Dia Yang Kembali Datang

Dia Yang Kembali Datang
Resah Gelisah


__ADS_3

☕️☕️


Hari yang di nantikan datang juga, Lala Lili dan Lulu sudah Raja antarkan ke sekolah.


Titah datang membawa barang-barang yang sudah mak Duma minta sejak kemarin sore.


“Jadwalh harih inih sudah koshong sampai soreh yah pakh,” Ucap Titah pada Raja dan hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh Raja.


Tita sering mendapat gunjingan karena ia mengurusi urusan Raja bahkan di luar kerjaan kampus.


Tapi Tita tak peduli, selama ini Raja berlaku baik padanya tak pernah memandang rendah dan tak pernah sekalipun melecehkannya, bahkan Raja banyak membantu keluarga Tita.


“Aku permisi ya mak, semoga setelah nikah pak Raja udah ga galak biar jantung ku ga cepat gagal berfungsi.” Ucap Titah jujur.


Beberapa waktu ini mak Duma mengenal Tita ternyata anak itu gadis baik-baik sehingga mak Duma juga memperlakukannya dengan baik.


Hanya saja desahannya saat berbicara masih tak berubah padahal mak Duma sudah mengingatkan berkali kali, Tita pun sudah berjanji pada mak Duma akan berubah menjadi lebih baik.


“Tenang kau, nanti kalau udah dapat pawangnya tobat dia itu.” Jawab mak Duma pada Tita.


“Aamiin, semoga mak. Tita udah cape jagain pak Raja dari cewe-cewe mulai dari mahasiswi sampai cleaning service.” Jawab Tita jujur.


“Memangnya selama ini kalau ada yang ganggu, sikap Raja cemana Tah,” Tanya mak Duma penasaran.


“Ya, biasa aja mak. Malah aku sempat mikir apa pak Raja suka main pedang.”


“Mana pula sudah tua main pedang-pedangan, kau kira anakku bocah.”


Tita menepuk keningnya, unik sekali keluarga ini menurutnya, “Bukan itu maksud Tita mak, itah kirain pak Raja ga suka cewe sukanya pedang.” Jawab Tita menjelaskan.


“Enak aja kau, ga kau tengok hasilnya udah tiga.” Jawab mak Duma yang merasa anaknya di pojokkan.


“Salah lagih, akuh pamit mak.” Ucap Tita benar-benar pamit pada mak Duma.


☕️☕️☕️


Ada dua parcel yang sudah di sediakan, satu parcel isinya bermacam kue-kue khas medan dan satunya lagi berisi mukena yang mak Duma jahit sendiri dengan tangannya dalam waktu dua hari ini.


“Bismillah, bang.” Ucap pak Azis menepuk pundak Raja memberi kekuatan pada anak sulungnya itu yang sejak pagi sudah terlihat gelisah.


“Iya pak.” Jawab Raja yakin.


“Nampaknya cemana? Gal nolak dia kan bang.” Tanya mak Duma yang juga ikut gelisah.


“Entah lah mak, dia ga mau jauh dari anak-anak, pas ku bilang kita mau datang dia malah bilang takut.” Jawab Raja jujur.


“Takut apa,?” Tanya pak Azis.


“Itu yang aku ga tau pak, ku tanya-tanya ga di jawabnya.”


“Apa dia kasihan aja sama anak-anak ini? Sedang sama aku mungkin dia...” Raja tak sanggup menyelesaikan kalimatnya.


“Usaha dulu bang yok insya Allah jodoh ga kemana bang.” Ucap mak Duma sambil mengelus pundak Raja.


Ponsel Raja berdering, tertera nama ‘adek sebijik’ di layar ponsel itu.

__ADS_1


“Bang, semangat. Ku doakan dapat kakak ipar baru lagi aku.” Ucap Rani di seberang sana.


”Makasih Ran,” Jawabnya tulus.


”Sama-sama bang, jan lupa abang kabari aku nanti, ya.” Ucap adik Raja satu-satunya itu sebelum memutuskan sambungan telepon.


“Yok berangkat, bismillah.” Ucap pak Azis berusaha menenangkan anak dan istrinya sambil mengangkat satu parcel.


“Biar ku bawa aja pak.” Raja mendekati bapaknya dan mengambil parcel yang ada di tangan pak Azis dan langsung membawa dua parcel itu ke mobilnya.


☕️☕️


Masih pagi di hari yang sama, gadis kecil bernama Lili sedang duduk termenung di kursinya saat jam istirahat.


Biasa, gadis itu adalah anak paling aktif kali ini ia seperti ayam yang sedang sakit terkena wabah. Diam termenung tak berdaya.


“Ayo cir, kamu ga ikut main-main?” Tanya Adam sang Cs bestie pada gadis kecil itu.


“Pong, dirumah kamu ada menaranya?” Tanya gadis itu dengan mata masih menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong.


“Ga ada.”


“Gudang ada ga?” Tanya Lili lagi.


