikah, namun pak Anggara mengatakan. Yana belum menikah dan menurut keterangan yang diberi orang suruhan pak Angga padanya, yang Doni lihat di rumah sakit hanya kebetulan karena gadis itu harus mengantar anak Raja ke rumah sakit.
Hanya saja, saat ini Doni sedang mengumpulkan keberanian untuk menemui Yana kembali.
Baru dua hari ini ia mencoba menikmati kembali peranya sebagai CEO salah satu pabrik textile terbesar di Asia milik ayahnya sendiri.
Pagi itu Doni sedang merapikan dasinya di depan pintu utama rumah mewah milik keluarga mereka sambil menunggu mang Didi supir keluarga mereka menyiapkan mobilnya.
“Mas, ada undangan untuk mas dan bapak.” Ucap satpam bertubuh kerempeng, petugas yang berjaga di rumahnya sambil menyerahkan sebuah amplop berwarna hijau tua.
Doni langsung membuka undangan tersebut setelah menerima amplop dengan nuansa hijau itu.
Didalamnya ada sebuah undangan berwarna senada dengan warna amplopnya.
Saat Doni membaca nama di undangan tersebut hatinya berantakan, terlebih saat membaca nama mempelai prianya.
Doni tau siapa laki-laki itu, seorang laki-laki pengecut yang pernah meninggalkan Ayyana-nya belasan tahun silam.
Hatinya memanas, ia jelas tak ingin Yana kembali lagi pada laki-laki itu, terlebih mamanya sudah setuju untuk menerima Yana Tanpa syarat Doni betekat untuk mendapatkan Yana kembali.
Tanggal yang tertera masih tiga hari lagi sampai hari H acara pernikahan itu digelar, hanya tanggal itu yang Doni liat, ia tak sempat melihat yang lainya.
Doni segera menaiki kendaraannya dan meletakkan undangan itu di atas dashboard lalu melajukan kendaraan itu dengan tergesa.
Tujuan Doni sudah jelas, rumah gadis yang pernah ia tinggalkan begitu saja tanpa penjelasan sepatah katapun beberapa bulan lalu. tanpa ia sadari ia tak jauh lebih baik dari Raja.
☕️☕️☕️☕️
Persiapan resepsi pernikahan Raja dan Yana sudah lebih dari delapan puluh persen, pagi itu Yana memutuskan pulang ke rumah orang tuanya dan menunggu di sana sampai resepsi pernikahan nanti.
Lala sudah tidak aktif sekolah setelah ujian akhir. Sedang Lulu tak mau sekolah, gadis kecil itu mengatakan ia sudah izin cuti menikah kepada miss Eva seperti Yana, dan menurut Lulu miss Eva sudah memberinya izin.
Entah dimana gadis kecil itu mendengar istilah begitu. Padahal faktanya Yana saja belum pernah mengabil cuti menikah, hanya saja ia sedang mengerjakan rekap nilai anak-anak sehingga Yana diperbolehkan mengerjakan dari rumah oleh pak Bangkit.
Sebuah koper kecil berisi pakaian Lala dan Lulu Raja turunkan dari dari mobilnya.
__ADS_1
Lala, sama Lulu beneran mau tinggal di sini sampai hari sabtu.” Tanya Raja dengan wajah sudah memelas berharap dua anak itu mau ikut pulang bersamanya.
“Dua hari yah, mana pulak lama kali.” Jawab Lala santai.
“Aboy.” Dan Lulu tak menjawab pertanyaannya, gadis kecil itu malah berlari memeluk Aboy yang ada di pangkuan bu Nur yang sedang duduk di teras rumah.
Lala mengikuti langkah Lulu dan menyalami bu Nur ragu-ragu.
“Cucu nenek kurang satu, Lili kemana.?” Tanya bu Nur hangat.
“Lili nemenin opung, ne nenek.” Jawab Lala terbata.
“Iya, nenek. Panggilan nenek ya, nah itu kakek.” Ucap bu Nur saat melihat pak Ahmad yang keluar dengan memeluk srigunting sang madu bu Nur di tangan kirinya.
Lala dengan ragu mendekat dan menjulurkan tangan pada pak Ahmad, laki-laki paruh baya itu langsung menyambut dengan hangat sehingga membuat hati Lala lega.
“Adek, salaman sama kakek.” Jawab Lala memeri perintah pada si kecil Lulu.
“Ga, akut.” Jawab Lulu malah menjauh berlari ke arah Yana dan meminta digendong ummanya itu.
“Dia takut unggas Yah,” Ucap Raja menjelaskan agar pak Ahmad tak salah paham.
