
💚💚
"Siapa yang sakit bu.” Tanya Yana membuka percakapan sambil jalan menuju kantin rumah sakit itu.
“Anak ku nak, patah hati sampai naik asam lambungnya.” Ucap wanita itu secara gamblang.
Yana tertawa mendengar ibu itu berbicara begitu terbuka padahal mereka baru saja kenal beberapa menit lalu, bahkan Yana tak tau siapa nama ibu itu.
“Biasa lah bu ya, anak muda.” Ucap Yana sambil masih tertawa.
Rasa nyaman memang kadang membuat kita betah berlama lama dalam satu waktu yang sama dengan seseorang meskipun orang tersebut baru saja kita kenal.
Hal itu juga yang sedang Yana alami saat ini, gadis itu awalnya hanya berencana membeli kopi untuk meringankan sedikit beban di kepalanya karena masalah yang terus saja setia menghampirinya hari ini.
Namun rasa nyaman ngobrol dengan ibu-ibu itu membuatnya memutuskan menemani ibu itu makan di luar area rumah sakit, Yana bahkan melupakan bahwa ponselnya yang ia titipkan untuk di charge tertinggal di nurse station.
“Siapa namamu nak.” Tanya ibu itu setelah mereka duduk dan memesan dua porsi nasi uduk dan juga dua teh manis.
“Ayyana bu, pangil Yana aja.” Jawab Yana.
“Cantek nama mu, nama mamak Duma, bukan Duma yang artis cantik itu. Tapi gak kalah cantik juga lah aku.” Ucap bu Duma sambil sedikit tertawa yang menular pada Yana.
“Ibu ada-ada aja," Ucap Yana.
“Namanya hidup nak ku jan pala dipikir kali nanti sakit macam anakku itu.”
“Siapa mu sakit nak.” Tanya bu Duma pada Yana yang sudah mulai menikmati nasi uduknya dengan senyum lebar, hal yang sangat langka untuknya selama setahun ini kembali terjadi lagi hari ini dan ia berharap Doni tak tau hal ini.
“Murid saya bu kecelakaan, orang tua dan keluarga besarnya sedang umroh pamannya sedang dalam perjalan dari jogja menuju kesini. Makanya saya dulu yang nemenin.” Yana menjelaskan panjang lebar.”
“Baik kali hati mu nak.”
“Sudah jadi kewajiban saya bu.” Ucap Yana.
“Ya gitu lah ya hari ini anak orang kita tolong besok anak kita ditolong orang.”
“Laki mu udah taunya kau disini nanti kecarian pulak udah sore ini.” Bu Duma mengingatkan.
Yana hanya diam saja tak menjawab dengan sedikit raut wajah yang berubah, memang jika memakai pakaian formal Yana sudah pantas disebut ibu-ibu.
“Eh salahnya cakap ku, maaf lah nak ya.” Ucap Bu Duma sungguh-sungguh.
“Gapapa bu orang-orang memang sering berpikir begitu, Saya belum menikah bu.” Ucap Yana menenangkan.
“Memanglah mulut ku ini gak ada rem nya maaf ya nak.” Ucap Bu Duma lagi.
__ADS_1
“Gapapa bu.” Jawab Yana sambil tersenyum.
“Jangan lah kau pikir kali nak nanti adanya itu kalau udah waktunya, awak dulu sembilan belas tahun udah satu anakku, si Mahrani anak ku yang bungsu tiga puluh tahun baru dapat jodohnya.”
"Jan kau pikir kali, nikmati aja dulu masa sendiri mu, nanti dah nikah punya anak kekamar mandi pun kau tak sempat." Kata bu Duma sambil tertawa.
Yana hanya tersenyum ucapan bu Duma membuat hati Yana menghangat dan jauh lebih baik, Yana yang awalnya merasa malu mengaku belum menikah kini merasa lebih baik.
“Udah ada calon mu?”
“Sudah bu.” Jawab Yana.
“Pikirku tadi belum ada biar ku kenalkan sama anakku yang patah hati itu, siapa tau sembuh patah hatinya.” Dan kata-kata bu Duma menjadi bahan tertawaan untuk dua orang yang beda usia itu seolah mereka sudah lama saling kenal.
“Di kamar berapa bu nanti kalau ada waktu saya berkunjung.” Tanya Yana saat mereka sudah selesai makan sambil berjalan kembali ke rumah sakit.
“Vip tiga, ayok lah sekalian singah,” Ucap bu Duma dan di angguki oleh Yan tanda setuju.
Namun saat melewati kamar Operasi Doni sudah menunggunya di kursi tunggu yang terpisah dari Cia dan keluarganya.
Tatapan tajam Doni membuat Yana heran, apa salahanya ia sudah memberi tahu tentang keberadaan sesuai janjinya ia akan mengabari dmana pundia berada. Namun apalagi salahnya sekarang.
