Dia Yang Kembali Datang

Dia Yang Kembali Datang
3. Spesial Part (Gara-Gara Ulah Ayah)


__ADS_3

🌴🌴🌴🌴🌴


Hari berlalu begitu cepat gadis kecil yang dulu membuat Yana luluh dan pada akhirnya kembali membuka hati untuk Raja kini sudah duduk di kelas 3 MTs. Dan sudah beberapa bulan ini Lala hampir setiap minggu meminta pulang dari pesantren walau hanya sebentar namun tak pernah diizinkan oleh sang ayah entah apa sebabnya.


Hubungan Lala dengan ibu sambungnya berjalan sangat harmonis dan baik selayaknya ibu dan anak, jika pun ada selisih paham sedikit menurut Yana dan Raja itu hal biasa. Mengingat Lala sekarang beranjak dewasa dan sedang mencari jati diri.


Yana dan Raja selalu berusaha menempatkan diri sebagai orang tua sekaligus sahabat untuk keempat anak-anaknya, terutama bagi Lala dan Lili yang sudah mulai dewasa dan lebih kritis dalam segala hal.


Namun untuk Lala beberapa bulan terakhir hal itu hanya terjadi antara dirinya dan Yana, sedangkan dengan sang ayah hanya rasa kesal yang gadis remaja itu rasakan dan dua bulan terakhir kesalnya berubah menjadi marah yang hebat.


Itu semua terjadi hanya karena hal sepele yang dianggap Lala kesalahan namun menurut Raja adalah sebuah kewajaran. Yaitu perihal Lala dilarang pulang ke rumah mereka dan Yana yang tak pernah terlihat datang mengunjunginya.


Pagi itu hari jumat, Lala tiba-tiba meminta izin untuk pulang sebentar kepada penjaga asrama dan ustadzah penanggung jawabnya. Hal itu ia lakukan bukan tanpa sebab, sepanjang malam wajah Yana dan Mia terus saja melintas di mata Lala.


“Bener, kan, aku bilang pasti ada apa-apa dengan umma.” Ucapan Lala kesal saat mobil Yana yang di kendarai Putra memasuki area rumah sakit.


Awalnya Raja tak ingin Lala tau tentang kondisi Yana, namun seminggu ini Lala terus saja menelpon meminta pulang atau Raja harus membawakan Yana kebogor, hal yang tak mungkin Raja lakukan.


Sudah hampir lima bulan Yana tidak datang mengunjungi Lala dan Lala juga tak diperbolehkan pulang, mereka hanya bisa berkomunikasi melalui sambungan telepon saja saat dua minggu sekali Raja datang menjenguknya Lala.


Pagi tadi Lala menelpon dan mengancam jika gadis itu tak dijemput untuk pulang maka dia akan nekat kabur dan pulang sendiri ke Jakarta menaiki angkutan umum. Raja paham betul Lala tak pernah main-main dengan Ucapanya.


Raja mengalah dan meminta tolong pada pak Azis dan Putra untuk datang menjemput gadis itu ke bogor. Pak Azis juga sempat bertemu langsung dengan ustaz penanggung Jawab untuk meminta izin Lala libur sampai sabtu dan berjanji akan mengantar Lala kembali ke pesantren sabtu sore.


“Baik-baik aja Uma mu, tenang kau.” Jawab pak Azis menenangkan.


“Aku udah ga percaya, semuanya bohong,” Jawab Lala kesal.


Memasuki ruang rawat inap mata Lala terbelalak melihat Yana yang sedang dalam posisi setengah duduk di atas tempat tidur dengan perut membuncit, di sudut lain ruangan itu juga ada dua wanita hamil lainnya namun dalam kondisi lebih sehat dan segar bahkan sedang menikmati bakso, yaitu Putri dan Elita.


Lala berjalan kearah Yana diam tanpa kata sambil melirik keberadaan Raja di sofa yang sedang memangku Nua sambil memberi susu pada bayi yang kini berusia 18 bulan itu.


