
💚💚
Teh hijau pahit dalam gelasnya sudah hampir tandas hanya tersisa satu kali sedotan saja, namun Raja masih menimbang harus masuk ke SMA Binaan untuk menemui gadis itu atau tetap diam dengan praduganya.
laki-laki yang berstatus sebagai ayah tunggal dari tiga anak gadis itu saat ini tengah duduk di cafe mie ramen tepat di depan sekolah tempat Ayana mengajar. Sesekali Raja melirik ke pintu pagar sekolah itu.
Perkataan Lala malam tadi yang masuk ke kamarnya setelah Lili dan Lulu tertidur sebenarnya sudah cukup menjadi cambuk untuk keberaniannya.
“Aku Tau nikah itu apa, aku tau kalau ayah menikah lagi aku punya mam baru, kalau menurut ayah mama baru yang ayah suka bisa sayang sama aku dan adik-adik ayah boleh menikah lagi, opung sama atok sudah sering bilang tentang itu sama aku.” Kata-kata Lala malam tadi serta bayangan Ayana mengganggu tidurnya sampai pagi.
Apa tidak terlalu cepat mamak menjelaskan hal begitu pada Lala dan apa tidak terlalu cepat dia untuk menikah lagi, Apakah tidak terlalu menyakitkan untuk Mia meski wanita itu sudah tidak ada.
Lamunannya buyar saat lima anak SMA Binaan masuk ke cafe itu dan duduk tepat di sampingnya, pikiran Raja mulai melayang mengingat saat pertama dia dan Yana berkenalan sewaktu ikut olimpiade ekonomi tingkat SMA.
Raja selalu saja ada dimana Yana berada meski Yana adik kelas satu tingkat di bawahnya, diawali dari belajar bersama untuk persiapan olimpiade sampai berakhir tak terpisahkan dan mereka masuk di kampus yang sama.
“Cabut aja yok zan mentang-mentang ketos sok baik lu,” Ucap laki-laki berkulit putih bersih seperti artis korea.
“Oh tidak bisa, Pujaan hati gue yang masuk mana bisa gue cabut gitu aja,” Jawab ozan santai.
“Ozan ga asik,” Ucap anak bercata mata.
“Pacaran sama Cia cintanya ke ibu Ayyana mau aja lu Cia ngejar-ngejar si ozan,” Kali ini seorang gadis muda memakai bandana biru yang berbicara.
Raja yang sedang menyedot teh hijau dingin di sedotan terakhirnya tersedak karena terkejut mendengar nama Yana-nya disebut. Dengan sigap Raja mengambil tisu dan mengelap sisa tumpahan teh itu di meja.
Setelahnya Raja berusaha duduk setenang mungkin mendengar pembicaraan anak-anak SMA Itu.
“Kata siapa kita pacaran, kita teman dekat aja kan zan,” Wanita catik yang Raja pikir mungkin bernama Cia itu menjawab.
“Eh tapi beneran Ya bu Yana mau nikah?” Tanya gadis yang memakai bandana biru lagi tadi.
“Katanya sih,,, duh belum ikhlas gue bu Yana nikah gimana dong,” Ucap laki-laki yang teman-temanya panggil Ozan itu, dan membuat Cia memanyunkan bibirnya tanda cemburu.
__ADS_1
“kalau babe gue mau nikah lagi gue jodohin sama bu Yana dia ibu tiri idaman sih kalo kata gue,” Ucap si kaca mata sambil membenarkan letak kaca matanya.
“Enak aja kalau itu gue juga ga rela,” komentar si anak mirip korea itu.
Lima remaja itu tertawa terbahak-bahak di atas penderitaan seorang duda yang kepalanya panas membara meski teh Hijau yang telah dia habiskan adalah teh dingin.
kini Raja bertekad untuk masuk saja menemui Yana, apapun nanti tanggapan Yana setidaknya dia sudah mencoba dan Raja sudah benar-benar siap menerima apapun yang akan terjadi.
Beberapa langkah lagi dia sudah sampai di gerbang sekolah itu, Namun ponselnya berdering telepon dari sekretaris kampus membuatnya harus kembali ke kampus.
Raja hanya bisa berharap suasana kampus bisa sedikit saja menenangkan hatinya yang sudah berantakan dan pikirannya yang sudah hampir tidak waras menurutnya.
