Dia Yang Kembali Datang

Dia Yang Kembali Datang
Gunanya Adik Perempuan


__ADS_3

💚💚


Waktu terus berlalu mau tak mau suka tak tetap harus dilewati tak peduli bagaimanapun cara melewatinya susah senang atau bahkan sedih sang waktu tak pernah peduli iya hanya terus berjalan sebagaimana mestinya iya berputar.


 


Kata orang waktu bisa menjadi obat bagi mereka yang sedang sakit namun bukankah waktu juga bisa menjadi penyebab bagi mereka yang akan terluka.


 


Begitu juga Yana waktu belasan tahun nyatanya tidak cukup untuk menjadi obat lupa pada masa lalunya. Yana memang pernah lupa namun kejadian akhir-akhir ini seolah membuka lembaran lama yang masih jelas tulisanya.


 


Beberapa hari ini bahkan terasa lebih berat, Yana yang setiap pagi mengantar Adam ke sekolah selalu bertemu dengan Raja yang juga mengantar kedua putrinya. Entah apa yang sedang Tuhan rencanakan untuk Yana.


 


Berjauhan dengan Doni di saat seperti ini sangat-sangat membahayakan untuk Yana namun ia terus bertekad bahwa pilihannya kali ini sudah benar, tidak akan ada kesempatan kedua untuk Raja.


 


Kadang Yana mengutuk diri mengapa dia begitu percaya diri bahwasanya Raja akan meminta kesempatan kedua. Bukankan Raja selalu bersikap biasa saja.


 


Sore itu Elita datang menjemput Adam dengan membawa serta ibu mertuanya yang ikut ke jakarta. Interaksi mertua dan menantu yang Yana lihat membuatnya teringat pada Tante Jelita, akankah wanita yang melahirkan Doni itu berlaku sebaik dan semanis mertua Elita.


 


"Bu, aku ga antar Idris kesini dulu ya sementara ada oma." Kata Elita sore itu pada ibu yang sedang bertukar kabar dengan mertuanya di ruang keluarga.


 


"Ya gapapa biar dekat juga ya sama omanya ya bu," jawab bu Nur ramah pada besannya itu dan hanya dijawab dengan permintaan maaf oleh besannya itu karena mengambil waktu bersama adam dan idris sementara waktu.


 


Pernah juga Yana melihat dan mendengar sendiri ibu mertua Elita memarahi anaknya hanya karena mengatakan Elita gendutan setelah melahirkan Adam dulu. Padahal jelas terlihat Ali, suami adiknya itu hanya bercanda. tapi ibu mertua Elita yang di panggil oma oleh Adam dan Idris itu benar-benar membela Elita dan mengurus Elita yang baru siap melahirkan dengan penuh sayang.


 


Pikiran Yana kembali melayang sangat tidak mungkin tante Jelita bisa secocok itu dengan ibunya dan dirinya sekarang saja saat pergi dengan tante Jelita pakaian yang Iya pakai saja harus sesuai kemauan tante Jelita.


 


"Kak kemarin Adam berantem gimana ceritanya," Tanya Elita pada Yana yang sedang berkhayal bagaimana masa depannya dengan Doni nantinya.


 


"Hahahaha jambak-jambakan parah anak lu." Jawab Yana setelah puas tertawa.


 


"Masa sih kok bisa." Elita masih belum percaya.


 


"Dia godain cewe, itu cewe rambutnya di kuncir dua, dia ngatain kuncir kuda, di bales dong sama si cewe dia dikatain ompong. Cieee Adam udah berani nek, oma goda-goda cewek." Ucap Yana menggoda Adam.


 


Sontak saja semua tertawa ayah malah sampai mengangkat jempol tanda setuju pada tindakan Adam mengusili gadis kecil itu, bener-benar dukungan yang salah.


 


Namun yang digoda tak peduli dan terus saja duduk di pangkuan Putra yang sedang main game online.


 


"Ada-ada aja si Adam, sama siapa sih anak siapa? aku kenal semua orang tua murid di kelas dia." Tanya Elita belum puas.


 


Santak saja Yana seperti berada dalam masalah besar tak mungkin dia katakan di depan semua keluarga anak siapa gadis kecil itu.


 


Yana langsung berdiri dan mengajak Elita ke kamarnya, dengan alasan ingin menanyakan perihal baju apa yang pantas Yana pakai untuk acara lamaran.


 


Pak Ahmad memang sudah setuju menerima lamaran Doni dan bu Nur juga walaupun dengan sedikit terpaksa. Namun bu Nur tidak mungkin melarang jika memang Ayyana sudah menetapkan pilihan.


 


"Apa? Ada masalah apa?." Pertanyaan itu langsung keluar dari mulut Elita saat Yana menutup pintu kamarnya.


 

__ADS_1


Yana masih diam bingung dari mana dia harus memulai ceritanya.


 


"Kak, lu jan buat gua penasaran cepetan apa," Paksa Elita.


 


"Gadis itu a...anak bang Raja." Ucap Yana gugup.


