
💚💚
Seperti biasa hanya mang Didi yang menjemput Yana kedalam rumah milik keluarga Ahmad itu, sedang mama Jelita hanya menunggu di mobil tanpa ikut masuk ke rumah pak Ahmad walau hanya untuk sekedar menyapa orang tua dari gadis yang sebentar lagi menjadi istri dari anaknya itu.
Untuk hal ini sudah berkali-kali juga Anggara Negara suaminya mengingatkan agar lebih menghargai calon besan mereka namun tak pernah digubris oleh Jelita sekalipun.
"Kita mau kemana ma." Tanya Yana saat sudah duduk di bangku penumpang tepat di sebelah mama Jelita yang selalu terlihat cantik rapi dan elegan. Mang Didi juga sudah mulai melajukan kendaraan mewah yang Ditumpanginya itu.
"Ke Rumah sakit sayang." Ucap mama Jelita sambil membalas pesan pada ponselnya tanpa menoleh pada Yana.
"Siapa yang sakit ma?"
"Kita mau cek up sayang, kita harus pastikan kamu sehat sebelum acara nanti." Jawab mama jelita sambil memasukkan ponselnya kedalam hand bag yang ia gunakan.
Yana hanya diam Saja sudah hampir tiga bulan ini ia selalu cek darah hampir dua minggu sekali. Yana memilih diam dan menikmati perjalanan mereka dengan berbalas pesan dengan Doni.
"Janggan cakar-cakaran ya sayang."
Pesan dari Doni membuatnya tersenyum, membayangkan wajah Doni yang selalu panik saat dia mengeluh tentang sikap mama Jelita yang kadang-kadang di luar batas kewajaran.
Sampai kerumah sakit seperti biasa dokter mulai mengarahkan ini itu, namun kali ini lebih banyak dari biasa. Sampai pada saat Yana di instruksi mengikuti seorang perawat menuju ruang dokter Obgyn.
"Mama tunggu disini ya kamu jangan banyak tanya iyain aja ikutin apa kata dokternya." Ucap mama Jelita padanya sebelum ia mengikuti perawat itu.
Yana sempat bingung apa maksud mama Jelita memeriksa keadaanya sedetail itu, namun apa salahnya juga jika memang mama Jelita khawatir dengan kondisinya.
Dokter obgyn itu memerintahkan Yana naik ke bed pasien dan perawat mulai membuka bagian perutnya dan menutupi kaki yana dengan kain selimut pasien.
"Di USG dulu ya." Ucap dokter itu.
Yana mengangguk dan mulai penasaran, baru saja perawat mengolesi jelly pada bagian perut bawahYana, namun selanjutnya Yana menahan saat dokter itu akan mengarahkan stik USG itu pada bagian perutnya.
"Maaf dok pemeriksaan ini untuk apa ya? Tanya Yana pada dokter wanita itu.
__ADS_1
"Instruksi ibu kepala rumah sakit hanya mengecek kesehatan rahim bu, untuk memastikan rahim ibu Yana sehat dan bisa hamil, sejauh ini hasil cek hormon dari darah dan urin selama beberapa minggu ini sehat bu, ini sebagai pemeriksaan tambahan.” Ucap dokter cantik itu.
Yana terkejut dengan keterangan yang diberikan oleh dokter itu, ia bangun dari tidurnya dan turun dari bad pemeriksaan itu serta merapikan pakaian nya.
"Maaf dokter saya mau ke toilet sebentar nanti saya kembali lagi." Yana bergegas keluar dari kamar dokter itu.
Yana berjalan ke toilet terdekat dari tempatnya berada setelah mencuci mukanya Yana duduk disebuah kursi tunggu di dekat toilet itu, ia menimbang-nimbang apa yang harus ia lakukan.
Akhirnya gadis itu memutuskan kembali ke ruang periksa dokter obgyn itu, mungkin mama jelita hanya ingin tahu tentang kesehatannya dan ia harus buktikan ia sehat begitu pikirnya.
Namun saat ia sudah berada di depan ruang dokter obgyn itu Yana mendapati pintu ruangan dokter obgyn itu tidak tertutup rapat, Sehingga Yana bisa dengan jelas mendengar ucapan perawat dokter itu.
"Lama banget ya sus apa saya salah ngomong ya sama bu Ayyana, jangan-jangan dia ga tau apa sebabnya dia harus diperiksa." Terdengar suara dokter obgyn itu berbicara pada suster yang mengantar Yana tadi.
"Ga salah sih dok lagian aneh baget calon mertuanya mau nikah aja ribet banget harus mastin bisa punya anak, anak kan rejeki dari yang di atas ya dok kalau yang di atas gak berkehendak mau gimana manusia bisa apa."
