Dia Yang Kembali Datang

Dia Yang Kembali Datang
Ungkapan Hati Anak-Anak


__ADS_3

☕️☕️


Sudut bibir Raja tertarik melengkung sempurna saat mendengar Lala menyebut Yana dengan sebutan umma sama yang seperti Lulu lakukan.


Awal mulanya Lulu memanggil Yana dengan sebutan bunda, namun hari keempat setelah Yana sah menjadi istri Raja Lulu mengganti panggilannya menjadi umma sesuai saran miss Eva guru favoritnya di sekolah.


Pemandangan indah didepan mata Raja membuatnya bahagia tak terkira, Yana berada di tengah diapit oleh Lala dan Lulu.


“Bang, pindahkan Lulu ketengah biar Aya bisa peluk dua-duanya.” Pinta Yana pada Raja sebelum laki-laki itu keluar dari kamar.


Dengan gerakan cepat Raja menggeser Lulu memindahkan anak itu yang sedang pulas tertidur di tengah antara Yana dan Lala.


Raja mendekat merapikan rambut Yana yang berantakan ke belakang telinga, “Sabar ya, ini ga akan lama.” Ucap Raja sambil lebih mendekat lagi ke arah Yana.


“Cepetan ke sebelah bang, nanti Lili marah lagi.” Ucap Yana sambil mendorong dada Raja agar laki-laki itu menjauh.


Bukan menjauh Raja malah semakin mendekat dan mengecup kening Lala yang berada pada posisi paling jauh darinya, lalu kemudian beralih ke Lulu.


Raja diam sejenak, ragu harus melakukan hal yang sama pada Yana atau tidak didepan Lala. namun Lala berbalik memunggungi ayah dan ummanya sambil memeluk guling, seolah anak itu tau apa yang tak boleh ia lihat.


Raja kembali tersenyum bahkan lebih lebar dari sebelumnya, Raja mendaratkan sebuah kecupan selamat tidur di kening Yana.


“Makasih, Ay. Kita lewati sama-sama ya.” Ucap Raja setelahnya.


Yana hanya mengangguk dan kembali mendorong dada Raja yang masih berada tepat di depannya.


“Nanti Lili nungguin lama.” Ucap Yana mengingatkan.


Pintu kamar tertutup dari luar menandakan Raja sudah keluar dari kamar itu, tak lama Lala kembali berbalik ke arah Yana.


“Umma”


“Ya, kenapa sayang.” Tanya Yana lembut.


“Kenapa muka umma merah,” Tanya anak itu


“Oh, ini panas aja dingin dari Ac nya belum merata.” Jawab Yana setenang mungkin.


“Umma sayangya bukan cuman ke ayah kan, kami juga kan?” Tanya Lala memastikan tentang gejolak rasa di hatinya.


Yana tersenyum mendengar pertanyaan Lala, menurut Yana sangat wajar jika Lala ataupun Lili berpikir begitu. Anak-anak itu wajah khawatir akan hal itu.


“Sayang umma ke ayah nomor empat.” Jawab Yana sambil menepuk-nepuk paha Lulu yang sedikit terusik mendengar mereka berdua berbicara.


“Yang pertama?” Tanya Lala penasaran.


“Yang paling kecil.” Jawab Yana mantap sambil tersenyum..

__ADS_1


“Dia lagi,” jawab Lala sambil memutar bola matanya.


“Aku ketiga dong.” Ucap Lala kemudian, membuat Yana tertawa.


“Nggak gitu kak, umma sayang kalian semua sama rata, semua anak umma. Ga ada urutannya.” Ucap Yana meluruskan prasangka Lala.


“Kalau nanti kami punya adik lagi.” Tanya Lala serius.


“Sama kak, insya Allah sama. Doakan umma ya.” Jawab Yana meyakinkan, “tapi kalian bertiga sudah cukup membuat umma bahagia.” Tambahnya lagi.


“Aku takut kalau mau punya adik lagi.” Gumam Lala halus hampir tak terdengar oleh Yana.


“Kenapa,? kamu takut di geser jadi nomor urut empat.” Jawab Yana menggoda gadis kecil itu.


“Takut...”


“Apa,” Tanya Yana penasaran.


“Takut nanti umma ga bangun lagi seperti mama.” Ucap Lala dengan mata yang sudah berkaca kaca.


“Itu yang buat kamu takut rumah sakit.?” Tanya Yana memastikan. Lala hanya mengangguk membenarkan dan akhirnya Yana tau alasan Lala takut pada rumah sakit, tau bahwa Lili takut gelap, tau bahwa Lulu tak suka wanita memakai blush on berlebihan. Yana yakin lambat laun ia akan memahami anak-anak ini satu persatu.


