
☕️☕️☕️
Dengan amat sangat terpaksa Lili akhirnya harus ikut bersama Yana untuk menyusul ayahnya, sepanjang perjalanan Lili menjaga jarak aman dari Yana. meskipun wanita itu terus saja berusaha mendekatinya.
Ia memang merasa iri dengan interaksi Lala dan Lulu bersama Yana namun sekuat tenaga ia tepis. Bayangan cerita Udek dan Ammora masih saja mengganggu pikirannya meskipun ia sudah berjanji pada ayahnya untuk mulai menerima Yana.
Hal yang tak pernah Lili bayangkan terjadi saat ia merasakan mobilnya berhenti tiba-tiba di tengah jalan. Opung Tagor mengantar mereka ke rumah seorang nenek tua yang berada di tak jauh dari tempat mobil mereka berhenti.
Lili sudah ketakutan mulai sejak awal masuk kerumah itu, tapi darah Mahraja sang ayah mengalir deras di nadinya. Egonya terlalu tinggi untuk mengakui bahwa ia membutuhkan dekapan perlindungan dari Yana.
Saat malam semakin larut hujan semakin deras petir bertalu-talu hatinya mulai goyah namun saat ia mulai mendekat pada yana egonya kembali meronta untuk menolak rasa yang ada.
Suasana mencekam terjadi saat listrik di rumah nenek tua itu padam, ia hendak berdiri berlari memeluk Yana namun ketakutannya pada gelap membuatnya membeku tak bisa bergerak. Tak lama ia merasakan pelukan hangat dari Yana yang begitu menenangkan.
“Umma aku takut.” lirihnya sambil membalas pelukan Yana dengan erat.
“Jangan takut ada umma disini kita akan baik-baik saja.” Yana memeluk Lili dengan lebih erat membuat anak itu merasa nyaman.
“Umma maafin Lili, jangan tinggalin Lili disini.”
“Anak umma gak punya salah jangan nangis lagi nanti Lulu jadi ikutan takut.” Jawab Yana membuat Lili diam dan lebih mengeratkan pelukan pada ibu sambungnya itu merasakan pelukan seoarang ibu yang sudah sangat lama tak ia rasakan.
☕️☕️☕️
Suara azan dari ponselnya membuat Yana terbangun, entah sampai jam berapa ia baru bisa tertidur karena tak igin terjadi apa apa pada anak-anaknya. Posisinya yang duduk bersandar dengan kaki selonjoran membuatnya tak bisa bergerak.
Di celah kaki kiri kanannya ada Lulu yang tidur berbantalkan paha kanannya, anak itu bahkan memeluk kaki kanan Yana erat seperti bantal guling.
Di kiri ada Lala yang memeluknya posesif dan di kanan ada Lili yang juga tak kalah erat memeluknya.
Tak jauh dari tempatnya berada nantulang Jamilah tidur berbantalkan tangan, tepat di sebelah ibu pemilik rumah tempat mereka menumpang yang juga tidur dengan nyenyak.
“Kak, bangun kak.” Yana mencoba membangunkan Lala dan Lili bergantian membuat Lala dan Lili perlahan membuka mata.
“Huaaa umma Lili mau pulang Lili janji ga jahat sama umma lagi.” Tangis Lili menggema sesaat setelah anak itu membuka mata.
“Husstt jangan nangis nanti Lulu bangun.” Ucap Yana memeluk anak keduanya itu dengan penuh sayang.
__ADS_1
“Terkejut aku, ku kira kebakaran.” Ucap ibu pemilik rumah yang baru terbangun dari tidurnya.
“Maaf inang anak-anak ini mungkin takut.” Ucap nantulang Jamilah tak enak, karena suara Lili mengganggu tidur ibu pemilik rumah itu.
“Gak apa biasanya itu anak-anak.” Jawab ibu pemilik rumah.
“Inang boleh saya menumpang kamar mandi.” tanya Yana.
“Ayok, dibelakang sana nak ku. airnya di sumur biar ku bantu timbakan untuk mu.” Ibu pemilik rumah bergegas bangun dari duduknya.
Dengan kaki terasa kebas Yana menggendong Lulu dalam dekapanya dan mengajak dua putrinya yang lain mengikutinya ke belakang rumah, Yana tak ingin semenit pun terlepas pandang dari kedua anaknya itu.
Beruntung inang pemilik rumah membantunya menimbakan air, nantulang Jamilah juga membantu memangku Lulu saat ia berwudhu dan melaksanakan kewajibannya sebagai muslim bersama kedua anaknya Lala dan Lili.
Matahari sudah mulai memberi kehangatan waktu tulang Togar datang menjemput mereka dengan seseorang yang sangat Yana dan anak-anak harapkan.
☕️☕️☕️
Raja tak tinggal diam dengan keadaan yang sedang terjadi meski tulang Togar mengatakan semua dalam keadaan baik-baik saja Raja tetap merasa tak tenang. Terlebih mamak menelponnya satu jam sekali sejak malam mulai dari repetan sampai tangisan mak Duma luapkan melalui sambungan telepon pada Raja.
Setelah subuh Raja langsung melajukan kendaraannya membelah jalanan melewati perkebunan warga menuju lokasi yang tulang Togar katakan. Namun ia tak bisa sampai ke titik lokasi yang dituju dengan mobilnya karena banyaknya kendaraan yang juga harus berhenti di tengah jalan.