“Anak Uma sehat sayang,” tanya Yana sambil mengusap kepala Lala saat gadis itu menyalaminya. “Salim sama ayah dulu sama yang lain juga.” Tambah Yana lagi.


Gadis itu patuh dan menyalami satu persatu orang-orang yang ada di ruangan itu, keluarga mereka selalu saja datang berkumpul ramai-ramai saat ada yang sakit bahkan sering di tegur oleh petugas.


Putra segera pamit setelah mengantar Lala ke kamar tempat Yana dirawat, sebelum benar benar meninggalkan ruangan itu Putra sempat mengganggu Istrinya dan Elita yang sedang menikmati bakso. Pak Azis menunggu di parkiran mereka harus menjemput mak Duma terlebih dahulu sambil membeli beberapa keperluan Yana.


“Umma masih sayang sama aku.” Tanya gadis itu tanpa basa basi sambil menduduki kursi di samping bed pasien yang Yana tiduri setelah menyalami semua.


“Kenapa nanya gitu, mana ada ibu ga sayang sama anaknya, kak.” Jawab Yana pasti.


“Tapi kalau ibu bohong sama anaknya ada, kan, Um?” Tanya Lala lagi.

__ADS_1


“Umma ga mau sekolah kamu terganggu karena memikirkan keadaan umma sayang.” Jawab Yana memberi penjelasan. “Umma baik baik aja.”


“Gimana, udah sampai juz berapa hafalannya, kak?” Tanya Raja menghampiri sambil mengusap kepala anak gadisnya itu penuh sayang.


Nua sudah berpindah tidur ke atas sofa dan di jaga oleh bu Nur agar bayi itu tak jatuh.


“Ayah ga nepatin janji,” gumam Lala tanpa melihat ke arah ayahnya sedikitpun.


“Sayang, Uma gapapa,” Yana berusaha duduk tegak di bantu oleh Raja. “Uma sehat-sehat aja nih liat.” Tambah Yana lagi sambil merentangkan kedua tanganya. Menunjukkan bahwa ibu hamil delapan bulan itu baik-baik saja.


Lala kembali berdiri dan memeluk Yana erat “Umma jangan kenapa-kenapa ya, aku sayang Uma,” Bisik Lala lirih di telinga ibu sambungnya itu.


Raja kembali mengusap kepala Lala penuh sayang, “Minggu lalu Lala bilang sama ayah, bahwa kita sebagai manusia tidak boleh risau dengan apa yang belum terjadi. Kenapa hari ini justru ibu ustazah yang risau.”


Lala melepas pelukannya pada Yana dan menatap Raja dengan wajah bersemu merah, begitulah kebiasaan Lala yang selalu dengan antusias dan menggebu membagikan ilmu yang ia dapat dari para ustadz dan ustadzah yang mengajarinya pada semua orang terutama Lili dan Lulu setiap keluarganya datang berkunjung.


Lala juga sering mengatakan pada Raja dan Yana suatu saat ia akan menjadi seperti para ustadzah itu yang akan memberi nasehat-nasehat dan ilmu ilmu bermanfaat kepada anak didiknya.


“Aamiin, insya Allah jadi bu ustazah ya nak.” Ucap Yana ikut mencairkan suasana dan membuat Lala menunduk malu saat semua orang di ruangan itu ikut mengaminkan.


“Ayah, mama dan umma udah punya tiket ke surga ni,” goda Raja lagi sambil mencolek colek lengan Lala.


“Ajak onty juga ya bu ustazah,” celetuk Elita yang baru saja menghabiskan satu mangkok bakso.


“Ayah,” ucap Lala dengan gigi merapat tanda kesal telah diganggu dan di sambut degan tawa serta pelukan hangat dari ayahnya.


Yana juga bercerita bahwa yang merasakan ngidam justru Raja dan sudah jelas masyitah yang jadi korbannya.


Tawa mereka berhenti saat mendengar suara ketukan pintu di susul mak Duma yang masuk dengan wajah tak kalah kesal dari Lala saat pertama gadis itu datang tadi.