“Ga ada juga, kan rumah ku ga sebesar rumah kakek. Rumah ku sama rumah tetangga sama semua warnanya hijau semua.”


“Rumah kakek kamu ada menaranya pong.” Tany Lili serius.


Adam menggeleng dengan pasti, rumah kakeknya juga bukan istana kerajaan di film kartun mana mungkin ada menaranya.


“Gudang ada, di belakang dekat kandang burung.” Jawab Adam jujur.


Lili bergidik ngeri membayangkan gudang yang Adam ceritakan.


“Kata Omar, bunda tirinya sering marah-marah dia pernah dikurung di kamar mandi.” Ungkap Lili pada si ompong bestie nya itu tentang cerita teman mereka yang punya ibu tiri.


“Iya, kasian Omar ya, cir.”


“Bunda kamu kejam ga pong,” Tanya Lili memastikan.


“Nggak sih, tapi...”


“Tapi apa?” Tanya Lili penasaran.


“Tapi aku pernah diusir dari kamarnya diangkat di turunin ke bawah.” Cerita Adam menggebu.


“Terus kamu dikurung.” Tanya Lili.


“Nggak sih, tapi aku di hukum 1 bulan tidak boleh masuk kamar bunda.” Jawab anak itu jujur.


“Pernah juga tangan ku diikat ke tangan bunda pakai kerudung bunda yang panjang itu.” Cerita Adam lagi tanpa di tanya.


Mata Lili membulat sempurna jantungnya sudah hampir meledak.


“Kenapa kamu nanya bunda ku, cir?” Tanya Adam pemasaran.

__ADS_1


“Emm tanya aja,” jawab Lili menahan rasa takutnya.


“Kamu kenapa sampai di ikat begitu.” Tanya Lili lagi.


Adam hanya tertawa tanpa menjawab alasan Yana melakukan itu padanya.


“Kalau yang di angkat di turunkan ke lantai bawah kenapa.?” Lili masih penasaran.


“Cuma salah paham aja,” jawab ada Adam sudah seperti orang dewasa saja.


Hati Lili tambah gusar,sudah hampir seminggu ini Lili merasa tak enak hati ditambah lagi dengan berita yang opung katakan malam tadi membuatnya bertambah tak karuan.


Malam tadi opung sudah menjelaskan bahwa Yana mungkin akan menjadi mama mereka.


Pagi tadi bahkan ia tak selera makan, namun karena tak ingin membuat masalah dengan opung tersayangnya akhirnya Lili makan dua helai roti dan segelas susu.


sedangkan Lala terlihat biasa saja, kakaknya itu bahkan tak percaya saat ia menceritakan kalau mereka nanti akan di siksa oleh ibu tiri,


☕️☕️


Pagi itu juga di kediaman pak Ahmad, laki-laki itu geleng-geleng kepala melihat Yana bolak balik keluar kamar mandi yang berada di lantai bawah.


“Ibu ga siapkan apa-apa, kamu bener kan Yana mereka hanya silaturahmi untuk kenal saja.” tanya bu Nur saat Yana baru saja keluar dari kamar mandi untuk keenam kalinya.


“Iya bu, kata bang Raja mamaknya cuman mau bertamu saja.” Ucap Yana cemas.


“Kamu diare kak.?” Tanya pak Ahmad prihatin melihat kondisi anaknya.


“Gak Yah, mules aja.” Jawab Yana lemas.


“Masih takut,” Tanya bu Nur pada putri sulung ya itu lembut.


Yana mengangguk, malam tadi pak Ahmad, bu Nur dan Yana sudah membicarakan hal ini secara tuntas.


“Kalau ditanya sama Ayah, jujur ini berat untuk ayah. Tapi dari gelagatnya anak itu serius dan cukup matang.” Pak Ahmad mengemukakan pendapatnya.


“Prosesnya membuat Yana takut yah, yang sudah hampir jadi aja bisa gagal Yana ga sanggup rasanya kalau nanti sampai...”


“Husss mulutnya kak,” ucapan bu Nur memutus kata-kata Yana.


“Jodoh itu ibarat rejeki juga, nak.”


“Kalau sepotong roti bukan rejeki kita, Roti sudah menyentuh bibir bisa jatuh kembali. Bukan begitu?” Tanya pak Ahmad balik padanya.


“Iya yah, Yana paham.” Ucap gadis itu.


“Ayah sudah ikhlas, sekarang tugas kamu yang harus Yakin.” Pak Ahmad memeluk tubuh ramping anaknya penuh sayang.


“Yana takut yah, sangat takut.” Ucap Yana lirih.


☕️☕️to be continue☕️☕️


☕️untuk besok aku ga bisa janji up ya Rakan tapi akan diusahakan.


☕️Mohon maaf dan terimakasih atas pengertianya serta mau menunggunya. Tiyummm manis dari Titah 😘😘😘

__ADS_1


☕️Jan lupa bahagia jan lupa senyum


__ADS_2