Yana meminta maaf pada bu Duma karena tidak bisa ikut melihat anaknya dan berjanji mungkin besok atau lusa jika dia datang lagi kerumah sakit ini ia akan berkunjung ke kamar tempat anak bu Duma dirawat.
Bu Duma yang mengerti hanya mengatakan ‘Iya’ dan mendoakan agar pernikahan Yana segera terlaksana serta Yana bahagia dunia akhirat.
Bu Duma kembali ke kamar tempat Raja dirawat dan mendapati suaminya tidak berada disana, Hanya ada Lulu yang tertidur samping Raja sambil kepala anak itu dielus penuh sayang oleh Raja.
Serta seorang wanita yang memakai rok pendek di bawah lutut berwarna abu-abu kemeja merah terang dan blazer merah tua dengan rambut tergerai indah yang duduk di dekat Raja sambil membuka beberapa berkas dan ditandatangani oleh Raja.
“Saya Masyitah bu sekretaris pak Raja,” Ucap gadis itu memperkenalkan diri yang hanya di angguni oleh Bu Duma.
“Bapakmu mana Ja?” Tanya bu Duma.
“keluar mak beli kemek-kemek untuk anak-anak sama Lala sama Lili.” Jawab Raja.
“Siapa yang antar Lili sama Lulu kesini.” Tanyanya lagi.
“Saya bu yang jemput mereka dari rumah sepulang dari kampus tadi dan membawa mereka kesini.” Justru Tita yang menjawab.
Bu Duma hanya mengangguk dan memilih tidur di sofa sambil terus memperhatikan Raja dan sekertaris anaknya itu.
“Bapak cepat sembuh yah, titah kan jadi sepi di kampus.”
“Em.” hanya itu yang keluar dari mulut Raja,
__ADS_1
“Inih yang persehtujuan magang mahasiswah magang di Bank daerah pakh.” Tita membuka lembaran yang harus Raja tanda tangani.
“Inih kontrakh denghan NarArt corph.”
“Nah yang inih nama mahasiswah yang mengajuhkan sidang sekripsih, tittah tingal disinih untuk bapak bacah kalau sempat.”
“Udah semuah Tittah pamit yha pakh, chepat sembuhh.” Ucap gadis dan menoleh ke arah bu Duma yang sedang tertidur di sofa.
“Salam buat chalon mertuah ya pakh,” Ucap gadis itu sambil melirik bu Duma yang tertidur di sofa sambil membereskan berkas-berkasnya dan bangun dari duduknya.
“Kamu mau saya pecat.” Ucap Raja dengan mata melotot.
“Dih galak deh, tauh aja Tittah suka digalakin.” Ucap gadis Itu dan keluar dari kamar Rawatan itu.
Baru saja gadis itu menutup pintu kamar rawat itu dari luar mata bu Duma sudah terbuka lebar.
Tadi bu Duma memang memejamkan mata saat mendengar interaksi antara gadis itu dan anaknya, namun ia tak benar-benar tidur dan masih bisa mendengar dengan jelas semua yang dua orang itu bicarakan.
“Jan kau bilang ulat keket tu jadi mantu mamak ya ja.” Ucap mamak tanpa basa-basi.
Raja terlihat sedikit tertawa, wajah pucatnya memang sudah terlihat jauh lebih baik, namun nyeri di perutnya masih sangat terasa.
“Jan ketawa kau ga rela mamak punya menantu ulat keket kena siram air panas gitu.”
“Enggak mak aku pun gak mau, dia memang gitu tapi baik dia itu mak.”
“Awas aja kau ya.”
“Iya mak iya, oh iya mak kata dokter tadi itu hasil USG ku bagus dua hari ini bisa pulang mungkin kalau di bolehin sama dokter Guntur, bukan dia itu lagi yang tanggung jawab kanta dikter yang muda itu tadi ." Beritahu Raja pada mamaknya.
“Kapan di bilangnya.”
“Tadi sebelum mamak balek dokter itu masuk kesini.
“Halah dah ga teliat ku lah dokter ganteng itu lale mamak tadi ada yang ngawanin mamak makan, cantek orannya tapi dah ada calon suaminya. Kalau masih sendiri tadi mau mamak dia jadi menantu mamak.
“Mak, entah apa-apa lah mamak ni.”
➰➰➰To be continue➰➰
Pala : kata 'jan pala dipikir' disini artinya 'jangan terlalu di pikirkan'.
Kemek-kemek : Cemilan
Dua hari ini belajar logat batak dulu ya sama mamak 🙏🏻🙏🏻 besok mamak kita pulangkan ke medan biar jangan recok kali dia 😂
__ADS_1
Recok : rusuh/ribut
〰️jangan lupa bahagia Rakan, jangan lupa senyummmmmmmmmmm😚〰️