
💚💚
Setiap orang menyikapi kisah kehilangan dengan cara yang berbeda, bagi seorang ibu kehilangan anak tentu saja hal paling menyakitkan, itulah yang sedang seorang ibu bernama Ratu Jelita rasakan saat ini.
Sejak pertama kali Doni keluar dari rumah setelah keributan itu tak pernah ia melihat wajah anaknya itu lagi, beberapa kali ia bertanya pada suaminya dimana keberadaan Doni namun tak ada satu jawaban pun dari suaminya itu.
Tak mau berhenti sampai disitu, Jelita sudah mencoba mencari ke semua tempat yang ia tahu serta bertanya ke semua orang yang mungkin tahu keberadaan anaknya itu namun tak ada satupun yang tau dimana Doni berada.
Tempat terakhir yang Jelita datangi adalah apartemen pribadi Doni yang berada tak jauh dari perusahaan mereka, namun yang ia dapatkan justru ternyata apartemen itu sudah di jual dua hari lalu.
Sedih tak terucapkan menangis pun sudah tak ada lagi air mata yang tersisa menyesal tiada guna, jika dulu aktivitasnya sangat padat mulai dari arisan berlian sampai temu kangen sesama teman-teman sosialitanya namun tidak untuk saat ini.
Teman-teman sosialitanya yang selama ini selalu mendukung juga tak terlihat menemaninya, yang ada hanya panggilan telepon yang sudah tak sanggup lagi ia ladeni bertanya perihal mengapa anaknya tak jadi menikah dengan nada mencibir.
Hari-hari Jelita sekarang ini hanya ia lewati dengan duduk di teras rumah mewah mereka sambil berharap kepulangan Doni, tak ada dari fisiknya yang sakit, kakinya masih berfungsi dengan baik bisa digunakan untuk berjalan kemana saja ia mau. Namun psikisnya yang terganggu sehingga membuatnya tak mampu melangkah.
➰➰➰♥️♥️♥️
Tingkat kepusingan orang beda-beda ada yang pusing tujuh keliling hanya karena harga garam melambung tinggi ada juga yang pusing tujuh keliling hanya karena uang belanja yang diberikan pak suami tak sanggup dihabiskan dalam waktu satu bulan.
Namun Mahraja dosen muda yang menjabat sebagai ketua prodi serta sarjana strata dua ilmu ekonomi jebolan negara paling terkenal di dunia saat ini sedang pusing hanya karena setoples sambal teri medan kiriman mamak tercinta untuk ia sampaikan pda wanita yang bernama Yana. Bukankah itu hanya hal sepele.
Kali ini sedikit meresahkan saat mamak menelponnya beberapa waktu lalu, mamak sudah mewanti-wanti minta di telepon dan berbicara langsung dengan wanita bernama Yana itu saat nanti Raja menyerahkan setoples sambal teri medan itu.
Mamak mengatakan ingin mengucapkan selamat pernikahan pada wanita itu secara langsung melalui sambungan telepon.
Seolah gunung berapi yang akan segera meledak dengan peringatan, begitulah isi beban pikiran Raja kali ini kacau balau pusing tujuh keliling hanya karena teri medan yang ukuranya tak kalah besar dari jari kelingking Lulu.
Sepengetahuan Raja waktu pernikahan Yana hanya tersisa satu minggu lagi, tak ada undangan yang ia terima, dan kali ini Raja yakin bahwa ia memang tidak lagi masuk dalam daftar orang yang Yana kenal.
Untuk Lili, gaun gadis itu sudah ia beli sejak minggu lalu gaun cantik berwarna hitam dengan corak merah, Lili minta gaun warna hitam karena Adam mengatakan akan memakai kemeja hitam dengan tuxedo merah.
__ADS_1
Tapi apakah tidak memalukan jika ia mengijinkan Lili pergi ke acara pesta itu sedangkan ia saja tak diundang, tetapi bukankah Lili mendapat undagangan dari sekolah. Pusinganya bertambah satu poin.
Kepala raja benar-benar sudah terasa panas andai saja diletakkan bongkahan es batu pada kepala si duda beranak tiga itu maka pasti langsung mencair, begitu perumpamaannya.
Warung mie ramen didepan SMA Binaan satu adalah tempat Raja sekarang duduk. Tidak ada aktifitas anak sekolah karena memang sudah mulai libur semester, namun beberapa guru-guru masih terlihat mondar mandir.
Teh hijau tanpa gula sudah kandas tak bersisa sebanyak dua gelas, jika lebih lama lagi bisa-bisa perutnya meledak dikarenakan terlalu banyak diisi teh hijau.
Sampai pada akhirnya Raja menyerah dan pergi meninggalkan tempat itu begitu saja, seberapa lama pun menunggu ia tau tak akan ada Yana terlihat disana dan jikapun Yana ada ia juga belum berani menemui gadis itu untuk memberikan setoples teri medan yang membuatnya pusing itu.
