
☕️☕️
Semua hal yang terjadi pasti ada sebab musababnya, semua hal yang manusia lakukan pasti ada resikonya.
Pagi itu Raja terlambat bangun karena terlalu lama menikmati ejekan gumpalan awan-awan putih yang berjalan beriringan dengan tujuan yang sama.
Sedangkan Raja, untuk saat ini jangankan untuk mengajak orang lain beriringan ke tujuan yang sama. Orang yang bisa di ajak saja tak ada.
Ia tak sempat sarapan, kebiasan yang jarang sekali ia tinggalkan. Laki-laki itu hanya membeli bubur ayam untuk bekal dua anak perempuan ya Lala dan Lili sedang Lulu hanya ia belikan roti isi.
Raja beruntung tidak ada satupun dari anak-anak itu yang komplain ataupun bertingkah, mereka cukup dewasa menyikapi keadaan bahwa mereka tak punya ibu walaupun sering sekali Lulu bertanya tentang kapan punya mama baru.
Setelah mengantar anak-anak ke sekolah ia tak lupa menyempatkan diri membeli kopi arabika gula aren hangat serta satu bungkus bubur ayam yang diantar ke sekolah SMA Binaan satu tempat dimana sang pujaan hari berada.
Sikap Yana memang masih dingin tapi setidaknya wanita itu sudah mulai mau mengucapkan terimakasih dan sedikit basa basi serta kembali memanggil ya ‘abang’.
“Abang juga jangan lupa sarapan.” Setelah hampir sebulan baru pagi itu Yana mengeluarkan kata-kata demikian untuk Raja.
Dan hanya gara-gara lima kata itu, pagi Raja menjadi lebih bahagia, terasa lebih indah dari sebelumnya. meskipun Yana tak membalas pesannya malam tadi.
Sampai saat tiba di kampus Raja terus saja menyunggingkan senyum di bibirnya pada siapa saja yang ia temui.
“Jatuh cintah emang berjutah ya pakh rasanyah.” Ucap Tita saat Raja memasuki ruang ka. Prodi akuntansi itu.
“Ia berjuta, gaji kamu mau saya potong berapa juta.” Tanya Raja galak.
“Marah mulu ihh, makanyah bu Yana ituh ga mauh samah bapakh.” Tita malah memancing di kolam hiu.
“Kalau gadis itu menolak saya, berarti itu doa kamu dan kamu bisa cari pekerjaan baru kalau hal itu sampai terjadi.” Jawab Raja sinis.
Akhir-akhir ini segala hal yang menyangkut tentang Yana selalu saja ia bawa serius dan tak bisa di jadikan bahan candaan.
“Ya Allah pak, jodoh kan samah Allah kenapah sayah yang salah lagih sih.” Tita juga sudah mulai kesal dengan bosnya yang menurutnya sedang puber mendekati gila.
“Ruang sidang berapa.?” Tanya Raja datar.
“Empat.” Jawab Masyitah tak kalah datar.
Andai tidak mempertimbangkan kebaikan Raja dan sikap laki-laki itu yang selalu menghargai wanita dan bawahannya maka Tita sudah berhenti kerja sejak dulu sekali.
Namun Tita juga paham ini hanya sementara karena selama ia menjadi sekretaris Raja sejak laki-laki menjabat sebagai kaprodi, laki-laki yang selalu hemat bicara itu selalu benar-benar bersikap baik pada Tita.
__ADS_1
“Akuh harus siapin CV baruh nih siapah tau bu Yana benar-benar nolak diah.” Gumam Tita dan ternyata di dengar oleh Raja.
Lirikan mata maut Raja siap mencabut nyawa Titta detik itu juga, tapi wanita itu tak habis akal.
“Pakh sidangnya jham dehlapan sekarang jam tujuh limah puluh,” ucap Tita sambil menunjuk jam dinding yang tepat berada di depan Raja.
Tanpa ada jawaban Raja langsung saja keluar menuju ruang sidang yang sudah Titta beritahu sebelumnya.
Sidang mahasiswa yang pertama lancar tanpa hambatan, dilanjutkan dengan sidang mahasiswa kedua, hati raja sedang senang tak ada derama mahasiswa gemetaran saat menerima pertanyaan dari Raja seperti biasa.
Sepanjang sidang juga ia terus saja tersenyum, banyak mahasiswa dan rekan-rekan sesama dosen yang heran namun tak berani bertanya apakah gerangan.
Jika sampai orang lain tau ia bahagia hanya karena perihal Yana mengingatkan dirinya untuk makan mungkin semua orang akan menertawakannya.