Di Masa lalu memang dia juga yang mulai mendekati yana dan mengejar-ngejar gadis itu namun rasanya tak sesulit sekarang ini, ditambah dengan kabar Yana yang akan menikah rasanya semakin berat saja.
Saat sampai di kampus raja langsung saja menanyakan jadwal mengajarnya pada sekretaris yang mengurusi semua jadwal mengajarnya itu. Sebenarnya sudah lama sekretarisnya ini ingin Raja ganti hanya saja belum mendapatkan yang kerjanya sebaik gadis itu.
Berbeda dengan kinerjanya wanita bernama masyitah itu sikapnya sangat berbeda dengan nama dan kenerja kerjanya. Wanita yang setiap berbicara selalu manja dan mengakhiri kata-katanya dengan huruf H itu sungguh membuat Raja muak.
“Jam,” Tanya Raja.
“Jam duah sama jam tigah gimanah pah Rajaah,” Tanya gadis dengan lipstik merah cerah itu.
Raja melirik jam tangannya masih pukul sepuluh lewat empat puluh lima menit, tatapan tajamnya beralih kepada sekretarisnya itu.
“Cari dosen pengganti,” Ucapnya dan pergi begitu saja.
Rumah adalah tujuan Raja, laki-Laki itu berharap bisa menenangkan diri di kamarnya, namun tak sesuai harapan baru saja dia merebahkan badan dan menutup mata Yana sudah melayang-layang terbang di kepalanya.
“Ya tuhan Ay gila abang Ay gila.” Ucapnya sambil mengambil kunci mobil dan berencana kembali menemui Ayyana.
➰➰➰♥️♥️♥️
Di Sebuah Rumah mewah di pusat kota tiga orang dewasa sedang duduk di ruang keluarga yang terasa panas meski pendingin ruangan menyala maksimal di ruangan tersebut.
__ADS_1
“Don ini sudah tersisa sepuluh hari untuk kamu berpikir ulang melamar gadis itu.” Tante Jelita masih bersikeras dengan prinsipnya.
“Aku tau ma waktu dua minggu itu hanya alasan mama kan untuk mengulur waktu.” Jawab Doni tak kalah panasnya.
“Mama cuman mau yang terbaik untuk kamu Don, kamu anak mama satu-satunya.”
“Ayyana Ahmad terbaik untuk aku ma.”
“Melihat dari bibit bebet bobotnya kamu bisa dapat wanita yang jauh lebih baik dari wanita tua itu Doni.” Habis sudah kesabaran Jelita pada anak satu-satunya itu
“Ratu Jelita cukup dan kamu Andoni Anggara duduk.” Ucap pak Anggara dingin.
Doni yang tadi sempat bangun ingin pergi meninggalkan mama dan papanya akhir ya kembal duduk matanya menyala seolah siap menerkam apapun yang ada di depanya.
“Jelita jangan membuat malu keluarga, Yana dan keluarganya sudah cukup baik menerima semua kemauan kamu.” Ucap pak Anggara dengan tegas.
“Dan kamu Doni, bersikap sopan pada mamamu.”
“Aku cuman ingin cepat punya cucu pa, bagaimana kalau nanti Yana tidak bisa hamil dan memberikan kita keturunan usianya sudah terlalu tua pa,” Wanita itu masih saja tetap pada pendiriannya bahwa usia Yana sangat mengganggu pikirannya.
“Jelita dunia sudah canggih kenapa pikiranmu begitu kolot.” pak Anggara mulai terpancing.
“Baik, mama setuju tetapi beri mama solusi andai nanti Yana benar-benar tidak bisa memberi mama cucu bagaimana? mama ingin cucu dari darah daging mama sendiri.” Ucap Jelita sambil menatap anaknya.
“Punya anak atau tidak mama setuju atau tidak Yana akan tetap menjadi istriku satu-satunya.” Ucap Doni pasti sambil berdiri meninggalkan pak anggara dan bu Jelita begitu saja.
➰➰to be continue➰➰
😁Sabar yahh Rakan tercintah jauh juga dari rumah bang Raja di Villa Biji Semangka ke SMA Binaa, satu jam perjalanan lah kira-kira. hihihi
Not : Rakan \= Teman (Bahasa Aceh)
〰️tetap semangat jangan lupa bahagia jangan lupa syenyummmm😘〰️
__ADS_1