
💚💚
Waktu berjalan begitu cepat bagi mereka yang sedang menghindar dan begitu lambat bagi mereka yang menunggu.
Begitu juga pada pasangan Andoni Raman Anggara dan Ayyana Ahmad ini, untuk Doni waktu dua minggu mendatang terasa begitu lama sedangkan untuk Ayyana terasa begitu cepat.
Namun Doni bisa apa, mamanya yang meminta agar acara itu diadakan akhir pekan minggu depan dan meskipun acara diadakan di rumah Yana tetapi semua akan diurus oleh event organizer yang ditentukan oleh mama Doni.
Yana mengalah hanya karena tidak ingin ada keributan menjelang hari bahagianya, sebenarnya bu Nur tak setuju namun memikirkan kebahagiaan Yana yang sebentar lagi, akhirnya bu Nur setuju saja.
“Apapun alasanya setelah menikah aku gak mau tinggal satu rumah dengan tante Jelita mas.” Yana mengungkapkan isi hatinya saat mereka makan siang bersama.
“Cuma tinggal aja Yana mama juga jarang dirumah, boleh ya mau ya.” Doni masih berusaha membujuk calon tunangannya itu.
“Tidak atau tidak usah menikah sama aku.” Ucap Yana pasti. Elita yang memaksa Yana untuk membuat kesepakatan itu dengan Doni, bahkan Ali suami Elita menyarankan untuk di buat surat resmi hitam di atas putih.
Namun menurut Yana tidak perlu sampai seperti itu, cukup dengan kesepakatan bersama yang mereka buat berdua saja. Lama terdiam akhirnya Doni mengangguk tanda setuju pada kesepakatan itu.
“Janji.” Ucap Yana memastikan.
“Iya janji sayang.” Doni meyakinkan.
Selanjutnya obrolan mereka kembali seperti biasa Doni yang penuh sayang dan Yana yang sedikit manja.
Namun waktu seolah sedang mempermainkan perasaan dua manusia yang pernah saling begitu mencintai pada masanya.
Saat selesai makan Yana pamit ke toilet sebentar dan Doni memutuskan untuk menunggu di mobil saja.
saat keluar dari toilet menuju pintu keluar seorang anak yang sedang berlari menabraknya dari belakang.
“Maaf tante adik saya gak lihat tante.” Sang kakak anak itu yang menyusul di belakang meminta maaf pada Yana.
“Gapapa sakit ga sayang.” Ucap Yana sambil berjongkok dan mengusap kepala anak kecil yang dia perkirakan mungkin seumuran dengan Indris ponakanya.
“Ga takit hihihihi map ya.” Ucap anak itu lucu
“Siapa namanya cantik,” Tanya Yana.
“Yuyu.” Bibir kecilnya maju kedepan saat mengucap namanya, lucu sekali pikir Yana.
“Wah namanya cantik seperti orangnya.”
“Namanya Lulu tante maaf ya.” Ucap sang kakak dari anak itu lagi.
“Yok dek dah lama kali ni marah nanti ayah kita.” Kakak anak kecil itu menarik tangan adiknya. “kami permisi tante.” Ucapnya sambil sedikit menunduk
“Tunggu! nama kamu siapa.” Yana sudah penasaran pada bocah kecil ini yang dia pikir sangat mirip dengan Raja dan Lili yang pernah bertengkar dengan Adam tempo hari.
“Aku.” Kakak anak itu menunjuk dirinya sendiri, dan Yana mengangguk “Aku Lala kenapa ya tan?”
__ADS_1
Yana hanya diam matanya melihat kekiri dan kekanan bergantian mencari sosok seseorang yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini, Namun tak terlihat ada siapapun disana.
“Tante ada apa?” Tanya Lala.
“Ah tidak, orang tua kalian kemana kenapa main disini berdua.” Jawab Yana.
“Tutu ayah duduk titu.” Jawab Lulu sambil menunjuk arah yang dia maksud, baru saja Yana berbalik sudah ada suara yang lebih dulu menyapanya.
“Ay ngapain disini.”
“Bar baruu itu emm siap makan siang bang.” jawab Yana gugup.
“Tadi yuyu tabak tante tu yah.” Lulu memberi penjelasan.
"Oh ya, udah minta maaf anak ayah," jawab Raja sambil menggendong Lulu.
Yana hanya diam tanpa kata melihat secara bergantian ayah dan dua anak-anak ini.
“Sama siapa.? Tanya Raja pada Yana.
Belum sempat Yana menjawab ponselnya sudah berdering.
"Halo mas... udah mas ini mau keluar… ga usah mas tunggu di mobil aja…"
“Maaf ya bang aku udah di tunggu tante duluan ya cantik-cantik.” Pamit Yana pada Raja dan dua anak kecil itu.
Dan setelah kejadian itu entah mengapa waktu seolah sengaja menguji kesetiaannya pada Doni sering sekali Yana bertemu dengan Raja walau hanya sekedar berpapasan.
Hari berlalu begitu cepat untuk Yana, hari ini Yana mendapatkan kiriman pakaian dari butik calon ibu mertua yang berisi satu set pakaian lengkap hingga sepatu yang harus dipakai saat acara pertunangannya nanti.