“Terakhir saat kami pulang ke Medan beberapa waktu lalu ia sempat di kejar ayam peliharaan mamak.” Sambung Raja kembali.
“Sama Lu, nenek juga ga suka.” Jawab bu Nur cepat.
“Masih cemburu aja bu.” Ucap Yana sambil menyalami Ayah lalu mencium pipi bu Nur.
Bu Nur dan pak Ahmad mempersilahkan mereka masuk, namun Raja meminta maaf karena tak bisa lama ia terburu-buru karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan di kampus.
Baru saja, mobil Raja keluar dari pekarangan rumah milik pak Ahmad sudah ada suara deru mobil lain hanya saja lebih halus dari milik Raja.
“Ayahnya kenapa balik lagi, La.?” Tanya pak Ahmad yang sudah duduk manis menonton berita pagi setelah memasukkan Srigunting dalam sangkarnya.
“Bentar Lala tanya,” jawab Lala dan bergegas kembali ke depan.
Sedang Lulu sudah mengikuti Uthi yang menggendong Aboy untuk dimandikan.
“Bunda, ada yang nyariin.” Ucap Lala saat kembali ke dalam rumah pak Ahmad.
“Siapa, kak.” Tanya Yana sambil mengambil kerudung instan yang tergantung di dekat kulkas.
“Namanya om Andoni.” Jawab Lala polos.
__ADS_1
Yana mematung di tempatnya, hatinya kembali remuk redam saat mendengar nama itu, jika ditanya perihal cinta jelas bahwa laki-laki itu tak ada lagi dalam hatinya.
Hanya saja soal sakit yang pernah laki-laki itu torehkan terlalu menyakitkan belum hilang bekasnya.
“Kakak boleh bunda minta tolong.” Ucap Yana setenang mungkin.
“Naik ke atas ke kamar bunda, masukan semua baju yang ada di lemari yang menurut kakak bagus kedalam koper besar di samping lemari untuk di bawa ke rumah kita.” Ucap Yana saat melihat Lala menganggukan kepala.
“Bunda mau temui tamunya dulu sama nenek.” Jawab Yana saat melihat bu Nur sudah mendekat.
Tanpa curiga dan tak perlu menunggu waktu lama, Lala langsung naik menjalankan permintaan ibu sambungnya itu.
Yana bergegas meminta izin pada ayah dan ibu untuk untuk menemui Doni seorang diri saja di teras depan, pak Ahmad dengan berat hari memberikan Izin.
“Yana, mas minta maaf.” Ucap laki-laki itu saat melihat Yana berdiri di ambang pintu.
“Sudah dimaafkan mas,” Ucap Yana tenang sambil mempersilahkan Doni duduk.
“Kamu bisa pikirkan ulang untuk menikah dengan laki-laki itu Yana, masih ada waktu.”
“Mas janji akan memperbaiki semua, jika kamu mau hari ini kita bisa menikah.
“Kamu tak perlu dapat beban yang begini Yana, belum menikah saja laki-laki itu sudah membebanimu dengan anak-anaknya.” Ucap Doni panjang lebar.
“Mereka anak-anak saya mas.!” Jawab Yana.
“Yana, kamu ga akan bahagia beban kamu terlalu banyak jika menikah dengan duda anak tiga itu. Coba pikirkan ulang semua masih bisa dibatalkan.” Ucap Doni mencoba memegang tangan Yana.
“Maaf, saya istri orang tolong jaga sikap mas.” Ucap Yana memperjelas.
“Belum Yana, belum. masih ada waktu untuk kamu membatalkan.” Doni masih bersikeras.
“Mas, andai pun belum maka saya gak akan membatalkan pernikahan ini saya mencintai bang Raja.”
“Dan saat ini saya sudah sah istri bang Raja, tolong jaga sikap kamu. Saya doakan kamu segera mendapatkan yang terbaik pada saatnya nanti.”
“Kalau tak ada lagi yang di bicarakan saya harus masuk segera.” Ucap Yana datar
“Yana, beri mas kesem...” Ucapan Doni terputus saat melihat satu mobil SUV sport berhenti di samping mobilnya dan pengemudi mobil itu turun dengan tergesa ke arahnya dan Yana berada.
☕️☕️to be continue☕️☕️
☕️Ada yang kangen mas Brondong?
__ADS_1
☕️Jangan lupa bahagia Rakan, jan lupa syenyummmmmmm…
☕️senyum mas Don senyum, jan pulak kau galau awak di hujat rakan pembaca ini. Ku jodohkan sama Srigunting mau kau mas Don??