
💚💚
Sesuatu yang dipaksakan pasti akan berujung menyakitkan, begitu juga kisah sepasang kekasih beda usia yang sedang merasa rapuh dengan yang mereka jalani.
Jika saja waktu bisa diulang mungkin Yana tak akan merelakan hatinya bermain perasaan dengan Doni yang sudah jelas jauh berbeda denganya.
Begitu juga Doni andai ia tak memaksa kehendak mungkin gadis pujaannya tak akan menangis sepilu itu dalam pelukannya tanpa ia bisa berbuat apa-apa.
Yana, gadis yang pada saat awal perkenalan terlihat begitu ceria dan sangat manis, smart penuh pesona sehingga membuatnya terpesona malam itu terlihat begitu kecewa dengan keadaan yang sedang mereka hadapi.
Malam itu setelah diusir pulang oleh calon ayah mertuanya sepanjang perjalan Doni meresapi apa yang telah ia lewati selama ini dengan Yana, ia urutkan kisahnya secara runut mulai dari sejak mengenal gadis itu hingga malam ini.
Sepanjang kisah itu juga tak pernah Yana menangis semenyedihkan itu, jika pun ada selisih paham dengannya biasa Yana akan meluapkan semua kekesalannya merajuk sebentar dan kemudian kembali baik.
Namun tidak untuk malam itu, tak ada ungkapan marah yang menggebu dari mulut gadis itu, namun penggalan kata demi kata yang keluar dari mulut gadis itu jelas menghambarkan betapa menyakitkannya ucapan mamanya untuk gadis itu.
Keraguan mulai muncul dihati Doni, benar kata pak Ahmad sudah mampukah ia menjamin bisa membuat Yana bahagia nantinya. Sampai kapan ia bisa terus-terus melawan mamanya, wanita yang menyayanginya dengan penuh sayang sejak kecil dan telah bertaruh nyawa untuk melahirkannya.
Saat masuk ke pekarangan rumah Doni memberhentikan mobilnya tepat di depan pos satpam rumah itu ia keluar dari mobilnya serta menyerahkan kunci mobil itu pada petugas yang menjaga keamanan rumah mereka begitu saja.
Seolah paham laki-laki paruh baya yang sudah bekerja pada keluarga Anggra sejak Doni masih kecil itu langsung mengguk dan menerima kunci itu serta memasukan mobil Doni ke garasi rumah mewah itu.
Doni masuk kerumahnya dari pintu samping yang langsung ke ruang keluarga, sudah ada papa dan mamanya menunggu disana.
“Bagaimana mas.” Ucap pak Anggara saat Doni baru saja masuk, Doni hanya diam tanpa menjawab apapun.
“Duduk dulu,” Ucap pak Anggra kembali
Doni memilih duduk tidak terlalu dekat dengan mama dan papanya, hatinya masih terlalu sakit dan bertambah sakit saat melihat wajah mama Jelita yang tak kalah menyedihkan dengan wajah Yana yang ia lihat tadi. Entah apa yang telah papanya lakukan pada mamanya itu.
“Bagaimana.” Kembali pak Anggra bertanya pada anak satu-satunya itu.
Doni menggeleng dalam diamnya, kata-kata Yana yang menjelaskan bahwa wanita itu mendengar sendiri dari mulut mama Jelita mengiang kembali di telinganya membuat ia merasa peluangnya begitu kecil untuk bisa hidup bahagia bersama dengan gadis pujaan hatinya itu.
“Putra sudah menceritakan semua pada Yana,” Tanya pak Anggara kembali
Doni kembali menggelengkan kepala dan kali ini ia malah menunduk, hal itu membuat pak Anggar habis kesabaran pada anak tersayangnya itu.
“KAMU LAKI LAKI MAS JAWAB PERTANYAAN PAPA.” Sura pak Anggara meninggi membuat ia dan mama Jelita tersentak.
__ADS_1
“ANGKAT KEPALAMU.”
“Bagaimana kamu bisa yakin Yana bahagia hidup denganmu kalau masih begini saja tak sanggup kamu lewati, memalukan,”
Sampai setua ini memang tak pernah sekalipun pak Anggra membentak meskipun saat marah.
Namun bukan bentakan pak Anggara yang jadi masalahnya sekarang melainkan kata terakhir yang diucapkan papanya itu bak belati yang menusuk ke relung hatinya begitu dalam. Pertanyaan mampukan ia membahagiakan Yana kembali menari-nari di kepalanya, keraguan itu muncul lagi.
Suara isak tangis mama Jelita kembali terdengar di ruang keluarga itu, entah karena penyesalan yang di rasakan wanita itu atau karena terkejut mendengar suara suaminya yang hampir seperti orang berteriak.
“Jawab Andoni Raman Anggara, jangan buat papa malu dengan sikapmu.”
Doni segera menegakkan duduknya mengangkat kepala dan menatap papanya itu dalam-dalam, laki-laki itu menarik nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan dari papanya.