"Dan kenapa sih kalau ga punya anak selalu yang disalahkan pihak perempuan ga adil banget, ga punya anak bukan berarti ga bahagia dok buktinya saya sudah sepuluh tahun menikah tidak punya anak saya bahagia suami juga baik-baik saja." Ucap perawat yang mengantar Yana tadi pada dokter obgyn itu.
Yana mengetuk pintu dan masuk keruangan itu membuat kedua orang itu sangat terkejut.
Yana bergegas menuju ruang kepala rumah sakit tempat mama Jelita menunggunya, sudah kepalang tanggung Yana ingin mengatakan baik-baik pada mama Jelita bahwa ia tak mau melakukan pemeriksaan itu. dan juga mengambil tas nya yang tertinggal disana.
➰➰➰➰❤️❤️❤️❤️
Mamam Jelita masuk keruangan kerja suaminya tanpa mengetuk pintu lebih dahulu padahal beberapa satpam sudah menghalangi dan mengatakan bahwa pak Anggar sedang ada rapat namun wanita itu tak mau peduli.
Pak Angga beserta Doni dan beberapa orang stafnya sedang melakukan rapat kecil di ruangan itu, pak Angga yang mencium gelagat tak enak langsung membubarkan rapatnya dan menginstruksikan stafnya kembali ke ruang kerja masing-masing.
Sekarang hanya tinggal pak Angga, Doni dan Jelita di ruangan itu. Tanpa perlu di tanya Jelita langsung saja menghamburkan kekesalannya pada Doni.
"Calon istri kamu emang ga bener niat baik mama di tolak mentah-mentah."
"Kenapa lagi sih ma," Ucap pak Anggar dengan nada sudah jenuh pada sikap istrinya.
__ADS_1
"Itu si perempuan tua itu, baik-baik mama mau cek rahimnya, biar kita tau dia bisa hamil ga, kalau memang ga bisa kita kan bisa secepatnya cari istri kedua untuk Doni." Ucapnya masih dengan nada kesal.
"MAMA." Doni mulai murka dengan tingkah Jelita.
"Benarkan, kamu lagi-lagi berani bentak-bentak mama demi dia." Jelita tak mau kalah.
"Kalau sampai aku gagal menikah mama akan menyesal dengan dengan perbuatan mama kali ini." Ucap Doni bernada tinggi
"Jelita kamu itu punya hati tidak, mereka menikah saja belum kamu sudah suruh Yana periksa hal begitu." Pak Anggara tak habis pikir dengan isi pikiran istrinya.
"Apa salahnya mas, apa salahnya! dulu aku juga dipaksa punya anak sama ibu kamu. Padahal aku sudah bilang aku takut melahirkan." Jelita sudah di luar kontrol emosi sudah menguasai dirinya sehingga tanpa sadar mengucapkan hal yang tak semestinya.
Plaaaakkk
Suara tamparan keras di pipi jelita serta membuat wanita itu jatuh terduduk di sofa ruang kerja suaminya itu.
"Jangan samakan. Alasan Ibu ku tidak sama dengan pikiran bodoh kamu." Ucap Anggara dingin, dan ini adalah kali pertama dalam hidupnya pak Angga memukul wanita dan yang ia pukul adalah istri yang sangat ia cintai.
"Maaa." Melihat mamanya menangis tanpa suara Doni mencoba mendekat kepada wanita yang melahirkan itu
"Keluar kamu." Titah Anggar pada Doni.
"Tapi pa."
"Keluar," Pak Anggar memegang lengan Doni dengan tangan kirinya menyeret anaknya itu keluar namun betapa terkejutnya ayah dan anak itu saat pak anggara membuka pintu yang ternyata tak tertutup rapat itu saat melihat putra sedang berdiri mematung dengan muka memerah disana.
Putra memang seharusnya ikut pada rapat yang tadi di adakan Anggara hanya saja karena ada berkas yang belum ia cetak Putra harus kembali ke ruangannya untuk mencetak berkas itu dan membawanya kembali ke ruangan Anggara
Namun yang Putra dapatkan justru penghinaan sangat menyakitkan untuk kakaknya yang sangat ia cintai.
➰➰To Be Continue➰➰
😏Yang pengen julid sama mama jelita terakhir kali dipersilahkan waktu dan tempat, besok aku ga mau mojokin dia lagi, kasian udah tua dan juga aku takut sama alis dan kondenya
__ADS_1
〰️jangan lupa bahagia rakan dan jangan lupa syeyummmmmmmmmmmm ☺️〰️