Saat sampai di lokasi tersebut pohon tumbang yang diceritakan tulang Togar memang tampak sangat besar namun sudah dipotong menjadi beberapa bagian dan di pindahkan sebagian ke pinggir jalan sehingga mobil dan motor sudah bisa lewat satu persatu secara mengantar Ian dari dua arah. Pun demikian kendaraan mereka harus menunggu giliran untuk bisa lewat.
Raja minta diantarkan ke tempat dimana Yana dan anak-anak berada, tulang Togar menepikan mobilnya lebih ke pinggir agar jika sudah giliran jalan mobil mereka tak menghalangi pengendara lain yang berada di belakang mobil mereka.
Pintu rumah sederhana tempat tulang Togar menitipkan istrinya dan Yana tak tertutup saat Togar dan Raja mendatangi rumah itu. Ibu pemilik rumah sedang memetik daun singkong yang berada di depan rumah.
“Horas inang,” sapa Togar
“Horas, masuk kelen masih tidur anak-anak itu ku rasa kecapean lah itu kasian kali aku nengok nya.” Jawab ibu pemilik rumah ramah menyambut Raja dan Togar.
“Ininya bapak anak-anak itu, bah ganteng kali ah pantas lah anak-anakmu cantik-cantik istrimu mu pun cantik.” Puji ibu pemilik rumah pada Raja.
“Terimakasih inang, terimakasih juga sudah menjaga anak dan istri saya.” jawab Raja sopan.
Saat memasuki rumah sederhana itu, pemandangan yang Raja lihat membuat sudut hatinya terasa sakit. Rasa bersalahnya pada Yana memuncak melihat wanita itu dengan keadaan yang sangat kuyu memangku Lulu yang tertidur dengan Lala dan Lili bersandar di kiri dan kanannya.
__ADS_1
Raja bergegas memeluk keluarga kecilnya itu secara posesif seraya mengucap maaf berkali kali, Raja merasa Janjinya pada pak Ahmad untuk tak membuat Ayana sedih dan kesulitan sedikitpun telah ia langgar. Andai pak Ahmad melihat kondisi Yana saat ini apa yang harus ia katakan pada ayah mertuanya itu.
“Maafkan ayah, maafkan abang Ay maaf.” Ucap Raja berulang ulang.
Bukan hanya anak-anak yang menangis saat melihat ayah mereka, Yana juga ikut menangis dan memeluk Raja mencari perlindungan dalam dekap laki-laki yang ia cintai itu tanpa rasa malu meski banyak mata memandang.
Ketegaran yang Yana punya sejak malam tadi mendadak sirna menguap begitu saja saat melihat Raja ada di hadapanya.
Setelahnya mereka bergegas pamit pada ibu pemilik rumah dan mengucapkan terima kasih karena telah memberi tumpangan, Raja juga membagikan sedikit rezekinya pada ibu pemilik rumah sebagai tanda terimakasih telah menjaga anak, istrinya dan juga nantulang Jamilah dengan baik selama semalaman.
Saat mereka kembali ketempat pohon tumbang itu ternyata mobil mereka sudah bisa lewat, Raja meminta tulang Togar cukup mengantar sampai tempat dimana ia meninggalkan mobilnya saja untuk mereka melanjutkan perjalanan.
Yana tersenyum hatinya kembali menghangat saat mendapati notifikasi ponselnya berbunyi beberapa kali saat mendapatkan sinyal 4G, pesan dari mak Duma masuk puluhan, wanita paruh baya itu mengirimi Yana pesan degan doa-doa dan meminta segera menghubunginya jika ponsel Yana sudah bisa dipergunakan.
Yana langsung saja menelpon ibu mertuanya itu mengabari bahwa ia dan anak-anak dalam kondisi baik-baik saja agar sang ibu mertua merasa tenang. Mak duma juga mengucap hamdalah berkali-kali saat mendengar suara Yana diseberang telepon.
“Gimana rasanya punya mertua kayak petasan cabe.” tanya Raja usil saat sambungan telepon ayana dan mak Duma sudah mati.
“Durhaka Yah, kata opung nanti kunci pintu surga opung simpan kalau ayah bilang opung cerewet, iya kan anak-anak?,” jawab yana mengulang kata-kata mertuanya yang sering ia dengar dan menanyakan pendapat anak-anaknya. Raja hanya tertawa menanggapi ucapan Yana.
“Padahal udah dibilang Ayah dama anak-anak baik baik aja tapi tetap aja mamak mau dengar suara Aya baru mamak percaya.”
“Iya dong menantu kesayangan,” jawab Yana bangga.
“Kalau aku cucu kesayangan,” Ucap Lala menanggapi.
“Aku anak kesayangan umma.” ucap Lili dengan bangga.
“yuyu tayang umma.”
“Aku.” jawab Lili ketus
“Yuyu.” gadis kecil itu juga tak mau kalah.
Ucapan Lili cukup menarik perhatian Raja, ia melirik Yana yang berada di sebelahnya yang sudah kewalahan menyambut serangan dua gadis kecil yang memperebutkannya Ayyana-nya.
☕️☕️To be continue☕️☕️
__ADS_1
☕️untung kau cepat tobat Lili, kalau ga bisa di demo aku sama Rakan pembaca ini 🤭 padalah yang jahat kau malah aku yang kenak.
☕️jan lupa bahagia Raka jan lupa syenyummmmmmm 😊