“Yana… Yana tidak tau hal itu dari Putra pa, Melainkan dari mulut mama sendiri.” Ucap Doni
“Aku pamit ke kamar pa, nanti setelah aku memikirkan yang terbaik tolong papa temani aku menemui mereka. Akan aku selesaikan semuanya.” Ucapan Doni membuat pak Angga kembali menatap tajam istrinya.
Setelah mengucapkan itu Doni bangun dari duduknya dan benar-benar pergi meninggalkan mama dan papanya begitu saja.
Nyatanya perkataan nanti yang diucapkan Doni berlangsung sampai tiga hari tanpa pernah laki-laki itu keluar dari kamarnya sedetikpun, bahkan bibi yang mengantar makanan pun hanya berani sampai di depan pintu saja.
Dan selama itu juga pak Anggar selalu berharap keputusan yang akan Doni ambil adalah tetap memperjuangkan Yana, karena pak Anggra paham betul apa yang dibutuhkan oleh anaknya itu.
Tepat di hari ketiga barulah Doni keluar dari kamar itu menemui pak Anggara dan meminta papanya itu menemaninya bertemu keluarga pak Ahmad.
➰➰➰♥️♥️
Sore itu saat bu Nur dan Idris kembali ke kamar rawatan tempat Yana dirawat hanya ada Ozan dan Cia yang menemani Yana, mbak Muti terpaksa pulang karena bayinya menangis terus-terusan. Sedangkan murid yang lain sudah memilih pulang duluan karena memang sudah terlalu sore.
Yana sempat meminta agar mereka pulang saja semua, tapi janji anak-anak itu pada pak Ahmad tak mau mereka langgar begitu saja. Setelah kompromi maka diambil keputusan Ozan dan Cia yang akan tinggal menunggu sampai keluarga Yana ada yang datang.
Ozan dan Cia bergegas pamit pulang saat melihat bu Nur masuk karena Cia harus mengantar Ozan pulang terlebih dahulu dan mereka tak mau kemalaman.
Sejak kejadian kecelakaan yang mematahkan kaki Ozan, Cia memang sering mengantar jemput Ozan.
Bu Nur mengucapkan terima kasih berkali-kali pada dua anak didik dari anaknya itu, ada rasa haru di hati bu Nur melihat begitu peduli dan perhatian mereka pada Yana.
“Biasanya tu ibu guru ga disukai anak murid kak, kamu malah disayang sama mereka.” Ucap Bu Nur saat Ozan dan Cia sudah menghilang di balik pintu kamar rawatan itu.
__ADS_1
“Kamu pernah marah ga kak sama mereka.”
“Tuh lihat ayah mu, muridnya sampai sekarang takut sama dia karena dia galak” Ucap bu Nur lagi.
“Aku sayang banget sama mereka bu, anak kelas lain aku sayang juga sih tapi sama mereka tu lebih, mungkin karena aku wali kelas mereka ya bu.” Jawab Yana sambil tersenyum.
Ada kelegaan tak terhingga di hati bu Nur saat melihat Yana tersenyum dan sudah kembali ceria.
“Putri mana bu,” Yana baru menyadari Ibunya kembali bersama Idris tanpa adik iparnya dan ayah.
“Di Kamar bersalin, tau-tau udah bukaan empat aja itu anak,” Kata bu Nur dan langsung membuat Yana terkejut.
“Terus kenapa ibu ninggalin dia, sama siapa dia disana?”
“Ada nyak sama babenya udah datang, udah tenang aja kita beres-beres dulu biar pulang, kata perawatnya tadi kalau mau pulang malam ini juga udah boleh. nanti mereka masuk buat ngelepas selang infus kamu.” Ucap bu Nur menenangkan.
“Putra kemana,?” Tanya Yana lagi
“Keluar sama ayah ada urusan.”
“Urusan apa bu, istrinya mau melahirkan malah di tinggal,”? Kata Yana belum puas.
“Unda cewet kayak mama, belisik” Ucap Idris yang terganggu dengan suara Yana saat ia sedang memainkan robot-robotan.
“Bunda aduin mama kamu ya Dris,” Jawab Yana mengganggu bocah kecil itu.
“ga ga unda baik mama uga baik,” Idris meralat ucapan tentang mamanya yang cerewet.
“Gapapa dek, itu tandanya bunda mu sudah sembuh udah sehat kita bisa pulang,” Ucap bu Nur menggoda sambil menaikan-menaikan alisnya.
“Ibu... doain aku ya,” Ucap Yana sambil merentangkan tangan minta di peluk oleh wanita tersayangnya itu.
➰➰to be continue➰➰
♥️jangan mencoba menghilang untuk di cari, hubungan kita tidak sereceh itu.
〰️hola rakan apa kabar? terimakasih masih setia membersamai ku dan Yana 🙏🙏 komen dan like Rakan semua adalah moodboster buat aku lanjutin cerita ini🙏dan mohon maaf karena masih banyak kekurangan. jangan lupa bahagia dan tetap syenyummm 😘〰️
Intermezzo
__ADS_1
Mak Duma say : Eh adanya yang mau mak tanyakan sikit sama kelen, bentar lagi kan raya udahnya kelen beli baju raya? Berapa setel udah baju raya kelen? Jan kalah cantek pulak mamak nanti.