Saat sidang ketiga selesai ia berdiri dan pamit lebih dulu pada rekan-rekannya sesama dosen.
Namun baru sampai pintu, Mata Raja berkunang-kurang ia sampai meminta tolong beberapa mahasiswa memapahnya.
Beberapa mahasiswa itu bergegas memberi tahu keadaan Raja pada Tita dan wanita itu meminta bantuan beberapa mahasiswa untuk mengantar Raja ke rumah sakit.
“Duhh maluh pakh, kayak Kuching minta kawin ajah.” Kata Tita kesal saat mendengar penjelasan dokter bahwa Raja kurang glukosa atau kandungan gula dalam darah dan setelah ditanya ternyata laki-laki itu melewatkan makan malam dan sarapan serta hanya minum kopi pahit tanpa gula sama sekali.
“Berisik, jemput anak-anak saya ke sekolah sekarang.” Jawab Raja datar.
“Jahngan lupah telhpon gurunyah bilang Tittah yang jemputh.” Ucap Tita lagi saat sudah di depan pintu.
Sepasang mahasiswa yang menemani di ruangan itu hanya bisa senyum saja.
“Kamu pemilik mobil, yang bawa saya kesini.” Tanya Raja pada seorang mahasiswa itu.
“Ia pak.” Jawab mahasiswa itu.
“Terimakasih. Tolong ambil barang saya di mobil kamu setelah itu kalian boleh pulang.” Ucap Raja pada sepasang mahasiswa itu.
Dan di angguki oleh kedua orang tersebut serta langsung keluar dan menuju mobil yang membawa Raja ke rumah sakit tadi.
☕️☕️☕️☕️
Yana menimbang-bimbang apa yang harus ia lakukan saat menghadapi dua monster kecil yang sekarang sedang ada di hadapannya.
“Ayo bun, telpon ayah kuncir biar kita cepat pulang kami udah lapar. Ia kan Cir.” Cicit Adam tak sabar.
__ADS_1
“Ia, tadi pagi pun Lili ga sarapan ayah terlambat bangun.” Ucap Lili jujur membuka aib sang ayah di depan sang mantan dengan santai tanpa dosa
Namun ucapan gadis itu tak di tanggapi santai oleh Yana, ayah macam apa Raja sampai membiarkan anak berangkat sekolah tanpa sarapan terlebih dahulu.
Akhirnya Yana mengalah, apa salahnya ia mengatakan pada laki-laki itu bahawa putrinya sudah menunggu. Hanya itu, tak ada niat sedikitpun darinya untuk membawa Lili ke rumahnya.
“Hahh hahhlohhh” Jawab seorang wanita setelah panggilan kelima, dengan nafas terengah-engah di seberang sana saat Yana menelpon ayah dari anak kecil bernama Lili itu.
Yana menjauhkan ponsel dari telinggalnya melihat nama kontak yang ia telpon, disana tertera ‘Hantu blau’ itu artinya ia tak salah menelpon orang.
Namun entah kenapa suara wanita di seberang sana membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
‘Oh lagi sama prempuan makanya lupa sama anaknya’ batin Yana saat mendengar suara wanita itu.
“Mahraja mana.” Tanya Yana ketus pada wanita itu.
“Ahh adahhh buu.” Jawab wanita itu lagi.
“Kamu siapa.?” Tanya Yana dengan suara meninggi.
“Huhhh huhhh huhhh maaf bu saya mahasiswa bapak.” Ucap wanita itu lagi.
“Hah,” Hampir saja Yana memutuskan sambungan telepon itu tapi suara wanita itu berbicara dengan temannya membuat Yana kembali mendengar percakapan mereka.
“Udah gue bilang jangan lewat sini, ketemu mayat kan kita huhh huhh huhh” suara seorang laki-laki yang Yana yakini itu bukan Raja.
“kan huhhh huhh biar cepat lagian elu laki takut mayat.” kali ini terdengar suara wanita yang mengangkat telpon tadi.
“Bu, maaf huhhhh tadi kami lewat kamar jenazah jadi kami lari, bapak di IGD bu kami sedang menuju IGD mengantarkan ponsel bapak yang tertinggal bu.”
“Maaf juga bu saya terpaksa mengangkat telpon dari ibu karena ibu sudah menelpon berkali-kali”*
“Rumah sakit mana.” Tanya Yana.
“Sehat hospital bu.” Jawab gadis itu sambil mengatur nafasnya.
__ADS_1
“Baik.” Hanya itu yang Yana jawab dan ia langsung mematikan sambungan telepon itu.
☕️☕️to be continue☕️☕️