
☕️☕️
Banyak hal tak terduga terjadi di kehidupan Yana akhir-akhir ini, hidup nyaman dan damainya kini bak jungkir balik.
Mama jelita yang tak berhenti mengganggunya, padahal hingga detik ini ia tak pernah tau dimana keberadaan Doni mantan tunangan nya itu berada.
Ia bahkan sudah tak ingin mendengar nama itu lagi, karena menurutnya terlalu sakit untuk diingat.
Yana juga sudah bertekad akan hidup sendiri selamanya, tak perlu menikah tak perlu pasangan hidup. Jika membicarakan soal anak ia sudah menganggap tiga keponakannya seperti anak sendiri.
Yana juga yakin, jika tiga keponakannya akan menyayanginya sebagaimana ia memberi kasih sayang pada tiga anak itu.
Namun semua ternyata tak semudah yang Yana bayangkan, buktinya saat ini di depannya sedang berdiri seorang anak kecil perempuan berusia dua belas tahun.
Anak itu datang menemuinya seperti seorang wanita dewasa yang suaminya digoda oleh wanita lain.
Di awal pertemuan tatapan gadis itu sangat sinis, namun semakin lama semakin sayu dan berujung dengan mata berembun.
Yana memeluk gadis kecil itu erat saat gadis itu mengatakan akan kembali ke sekolahnya karena ayahnya akan segera datang menjemput sebentar lagi.
“Tante ga akan ambil ayah kalian.” Ucap Yana sungguh-sungguh sambil memeluk Lala.
“Tapi Lala mau ayah bahagia tante.” Jawab gadis kecil itu lirih.
Yana melepas pelukannya dari gadis kecil itu, ia tatap mata sayu itu dengan penuh sayang tangannya ia letakkan di atas bahu gadis kecil itu.
“Tante ngerti maksud Lala.”
“Berarti tante mau jadi mama kami.” Tanya Lala gamblang tanpa beban.
“Bukan gitu sayang, bukan gitu maksud tante.” Jawab Yana cepat, jelas ia tak ingin memberi harapan yang berlebihan pada anak itu. Karena sampai saat ini ia pun tak tahu apa yang ia mau.
“Sayang, nasalah ini bukan hal yang mudah untuk kita.”
“Tante ga tau harus jelasin sama kamu dari sisi mana.” Ucap Yana bingung.
“Bilang aja tan, aku ngerti. Aku sudah besar.”
Yana kembali tersenyum mendengar ucapan gadis kecil itu.
“Bagaimana kalau kita bersahabat saja dulu.” Ucap Yana memberi saran pada Lala sambil membelai kepala gadis itu.
“Kenapa hanya bersahabat.”
Yana menarik nafas panjang, ia melihat ada sosok Raja dalam sisi Lala, gadis kecil itu tak serta merta bisa menerima pendapat orang lain.
Namun gadis kecil itu bisa diajak kompromi dan bisa mendengarkan pendapat dari orang lain. Itu artinya anak itu bisa di bujuk.
“Sayang, untuk tante bisa menjadi sahabat kamu jauh lebih mudah daripada menjadi mama kamu.”
“Untuk menjadi mama kamu tante perlu waktu untuk memikirkan hal itu, semua orang dewasa begitu.”
“Nanti Lala akan tau saat sudah dewasa.”
__ADS_1
“Sekarang kamu mau ga jadi teman tante saja dulu?” Tanya Yana sambil tersenyum manis ke arah anak itu.
Entah gadis kecil itu mengerti atau tidak apa yang Yana bicarakan yang jelas gadis kecil itu langsung mengacungkan jari kelingkingnya bermaksud untuk dikaitkan dengan jari kelingking milik Yana.
“Kalau salaman aja gimana.” Tanya Yana sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Lala.
“Ok deal.” Jawab gadis itu semangat dan menjulurkan tangan mengajak salaman.
“Ini rahasia kita berdua ya tante,” Ucap gadis itu berikutnya, entah apa maksud dari kata-kata bahwa ini rahasia.
“Ok, rahasia. Lala juga ga boleh bilang sama ayah, gimana.” Tanya Yana menantang gadis kecil itu.
“Ok, deal.” Ucap gadis kecil itu lagi sambil mengajak Yana bersalaman untuk kedua kalinya.
Setelah itu Yana meminta tolong pada Ozan untuk mengantar gadis kecil itu kembali ke sekolahnya.
Sekitar satu jam berlalu Raja datang menjemputnya bersama Lala , dan benar saja sepanjang perjalanan mengantar Yana pulang si gadis kecil itu bersikap layaknya tak pernah terjadi apa-apa antara Yana dan gadis kecil itu.
☕️☕️☕️☕️☕️
Dan hari ini hal tak terduga itu terjadi lagi, Yana melihat dengan mata kepalanya gadis kecil yang sudah berjanji menjadi sahabatnya kemarin sekarang berada di depannya dan menyalami nya sambil tersenyum penuh arti.
Nafas Yana terasa sesak oksigen gratis yang maha kuasa berikan seolah tak cukup untuk memenuhi kebutuhan paru dan otaknya.
“Bunda ompong.” Teriak Lili sambil berlari kearah Yana.
“Ateee” Lulu tak kalah heboh malah meminta Yana memeluknya.
Yana menarik nafas panjang, menghirup banyak-banyak oksigen yang ada untuk menenangkan diri.
“Lili kenal sama kawan opung?” Tanya pak Azis yang sedari tadi sudah berdiri di belakang mak Duma.
“Ini kawan opung?” Tanya Lili dengan mata berbinar.