Lala bergegas menyalami opung tersayangnya itu dan bertanya pada atok apa yang terjadi pada opungnya.


“Biasalah opung mu La, kalau ga ngomel-ngomel mulutnya itu sakit lah dia itu berarti.” Jawab pak Azis asal sambil mengambil koran lalu duduk di lantai dengan alas karpet kecil yang mereka bawa dari rumah.


“Cakap mu pak ya,” Jawab mak Duma cepat.


“Cemana ini bang, harus pulang rupanya mamak kemedan kalau mau ganti sertifikat tanah itu.” Ucap mak Duma pada Raja tanpa memperdulikan banyak orang disana.


Elita, Putri dan bu Nur akhirnya pamit keluar dengan alasan ingin berkeliling melihat lihat keadaan sekitar rumah sakit tersebut dan membiarkan keluarga itu menyelesaikan urusan mereka.


“Udahlah mak, biar nanti untuk dia aku yang ngasih.” Jawab Raja menenangkan.


“Kasih apa yah.”? Tanya Lala heran.

__ADS_1


“Warisan opung mu.” Jawab Raja.


“Kebun sawit opung kenapa.” Tanya Lala lagi dengan wajah bingung.


“Sini atok jelaskan,” ucap pak Azis yang sudah pindah duduk ke sofa melambaikan tangan pada Lala. “Opung mu itu ga sabar, di bagi kannya semua kebun sawit, rumah, kolam ikan sama pabrik untuk cucu-cucunya.”


“Terus, tok?”


“Udah ku larang, ga didengarkan opung mu itu mentang-mentang semua atas namanya padahal atok yang punya.”


“Jadi masalahnya apa?”


“Masalahnya seminggu setelah semua surat itu selesai barulah ketahuan kau mau punya adik lagi.”


“Ohh,” jawab Lala paham.


“Udahlah Duma, itu ada mesin jahit buruk di rumah, itu aja kau bekali untuk si Ucok itu nanti.”


“Cakap mu ya pak, itu-itu aja kau ulang-ulang nyari perkara aja bapak sama aku.” Jawab mak Duma kesal.


“Itulah akibatnya kalau tak sabar, tak mau mendengar nasehat suami kena azab kau, kan.”


“Astagfirullah pak, tega kali bapak sama aku.”


“Ga usah di permasalahkan mak, ga ada juga gapapa mak.” Jawab Yana berusaha menenangkan.


“Anak ini nanti ada dari kami mak,” tambah Raja


“Mana bisa macam itu, dari kelen ya kelen dari mamak sama bapak ya beda lagi, cemana nanti aku di tanya malaikat kenapa aku tak adil sama cucu cucu ku.” Jawab mak Duma. “Ga jadi pulak aku masuk surga gara-gara itu,” tambahnya kemudian.


“Melawan sama suami, pun, gak masuk surga juga,” celetuk pak Azis yang sedang membaca koran tanpa melihat ke arah mak Duma. Sehingga pak Azis tak melihat tatapan setajam silet milik mak Duma untuknya.


“Gara-gara kau semua ini.” Ucap mak Duma sambil melihat ke arah Raja.


“Kok, aku.?”


“Kaulah, mau kau hamili Yana ga kau kasih tau dulu sama mamak.”


“Astagfirullah, mak, mulut mamak.”


“Nua, tutup telinga dek, kita belum boleh dengar cakap orang dewasa.” Ucap Lala sambil berjalan ke arah sofa dan mengangkat tubuh gempal Nua yang sudah membuka mata sejak tadi ke dalam gendongannya.


🌴🌴🌴🌴🌴

__ADS_1


🌴🌴Holaaaa Rakan, apa kabar?? Ada yang rindu aku kah?? Hihihi ehh salah, ada yang rindu Raja Yana kah???


🌴🌴Jan lupaa bahagia jan lupaa syenyummmm Rakannn


__ADS_2