“Entahlah kak rasanya ibu berat banget kali ini, gak sama seperti waktu ngelepas El menikah padahal baru tunangan ya kak.” Ungkap ibu saat membantu Yana mencoba baju yang tante Jelita kirimkan.
Bu Nur duduk di atas tempat tidur milik Yana, dan melihat anaknya mencoba sepatu dan hijab lengkap.
“Cantik banget kak ibu jadi ingat seseorang liat kamu cantik gini,” Ucap bu Nur lagi.
“Ingat ibu waktu muda ya hahahh.” Yana menggoda ibunya dan bu Nur ikut tertawa bersama.
“Kak duduk sini.” kata ibu sambil menepuk-nepuk atas tempat tidur di sampingnya.
Yana yang baru saja berganti pakaian kembali pada daster andalan yang sangat nyaman menurutnya mengikuti perintah ibu.
“Ada yang kakak rahasiakan dari ibu atau ada yang ingin kakak ceritakan.” Bu Nur mengusap lembut kepala Yana penuh sayang, sudah lama sekali rasanya ia tidak bicara seterbuka ini dengan Yana.
Selama ini Yana merasa mampu melewati semua sendiri Yana tak pernah mau membebani ibu di usia senjanya, sudah cukup ibu berpikir keras bagaimana hidup mereka bisa sebaik ini sampai sekarang.
“Cerita kak.” Tambah ibu sambil terus mengusap kepala Yana.
Yana langsung menangis sekuat tenaga seperti anak kecil yang sedang kehilangan mainan, Ibu memeluk Yana erat hatinya juga sakit, Ibu mana yang tak terluka melihat anaknya menangis semenyedihkan ini.
__ADS_1
Beruntung hanya ada mereka berdua di rumah jadi dapat dipastikan tidak ada yang mendengar tangisan ibu dan anak itu.
setelah melihat Yana sedikit lebih tenang ibu melepas pelukannya dan keluar mengambil air, saat ibu kembali Yana sudah terlihat jauh lebih tenang lagi.
“Minum dulu kak,” ibu menyerahkan gelas berisi air putih pada Yana, setelah Yana minum ibu meletakan gelas itu di atas nakas.
“Cerita sama ibu.” Ucap bu Nur sambil menggenggam tangan Yana.
Yana memulai ceritanya tentang sikap ibu Doni yang mulai berubah saat tahu usia Yana, tentang Doni yang penuh sayang dan perhatian padanya tentang Doni yang bersedia untuk tinggal terpisah setelah menikah nanti.
Ibu diam sejenak, sebelum menjawab.
"Tidak semua mertua sama kak, tidak semua sama seperti yang kamu lihat, seperti mertua Elita hanya ada satu dalam seribu kak, mertua Putra juga begitu jarang ada yang begitu, kamu harus bisa mengerti menikah itu bukan hanya dengan Doni saja tapi harus bisa menjaga hubungan baik dengan semua keluarganya.” Ibu kembali terdengar menarik napas.
"Jika kamu siap menerima anaknya maka kamu juga harus siap meneriam mamanya, bagaimanapun juga tante Jelita lah yang melahirkan Doni.
“Sejujurnya ibu juga tidak suka dengan mama Doni itu tapi untuk kebaikan bersama ibu coba mengalah, kamu pasti bisa menjadi istri dan menantu yang baik di keluarga mereka ibu yakin itu dan setelah menikah nanti jangan pernah sungkan bercerita apapun pada ibu yang menurutmu perlu ibu tau.”
“Masih ada lagi?’’ Tanya ibu.
Yana mengangguk ragu-ragu, dan menarik napas panjang.
“Ibu ingat bang Raja yang dulu pernah menemui ayah untuk melamarku.”
“Dia…”
Dan Yana kembali menceritakan semua hal yang terjadi akhir-akhir ini tentang dia yang begitu sering bertemu dengan Raja.
“Kamu masih mengharapkannya.” Tanya ibu langsung ke intinya.
Yana tak menjawab iya dan juga tak menjawab tidak
“sudah sholat istikharah minta petunjuk,” Tanya ibu lagi.
Yana kembali menganggukan kepalanya pelan.
“Lalu.”
“Aku tidak dapat jawabanya bu, hanya Saja aku merasa tidak bahagia akan dilamar Doni, aku juga pernah bermimpi membeli tiket pesawat ke Medan mungkin aku minpi itu hanya karena sering teringat bang Raja saja.
“Laki-laki itu pernah bilang ingin menikahi kamu,? Tanya ibu memastikan
Ayyana mengeleng, “Yang dia tau aku sudah menikah bu, dan Adam anak Yana."
“Astagfirullah nak,” Ucap ibu sambil memejamkan matanya.
“Terus berdoa kak untuk mendapatkan yang terbaik kak, Ibu juga tak berhenti berdoa untuk kamu.”
➰➰To be continue➰➰
__ADS_1
♥️Selamat senin pagi teman-teman tersayang semoga menjadi senin bahagia dan awal minggu yang indah.
〰️tetap semangat jangan lupa bahagia jangan lupa syenyummmm😊〰️