Pikiran Raja entah sedang melayang kemana tanpa di sadari ia sudah di jalan menuju arah rumah Yana, saat tersadar Raja langsung menepikan mobilnya tak jauh dari daerah perumahan Yana.
“Inang, inang... ya tuhan ada aja permintaan mamak ku ya Allah.” Ucap Raja frustrasi.
Saat menoleh ke kiri Raja melihat ada sebuah kedai kopi kekinian di sana, ia bergegas turun menuju kedai kopi itu, berharap segelas kopi latte dingin bisa meluruskan otaknya yang sudah mulai kusut seperti kaset pita jaman dulu yang terlalu sering di putar oleh pemiliknya.
Raja menunggu di sebuah kursi dengan meja bundar berukuran kecil saat barista dari kedai kopi itu sedang meracik kopi pesanan laki-laki itu, ia terus saja berpikir bagaimana nasib si teri medan itu nanti. meskipun pada kenyataannya seharusnya ia berpikir bagaimana nasibnya nanti jika mamak ataupun Yana saling tau siapa mereka untuk Raja.
Lamunan nya terhenti saat ponsel yang sedang dalam genggamanya berbunyi, tertera nama ‘mamak ku sayang’ disana dilema kembali menghantui hati ayah beranak tiga itu, ia tak berniat mengangkat telepon itu.
Panggilan pertama dari mamak berlalu begitu saja, kemudian disusul dengan panggilan kedua yang masih bernasib sama Raja abaikan begitu saja, kemudian pada panggilan ketiga rasa bersalah memenuhi hati Raja dan akhirnya ia putuskan mengangkat telepon mak Duma.
“Assalamualaikum mak,” Sapaan pertama yang Raja berikan dengan harapan mamak akan bahagia.
“Waalaikumsalam, sehat abang.”
“Sehat mak, ada apa mak.” Jawab Raja masih dalam mode hati-hati.
“Masalah teri sambal itu bang, udahnya abang antar ke tempat si Yana itu,”
“Em apa, anu, itu mak belum lagi sempat mak, ada sidang mahasiswa hari ini.” Jawab Raja berbohong, hal yang tak pernah ia lakukan terutama pada mamaknya namun akhir-akhir ini terpaksa ia lakukan.
__ADS_1
“Oh udahlah bang ga usah abang antarkan lagi simpan dirumah aja untuk makan dirumah.”
Jawaban mak Duma bagai es kopi yang mengalir di tenggorokan saat ia tersesat di padang pasir, lega. Akhirnya mamak sadar tak perlu berlebihan pada Yana pusing kepalanya hilang seketika itu juga.
Namun tak berlangsung lama perasaan lega, aman damai tentram yang ia rasakan kembali menjadi terasa panas dan pahit.
“Mamak kan mau ke jakarta besok, nanti biar sama mamak aja kau pergi ngantarkan itu sekalian mamak mau jumpa sama dia. Mamak bawa yang baru mamak buatkan lagi nanti.”
*
Ucapan mak Duma bagai petir di siang bolong, bencana gunung berapi yang ia pikir tadi sudah berhenti malah sekarang sudah di mulut kawah tinggal menunggu meledak dan meluluh lantahkan kehidupanya.
“Eh ga usah, ngapain mamak kesini,” Tanya Raja reflek dengan suara sedikit lebih tinggi dari biasa, ia lupa siapa Duma Hasian si mamak baik hati itu.
“Rindu lah mamak sama anak-anak itu gak sor memang nya kau mamak datang ke rumahmu? Ya udah nyari hotel aja mamak nanti.” Jawab mak Duma dengan nada tak kalah menyeramkan.
“Bukan gitu mak, maksudku.” Raja terdiam sejenak mencari alasan paling masuk akal.
“Maksud ku ngapain mamak masak yang baru lagi ini aja nanti kita kasih, nanti mamak capek, jangan lah capek-capek mamak nanti sakit susah hati ku.”
“Oh mak kira apalah, ya udah iya.” Jawab Mak Duma yang hatinya sedang senang karena ternyata sudah mampu mengalahkan pak Azis perihal memilih antara dirinya dengan ikan-ikan peliharaan.
Untung saja hatinya sedang senang jika tidak bisa panjang ceritanya, bisa terancam lagi pintu surganya Raja.
➰➰To be continue🤭➰
♥️sepandai pandai tupai melompat sesekali jatuh juga, sepandai pandai bang Raja menyimpan rahasia akankah terbongkar juga.
__ADS_1
Gak sor : ga senang/ga suka (logat bicara di medan dan sekitarnya)
〰️Jangan lupa bahagia Rakan, jangan lupa nyenyummmmm☺️〰️