Dia Yang Kembali Datang

Dia Yang Kembali Datang
Menculik Mantan


__ADS_3

☕️☕️


Mahraja, putra sulung pasangan Yazis dan Duma Hasian itu sejak kecil dididik sopan santun dan menghargai wanita oleh kedua orang tuanya.


Raja juga dibekali dengan ajaran sikap menghargai keputusan orang lain oleh bapaknya yang lebih dikenal dengan nama pak Azis, selama ini ia selalu mengamalkan dengan baik semua ajaran bapak dan mamaknya dalam menjalani hidupnya selama tiga puluh delapan tahun ini.


Sebagai anak sulung Ia juga selalu di ajarkan agar berpikir dengan jernih dalam menghadapi semua masalah. hal itu membuat Raja banyak mengalah pada adiknya dan sangat patuh pada orang tua.


Dalam lingkungan pertemanan dan pekerjaan juga demikian ia tak suka memaksakan kehendak, selama bisa dibicarakan dengan baik ia akan menerima jika memang pikiran orang lain jauh lebih benar dari yang ia pikirkan.


Namun apa yang terjadi sekarang, hampir satu bulan ini semua yang sudah bapak dan mamaknya tanamkan untuk menjalani hidup menguap begitu saja hanya karena dia sedang jatuh cinta pada orang yang sama untuk kedua kalinya.


Tak suka memaksa itulah Raja yang Yana kenal dulu, bahkan beberapa bulan lalu yang Yana temui masih Raja yang sama, namun sudah hampir sebulan ini seolah itu tak berlaku lagi.


Mulai dari Yana menolak sarapan yang diantar Raja setiap pagi, namun laki-laki itu tak menyerah terus saja datang setiap pagi meski Yana tak mau menemuinya.


Hal lain adalah pesan yang Raja kirim setiap hari dan di jam-jam yang sama, tak pernah absen sekali pun, jika pun waktunya meleset hanya melesat menitnya saja.


Dan hari ini Raja terpaksa memaksakan kehendaknya lagi pada Yana, ia terus melajukan sepeda motornya tak berhenti membawa Yana berputar-putar kota di bawah terik mata hari selama Yana belum berjanji tak akan kabur dan mau di antar pulang.


Matahari sudah menjilat dua orang itu sejak satu jam lalu, Raja memang merasa lapar dan haus tapi ia tahankan hanya karena ia takut jika mereka berhenti di satu tempat, Yana akan kabur.


Bahkan jika ada lampu merah lagi Raja akan menghindar dengan belok ke kiri atau jika memang harus berhenti Raja akan memegang ujung jilbab Yana dengan tangan kirinya erat-erat. Namanya juga penculik amatiran.


Yana juga demikian lapar dan haus sudah pasti. Namun egonya tatap ia pertahankan, beberapa kali ia berusaha turun saat sepeda motor itu berhenti di lampu merah, tapi ujung jilbabnya yang tergerai selalu Raja pegang dan juga tinggi kendaraan itu membuatnya ngeri jika harus lompat.


“Ya udah ayo makan, aku janji ga akan lari.” Ucap Yana saat cacing di perutnya sudah mulai terdengar berorasi di dalam sana.


“Janji ya Ay.” jawab Raja sambil menoleh kebelakang sebentar.


“Iya,”


“Kalau kabur abang gotong ke KUA ya.”


“Orang gila.” Jawab Yana cemberut, marah kesal lapar haus berkolaborasi menjadi satu menyiksa batinnya.


“Hahaha gila karena Aya, gapapa lah rela abang.” Jawab Raja santai sambil menepikan sepedas motornya di depan warung nasi padang sederhana yang hanya terdiri dari satu pintu ruko saja.


Lidah sumatra memang membuat Raja lebih suka memilih nasi padang daripada makanan lain. Yana melihat ke kiri dan kekanan saat sudah turun dari sepeda motor milik Raja.


“Ingat, kalau kabur abang gotong ke KUA. Mau jalan baik-baik atau abang gandeng.” Ucap Raja tepat disamping Yana. Raja benar-benar melakoni profesi sebangai penculik dengan baik.


Wanita itu tak menjawab, Yana langsung saja masuk berjalan kedalam warung padang yang bernama Minang Pesona itu meninggalkan Raja di belakangnya.


“Maaf Ay abang ga punya cara lain.” Gaman Raja lalu menghela nafas panjang meresapi rasa bersalahnya, ia juga terpaksa melakukan penculikkan amatiran ini demi mempertahankan kewarasan jiwanya.

__ADS_1


“Nasinya dua.” Ucap Raja saat pelayan warung padang itu sudah mulai menyusun piring-piring kecil berisi masakan-masakan khas padang di meja yang Raja dan Yana tempati.



“Satu aja aku ga lapar.” Jawab Yana ketus.


“Gapapa dua aja,” jawab Raja pada pelayan itu dan di jawab dengan anggukan oleh pelayan warung padang itu.


“Dibilang aku ga makan.” Cicit Yana ketus setelah pelayan warung padang itu selesai menghidang makanan di meja dan meninggalkan mereka berdua.


“Ya udah ga usah makan, liat yang makan aja udah kenyang ya Ay?.” Jawab Raja santai tanpa merasa berdosa.


“Emmm Telur dadar sama gulai daun ubi nya enak ini Ay beda sama yang dekat kampus kita dulu.” Ucap Raja saat sudah mulai makan.


