
☕️☕️☕️
Hari-hari berlalu dengan cepat bu Nur tak pernah absen menelpon Yana setiap hari untuk menanyakan kondisi anak sulungnya itu. Yana juga menyempatkan diri datang kerumah orang tuanya minimal dua minggu sekali.
Sedangkan mak Duma yang sudah berjanji pada Rani bahwa akan pulang ke Medan jika Raja sudah menikah membatalkan niatnya dan menunggu sampai Yana melahirkan.
Saat di cek ke dokter ternyata usia kehamilan Yana sudah masuk usia enam minggu, tak banyak perubahan yang berlebihan dari Yana hanya saja selera makannya berkurang dan setiap pagi selalu merasa mual.
Hal buruk justru terjadi pada Raja. Saat usia kehamilan Yana memasuki bulan ketiga, sejak hamil Yana tak suka mencium aroma apapun yang berbau wangi pada diri Raja seperti parfum, bahkan aroma deodoran saja ia tak suka.
Tak hanya itu, Wak Mar sampai di buat pusing saat menyetrika dan mencuci pakaian Raja karena tak boleh ada pewangi sedikitpun, bahkan wak Mar harus membilas pakaian Raja sampai berkali-kali untuk menghilangkan bau sabun yang tertinggal di pakaian.
“Masa iya Ay, abang harus pergi ngajar kayak gini lagi.” Ucap Raja saat mereka sedang bersiap di pagi yang cerah namun sedikit mendung untuk Raja.
“Terserah, kalau abang mau wangi-wangi Aya tinggal pindah ke kamar anak-anak.” Ucap Yana yang sedang memoles wajahnya dengan pelembab yang aman untuk ibu hamil di depan cermin.
“Ahhh, kesanya abang ga penting gitu untuk Aya.” Keluh Raja sambil duduk di tepi tempat tidur sambil menatap Yana yang kali ini sedang menyapukan maskara pada bulu matanya.
“Oh, jadi abang mau pake minyak wangi yang banyak gitu. Biar wangi biar dilirik sama mahasiswi-mahasiswi itu.” Ucap Yana ketus.
Kening Raja berkerut mendengar pernyataan Yana, tak pernah ada sejarah dalam hubungan mereka yang membuat Yana jujur bahwa ia cemburu. Sejak dulu sampai saat ini mereka sudah menikah hanya Raja yang selalu memperlihatkan perasaan dan cemburunya secara terang-terangan.
“Ingat ya bang, Aya tau kelakuan mahasiswi sama abang. Tita lapor semua ke Aya .”
“Jangan macam-macam, bang. Ingat anak udah mau empat.” Cicit Yana kesal, emosinya memuncak karena sudah beberapa hari ini Raja mengeluh tak nyaman dan tak percaya diri saat ke kampus.
“Alhamdulillah. Alhamdulillah ya Allah akhirnya istriku cemburu.” Ucap Raja sambil menadahkan kedua tangannya seolah bersyukur dengan keadaan yang ada.
“Ah mantap kali anak ayah ini, makasih ya anak ayah udah buat umma mengakui takut kehilangan ayah.” Ucap Raja sambil mendaratkan bibirnya pada perut Yana.
“Abang, cuci rambutnya ga bersih bau shamponya masih terasa.” ucap Yana sambil menutup hidung dengan tangan kiri dan mendorong Raja menjauh dengan tangan kanannya.
Raja pasrah dan menjauh kembali duduk di tepi tempat tidur sambil membuka pesan susunan jadwalnya dari Titta dan menunggu Yana merapikan hijabnya.
☕️☕️☕️
Pintu kamar terbuka setelah di ketuk dua kali, Lulu masuk berlari ke arah Yana dan langsung mencium pipi ummanya itu kiri kanan, kemudian ke ayahnya dan melakukan hal yang sama. Lalu kembali mendekat ke arah Yana.
__ADS_1
“Emmm, anak umma wangi sekali pagi ini.” Ucap Yana sambil mencium rambut Lulu yang akan ia sisir.
“Hari ini mau kuncir satu, dua atau di kepang aja.” Tanya Yana lembut sambil menyemprotkan minyak rambut pada pada rambut ikal anak itu.
“Lu, shampo Lulu merek apa.” Tanya Raja tiba-tiba dan ikut menghirup rambut panjang Lulu.
“Tampo anak-anak Umma beyi.” Jawab Lulu jujur.
“Umma, kalau ayah pakai shampo dan sabun anak-anak aja gimana.?” Tanya Raja serius menatap wajah istrinya.
