
💚💚
Hari-hari setelah mendengar cerita Yana bu Nur lebih banyak diam dikamar, ayah mengira bu Nur sakit begini karena sedih akan di tinggal oleh Yana yang nanti akan pindah jika sudah menikah ayah juga sempat meminta Elita membawa obat untuk ibu namun kata Elita ibu tidak sakit apa-apa dan tidak perlu obat.
"Bu, kan masih ada Utha sama Putri kamu jangan begini nanti sakitnya jadi parah." Acap ayah saat mengantarkan nasi untuk ibu kedalam kamar.
"Ibu takut Yana ga bahagia." Jawab ibu
"Nak Doni kan pilihanya, pasti dia bahagia kita yang menikah tanpa cinta saja bisa sebahagia ini apalagi mereka yang saling mencintai." Jawab ayah sambil menyuapi ibu.
Tak ada jawaban lagi yang keluar dari mulut ibu, wanita itu hanya patuh disuapi oleh suaminya. Kondisinya sekarang ini tidak sakit jangankan untuk menyuapi makanan sendiri untuk ke pasar pun ibu sanggup lakukan. Hanya saja pikirannya sedang tidak baik membuatnya lebih banyak berdiam diri di kamar.
Sudah tiga hari ini Yana mengambil alih tugas ibu untuk masak dan untuk yang lainya masih sama seperti bisa Yana membagi tugas dengan Putri.
Doni menawarkan untuk mendatangkan satu orang pembantu dari rumahnya namun Yana menolak karena menurutnya itu terlalu berlebihan.
Memang selama ini juga hanya memasak tugas ibu yang tak tergantikan, ayah tidak pernah mau makan masakan orang lain bahkan untuk membuat kopi saja harus tangan ibu.
Saat ibu sakit seperti ini biasa ayah akan membuat kopinya sendiri serta makan alakadarnya saja dan biasa ayah juga akan kehilangan semangat. Kalau kata Putra seperti separuh jiwa ayah hilang.
Sore itu sepulang sekolah Yana langsung menemui ibu di kamar rasa bersalahnya pada ibu semakin menjadi-jadi, ibu harus kembali ceria seperti biasa, suara ibu ngomel di pagi hari adalah semangat pagi untuk anak-anak dan juga ayah.
Yana memastikan tidak ada siapapun di rumah selain mereka berdua, saat masuk kekamar ibu terlihat sedang tiduran tapi tidak tidur matanya terbuka menatap langit-langit kamar.
“Bu aku minta maaf.” Ucap Yana saat berdiri di pintu.
Melihat Yana Ibu langsung duduk dan melambaikan tangan meminta Yana duduk di sampingnya.
“Baru pulang ya? belum mandi anak gadis masih bau acem.” Ucap ibu sambil mengendus anak gadisnya. Sore itu ibu terlihat lebih segar daripada tadi pagi saat Yana pergi mengajar.
“Ibu udah sehat.” Tanya Yana lembut.
“Siapa bilang ibu sakit,” Jawab ibu ketus.
Ibu terdengar menarik napas panjang dan berbalik menghadap Yana.
“Hati kamu bagaimana?” Tanya ibu.
“Entah bu aku juga ga paham.” Jawab gadis itu.”
Ibu kembali terdengar menarik napas panjang sambil memegang lengan Yana.
“Siapapun nanti yang akan menjadi pilihanmu pastikan kamu sanggup dan mampu hidup dengannya selamanya. Menikah bukan perihal bahagia sehari dua hari, kalaupun nanti laki-laki itu yang jadi suami mu kamu harus siap menerima anak-anaknya tiga orang anak bukan hal yang mudah kak dan kalaupun Doni yang nantinya jadi suami mu kamu harus siap juga menerima sikap ibunya,”
“Untuk saat ini kamu sudah tau apa isi hati Doni dan apa maunya, dan sekarang belum terlambat untuk mencari tau apa isi hati laki-laki itu dan apa maunya agar tidak ada lagi cerita belum selesai yang akan membebani pikiranmu nanti.”
“Setelah itu kamu bebas memilih yang menurutmu terbaik, ibu tidak masalah walaupun dia duda anak tiga ibu tetap mau menerima mereka sebagai cucu dan kamu juga harus siap adil jika nanti punya anak sendiri pikirkan juga itu matang-matang.”
__ADS_1
“Ibu baik-baik saja ayahmu saja yang seperti anak muda kalau kata Putra lebay.” Ucap ibu meyakinkan.
Yana belum sempat menjawab apa yang ibu katakan pintu sudah terbuka ayah masuk langsung memegang kening ibu memastikan ibu tidak demam.
“Apa sih malu dilihat anak,” Ibu menepis tangan ayah.
“Ibu bu yana, dulu saja dia mengejer-ngejar ayah,” ucap ayah membela diri.
“Terserah deh berdua mau apa,” ucap Yana sambil bangun dari duduknya dan keluar dari kamar itu meninggalkan pasangan yang masih saja terlihat manis di usia yang sudah senja, mungkin tingkah putra diturunkan sepenuhnya dari ayah.
Dikamarnya yana mulai memikirkan kata-kata ibu tapi bagaimana caranya mengetahui isi hati Raja, bahkan akhir-akhir ini saat bertemu sikap Raja terlihat biasa saja tidak seperti awal-awal mereka bertemu.
