
☕️☕️
Ada orang-orang yang hatinya begitu baik seburuk apapun orang lain memperlakukannya. Dan itu berlaku pada Yana gadis itu cepat sekali iba dengan keadaan orang lain terutama anak-anak.
Taxi yang Yana tumpangi dengan tiga anak kecil yang ia bawa berhenti di depan rumah sakit Sehat hospital, Yana memutuskan akan mengajak tiga anak itu makan siang terlebih dahulu sebelum masuk ke rumah sakit tempat Raja di rawat.
Awalnya Lala, seorang anak yang berusia paling besar menolak hal itu dan ingin segera bertemu dengan ayahnya, tapi dengan bujuk rayu Yana dan keluhan lapar dari dua anak yang lebih kecil dari Lala akhirnya membuat gadis kecil itu luluh.
“Lala jagain adik-adiknya dulu ya saya mau ke toilet sebentar.” Ucap Yana pada anak gadis kecil itu.
Tak ada jawaban, gadis kecil itu hanya mengangguk saja. Sejak Yana memberi tahu bahwa Ayahnya sakit saat anak itu dipanggil ke ruang guru, anak itu hanya menjawab iya dan tidak atau hanya menganguk kecil saja saat di berbicara.
Tak jauh dari meja tempat Yana meninggalkan anak-anak itu Langkah Yana berhenti saat tak sengaja mendengar nama seseorang yang ia kenal di sebutkan.
Yana duduk sambil memainkan ponselnya tepat di sebelah meja dia sepasang sejoli yang sedang membicarakan orang yang ia kenal itu.
“Kasihan ya pak Maharaja,” ucap seorang laki-laki pada teman wanita yang duduk di depannya.
“Tapi gue bersyukur banget bisa sidang skripsi hari ini, lagi kesambet setan apa si pak duda bisa baik gitu.” Ucap wanita yang terlihat lebih muda dibanding teman laki-lakinya.
Yana hanya diam mendengar dan memutuskan yang dibicarakan dua orang itu adalah Mahraja yang ia kenal, lebih tepatnya Maharaja ayah dari teman-teman Adam.
“Ia senyum terus dari pagi.” Ucap laki-laki itu lagi.
“Pas sidang proposal segala macam ditanyain sama pak Mahraja, ampun banget gue merasa hampir gila.”
“Dan yang geu tau nih sepanjang sejarah ada dia di kampus ga ada yang enak kalau pak Mahraja pembimbingnya, sempat banget doi bacain skripsi kita.” Ucap Gadis itu lagi menggebu.
“Maklum lah ga ada yg bisa di belai jadi si doi ngebelai tugas-tugas kita ahahahah.” Jawab laki-laki itu dan di lanjutkan suara tawa dua sejoli itu.
Yana menggelengkan kepala dan melanjutkan tujuan utamanya yaitu toilet.
“Sombong banget bang Raja, masih merasa sok pinter tuh kayak dulu.”Monolog Yana sambil berjalan.
☕️☕️☕️
Yana dan tiga anak kecil itu berhenti tepat di depan IGD, wajah Lala terlihat pucat sejak sudah mendekati rumah sakit tadi.
Ingin rasanya Yana bertanya namun tak ia ungkapkan, Yana takut gadis kecil itu tersinggung.
__ADS_1
“Maaf ibu yang sakit siapa.” Tanya satpam saat mereka sudah di depan pintu masuk.
“Em Ayah, iyah ayah mereka.” Ucap Yana sambil memegang bahu Lili.
“Boleh sebutkan nama suami ibu agar saya arahkan kemana ibu harus masuk.” Tanya satpam itu.
“Suami.?”
“Ia, suami ibu. Ayah anak-anak ini.” Jawab satpam itu sopan.
Yana tak menjawab pertanyaan satpam muda dan ganteng itu, ia mengalihkan pandangan pada Lala yang berada di sampingnya.
Bukan menjawab pertanyaan satpam itu, Lala malah terlihat semakin pucat dari sebelumya
“Mahraja. Nama ayah kami. om Mah ra ja .” Kali ini suara Lili yang terdengar bahkan mengulang dengan cara mengeja.
Sebentar ya ibu dan adik-adik, satpam ibu terlihat bertanya pada petugas yang duduk di meja nurse station dan kembali ke arah Yana dan anak-anak itu berada.