Melihat Raja makan, Yana benar-benar tergoda ditambah ia juga sudah lapar tapi apa daya egonya harus ia pertahankan sekuat tenaga. Yana mengambil teh manis dingin di gelas dan meminumnya hingga tandas untuk menghilangkan rasa laparnya.


“Eh eneng sama mas ini yang tadi ketemu di lampu merah tadi kan.” Sapa seorang ibu-ibu ramah pada Yana.


“Gimana enak ga mas masakan disini?.” Tanya ibu itu Pada Raja.


“Enak bu, pas di lidah.” Jawab Raja jujur.


“Neng kenapa ga makan, ga selera ya. Saya juga dulu gitu pas hamil.” Si ibu masih saja sok kenal.


Raja yang melihat dan mendengar pernyataan ibu itu hampir saja tersedak karena menahan tawa, tetapi tatap mata Yana menatapnya tajam dan mengerikan membuatnya kembali menetralkan diri.


“Ga usah bu.” Jawab Yana sopan.


“Gapapa, warung ini punya saya, warisan dari mertua.” Jawab ibu itu lagi.


Ibu itu langsung menyuruh pekerjanya membungkus nasi dengan menu komplit untuk Yana, serta memberi tahu pada suaminya bahwa yang dibungkus itu gratiskan saja.


“Udah ya saya doakan sehat-sehat ibu dan bayinya, nanti bayar yang di makan saja. Saya permisi mau ngasih asi untuk si kecil.” Dan ibu itu pergi begitu saja setelah Raja mengucapkan terima kasih.


Ucapan ibu itu membuat Yana membulatkan matannya jika ada anak yang masih harus diberi asi itu artinya lima anak yang ia lihat di sepeda motor tadi masih punya adik lagi.


“Banyak banget bang anaknya,” ucap Yana reflek pada Raja.


“Emm” Jawab laki-laki itu sambil menahan tawa.


“Ga enak juga bang di kasih gratis nanti bayar aja.” Ucap Yana lagi.


“Oke. Nah gitu, panggil abang kan enak dengernya,” Jawab Raja sambil senyum dan menatap gadis pujaan hatinya itu.


“Ga usah GR, cepat aku mau pulang.” Jawab Yana kembali ketus.

__ADS_1


“Duh kena lagi.” Jawab Raja santai.


“Maaf Ya, aku benar-benar ga nyaman di perlakukan kayak gini.” Ucap Yana serius.


“Raja yang aku kenal dulu bukan yang ini, dan aku rasa kamu juga tau aku ga suka di paksa-paksa.”


“Kejadian siang ini buat aku benar-benar hilang respek ke kamu.”


“Ini udah keterlaluan.”


“Aku ga nyaman, aku harap kamu pah..”


Ucapan Yana terhenti saat melihat Raja mengangkat tangan kanan mengisyaratkan Yana diam sebentar lalu Raja mengangkat telepon di depannya tanpa berpindah dengan tangan kirinya.


laki-laki itu terlihat mengerutkan kening lalu menghela nafas panjang, sambil mencuci tangan kanannya pada kobokan yang di lengkapi dengan irisan jeruk nipis di dalamnya.


“Baik Miss, saya kesana sekarang.” Ucap Raja pada teman bicaranya diseberang telepon sambil memindahkan ponselnya ke genggaman tangan kanan dan melirik jam pada tangan kirinya.


“Tidak sampai berdarah kan Miss... ohh iyaa baik, ok...sekitar empat puluh menit lagi saya sampai kesana...baik Miss terimakasih.”


Yana hanya mendengar dan menebak-nebak apa yang terjadi, namun ia pikir tak salah juga jika ia bertanya.


“Kenapa.” Tanya Yana pada Raja setelah sambungan telepon itu terputus.


”Abang minta maaf Ay untuk kesalahan abang hari ini, abang akan berusaha merubah semuanya.” Bukan menjawab pertanyaan yang baru saja Yana tanya Raja malah menjawab semua keluh kesah yang Yana ungkapkan dengan menggebu tadi.


“Maaf, ayo abang antar pulang, abang harus segera ke sekolah Lulu.” Ucap laki-laki itu lagi.


“Ada apa,” Tanya Yana masih penasaran.


Raja menarik nafas panjang, hal ini sudah sering ia rasakan sejak Mia tidak ada, jika biasa Lili yang membuat ulah kali ini justru Lulu.


“Rebutan crayon, temennya nusuk lengan Lulu pakai crayon.” Ucap Raja setenang mungkin, sebagai orang tua tunggal Raja jelas cemas namun ia tak mau sisi lemahnya terlihat di depan orang lain.


“Terus.” Jawab Yana tak kalah terkejut.


“Terus ya ayo, abang antar Aya pulang sekarang karena abang harus balik ke sekolah Lulu.”


Yana mengerutkan dahi, baru saja ia ingin bertanya dimana Lulu sekolah tapi Raja seolah sudah tahu apa yang ingin Yana ketahui.


“Dia sekolah dekat sini di...” Raja memberi tahu alamat dan nama sekolahnya.


“Lumayan, dekat dari kampus kalau ada apa jadi bisa cepat.”


“Jangan bengong, ayo abang antar Aya pulang.” Ucap laki-laki itu lagi saat melihat Yana masih duduk tak bergerak dari tempatnya.

__ADS_1


☕️☕️to be continue☕️☕️


☕️Jan lupa bahagia Rakan jan lupa syenyummmmmmm😊


__ADS_2