“Ini bunda ompong eh bunda Adam kawan ku tok.” Jawab Lili pada Atok nya tanpa memikirkan apa yang akan terjadi setelah ia mengeluarkan kata-kata itu.
“Ate kapan mput yuyun kolah agi.” Tanya Lulu, meski tak jelas namun bisa dipahami semua orang terutama mak Duma.
Yana berjongkok menyamakan tinggi dengan Lulu, “Nanti kapan-kapan.” Ucap Yana menghibur.
“Oh jadi kau bunda si ompong kawan cucuku ini?” Tanya mak Duma pada Yana.
Gadis itu mengangguk tanda membenarkan ucapan wanita paruh baya itu jujur, “Adam sama Lili satu kelas mak mereka teman dekat”.
“Bestie ya Li?” Tanya Yana menghibur diri menghilangkan gugupnya.
Namun yang ada di kepala Yana saat ini adalah bahwa ia telah dibohongi mentah-mentah oleh Raja, dan juga perihal wanita calon istri Raja yang sempat mengantarkan baju yang mak Duma jahit untuknya.
Jika memang sudah punya calon istri kenapa kemarin masih berbicara manis padanya, setelah ini ia harus memberi pelajaran berharga pada laki-laki itu dan ia akan benar-benar melupakan semua termasuk permintaan Lala.
Disini lain Mak Duma menatap tajam anak sulungnya dengan ekor mata, Yana yang tak paham ikut heran menatap Raja yang terlihat berdiri kaku tanpa komentar sepatah kata pun dengan wajah pucat pasi.
Mak Duma diam sejenak, dengan mata masih menatap tajam siap memutilasi kearah Raja. Wanita itu menarik lurus benang kusut yang selama ini ia kumpulkan.
__ADS_1
“Bang, ada yang mamak gak tau kan? ikut mamak sebentar.” Itulah mak Duma tak akan pernah mau menunda dengan apa yang akan ia lakukan selama menurutnya itu benar.
“Em i iy iyaa.” Jawab Raja dengan nafas tertahan.
“Kelen tunggu sini ya, jagakan tante Yana ini baik-baik.” Ucap mak Duma pada tiga cucunya.
“Ku titipkan dulu anak si Raja ini sama mu ya Yana.”
“Pak urus dulu anakmu ini.” Ucap mak Duma lagi pada suami tercintanya memberi isyarat agar suaminya mengikuti langkahnya yang akan melakukan interogasi bersalah pada Raja.
☕️☕️☕️☕️
Hal tak terduga juga terjadi pada Raja hari itu tentunya, keputusannya mengatakan niat ingin memperistrikan Yana siang tadi pada pak Ahmad cukup membuatnya pusing delapan keliling.
Seharusnya ia tak bertindak gegabah, dan baru saja ia ingin mencari solusi pada bapak sambil menenangkan diri namun yang terjadi malah bencana badai hati menerpa tanpa ampun.
Raja berdiri dengan lutut sudah lemas, sirna sudah keberanian dan kegagahan yang ia punya.
Jika selama ini mahasiswa yang gemetaran saat tak mengerjakan tugas-tugas darinya kali ini ia yang gemetaran di hadapan sang mamak tercinta.
Ia pegang kuat-kuat kursi meja makan itu sebagai tumpuan, Karena satu-satunya tersangka bersalah sudah pasti adalah dirinya.
Dikelilingi oleh lima wanita tersayangnya bukan membuat Raja bahagia, justru saat ini ia sedang merasa nyawanya di tepi jurang.
Andai saja ada nyamuk nakal yang menggigit kakinya atau ada ulat bulu yang menggodanya sudah pasti ia masuk ke jurang dan hilang tinggal nama tanpa bekas.
Jika kata pak Azis berada di antara dua wanita, mak Duma dan Rani itu sama seperti uji nyali maka yang kali ini Raja rasakan adalah sudah tak punya nyali.
Tatapan Lala, Yana dan mak Duma menusuk menembus jantungnya merusak mental, untung saja Lili dan Lulu belum paham cara mempermainkan mental orang sehingga Raja hanya mendapatkan tiga tatapan mengerikan.
“Bang, ikut mamak sebentar.” Ucapan mamak seperti melayang di udara dan terngiang berulang-ulang di telinganya.
Mamaknya memeng hanya seorang wanita desa tamatan sekolah menengah atas, tapi Raja kenal betul siapa mamaknya. Duma Hasian wanita cerdas yang mempesona, itu menurut pak Azis.
Meninggalkan Yana dan ketiga anaknya Raja mengikuti mamak dan bapaknya menuju salah satu kamar yang ditempati mamak dan bapak selama tinggal bersamanya.
“Duduk kau.” Ucap mak Duma sinis pada Raja sambil melipat tangan di dada.
Bapak berdiri bersandar pada pintu kamar sambil menatapnya intens.
Tua tua si anak tetaplah anak itulah yang Raja rasakan saat ini, ia duduk tak bergeming di sudut tempat tidur mamaknya sambil menunduk.
jika saja di rumahnya ada tersedia seragam tersangka kesalahan mungkin sekarang ia sudah mengenakan seragam itu.
“Jujur kau ya bang,”
“Betul! Yana itu perempuan yang masyitah ceritakan sama mamak kemarin?” Tanya mak Duma dengan suara sangat lembut, seumur hidupnya menjadi anak mak Duma baru kali ini suara mamaknya sehalus itu.
☕️☕️☕️
☕️☕️To be continue☕️😂
☕️☕️Ayo siapa disini, yang kalau sudah berhenti merepet/mengomel dan pake mode silent justru anaknya menjadi tambah takut😂😂
__ADS_1
☕️jan lupaa bahagia rakan jan lupaaa syenyummmm