“Ga boyeh, nanti cepat abil.” Jawab Lulu yang khawatir shampo dan sabunya habis jika harus berbagi dengan Raja.
“Tuh udah di jawab anaknya.” Jawab Yana datar.
☕️☕️☕️
Di hari lain saat masih memasuki usia tiga bulan kehamilan Yana, semua terasa semakin berat untuk Raja, jika satu wanita hamil saja yang dihadapi mungkin akan lebih mudah jalan ceritanya.
Namun ini lain kenyataanya, yang hamil memang hanya Yana tetapi empat wanita lainya bagaikan tim sukses yang sangat solid saling membela segenap jiwa raga.
“Mie gomak lagi mak.” Tanya Raja melihat sarapan tersedia mie khas sumatera utara itu lagi.
Raja memang tak makan, untuknya sarapan Roti dan kopi sudah lebih dari cukup, dan juga laki-laki itu sedang menjaga berat badanya agar tak ikut ikutan membuncit seperti Yana.
“Ayah kenapa ga mau makan mie buatan opung.” Tanya Lili penasaran.
“Ayah kalian takut gendut, Li.” Jawab Yana
“Takut buncit jadi hamil kayak umma hahahaha.” Jawab Lala menimpali.
“Dayam peyut ayah ada bayi juga.” Tanya Lulu heran.
“Bocil, oh bocil sia-sia kau naik kelas ke SMA.” Jawab Lala sambil mengusap kepala adiknya itu dan berlalu kedapur membawa piring kotor sisa makannya.
Yana mengajarkan mereka minimal membawa piring kotor sendiri ke wastafel agar tak merepotkan wak Mar, jika sedang tak pakai seragam sekolah biasa Lala juga mencuci piring kotornya sisa makananya sendiri.
Bukan hanya itu, Yana juga mengharuskan anak-anak mencuci dan mengurus pakaian dalam mereka sendiri tanpa melibatkan wak Mar, terkecuali Lulu itu juga karena anak itu masih belum mampu melakukanya.
__ADS_1
“Yah, nanti sore kita makan es krim ya.” Minta Lili pada Raja.
“Ayah belum tau pulang jam berapa.” Jawab Raja. Sebisa mungkin Raja memang selalu mengantar jemput istri dan anaknya sendiri tetapi setelahnya ia akan kembali ke kampus.
Lala yang baru kembali dari dapur memainkan matanya pada Lili dan Yana, gadis kecil yang sangat mudah terprovokasi itu langsung mengerti dengan maksud kakaknya.
“Umma, adik bayi pengen eskrim juga kan?” Tanya Lili.
Yana melirik Lili dan Lala bergantian, “Em, iya sepertinya adik bayi pengen es krim nanti sore.” Jawab Yana membela anak-anaknya.
“Yuyu juga mau.” Ucap Lulu riang.
“Ga bisa, ayah sedang banyak kerja. Sekarang ini sedang penerimaan mahasiswa baru.” Ucap Raja dengan mata yang fokus ke layar ponsel.
Lala dan Lili melihat ke arah mak Duma yang sedang menambahkan satu sendok mie ke dalam piring pak Azis.
“Mamak Rasa kan bang, mamak kepingin juga es krim.” Suara mak Duma berhasil membuat Raja memalingkan wajahnya dari layar ponsel dan beralih menatap mak Duma sang ibu ratu tercinta.
Raja menatap nanar bapaknya, berharap pak Azis memberi solusi terbaik untuk cobaan yang sedang ia alami akhir-akhir ini. Dan benar saja pak Azis akhirnya bersuara, “bawa lah bang, kasihan orang ini.”
“Pak...”
“Bapak ga bisa ngawani, ada janji bapak sama pak Ahmad mau liat bibit ikan lele di tempat kawannya.”
“Tapi mak...”
“Apa salahnya kau bahagiakan kami sesekali aja pun mamak minta.”
“Udah mamak bilang pabrik olah sawit mentah itu aja kau urus biar banyak waktumu sama anak-anak ini, kau ga mau.”
“Padahal apa sa...”
”iyaa mak, iyaa nanti siang pulang Lala sekolah kita pergi.” Jawab Raja cepat memutus omongan mamaknya untuk mengamankan negara.
Terdengar suara anak-anak mengucap ‘yes’ berkali kali dan tertawa riang.
Raja bergegas mencari nama ‘Masyitah sekretaris’ pada ponselnya dan menghubungi wanita cantik itu.
__ADS_1
☕️☕️to be continue☕️☕️
☕️Jan lupa bahagia Rakan jan lupa syenyummmmm