Rumah sakit sehat hospital adalah rumah sakit swasta yang tak terlalu besar jadi pengunjung pun tak terlalu ramai.
“Suami ibu ada di ruang observasi di sebelah sana silahkan bu.” Satpam muda itu menunjukan arah ruang observasi.
Cir dan pong anak kecil yang ikut bersama Yana langsung masuk dengan semangat empat lima sambil bergandengan tangan ke arah yang satpam itu tunjuk.
Yana berbalik kebelakang ia melihat Lala yang masih terdiam kaku di tempatnya, rasa trauma kehilangan Mia memang sangat membuatnya takut pada rumah sakit. Bahkan kejadian Raja sakit beberapa bulan lalu membuatnya sangat terpukul.
“Kamu takut rumah sakit,” tanya Yana pada gadis kecil itu.
Lala hanya menjawab dengan anggukan kepala dan mata sudan berkaca-kaca.
“Gapapa ada tante yang temenin, yuk.” Ucap Yana sambil menggenggam erat tangan gadis itu dan mengajaknya masuk.
☕️☕️☕️
Raja sangat terkejut saat melihat Lili, anak keduanya berjalan ke arahnya dengan seorang temannya.
Saat itu Raja masih berfikir bahwa papa Adam yang mengantar anak itu, tapi dari mana papa Adam tau dia sakit bukankah masyitah yang ia perintahkan menjemput Lili dan Lulu.
Raja bergegas menelpon sekretarisnya itu sesegera mungkin. Tak lama panggilan telepon itu tersambung.
__ADS_1
“Kamu dimana.” Tanya Raja langsung ke sasaran saat mendengar Tita mengatakan halo di seberang sana.
‘Dirumah bapakh, antar Luluh duluh setelah inih jemput Lili dan Lala terus tittah antar kerumah sakit.” Jawab masyitah detail.
“Jangan, kamu jangan datang lagi kesini pulang saja.” Ucap Saat saat melihat Yana mendekat ke arahnya juga sambil menggenggam tangan Lala.
‘Kenapah pakh sa...’
“Kalau kamu berani datang kesini besok kamu saya pecat.” Cicit Raja memotong kata-kata yang baru saja akan Tita keluarkan dari mulutnya. Dan laki-laki itu juga langsung mematikan sambungan telepon tepat saat Yana dan anak-anaknya berada di depanya.
“Ayah kenapa, Ayah jangan meninggal.” Tanya Lala yang sudah mengeluarkan air mata saat berada di samping Raja.
“Ayah sakit ya.” Kali ini suara Lili yang terdengar sudah layu juga.
“Mama ku dokter, kata mama ga semua orang sakit meninggal, ia kan bun.” Adam menjelaskan dan memastikan yang ia ketahui benar pada Yana.
Yana tak menjawab apa-apa ia hanya diam saja, sedang Raja sudah tersenyum lebar menampakan pada putri-putrinya bahwa ia baik-baik saja. Dan juga menandakan ia sedang bahagia.
“Makasih Ay udah jengukin aku disini.” Ucap Raja dengan sangat percaya diri.
“Aku cuman sambil lewat bang ngantar Lala sama Lili.” Jawab Yana pendek.
“Anak-anak tunggu di luar dulu ya,”
“kakak bawa adik nya keluar sebentar ya. Dokter mau bicara sama ayahnya dan sekalian kakak bukakan infus setelah itu boleh pulang.” Ucap seorang perawat muda dengan rambut sebahu.
“Lala, Lili dan Adam sudah mengangguk dan berjalan kearah ruang tunggu, Yana pun tak tinggal diam ia juga berencana mengikuti anak-anak itu.
“Ibu boleh tetap di sini saja menemani bapak.” Ucap perawat itu lagi sambil membuka selang infus yang sejak tadi menempel di tangan Raja.
“Saya...”
“Bu, makanan bapak harus lebih diperhatikan ya, jangan terlalu banyak minum kopi dan juga merokok.”
“Usahakan menyempatkan sarapan ya bu.”
“Semoga bapak lekas sembuh.” Ucap dokter yang menjelaskan kondisi Raja penjelasan Yana terlebih dahulu.
Dan saat ini mereka berlima duduk di kursi ruang tunggu IGD menunggu jemputan taxi yang sudah Raja pesan. Duduk bersama membuat mereka terlihat sangat mirip dengan cerita keluarga bahagia.
__ADS_1
☕️☕️To be continue☕️☕️