“Doakan kita bisa terus sama-sama ya, doakan juga untuk mama setiap hari itu tidak boleh lupa.”


Lala mengangguk dan menarik tangan kanan Yana, “Aku mau dipeluk umm boleh?.” Ucap gadis kecil itu membuat Yana bergegas memeluknya.


Namun ternyata Lala tak puas dengan begitu, dia kembali bangun dan menggeser Lulu yang masih lelap ke pinggir agar dia berada tepat di sebelah Yana.


“Tenang umm pagi pasti aku duluan yang bangun.” Ucap Lala sambil kembali tertidur dan menarik tangan Yana minta kembali di peluk.


“Umma maaf, aku rindu di peluk mama.” Ucap Lala dengan suara serak dan menyembunyikan wajahnya di dada Ayana.


“Peluk umma kapanpun kamu mau La, ceritakan semua pada umma apapun yang membuat kamu tak nyaman.” Ucap Yana sambil mengecup kening Lala lembut.


Yana mengusap punggung anak itu sampai Lala benar-benar terlelap.


☕️☕️☕️


Dirumah yang sama di kamar berbeda, Lili dengan jujur mengatakan pada Raja tentang semua kecurigaanya pada Yana.


Lili dan kedua anak Raja yang lainya memang tak pernah bisa berbohong pada ayahnya itu.


Raja hanya mengangguk paham dengan apa yang sedang Lili rasakan, ia hanya mendengar tanpa membantah apapun sampai Lili selesai memcerikana semua termasuk niat Lili yang berencana kabur ke rumah Ammora temannya.


“Lili percaya sama ayah kan.” Ucap Raja setelah cerita Lili selesai.


Anak itu mengangguk tanda mengiyakan pertanyaan Raja.

__ADS_1


“Mulai sekarang Lili ga boleh ngomong kayak tadi lagi sama umma ya, ga sopan.”


“Dia bukan umma ku.” Jawab Lili cepat.


“Iya, boleh. Tante Yana, Lili ga boleh ngomong gitu lagi sama tante Yana.” Ucap Raja sabar.


“Nanti kalau terbukti tante Yana tidak baik, ayah yang akan bertindak. Lili percaya ayah kan.” Tanya Raja kembali memastikan hati Lili.


“Tapi aku ga suka ibu tiri.” Jawab Lili dengan muka memelas.


“Maka dari itu jangan disebut-sebut itu tiri, panggil umma saja atau tante.” Jawab Raja lagi.


“Lili sayang sama ayah nggak?” Tanya Raja kemudian.


“Sayang.”


“Nah, gitu dong. Kalau sayang kita cari tau sama-sama dan kita buktikan bahwa tante Ayana tidak jahat.”


“Kalau jahat.” Tantang Lili.


“Selama ini apa pernah ayah membelikan Lili pakaian yang tidak bagus?” Lili menggelengkan kepala pelan.


“Pernah ayah memberi makanan tidak baik pada Lili.” Gadis itu kembali menggelengkan kepala.


“Apakah mungkin ayah memberi umma yang tidak baik untuk anak ayah tersayang ini?” Tanya Raja kemudian sambil mencubit ujung hidung Lili.


Lili hanya diam tanpa kata, ia sedikit bingung dengan arah pembicaraan ayahnya. yang Lili tau ucapan ayahnya benar, selama ini juga Yana tak pernah jahat.


“Tapi aku ga suka.” Jawanya masih keras kepala.


“Sekarang tidak suka tidak apa tapi tetap harus sopan dan tidak boleh seperti tadi, ok.” Raja memberi penawaran dengan sabar.


“Em ok,” akhirnya gadis kecil itu mengalah dan memilih tidur.


Raja melirik jam dinding di ponselnya, belum terlalu malam untuk memberikan tugas pada Tita pikirnya.


Ia bergegas mengambil ponsel dari atas nakas samping tempat tidur Lili.


“Haloh pakh,” jawab gadis manis di seberang telpon setelah mengucap salam.


“Cari data siapa Udek dan Ammora, serta saat masuk sekolah nanti pastikan mereka tidak satu kelas bersama dengan Lili dan Adam lagi.”


“Baikh pakh, sa...” belum sempat Tita sang sekretaris menghabiskan kata-katanya Raja sudah mematikan sambungan telepon dengan gadis itu begitu saja.


☕️☕️To be continue☕️☕️


☕️Haloo Rakan, makasih banyak-banyak untuk rakan pembaca semua yang masih setia.

__ADS_1


untuk minggu ini aku up dua hari sekali ya, senin rabu jumat makasih rakan jan lupa senyum jan lupaa bahagiaa.


☕️yang mau kenal aku boleh folow IG Coretan_nda🙏🙏


__ADS_2