 


"Raja mantan lu." Elita membelalakan matanya terkejut. "Anak baru pindahan dari Medan itu." Tebak Elita tepat sasaran.


 


"Lu tau dek," Kali ini Yana yang terkejut.


 


"Ya mana gue tau siapa bapaknya, yang jelas ada masuk di grup pesan kelasnya Adam, katanya pindahan dari Medan." Jawab Elita mulai santai.


 


"Mamanya udah meninggal dek," Sambung Yana.


 


Elita hanya diam memperhatikan wajah sang kakak yang tak terbaca kemana arahnya.


 


"Bang Raja sekarang duda sudah hampir empat tahun."


 


"Anaknya tiga perempuan semua."


 


"Istrinya meninggal saat melahirkan anak bungsunya karena hipertensi berat dan pendarahan."


 


"Bang Raja sekarang mengajar di universitas Anak Harapan Bangsa sebagai dosen tetap."


 


 


Melihat Elita yang diam saja Yana merasa aneh, adiknya ini biasa akan memberi solusi perkalimat yang dia bicarakan.


 


"El dengar ga sih,?" Yana mulai tak sabar.


 


Elita menatap nanar kakaknya, dan menggenggam tangan kakaknya itu dengan lembut.


 


"Sebanyak itu lu tau tentang dia yang sekarang kak,"


 


Yana terkejut dengan pernyataan Elita, adiknya itu benar mengapa sebanyak itu yang Yana tau.


 


"Lalu yang ponselnya tertinggal di tas lu? Itu punya si duda itu," Tanya Elita memastikan.


 


Yana hanya bisa diam, ibu melanggar janji padanya.


 


"Jangan salahin ibu yang cerita ke gue kak, ibu hanya khawatir saja dan berbagi cerita."


 


"Kenapa bisa ketinggalan di tas lu?"


 


Yana diam sejenak menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan Elita.


 

__ADS_1


"Siang itu aku balik ke sekolah ambil tugas anak-anak bang Raja menawarkan mengantar aku pulang dan aku iyakan, katika adzan dzuhur bang Raja langsung berhenti di masjid terdekat untuk shalat, dia menitipkan hape nya di tas ku." Yana terdengar menarik napas lagi sebelum melanjutkan kata-katanya.


 


"Hanya itu saja El tidak lebih." Ucapanya lagi.


 


"Lu belum lupakan kak gimana skripsi lu hampir gagal karena kabar dia menikah dulu." Kali ini Elita berbicara benar-benar sangat lembut.


 


Yana mengguk. "Ingat sangat ingat." Ucapnya.


 


"Sekarang lu siap jadi ibu sambung? Anak tiga?"


 


"Sama mas Doni juga aku kurang suka sih, ibunya itu aku ga suka."


 


"Tapi untuk kembali sama bang Raja bukankah terlalu gegabah kak." Elita mencoba mencari tau condong kemana hati Yana.


 


"Ga kok siapa yang mau balik sama dia aku cuma cerita El." Sanggah Yana cepat.


 


"Terus." El menunggu jawaban Yana berikutnya.


 


"Terus ya aku cerita aja."


 


"Kak yang akan menjalani semua itu kakak, aku hanya bisa sebagai penonton dan pemberi komentar saat kakak meminta dan aku juga bukan orang yang telat untuk kakak minta pendapat."


 


"Rumah tangga ku masih seumur toge kak, kalau kakak mau bertanya ibu orang yang paling tepat."


 


"Cara cerita saja sudah memperjelas masih ada nama Raja di hati kaka." Kali ini Elita menunjuk letak jantung Elita.


 


"Dan juga di pikiran kakak." Tangannya beralih ke kening Elita.


 


"Untuk ku keduanya sama saja boleh saja dan wajar saja, Mas doni kah Bg Raja kah? Boleh saja Asal kakakku ini bahagia"


 


"permasalahan sekarang adalah keluarga sudah tau bahwa kakak akan dilamar mas Doni dua minggu akan datang."


 


"Tapi kak.” Elita menarik napas sebentar. “Semua belum terlambat, biar malu asal kakak mendapatkan yang terbaik dan yg bisa membuat kakak benar-benar hidup."


 


"Pikirkan matang-matang kak, berdoa minta petunjuk." Ucap Elita sambil memeluk kakaknya.


 


"Aku sayang kakak dan kali ini kakak harus dapat yang terbaik kakak harus bahagia."


 


Yana mengangguk jika Elita sudah bicara formal aku kamu begini berarti si mulut cabe ini sendang benar-benar serius dan saat ini seolah Yana yang menjadi adik.


 


➰➰to be continue➰➰


 


♥️Usia tidak menjamin kau mampu mengatasi masalahmu sendiri karena pandangan mu pada masalah mu berbeda dengan pandangan orang lain pada masalahmu.


 


 

__ADS_1


〰️tetap semangat jangan lupa bahagia jangan lupa syenyummmm😊〰️


__ADS_2