Akhir-akhir ini juga Raja mulai menyebutnya Ayyana bukan lagi Ay seperti saat pertama bertemu di acara seminar itu.
Salahkah dia yang tak jujur dengan statusnya sejak awal atau mungkin ia terlalu percaya diri bahwa Raja masih mengharapkanya.
Lamunan Yana terhenti saat dering ponsel dari tasnya terdengar begitu nyaring.
➰➰➰➰♥️♥️♥️
Dari ketiga anaknya Lala yang paling peka dengan kondisi yang dialami Raja, anak itu bahkan bisa menebak kalau ayahnya sedang patah hati.
sebenarnya belum bisa diklasifikasikan dalam kondisi patah hati, karena patah hati lebih digunakan bagi mereka yang sudah memiliki sedangkan Raja bahkan belum sempat mengungkapkan apa maksud hatinya.
Siang itu mereka bertemu lagi di minimarket dekat sekolah Yana, Raja memang akhir-akhir ini sengaja mengajak anak-anaknya membeli jajanan minimarket itu sepulang menjemput Lili dan Lala dari sekolah, tujuannya tentu saja hanya sekedar melihat Yana.
Seperti biasa bola mata raja mengikuti arah Yana, terlihat seorang laki-laki membukakan pintu sambil tersenyum dan mempersilahkan Yana masuk, laki-laki itu tidak asing seperti pernah bertemu denganya.
Dan juga Raja Ingat betul wajah Papa dari Adam teman sekelas Lili, dan yang hari ini menjemput Yana bukan laki-laki itu. Lalu siapa yang sekarang sedang bersama Yana?
Baru saja Raja melajukan mobilnya anak-anaknya sudah berceloteh.
“Ayah yang tadi tante yang kita ketemu di restoran waktu itu kan?” Tanya Lala.
“Itu tadi bundanya kawan ku kak si ompong hihihi?” kata Lili yang duduk di bangku belakang bersama Lala, sedangkan si bungsu Lulu duduk di depan sambil minum susu dengan jok mobil lebih disandarkan agar bocah kecil itu nyaman.
“Kenapa masih bilang ompong nanti dia marah lagi berantem lagi nangis lagi kau,” Lala yang tahu tentang cerita keributan itu mengingatkan.
“Apalah kakak ni dah kawan lah kami, ga marah pun dia ku panggil ompong tapi jan depan orang rame katanya, rahasianya pun di cerikanya sama ku.” Lili memberi penjelasan.
“Ada pulak syaratnya gitu Li udah macam orang besar aja, apa rahasianya.” kali ini Raja yang berkomentar sambil melirik anaknya dari kaca spion depan.
Bukan hanya dia yang memiliki panggilan khusus untuk Ayyana-nya bahkan anaknya juga juga punya panggilan khusus untuk anak Yana, dan Raja selalu saja kacau jika berkaitan dengan Yana. ‘Istri orang’ gumamnya sambil memijat keningnya dengan tangan kanan.
“Siapa Yah?” Tanya Lala.
“Apa…!” Jawabnya sesantai mungkin.
__ADS_1
“Istri orang siapa?” Lala memperjelas.
“isti tu pa yah.” Lulu si bungsu yang ternyata menyimak pembicaraan mereka.
“Istri itu temennya suami dek masih kecil pun banyak kali mau tau, iya kan yah,” Ucap Lili.
“Halah sama-sama kecilnya kelen berdua.” Lala yang merasa lebih dewasa berkomentar, membuat Raja geleng-geleng kepala.
Sedangkan si bungsu yang bertanya terlihat tak peduli dengan jawaban kakaknya.
“Siapa yah?” Ternyata Lala masih menagih jawaban dari Raja.
“Teman ayah di kampus kak, tadi ayah lihat lewat situ.” Jawab Raja tenang.
“Memangnya apa rahasia yang dicerikan kawan mu Li?” Tanya Lala yang juga penasaran pada Lili.
“Namanya rahasia mana boleh bilang-bilang, eh tapi kalau ayah sama kakak janji ga bilang-bilang sama orang lain ku ceritain ni.” Lili mulai ragu.
“Iya janji,” Ucap Raja dan Lala bersamaan.
“Jan bilang bilang ya, kata si ompong bundanya mau menikah.”
Raja mengerutkan kening dengan pernyataan Lili.
“Bundanya?” Tanya Raja sambil menepikan mobilnya hingga benar-benar berhenti.
“Iya bundanya, rupanya bundanya itu kakak dari mamanya si ompong yah terus katanya mau menikah, Lili kira itu mamanya kak hihihihi.” Jawab Lili santai.
“Bundanya belum menikah?” Tanya Raja yang tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya sambil membalikkan badan melihat ke arah Lili.
“Kah tu pa yah?” Lulu yang terkejut dengan pergerakan Raja ikut bertanya.
“Ayah!” Kali ini Lala dengan tatapan tajam melihat kearah Raja.
➰➰To Be Continue➰➰
♥️Berasumsi tanpa mencari tahu kebenaran adalah sebuah kebodohan.
〰️tetap semangat jangan lupa bahagia jangan lupa syenyummmm😊〰️
👱🏻♀️kalau lagi susah giman?
👧🏻syemyumm aja
👱🏻♀️kalau lagi sedihh
👧🏻pokonya syenyummm syenyummm syenyummm ajaaa.
__ADS_1